
Dua tahun lamanya, Melati harus menjalani tetapi untuk tangannya. Dan hari ini adalah hari terakhir jadwal terapi nya bersama dokter Arifin.
"Wah, perkembangan yang pesat Melati, tangan kamu sudah saya nyatakan sembuh, jadi hari ini adalah hari terakhir kamu tetapi ya." kata dokter Arifin sambil menulis resep disecarik kertas.
"Alhamdulillah. Terimakasih banyak dokter." kata Melati.
"Terimakasih banyak dokter, sudah membantu putri saya." kata pak Yudi.
"Sudah menjadi tugas kami selaku dokter pak." jawab dokter Arifin.
"Ini resep nya, dan semoga obat ini adalah obat terakhir yang kamu minum ya Mel, biar ga bolak balik ke Ruang sakit lagi, dan ga perlu menjalani terapi lagi. Minum obat terus selama setahun lebih, bosen kan ya Mel?" tanya dokter Arifin dengan senyum lebarnya.
"Hehe, iya dok." jawab Melati.
"Yang jelas, ini semua karena keoptimisanmu Melati, selama kamu semangat untuk sembuh, pasti akan cepat sembuh." kata dokter Arifin.
"Ya dokter."
"Oya dokter abis ini, Melati udah boleh sekolah belum dok?" tanya Melati polos.
"Oh, ya tentu boleh. Kamu sudah boleh berkegiatan apapun itu, termasuk sekolah lagi. Kejar mimpimu Melati, jangan pernah ragu untuk kembali belajar, usiamu masih muda, masih banyak kesempatan yang bis a kamu raih Mel." kata dokter Arifin.
"Ya dokter. Sekali lagi, terimakasih banyak dokter." kata oak Yudi.
"Sama-sama Pak. Sampai ketemu lain waktu ya Melati. Tapi semoga tidak dalam keadaan sakit." kata dokter Arifin tersenyum lebar, seperti biasa, senyuman dokter Arifin mampu menghipnotis Melati, menjadi suntikan semangat untuk dirinya.
Melati dan pak Yudi pun berpamitan pada dokter syaraf itu, lalu menuju apotek untuk menebus obat.
"Alhamdulillah ya pak, akhirnya Melati sembuh juga." kata Melati dengan riangnya.
"Iya sayang." jawab pak Yudi.
"Kita makan dulu ya nak." kata pak Yudi.
"Ya pak." jawab Melati.
__ADS_1
Merekapun mampir di warung bakso dekat rumah sakit tempat Melati terapi.
"Pak, terimakasih ya pak, bapak selalu mengantarkan Melati periksa, tanpa mengenal lelah." kata Melati sambil memasukkan potongan bakso ke dalam mulutnya.
"Sama-sama sayang. Bapak sangat bahagia bisa melihatmu ceria lagi, tersenyum lagi, dan sebentar lagi, kamu akan memakai seragam lagi sayang. Tetap semangat ya, besok kita akan daftar sekolah." kata pak Yudi.
"Ya pak." jawab Melati.
"Oya pak, tahun ini, adek adek sudah akan di daftarin sekolah ya pak?" tanya Melati.
"Iya Mel. InshaaAllah besok bapak akan daftarkan mereka sekolah di TK Negeri deket rumah." jawab pak Yudi.
Merekapun melanjutkan makan bakso, sampai habis. lalu mereka pulang.
Keesokan harinya, Pak Yudi mengajak Melati untuk mendaftarkan sekolah adik adiknya. Setelah itu. Mereka menuju SMP tempat Melati belajar dahulu. tetapi di sana tidak bisa menerima siswa baru yang sudah sempat berhenti beberapa tahun. Sehingga, pak Yudi sempat kecewa. Saat diparkiran akan mengambil motor, Melati memegang tangan bapaknya.
"Bapak, Melati ga harus sekolah disini kok. Kan sekolahan lain masih bisa, seperti kata pak dokter Arifin kemarin, Melati bisa lanjutin sekolah di SKB." kata Melati dengan tersenyum.
Senyuman itu mampu memompa semangat pak Yudi lagi, namun tetap saja pak Yudi kecewa, karena dia tidak bisa mewujudkan keinginan putrinya untuk sekolah di SMP negeri yang termasuk favorit di kotanya.
"Baiklah, sekarang Mbak Melati mau sekolah dimana?" tanya pak Yudi.
"Okey, baiklah. Kita ke sana ya mbak." kata pak Yudi.
"Bismillah." kata pak Yudi lagi setelah menstater motor matic berwarna biru.
