
Di taman kota, dekat kolam ikan, dua insan sedang duduk bersanding dengan menjaga jarak. Keduanya tampak terdiam sambil menatap ke arah area bermain anak-anak.
Keduanya tampak sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Oya Melati, tadi pas di perpustakaan, bu Ika bilang, kamu juara satu lomba menulis cerpen. Lomba dimana?" tanya Ugi mencoba memecah kebekuan diantara mereka setelah Melati memberi jawaban atas pertanyaannya.
"Di perpustakaan mas." jawab Melati.
"Kapan?" Ugi masih penasaran dengan sosok gadis yang telah menerima dirinya.
"Waktu ada even pameran buku tiga bulan lalu, kebetulan juga ada acara lomba menulis cerpen." jawab Melati.
Kamu penulis?" tanya Ugi lagi.
"Bukan mas, eh maksud saya belum. Saya belum menjadi penulis, saya masih taraf belajar kok mas." jawab Melati.
"Masa' sih masih taraf belajar? Kalo belajar kok udah bisa jadi juara satu?" tanya Ugi tak percaya.
"Saya mengikuti even lomba menulis cerpen di perpustakaan sudah tiga kali ini mas. Di tahun pertama, saya gagal. Di tahun kedua, alhamdulillah mendapat juara tiga, dan saya juga tidak menyangka, ternyata di bulan ke tiga ini, saya justru bisa meraih juara pertama." kata Melati.
"Berarti kamu nulis udah lama?" tanya Ugi.
"Ya, lumayan mas. Semenjak tangan saya sembuh, dan saya sudah mulai mengenal alat bernama leptop." jawab Melati.
"Tangamu sembuh? Emang, sebelumnya tanganmu kenapa?" tanya Ugi semakin penasaran.
"Ehm, dulu tangan saya sempat bermasalah mas. Tangan saya mengalami gangguan saraf, yang mengharuskan saya terapi untuk pemulihan. Dan selama pengobatan dan pemulihan, saya tidak diperbolehkan beraktivitas berat menggunakan tangan. Itulah sebabnya saya terpaksa berhenti sekolah beberapa tahun, dan akhirnya, sampai umur saya duapuluh tahun, saya masih berkutat dengan dunia sekolah, di SKB." jawab Melati.
"Oh, jadi itu sebabnya kamu bersekolah di SKB?" tanya Ugi.
"Iya mas." jawab Melati dengan wajah sendu. Melihat perubahan wajah itu, Ugi berusaha mencari topik lain, yang tidak menyinggung terkait fisiknya.
"Oya, kamu Sudah menghasilkan karya berapa Melati?" tanya Ugi.
"Baru cerpen mas kalo yang dilombakan. Kalau Novel, baru berani menulis di aplikasi aja kok mas." jawab Melati.
"Kamu juga bikin novel?" Ugi masih tak percaya dengan pernyataan Melati.
"Iya mas."
"Udah dibukukan?" tanya Ugi.
"Belum mas. Saya baru nulis di aplikasi aja kok." jawab Melati.
"Aplikasi apa?" tanya Ugi.
"Aplikasi novel toon mas " jawab Melati.
Wah, boleh dong aku mampir." kata Ugi.
"Boleh banget mas. Nama pena saya di NT adalah Sekar Melati." jawab Melati.
"Okey. Nanti pasti aku mampir." kata Ugi.
"Jika tertarik, boleh mas baca-baca beberapa novel saya di Novel Toon. Karena semakin banyak viewers dan yang mensubscribe, karya saya akan banyak dikenal di dunia maya, dan ada kemungkinan untuk dicetak." kata Melati.
__ADS_1
"Wah, pasti tertarik lah, sama orangnya aja aku tertarik, apalagi sama karyanya." kata Ugi sambil menaikturunkan alisnya.
Melati tersipu malu.
"Ehm, Melati sudah pernah masukin tulisan ke sebuah percetakan?" tanya Ugi.
"Alhamdulillah, sudah mas, belum lama ini." jawab Melati.
"Keren keren..." puji Ugi.
"Diam-diam dibalik sifat kalemnya, ternyata dia menyimpan banyak prestasi. Luar biasa." batin Ugi kagum.
"Oya, kalau sejenis majalah atau koran gitu, udah pernah masukin tulisan ke sana?" tanya Ugi lagi.
"Alhamdulillah sudah juga mas. Dulu pernah tulisan saya diunggah di koran Kompas, terus sudah enam bulan ini, saya juga diminta untuk menjadi salah satu pengisi rubrik dongeng di sebuah majalah anak mas." kata Melati.
