
Setelah mendapat keterangan dokter, malam itu juga Guntur langsung menghubungi Melati lagi. Namun, nomer yang dituju masih tidak aktif. Sehingga Guntur bingung harus menghubungi siapa. Saat Guntur sedang bingung, Laili datang menghampirinya.
"Mas Guntur." sapa Laili.
"Eh, mbak... ehm, siapa saya lupa." kata Guntur sambil mengingat-ingat. Karena Guntur kurang familiar dengan gadis ini dan keluarganya.
"Laili." jawab Laili.
"Oh, ya. Mbak Laili. Ibu bagaimana keadaannya?" tanya Guntur.
"Alhamdulillah, ibu sudah lebih baik mas. Tadi hanya terlalu banyak menghirup asap, sehingga ibu jadi sesak napas." jawab Laili.
"Lalu, sekarang rencananya kalian akan tinggal dimana?" tanya Guntur, karena rumah Laili hangus terbakar.
"Kemungkinan kita akan kembali ke kampung mas." jawab Laili sendu.
"Jadi kalian masih ada rumah di kampung?" tanya Guntur.
"Ada mas. Rumah yang di perumahan ini rumah saya, kebetulan ibu jatuh sakit, dan minta dirawat oleh saya di rumah saya. Sedangkan yang dikampung itu rumah orang tua saya. Kebetulan bapak saya belum lama juga baru saja meninggal, dan ibu sakit stroke tidak ada yang merawat. Jadilah saya anak bungsu yang merawatnya, karena kakak-kakak saya sudah berkeluarga semua." jawab Laili.
"Oh, begitu? Terus, ini ibu sama siapa?" tanya Guntur.
"Sama kakak saya mas." jawab Laili.
"Oh..."
"Ehm, mas... Gimana keadaan Ugi?" tanya Laili.
"Ugi? Ehm, luka bakarnya cukup serius mbak." jawab Guntur.
"Yaa Allah. Terus, keluarganya udah dihubungi?" tanya Laili.
"Ini saya baru mau menghubungi adiknya." jawab Guntur.
"Oh, ya mas. Dihubungi dulu aja." kata Laili.
"Ya mbak. Sebentar ya." kata Guntur. Lalu mencari nama Muna di kontaknya, karena dulu waktu HP Ugi error, Ugi sempat pinjam HPnya untuk menghubungi adiknya.
πMuna
'Halo, Assalamualaikum.'
"Wa'alaikumsalam dek Muna. Ini saya Guntur."
'Oh. bang Guntur. Ada apa bang?'
"Ehm, Muna. Ini bang Guntur cuma mau kasih kabar dulu aja sih, kalau masmu Ugi mengalami kecelakaan. Dan ini di rawat di Rumah Sakit."
'Apa? Innalillahi. Rumah sakit mana bang? Biar saya langsung ke sana aja.'
"Di RSUD."
'Memangnya mas Ugi kecelakaan apa mas? Motor?'
"Ehm, bukan. Tadi ceritanya pas dia mau nganterin saya pulang. kita melihat ada kebakaran, dan ternyata Ugi nekad untuk menolong seorang ibu-ibu yang terjebak di tengah rumah yang terbakar itu. Akhirnya Ugi kena balok yang terbakar, akhirnya dia terluka dan mau ga mau harus dibawa ke rumah sakit."
'Yaa Allah. Ya bang, terimakasih infonya, Muna segera otw ke sana. Ini dari Jogja.'
"Dari Jogja? Mending besok aja gapapa dek. Ga harus malam ini, malam ini saya jaga aja gapapa kok."
'Iya bang, gapapa. Muna juga ga sendiri kok ke sananya, Muna akan minta tolong temen buat nganterin ke sana.'
"Ya sudah, terserah dek Muna aja. Karena Melati ini juga belum bisa dihubungi."
'Mbak Melati ga di rumah?'
"Engga dek. Baru tadi siang Melati dianter Ugi berangkat ke Bogor dan ke Jakarta. Katanya ada urusan terkait novelnya."
'Ga bisa ditelpon bang?'
"Ga bisa dek. Makannya ini saya hubungi kamu."
'Oh, ya udah, nanti Muna hubungi orang rumah bang. Titip mas Ugi dulu ya bang.'
"Okey. Kamu tenang aja. ga usah buru-buru. Ini cuma jaga-jaga aja kalau ada kemungkinan Ugi ditindak lanjuti. karena saya tidak kuasa memberi persetujuan."
__ADS_1
'Ya udah, ya bang, Muna segera meluncur ke RSUD.'
Setelah dirasa cukup, panggilan dikahiri.
"Gimana mas?" tanya Laili.
"InshaaAllah adiknya nanti akan segera menyusul ke sini."
"Oh, ya syukurlah."
"Keluarga Saudara Mugi Raharja." panggil seorang perawat.
"Ya sus." jawab Guntur.
"Pasien sudah sadar."
"Baik sus."
Gunturpun beranjak masuk ke dalam ruangan Ugi.
"Mas, saya ikut ya." kata Laili.
"Ehm, ya."
Keduanya masuk ke dalam ruang rawat inap Ugi. Dan sesampainya di dalam, Ugi tampak berbaring dengan lemah.
"Gi." sapa Guntur.
"Bang." jawab Guntur.
"Ugi." panggil Laili.
