Seputih Melati

Seputih Melati
Cerita Sahabat


__ADS_3

Setelah mengetahui kenyataan bahwa pengasuh baby nya telah menikah, Dewa tampak gusar. Sesampainya di sekolahan dia tidak bisa fokus mengajar. Hingga jam pulang sekolah dan sampai di rumah, pikiran Dewa masih terusik dengan ucapan Melati tadi pagi. Dewa masih tidak percaya bahwa Melati sudah menikah. Di sekolahan tadi, Dewa sempat menghitung dengan jarinya, perkiraan usia Melati, dan dia benar-benar baru menyadari bahwa Melati diperkirakan sudah berusia duapuluh tahun, dan itu hal yang wajar jika Melati sudah menikah.


Malam itu, setelah menidurkan Dirga dan Tsabita, Dewa mengambil ponselnya dan menghubungi sahabatnya.


📞 Guntur


"Halo Tur."


'Ada apa bro?'


"Masuk apa lo?"


'Pagi.'


"Berarti ini di rumah?"


'Engga. Ini gue di warkop. Kenapa?'


"Bisa main ke rumah gue ga? Gue pingin cerita nih."


'Ok. Otw.'


Setelah itu, panggilan terputus. Dewa kembali menatap foto istrinya. Hari-harinya memang terasa sepi tanpa belahan jiwanya.


Tak berapa lama kemudian, Terdengar suara motor berhenti di depan rumahnya. Yang sudah pasti itu sahabatnya yang di telpon nya tadi.


"Assalamualaikum." salam Guntur.


"Wa'alaikumsalam." jawab Dewa sambil membuka pintu rumahnya.


"Hei bro. Di dalem apa diluar aja nih?" tanya Dewa.


"Kalau diluar aja gimana? Anak-anak aman kan?" tanya Guntur.


"Aman kok. Ya sudah, duduk." kata Dewa mempersilakan Guntur duduk di kursi yang ada di teras.


"Tumben pingin cerita? Mau cerita apa lo? gue harap sih cerita lo ini ada hubungannya dengan mama baru buat anak-anak." kata Guntur sambil tersenyum.


Dewa tertunduk dan tersenyum kecut. Dewa bingung mau memulai ceritanya dari mana, dia mengusap dagunya sambil berfikir.


"Ehm, gue bikinin kopi dulu aja deh ya." kata Dewa beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Hh, gue pikir emang sengaja kalau gue bakal dianggurin." kata Guntur.


"Sorry, gue lupa." kata Dewa.


"Bentar ya." lanjutnya.


"Okey."


Saat di dapur membuat kopi untuk Guntur dan dirinya, sambil mengaduk kopi, dia mencoba untuk mencari ide permulaan ceritanya. Hingga akhirnya, Dewa mengantarkan kopinya sampai di depan. Tampak Guntur sedang asyik menyesap rokoknya.


"Diminum bro. Sorry, adanya cuma ini." kata Dewa sambil meletakkan dua cangkir kopi di atas meja bulat yang ada di terasnya. Kemudian meletakkan dua toples berisi camilan.


"Iya, gue paham. Ga ada istri ya wajar kalo dapur lo kosong. hahaha." ejek Guntur.


"Sialan lo." umpat Dewa.


"Eh, betewe, elo mau cerita apa? Tumben pingin cerita, biasanya kalau elo mau curhat tu, yang diceritain masalah cewek." kata Guntur yang sudah hafal dengan kebiasaan Dewa.


"Soalnya kalo masalah ujian hidup, pekerjaan, anak, kayaknya elo udah lebih cerdas dari gue." tebak Guntur lagi.


"Ehm..." Dewa masih berfikir untuk memulai ceritanya.


"Oh... Ugi? PMI?" tanya Guntur.


Dewa menggangguk.


"Dia udah gue anggep sebagai adik gue sendiri bro. Begitupun dengan Dia, dia juga udah anggep gue abangnya sendiri. Dia sering main juga ke rumah gue. Kenapa emangnya?" tanya Guntur.


"Brati...lo juga tau dong, kalau dia udah nikah?" tanya Dewa.


Guntur mengangguk, tapi dengan wajah terheran-heran.


"Elo...tau dari mana?" tanya Guntur sambil tangannya mengelus dagunya yang berjenggot tipis.


Dewa menarik napas dalam, dan mengeluarkannya perlahan.


"Elo tau istrinya?" tanya Dewa.


