
Setelah mengobrol dengan Satria, Melati fokus menyalami para tamu orang tuanya dan beberapa ada juga tamu Dewa dari rekan kerjanya. Hingga akhirnya malam tiba, Melati masuk kamar sambil membawakan susu jahe untuk Dewa.
"Mas, ini susu jahenya, untuk menghangatkan badan." kata Melati meletakkan secangkir susu jahe diatas nakas.
"Terimakasih sayangku." kata Dewa lembut.
"Anak-anak aman kan?" tanya Dewa yang tadi berpesan pada Melati untuk menengok mereka di kamar bu Fatma. Karena bu Fatma yang meminta untuk menidurkan Dirga dan Tsabita di kamarnya, supaya Melati dan Dewa lelauasa bermalam pertama.
"Aman mas." jawab Melati.
"Sayang..." panggil Dewa yang sudah duduk mendekati Melati, Dewapun melingkarkan tangannya di pinggang Melati, dan meletakkan dagunya di pundak Melati.
"Hem?" jawab Melati.
"Apakah kamu masih menganggapku orang lain?" tanya Dewa.
"Kenapa mas Dewa bertanya seperti itu?" tanya Melati.
"Karena kamu masih belum membuka jilbabmu di kamar ini." kata Dewa.
"Hehe, maaf mas. Lupa." kata Melati sambil nyengir kuda.
"Kalau begitu, boleh ga kalau mas yang buka jilbabmu?" tanya Dewa.
"Ehm..." Melatipun mengangguk.
Dengan perlahan, Dewa membuka jilbab bergo Melati dari depan. Dewa membukanya perlahan dan dengan lembut dan dengan mata yang ditutup. Jantung Dewa berdegup tak berirama, kini dia benar-benar merasakan rasanya jatuh cinta, setelah beberapa tahun dia menahan rasa yang ingin tumbuh dan bersemi. Kini gadis impiannya sejak dulu, ternyata telah berhasil di jadikan istrinya.
"Bismillahirrahmanirrahim." kata Dewa dengan tangan gemetar membuka jilbab Melati. Melatipun juga ikut memejamkan matanya, karena dia takut menatap mata Dewa.
Akhirnya, jilbab itu terlepas dari kepala Melati, dan eorlahan Dewa membuka matanya,
"Cantik." seketika kata itu terlontar dari bibirnya, saat melihat wajah bidadari di hadapannya telah berhasil membuatnya terhipnotis.
Melati masih belum berani membuka matanya, dadanya berdegup sangat kencang dan tak berirama. Dewa mendekatkan wajahnya ke wajah Melati, dan matanya fokus pada satu titik, yaitu bibir ranum istrinya. Dan akhirnya ciuman pertama anatara Dewa dan Melati pun terjadi. Awalnya Melati hanya diam tak membalas. Namun akhirnya, Melatipun tertarik untuk ikut membalas pagutan suaminya, hingga akhirnya Dewapun terangsang dan melakukan hal lebih dari itu.
Malam itu, menjadi malan pertama bagi mereka berdua, meski mereka telah sama-sama merasakan malam panas dengan pasangan mereka yang dahulu. Cinta suci mereka, akhirnya tertuang di malam itu, hingga saat keduanya merasa kelelahan karena aktivitas yang melelahkan itu, tiba- tiba terdengar suara Tsabita menangis meraung mencari ayahnya.
"Haduh...." keluh Dewa.
Melati hanya tersenyum melihat ekspresi suaminya yang masih kelelahan.
"Mas keluar dulu ya " kata Dewa sambil memakai pakaiannya yang tadi berserakan karena ulah nya.
Dewapun keluar dengan piyamanya, dan dilihatnya sosok putrinya digendong oleh bu Fatma.
"Maaf ya mas Dewa, mengganggu malam pertamanya. Ibu sudah berusaha menenangkan nya, tetapi tetap saja tidak bisa." kata bu Fatma.
__ADS_1
"Hehe, gapapa bu. Biasa, kalau kecapekan, adek memang suka begini " kata Dewa sambil menggendong Tsabita dan mencoba untuk menenangkan nya. Dan perlahan, akhirnya Tsabita kembali terlelap dalam tidurnya.
"Di bobokin di kamar ibu lagi aja mas." kata bu Fatma.
"Ga usah bu. Biar ikut saya saja ke kamar." kata Dewa.
"Nanti mengganggu kalian." kata bu Fatma.
"Tidak apa-apa bu. Saya titip kak Dirga ya bu." kata Dewa.
"Ya mas." jawab Bu Fatma.
