
Disaat Melati pingsan, Bu Fatma yang melihat kehadiran Laili dari kamar, semakin terbakar amarahnya.
"Siapa kamu?" tanya bu Fatma sinis.
"Sa-saya..." belum sempat Laili melengkapi jawabannya, bu Fatma berdiri dan berjalan menuju kamar tempat Laili muncul tadi.
"Ugi! keterlaluan kamu. Baru ditinggal Melati seminggu, kamu udah berbuat nyimpang ya? Suami macam apa kamu ha? Itu istri kamu pingsan, kenapa kamu diam saja ha?" cecar bu Fatma penuh amarah, tidak terima dengan apa yang terjadi dengan putrinya.
"Maaf bu... sa-saya..." jawab Ugi menangis, dengan tetap dengan terbaring.
"Apa?" tanya bu Fatma sambil membuka selimut yang menutupi kakinya Ugi.
"Maaf bu, saya...saya ga bisa..." belum sempat Ugi meneruskan kata-katanya, muncul Melati dari mulut pintu.
"Mas Ugi..." panggilan lemah dari seorang wanita berjilbab biru, yang baru saja sadar dari pingsannya.
Zia menuntun Melati untuk mendekati Ugi yang masih tetap terbaring di kasur nya.
"Apa yang terjadi denganmu mas? Kenapa kamu tidak bangun dari tempatmu? Apa kamu baik-baik saja mas?" tanya Melati saat sudah sampai di dekat Ugi, Melati ciumi tangan Ugi dengan dan menciumi wajah Ugi dengan linangan air mata.
"Ma-maafkan mas...huhuhu" kata Ugi dengan tergugu hingga tak sanggup melanjutkan kata-katanya, dia usai kepala Melati dengan lembut.
Melati menggeleng.
Melati baru saja sadar dan diberi tau Laili akan keadaan Ugi. Laili mengatakan bahwa Ugi sakit lumpuh, sehingga dia tidak bisa berjalan ke arah Melati, untuk menolongnya.
"Kenapa mas ga cerita? Sejak kapan mas kaya gini mas? Kenapa mas bohongin Melati?" tanya Melati dengan tangisan nya.
"Maaf, maafkan mas sayang." kata Ugi sambil menghujani ciuman di wajah Melati.
"Aku mengkhawatirkan mu mas, perasaanku ga enak, tapi mas bilang, kalau mas gapapa. Kenapa mas tutupi semua ini dariku mas? Kenapa? Aku ini istrimu mas, aku berhak tau akan kondisimu." kata Melati masih terus menangis.
"Maafkan mas sayang. Mas cuma ingin kamu baik-baik saja. Mas ga mau kamu tampil dengan tidak konsentrasi karena mengkhawatirkan kondisi mas, mas ga mau kamu cancle semua acaramu hanya karena mas. Mas ga mau kariermu gagal gara-gara mas. Mas ga mau sayang..." kata Ugi sambil mengelus punggung Melati yang masih memeluknya.
"Tapi aku ini istrimu mas huhuhu..." kata Melati masih tergugu.
"Maafkan mas..."
__ADS_1
Bu Fatma hanya diam, tak bisa berkomentar. Dia tau rasanya LDR dengan orang yang dicintainya. Sehingga bu Fatma membiarkan Melati menumpahkan seluruh rasa rindunya kepada suaminya, seperti tadi malam saat Melati memeluk tubuhnya karena rindu.
Sedangkan Zia dan Laili yang berdiri di samping bu Fatma hanya diam, mereka tak berani berkomentar, karena mereka adalah orang ketiga. Sedangkan Lutfi hanya berdiri di teras sambil bermain ponsel, hingga terdengar suara motor memasuki pekarangan itu.
Tak lama kemudian, sosok wanita berumur, yang tak lain adalah bu Yani, ibu kandung Ugi datang dengan wajah yang tadinya cerah ceria menyambut tamu, namun saat Latif menjawab bahwa dia adalah temannya Melati, wajah bu Yani berubah.
"Apa? Temannya Melati?" tanya bu Yani terkejut.
"Iya bu." jawab Latif.
"Dimana dia sekarang?" tanya Bu Yani.
"Di dalam bu." jawab Latif.
Bu Yani pun masuk rumah dan melihat kehadiran Laili bersama seorang gadis dan di Tengahnya ada sosok wanita paruh baya yang tak lain adalah besannya.