"Bismillah." kata Melati juga sambil membonceng bapaknya. Tangannya melingkar di pinggang bapak nya. Ada kehangatan yang dirasakan Melati dalam pelukan itu. Bau keringat bapaknya yang sedari tadi berjuang untuk kelangsungan pendidikan anak-anaknya.
"Terimakasih bapak." batin Melati sambil memeluk erat tubuh yang tak muda lagi itu.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah yang dimaksud, hati pak Yudi benar-benar hancur atas penolakan sekolah favorit itu tadi. Matanya berkaca-kaca.
"Maafkan bapak mu nduk, bapak tidak bisa memberikan mj kebahagiaan seperti hal nya anak-anak lain. Kamu anak kuat nduk, bapak sangat bersyukur memiliki putri sepertimu. Bapak akan lakukan apapun, demi kamu nduk. Demi kebahagiaan mu." batin pak Yudi.
Sesampainya di sekolahan yang dimaksud, Melati dan Pak Yudi turun dari motor, dan masuk ke ruang pendaftaran. Pak Yudi pub menyampaikan maksudnya, dan Alhamdulillah diterima dengan baik oleh pihak sekolah.
__ADS_1
"Baik bapak, ini kwitansi pendaftaran nya, ini formulirnya, bisa diisi, dan ini anggaran biaya daftar ulangnya. Dan ini brosur nya, bisa dibaca-baca terkait profil sekolahan kami." kata petugas pendaftaran.
"Terimakasih bu."
"Sama-sama pak. Selamat bergabung ya mbak." kata ibu petugas pendaftaran.
"Ya bu, terimakasih bu." kata Melati.
Setelah selesai, Melati dan pak Yudi mohon ijin untuk jalan-jalan di sekitar sekolahan, Melati ingin melihat suasana disana, dan mulai terbayang bagaimana rasanya dia memakai seragam putih biru lagi di tempat ini, bermain bersama teman-temannya. Dan satu ruang yang dituju, adalah Perpustakaan. Melati Membayangkan, dia akan menghabiskan waktu istirahat nya di sana, sambil membaca-baca buku novel dan biografi orang-orang hebat.
Melati pun berjalan ke parkiran untuk mengambil motor, diikuti pak Yudi yang mengikuti kemana Melati melangkah.
"Kamu senang nduk?" tanya pak Yudi.
"Alhamdulillah, seneng banget pak, semoga Melati bisa sekolah di sini ya pak, sampe lulus." kata Melati dengan binar kebahagiaan.
"Tentu nduk." kata pak Yudi.
"Langsung pulang aja ya pak, kasian adek-adek, pasti sudah menunggu." kata Melati.
"Iya nduk."
Merekapun menyusuri jalan pulang dengan banyak bercerita. Pak Yudi lebih banyak diam sambil mendengarkan Putrinya bercerita, dan sesekali mereka tertawa bersama.
"Bapak sangat bahagia nduk, melihatmu ceria lagi. Sudah ada secercah harapan untuk masa depanmu, semoga kamu sukses ya nduk." batin pak Yudi.
Sedangkan Melati yang di bonceng, terus tersenyum membayangkan dirinya akan kembali merasakan bangku sekolah. Satu hal yang sangat dia rindukan dua tahun ini.
"Bapak, kau adalah cinta pertamaku, kau adalah laki-laki terhebat ku, kau adalah pangeran ku, dokterku, guruku, dan semua profesi ada padamu bagiku. Karena kau selalu setia menemani hari-hariku. Terimakasih bapak. Melati sayang bapak.". batin Melati sambil memeluk bapaknya di motor dengan cukup erat.
Namun tiba-tiba, disebuah persimpangan jalan, Sebuah truck melaju dengan cukup kencang, sedangkan pak Yudi dalam keadaan setengah melamun. Hingga akhirnya, sesuatu yang tak diinginkan pun terjadi.
"Astaghfirullah!!!" spontan pak Yudi membanting stir motornya.
Brugh....
__ADS_1
Melati yang duduk menyamping, sudah terpelanting jauh ke sisi kiri, sedangkan pak Yudi berada ditengah jalan, dengan tertimpa motornya. Darah segar mengalir di seluruh tubuhnya, terutama di kepalanya. Helem yang dia kenakan masih terpasang, namun dalam keadaan miring. Samar-samar banyak orang mendekatinya, dan mengerubungi tubuhnya.
"Laa illa ha illallah. Laa illa ha illallah, Laa illa ha illallah." kalimat itu selalu terucap dari mulut pak Yudi yang sudah berlumur darah, hingga akhirnya pak Yudi tak sadarkan diri.