"Belum. Soalnya, gue belum berkunjung, dan belum dikenalin. Dia itu, nikahnya dadakan, dan untuk resepsinya, belum digelar." jawab Guntur.


Dewa sudah paham, kenapa mereka menikah mendadak. Karena pernikahan mereka atas permintaan nenek Melati.

__ADS_1


"Kenapa sih? Elo tau Ugi udah nikah dari siapa?" tanya Guntur masih heran.


"Ehm... kebetulan, istrinya Mas Ugi itu...bunda asuhnya Tsabita." jawab Dewa.


Seketika Guntur terkejut dengan fakta yang ada.


"Elo serius?" tanya Guntur. Karena tadinya, Guntur maunya sih, Dewa menikah lagi dengan wanita yang begitu menyayangi anak-anaknya, yaitu pengasuh anak-anaknya. Tetapi, ternyata gadis itu sudah menikah dengan orang lain, dan itu adalah sahabatnya sendiri.


Dewa mengangguk, dengan wajah galau.


"Wah, ga ada kesempatan lagi dong buat elo deketin pengasuhnya si cantik. Padahal, gue berharap banget, elo segera nikah lagi, tapi sama pengasuhnya si cantik." kata Guntur.


"Hm...ya...itu Tur, tadinya gue udah mau berubah pikiran biar ga kolot banget gitu. Gue...gue kasihan sama anak-anak gue. Mereka butuh ibu, dan... seperti kata elo dan mertua gue... tadinya gue mau membuka hati untuk pengasuh Tsabita. Tapi... gue masih gengsi. Secara... pengasuh Tsabita itu, dulu murid gue. Dan gue pikir, dia masih bocah. Ternyata..." kata Dewa terbatas-bata.


"Ternyata elo ke duluan orang lain?" tebak Guntur.


Dewa mengangguk.


Guntur mengubah posisi duduknya menghadap Dewa.


"Gue kan udah pernah bilang, kalau elo ngikutin prinsip elo tu, yang maunya nunggu sampe seribu hari kepergian Tsania, bisa-bisa pengasuh si Cantik di lamar orang. Dan... bener kan? Ke duluan?" kata Guntur.


Dewa hanya diam. Tak menyanggah sepatah katapun perkataan Guntur.


"Ya udah, sekarang udah terlanjur kan, mending elo nata hati lagi aja. Elo coba buka hati buat cewek lain deh. Karena cewek di dunia ini ga cuma Pengasuh si Cantik doang. Masih banyak kan cewek diluaran sana yang baik juga, cocok buat jadi istri elo, dan jadi mamanya anak-anak." kata Dewa.


"Ehm, masalahnya, gue masih bisa move on dari istri gue Tur. Gue masih belum bisa nerima cewek lain hadir di hati gue. Gue khawatir aja gitu, kalau gue salah pilih, dan anak-anak gue jadi anak tiri yang tersakiti." kata Dewa.


Guntur tampak berfikir. Dia sadar, bahwa orang di hadapannya ini bukan sekedar seorang laki-laki yang mencari calon istri saja, tetapi juga menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya. Tentunya memang harus selektif mencari wanita yang benar-benar bisa mencintai anak-anak Dewa sekaligus bisa menjadi orang yang dicintai Dewa.


"Ya udah bro, mending elo fokus merawat anak-anak dulu aja deh. Kalau memang jadi rejekinya anak-anak, InshaaAllah, akan datang seorang wanita yang tulus mencintaimu, juga mencintai anak-anakmu." kata Guntur.


"Thanks ya bro." kata Dewa.


Guntur mengangguk.


"Ehm, tapi ada sih rekan kerja gue di sekolahan, dia masih gadis, tapi usianya juga udah sekitar seumuran kita juga. Dia baik, cerdas, dan dia juga sabar jika mengajar. Sangat jarang gue ngelihat dia marah. Kemarin aih, sebenarnya dia ngajakin gue ngobrol, kayaknya dia mau PeDeKaTe gitu sama gue, tapi ga tau kenapa, hati gue masih beku, belum bisa melunak untuk menerima wanita lain di hatiku." kata Dewa.


"Ah elo mah, dari dulu ga berubah. Kalo udah cinta sama si A, udah itu aja lempeng, dan ga mau noleh ke yang lain." omel Guntur.


Keduanyapun bercakap ringan tentang kehidupan sehari-hari.

__ADS_1


__ADS_2