Seputih Melati

Seputih Melati
Mamaku


__ADS_3

Sepulang dari Bogor, Melati dan Dewa langsung pulang ke Solo tanpa mampir-mampir, karena duo bocil Dewa sudah menanti kepulangan ayah dan bunda baru mereka. Tetapi, mereka menyempatkan diri mampir di toko oleh-oleh untuk membelikan buah tangan yang pastinya bakal ditagih Dirga dan Tabita.


Sesampainya di rumah, benar saja, kedua bocil itu menyambut orang tua mereka dengan suka cita. Saat Melati memeluk Tsabita, kembali dia teringat dengan segumpal darah yang beberapa waktu lalu dia genggam.


"Yaa Robb. NikmatMu yang manakah yang pantas kudustakan? Betapa Engkau sungguh maha baik, disaat aku kehilangan, disitu Engkau ganti dengan sebuah pertemuan. Dan jika aku boleh meminta, aku mohon, jangan pisahkan kami, cukup pisahkan kami ketika ajal menjemput. Dan cukup lah, ini menjadi pernikahan terakhirku." batin Melati dalan do'a sambil memeluk Tsabita.


"Sayang, are you okey?" tanya Dewa.


"Eh, i-iya mas. Aku baik kok." jawab Melati sambil menghapus air matanya.


"Nda anis?" tanya Tabita dengan logat cadelnya.


"Kamu nangis sayang? Kenapa?" tanya Dewa sambil mendekati Melati yang sedang memeluk Tsabita.


"Engga, ga papa. Cuma terharu aja." kata Melati.


"Nanti cerita ya." kata Dewa dengan tatapan hangatnya.


Melati melihat tatapan itu, dan jantung Melati kembali berdesir. Seketika Melati langsung menghambur kedalam pelukan Dewa. Lalu melanjutkan tangisannya yang sempat tertunda.


"Sayang? Kamu kenapa?" tanya Dewa bingung.


Melati menggeleng, tetapi masih tetap memeluk Dewa. Sedangkan Tabita masih dalan pangkuan Melati, tetapi ikut keheranan dengan sikap Melati.


"Sayang..." lagi-lagi Dewa mencoba menyadarkan Melati.


"Mas...aku mohon, jadikan ini pernikahan terakhir untukku. Aku ga mau pisah sama anak-anak." kata Melati tergugu.


Kini Dewa paham, maksud dari tangisan Melati. Sesungguhnya Melati menangis karena masih ada setitik rasa trauma yang mendalam atas kejadian beberapa bulan lalu. Saat dimana dia kehilangan suaminya karena sebuah perceraian, dan sekaligus kehilangan anak karena keguguran.


"Iya sayang, InshaaAllah, kita pasrah kan sama Allah ya. InshaaAllah, Allah ga akan memisahkan kita." jawab Dewa sambil mengelus punggung Melati.


Setelah saling menguatkan, bu Fatma yang mengetahui suasana hati putrinya segera mengajak mereka makan bersama, malam itu.


Keesokan harinya, Dewa memutuskan untuk mengajak Melati pulang ke rumahnya di perumahan. Sebagai seorang istri, Melati berusaha sebaik mungkin untuk mengabdikan dirinya untuk suaminya, termasuk untuk ikut suaminya kemanapun dia mengajaknya.


"Kamu baik-baik ya nak di sana." kata bu Fatma sambil mengecup kening Melati, dan kedua tangannya memegang pipi Melati.


Air mata tak dapat dibendung dari kedua mata bu Fatma. Dia kembali teringat akan kisah yang menyayat hati putrinya, tak hanya Melati, bu Fatma sebagai seorang ibu juga merasakan hal yang sama, yaitu trauma pada suatu perceraian yang terjadi pada putrinya.


Melati langsung memeluk ibunya, dia labuhkan tubuhnya di dalam pelukan ibunya. Tubuh Melati tampak bergoncang, sudah pasti dia sedang menangis.

__ADS_1


Tsabita dan Dirga yang melihat sikap Melati merasa bingung dengan wajah lucu mereka.


"Ayah. Bunda kenapa?" tanya Dirga.


"Gapapa. Bunda masih kangen sama nenek." jawab Dewa sambil memberikan pengertian.


"Bunda, bunda jangan nangis. Nanti kita masih ke sini lagi, kalau ayah ga mau nganter bunda ke sini, nanti biar Dirga yang anterin bunda ke rumah nenek." kata Dirga dengan bahasa anak kecilnya.


Seketika Melati melepaskan pelukannya dari tubuh bu Fatma.


"Anak hebat, benar sekali. Dirga sayang sama bunda ya?" tanya bu Fatma yang juga berusaha tersenyum, karena sejak tadi terus menangis.


Dirga mengangguk.


"Iya. Dirga sayang banget sama bunda."


Kemudian Melati memeluk Dirga, ada kehangatan disana, Melati merasakan ketulusan dari diri anak itu.