"Oh, ada saudara besan rupanya?" tanya bu Yani sambil menyalami bu Fatma, Laili dan Zia.
"Iya bu." jawab bu Fatma.
"Kemana aja selama ini bu? Anak mantunya sakit kok ga nengokin? Apa karena anaknya lagi ngejar karier, jadinya anda juga ga menjenguk Ugi?" kata Bu Yani.
"Halah, alasan." sungut bu Yani.
"Apa maksud anda?" tanya bu Fatma yang tidak terima anaknya diperlakukan seperti itu.
"Lhoh, memang benar kan? Anak anda memang sukses di luar, tapi dia gagal untuk urusan keluarganya. Sampe suaminya sakit bahkan sampe mau mati juga, dia ga muncul. Kemana aja dia ha? Cuma mentingin urusan kariernya saja. Dan mana, sampe sekarang dia juga belum hamil kan? Itu karena keegoisan dia yang selalu mementingkan urusan kariernya dibandingkan dengan urusan keluarganya." cecar bu Yani penuh emosi.
"Ibu, cukup!" teriak Ugi.
"Kenapa Gi? Kamu memarahi ibu ha? Dari awal ibu sudah ragu dengan perempuan ini, dia itu ga bisa ngasih kamu keturunan. Dia ini mandul." kata bu Yani tanpa perasaan.
"Ibu, sudah. Cukup." lagi-lagi Ugi berteriak meninggikan suaranya kepada ibunya.
"Jaga bicara anda! Anak saya memang tidak seperti wanita pada umumnya, dia memang berbeda sejak kecil, bahkan sejak lahir. Tapi bukan berarti anda seenaknya menjelek-jelekkan anak saya. Anak saya memang bukan sarjana, tidak berpendidikan, tapi dia tau adab. Dia wanita baik-baik yang bisa menjaga harga dirinya dan menjaga kehormatan suaminya. Dia tau bagaimana harusnya dia bersikap ketika bersama suaminya dan ketika jauh dari suaminya." kata bu Fatma dengan penuh emosi.
"Ibu. Sudahlah..." kata Melati melerai. Mencoba menengkan ibunya.
__ADS_1
"Ibu ga terima kamu diperlakukan seperti ini Melati. Ibu sudah tidak bisa bersabar lagi. Sudah, ayo kita pulang saja." kata ibu Fatma sambil menarik lengan Melati.
"Tidak bu, Melati akan tetap disini mendampingi mas Ugi. Dia suamiku bu." kata Melati.
"Suami macam apa dia yang tidak percaya pada istrinya, dengan tidak memberi kabar pada istrinya, disaat dia seperti ini yang akhirnya menimbulkan kesalahpahaman." kata bu Fatma.
"Eh, jaga juga bicaramu ya. Anakku ini laki-laki baik-baik." sergah bu Yani.
"Baik? Tapi suka berbohong?" tanya bu Fatma.
Seketika bu Yani terdiam, begitupun dengan Ugi.
"Melati, sebaiknya kamu pulang saja dulu." kata Latif menasehati Melati.
"Tidak mas, Melati akan tetap di sini menemani mas Ugi dan merawat mas Ugi." kata Melati.
"Siapa kamu?" tanya Ugi kepada Latif.
"Saya Latif, saya sudah menganggap Melati sebagai adik saya sendiri. Saya juga tidak akan terima Melati diperlakukan seperti ini." kata Latif.
"Kamu...laki-laki itu?" tanya Ugi yang teringat dengan kata-kata nenek Melati.
"Ya, saya adalah Laki-laki yang menjaga Melati semenjak bapak Melati meninggal." kata Latif.
Ugi terdiam. Dia sedang berfikir sesuatu, untuk kebahagiaan Melati.
"Melati, pulanglah." kata Ugi.
"Ga mas. Melati akan tetap disini merawatmu." kata Melati.
"Saya bilang, pulang lah Melati. Kamu ga akan nyaman di sini." kata Ugi.
"Melati ga peduli mas, asalkan Melati bersama mas Ugi." kata Melati.
"Pulanglah Melati." kata Ugi lagi.
"Engga mas."
__ADS_1
Hingga akhirnya Ugi menemukan sebuah solusi agar dia bisa membebaskan Melati dari semua perasaan yang menyakitkan hatinya.
Apa ya kira-kira solusi Ugi? Apa yang akan dilakukan Ugi? Ikuti teria cerita ini ya dear😘