"MaasyaaAllah, itu namanya ga cuma lagi belajar Melati, tapi kamu itu udah termasuk penulis." kata Ugi.
"Tapi, saya belum bisa menjadi penulis handal yang tulisannya dibukukan mas." kata Melati dengan wajah sedih.
"Teruslah berusaha, jangan berputus asa, aku yakin, kamu pasti bisa." kata Ugi memotivasi.
Melati menatap Ugi, ada sorot kepercayaan di sana, memberinya semangat untuk terus berjuang meraih mimpi.
Saat manik mereka bertemu, dan berisatatap, ponsel Melati berdering.
"Ehm, maaf mas, saya angkat telpon dulu ya." kata Melati meminta ijin.
Ugi mengangguk.
๐Adek Kembar
'Wa'alaikumsalam. Mbak, nenek mbak.' suara Aldi terdengar panik.
"Nenek kenapa dek?" tanya Melati ikut panik.
'Nenek jatuh mbak, pingsan.'
"Terus, udah ada yang nolongin belum? Mbak segera pulang." kata Melati sambil beranjak dari duduknya.
'Mas Aldo lagi cari pertolongan ke rumah pak Wahid mbak.'
"Okey, mbak pulang sekarang ya. Aldi jagain nenek dulu."
'Iya mbak.'
Setelah sambungan telepon ditutup, Melati yang memang hanya mengangkat telepon tak jauh dari kursi tempatnya duduk, segera berpamitan pada Ugi.
"Maaf mas, saya harus pulang sekarang." kata Melati dengan panik.
"Nenekmu kenapa?" tanya Ugi yang tak sengaja mendengar percakapan Melati tadi.
"Nenek jatuh mas." kata Melati dengan wajah yang sudah menahan tangis.
"Innalillahi, aku ikut ya." kata Ugi.
__ADS_1
Melati mengangguk, lalu mereka segera mengambil motor mereka di parkiran lalu melakukan motor menuju rumah.
Sesampainya di rumah, Aldo dan Aldi menyambut Melati di rumah dengan wajah sembab.
"Nenek di mana dek?" tanya Melati dengan wajah panik.
"Nenek dibawa pak Wahid ke RSUD mbak." kata Aldo.
"Ya udah, mbak segera nyusul nenek dulu ya." kata Melati hendak putar balik ke motornya.
"Mbak, kata pak Wahid, mbak Melati suruh bawa identitasnya nenek dulu. Tadi belum dibawain." kata Aldo.
"Oh, iya." kata Melati sambil masuk rumah lalu membuka rak berisi surat-surat penting.
"Mas Ugi ikut ke sini?" tanya Aldo.
"Iya, tadi kebetulan pas kalian nelpon, saya pas lagi bersama mbak kalian." kata Ugi.
"Tolong bantuin mbak Melati ya mas." kata Aldo.
"Iya."
Tak menunggu waktu lama, Melati sudah membawa beberapa berkas yang semuanya dibutuhkan di rumah sakit.
"Mbak tinggal dulu ya dek." kata Melati.
"Iya mbak."
"Kalian jaga rumah ya. Kalau lapar, goreng telur sendiri dulu ya."
"Iya mbak."
"Assalamualaikum." salam Melati.
"Wa'alaikumsalam." jawab Aldo dan Aldi bersamaan.
"Mel, misal kita boncengan aja gimana?" tanya Ugi.
"Ehm..."
"Aku boncengin."
Tanpa berfikir panjang, tubuh Melati yang terasa lemas karena syok dan panik, spontan mengangguk memberi jawaban atas pertanyaan Ugi.
"Pake motor saya saja mas." kata Melati.
"Okey." jawab Ugi.
"Dek, titip motor saya ya." kata Ugi kepada si kembar.
"Ya mas."
Melati dan Ugi segera menyusul neneknya ke rumah sakit Umum Daerah dengan berboncengan. Ugi yang mengetahui kecemasan Melati, melajukan motor Melati dengan cukup kencang.
Sesampainya di rumah sakit, Melati menelpon pak Wahid, menanyakan keberadaan neneknya. Setelah mendapat jawaban bahwa neneknya masih di IGD, Melati dengan ditemani Ugi menuju IGD dan mencari keberadaan neneknya.
__ADS_1
๐๐๐
Hai reader setia SM, terimakasih atas dukungan para reader tercinta ya. Semoga masih setia menanti kalanjutan cerita dari Seputih Melati. Meski Author yang masih banyak belajar ini sering telat update...mohon dimaklumi ya reader๐