"Nak Dewa, ibu titip Melati ya. Melati memang bukanlah wanita sempurna, tetapi dia anak baik. Hatinya sangat lembut, ibu harap, jika nak Dewa belum bisa membahagiakannya, janganlah engkau sakiti dia." kata bu Fatma.


"Iya bu, InshaaAllah. Do'akan Dewa untuk bisa selalu menjadi suami yang baik untuk Melati ya bu." kata Dewa.


Saat perjalanan menuju rumah Dewa, Mobil Dewa berhenti di pinggir jalan,


"Lhoh. mas, kok berhenti di sini? Mau ngapain?" tanya Melati yang sedang asyik memangku Tsabita yang sudah tertidur di dalam pelukannya. Sedangkan Dirga bermain sendiri di kursi belakang.


"Tunggu disini dulu ya." kata Dewa.


Dewapun keluar dari kemudinya, lalu menuju sebuah toko bunga yang berada di seberang jalan. Melati melihat itu, berfikir bahwa mereka akan mampir ke makam Tsania, karena Dewa membeli bunga.


Setelah melakukan transaksi, Dewa kembali ke mobilnya, lalu membuka pintu mobil bagasi, lalu meletakkan buket bunga berisi bunga Melati itu di bagasi. Lalu setelah itu, Dewa kembali ke kursi kemudi.


"Maaf ya." kata Dewa saat masuk dan duduk di kursi kemudi.


Melati hanya tersenyum, Melati tau bahwa Dewa pasti ingin mengajak mereka ke makamnya Tsania dulu.


"Ayah, kenapa ayah beli bunga? Kita mau ke rumah bunda ya?" tanya Dirga.


Dewa tampak berfikir, 'Bunda?' oh...yaya, Tsania kan juga panggilannya bunda, makannya Dewa sempat bingung. Dari situ, Dewa memutuskan agar kedua anaknya memanggil Melati dengan panggilan yang berbeda.


"Ehm. Bunda Melati." panggil Dewa.

__ADS_1


"Ya pak? Eh, mas...eh...ehm...Yah..." jawab Melati bingung. Karena percakapan mereka di harapan anak-anak belum disepakati, panggilan apa yang baik untuk mereka.


"Hahaha, bingung ya? Okey, mulai sekarang, bunda Melati panggil saya, Ayah ya, kalau dihadapan anak-anak. Dan... kami akan memanggil bunda Melati, tidak dengan panggilan bunda." kaya Dewa.


"Terus apa yah?" tanya Dirga.


"Panggilan bunda itu, untuk bunda Tsania ya sayang. Kalau untuk bunda Melati, karena sekarang sudah jadi bundanya kak Dirga dan adek, maka bunda Melati dipanggilnya Mama atau ibu. Gimana?" tanya Dewa meminta persetujuan.


"Panggil mama aja ayah...temen-temen kakak semuanya manggil mama." kata Dirga memberi pendapat.


"Tepat. Anak hebat. Okey, mulai sekarang panggil bunda Melati dengan panggilan mama ya sayang. Nanti adek diajarin ya " kata Dewa.


"Okey ayah." jawab Dirga bersemangat.


"Mama, mama Melati." panggil Dirga untuk pertama kalinya.


Melati tersenyum, akhirnya dia merasakan panggilan sayang dari anak-anak tirinya. Sebenarnya tidak masalah bagi Melati untuk dipanggil bunda, tetapi terkadang Melati merasa bingung, jika mereka menyebut bunda, karena Tsania juga panggilannya bunda.


"Bagaimana sayangku? Kamu mau kan dipanggil mama?" tanya Dewa meminta persetujuan.


Melati tersenyum, lalu mengangguk.


"Yes." jawab Dirga.


"Oya untuk memanggil ayah, tetap ayah ya..." kata Dewa sambil mengerlingkan matang kepada Melati. Melati yang melihat tatapan genit dari Dewa jadi tersipu malu.


Melati mengangguk tanda setuju.


"Ehm, oiya yah, ayah belum jawab pertanyaan Kakak. Kita mau kerumah bunda ya yah? Di kuburan?" tanya Dirga polos.


Dewa menoleh ke arah Melati, dan tampak Melati juga menatap ke arahnya, manik mereka bertemu.


"Tidak sayang, kita mau pulang ke rumah." jawab Dewa.


"Oh. kirain mau ke rumah bunda." jawab Dirga.


"Gapapa kam ayah beli bunga Melati?" tanya Dewa.


"Gapapa ayah, bagus, wangi yah. Kakak suka baunya." kata Dirga yang memang mencium aroma khas semerbak bunga Melati, seperti kemasukan peri di dalam mobil, saking wanginya.


Dewa hanya tersenyum, lalu melakukan mobilnya, merekapun menuju rumah Dewa di perumahan.

__ADS_1


__ADS_2