💞💞💞
Dua hari setelah resepsi, Melati diajak Dewa untuk menggunakan voucer hadiah dari pak Richard, karena memang nanti malam adalah jadwal mereka menonton bioskop yang memutas film yang mengunggah novelnya Melati. Memang untuk acara resepsi, hanya digelar di rumah Melati, tanpa ada acara dipulangkan ke rumah suami.
"Bu, kami titip anak-anak dulu ya." kata Dewa.
"Iya mas, sudah sana, manfaatkan waktu kalian, biar Tsabita segera punya adek." kata bu Fatma.
"Ayah..." teriak Dirga yang tiba-tiba menghambur ke dalam pelukan Dewa.
"Kakak... kenapa?"
"Ayah sama bunda mau ke mana?"
"Tapi kan kakak mau ikut."
"Iya, kapan-kapan kakak boleh ikut kok. tapi tidak sekarang ya." kata Dewa.
"Yah..."keluh Dirga.
"Kakak mau ini?" tanya Melati sambil memberikan es krim kesukaan Dirga.
"Mau bunda, mau." kata Dirga kegirangan.
"Tolong ijinin bunda mengurus pekerjaan bunda dulu ya, kakak kan anak baik." kata Melati.
"Di rumah sama nenek dan om kembar, seru kan? Nanti kita main bola bareng-bareng." kata bu Fatma lagi.
"Ehm, ya nenek." jawab Dirga.
"Anak pintar." puji Dewa.
Kemudian Dewa dan Melatipun berpamitan kepada bu Fatma.
Mereka menaiki mobil menuju Bogor.
__ADS_1
"Mas, mas Ga capek nyetir sendiri?" tanya Melati.
"Engga, ini udah biasa. Dulu mas malah sering bolak-balik Jakarta Solo naik mobil sendiri." kata Dewa.
"Iya juga sih."
Delapan jam perjalanan, akhirnya mereka telah tiba di kota Bogor. Melati dan Dewa chek in di hotel yang sudah disediakan oleh pak Richard. Setelah masuk kamar, dan beristirahat serta bersih-bersih, merekapun bersiap pergi ke bioskop yang sudah ditentukan oleh oak Richard.
Sesampainya di Mall, Ternyata sudah ada pak Richard bersama istrinya, dan Latif, yang ternyata juga sudah bersama Zia.
"Lhoh, Zi, kapan kamu ke Jakarta? Kok aku ga tau?" tanya Melati.
"Kemarin. Abis dari resepsimu, aku ikut mas Latif ke Jakarta, dan tinggal di rumah pak Richard untuk sementara waktu." jawab Zia.
"Yuh, kalian ini, jangan lama-lama lah, segera di halalin aja nama sih mas Latif ini?" kata Dewa kepada Latif.
"Hehe, iya mas. Maunya sih gitu, gercep. Tapi, saya masih menunggu keluarga saya dulu mas." kata Latif sungkan. Karena lamaran mereka terjadi saat Melati Di talak Ugi, tetapi justru Melati yang kini sudah menikah lebih dahulu dibandingkan mereka.
Merekapun mengobrol di dalam bioskop sambil menanti filem diputar.
Saat film diputar, Dewa sangat menghayati film itu, dan disaat adegan romantis, tangan Dewa seketika langsung memeluk tubuh Melati.
"Kamu pintar sekali membuat cerita sayang." puji Dewa.
"Bukan aku yang pintar mas, tetapi sutradara nya yang keren, karena pintar mengatur dan aktornya juga bisa menghayati banget gitu."
"Itu aku ya?" tanya Dewa saat melihat adegan seorang guru menggendong muridnya yang pingsan.
"Hehe, iya." jawab Melati.
"Sekarang, masih mau digendong lagi?" tawar Dewa.
"Ish, apaan sih mas?"
"Tenang, nanti pulang dari sini, mas Gendong lagi deh, dan kita..." kata Dewa sambil memainkan alisnya memberi isyarat untuk malam panas lagi.
"Ih. mas...Apaan sih, mulai deh."
"Mesum." kata Melati berbisik di telinga Dewa.
"Mesum sama istri sendiri, boleh dong." kata Dewa sambil merangkul Melati dan menyandarkan kepalanya di pundak Melati.
"Ehem, ehem, ada yang belum halal lho, jangan di panasin napa?" omel Latif dari belakang Melati dan Dewa.
"Makannya, segera halalin dong bro." kata Dewa.
Merekapun tertawa dan menikmati film dari unggahan novel karya Melati sampai selesai, dan akhirnya merekapun berpisah untuk kembali ke rumah mereka masing-masing.
__ADS_1