Ugi menoleh ke arah Laili.
"Laili?"
"Aku minta maaf, karena kamu menyelamatkan ibuku, kamu jadi begini." sesal Laili.
"Ga masalah." jawab Ugi.
"Oya Gi, gue udah hubungi adik elo, Muna. Tapi sorry, gue belum berhasil ngehubungin Melati." kata Guntur.
"Bang Guntur punya nomernya Melati?" tanya Ugi heran.
"Gue minta Dewa."
"Bang, gue mohon. Jangan kabarin Melati." kata Ugi.
"Kenapa?"
"Dia baru aja memulai mencapai impiannya bang. Biarkan dia selesaikan urusannya di sana. Kalau dia tau keadaanku, dia pasti akan meninggalkan semua urusannya untuk kembali ke sini." jawab Ugi.
"Ehm. baiklah."
"Melati? Siapa dia? Kenapa selalu disebut maa Guntur?" batin Laili.
"Permisi. Saudara Mugi Raharja, saya periksa dulu ya." kata Dokter.
"Baik dokter."
Dokter pun melakukan beberapa Pemeriksaan pasca siuman. Saat sampai di kaki, dokter melakukan beberapa pengecekan dan anamnesti.
"Gimana dok?" tanya Ugi.
"Ehm. maaf mas. Dari hasil pemeriksaan... anda mengalami..." kata dokter terputus.
"Apa dok?" tanya Ugi.
"Kelumpuhan." jawab Dokter.
"A-Apa? Lum-Lumpuh?" tanya Ugi Syok.
Begitupun dengan Guntur dan Laili yang melihat keadaan Ugi.
Ugi meraung, menangis dan terus memukuli kakinya.
__ADS_1
"Istighfar Gi, istighfar." titah Guntur sambil menenangkan keadaan Ugi gang
Begitupun dengan Laili yang tak kuasa membendung air matanya. Dia ikut Guntur untuk menenangkan Ugi yang syok.
Setelah Ugi tenang, Ugi berpesan pada Guntur.
"Bang, jangan kasih tau Melati ya. Please."
"Tapi Gi, keadaan elo kaya gini. Dia haris ngerawat elo." kata Guntur.
"Engga bang. Katakan sama dia, gue baik-baik aja."
"Tapi Gi..."
"Saya akan bertanggung jawab untuk keadaan Ugi. Saya akan merawatmu Gi." kata Laili.
"Ta...Tapi Lel."
"Apapun keadaanmu, aku akan merawat Gi. Aku mohon. ijinkan aku merawatmu." kata Laili.
Guntur dan Ugi saling berpandangan. Guntur berharap, Ugi akan menolaknya, karena dia khawatir Melati akan cemburu.
"Baiklah." jawab Ugi, yang seketika membuat Guntur tercengang.
"Gi..." tegur Guntur.
Ugi menoleh ke arah Guntur.
"Aku akan menerima tawaranmu Laili." jawab Ugi.
"Gi. jangan gila lo." tegur Guntur.
Ugi tak menggubris Guntur.
πππ
Sedangkan di tempat lain, Muna mencoba bersiap sambil menelpon sahabatnya, Satria.
πSatria
'Halo.' jawab Satria dengan suara khas orang tidur.
"Sat, tolong anterin gue ke Solo ya. Sekarang."
'What? Ke Solo? Sekarang?' tanya Satria.
"Iya. Sekarang. Please. Bisa ya."
'Ngapain malem-malem gini?'
"Mas Ugi kecelakaan, dia kritis. Ini di RS. Mbak Melati lagi diluar kota."
'Apa?'
' Ehm, ya ya. Gur anter lo sekarang.'
"Gue udah siap. Elo langsung aja jemput gue ya."
'Okey.'
Tak lama kemudian Satria sudah tiba di depan kosan Muna, dan langsung ke Solo berboncengan menembus angin malam. Muna yang merasa kedinginan, refleks merangkul tubuh Satria. Satria yang merasakan tubuhnya di rangkul Muna, merasakan hal yang aneh dalam dirinya. Jantungnya berdegup cukup kencang. Karena dia menduga bahwa Muna kedinginan, saat tiba di lampu merah, Satria berhenti sejenak, lalu melepaskan jaket kulitnya, dan di berikan pada Muna, agar di pakai Muna.
"Lo pake ini ya." kaya Satria.
"Eh, ga usah Sat." tolak Muna.
"Pake aja. Kita ini mau jengukin mas Lo, entar elo masuk angin lagi. Pake." titah Satria.
"Baiklah." jawab Muna ragu.
Setelah lampu hijau, lagi-lagi Muna memegang baju Satria, tetapi tidak memeluknya. Namun, karena Satria terus melajukan motornya dengan cukup kencang, khawatir Muna mengantuk, tangan kiri Satria meraih tangan Muna yang ada di belakang, dia raih tangan Muna untuk dia letakkan di pinggangnya. Muna terkejut, namun akhirnya menurut juga.
"Tidurlah dulu. Letakkan kepalamu di punggungku kalau lo ngantuk." kata Satria masih terus melaju.
Muna yang memang merasakan kantuk, akhirnya menurut juga. Hingga tiba di RSUD kota Solo, Muna segera masuk ke rumah sakit bersama Satria. Satria terus mendampingi Muna, tanpa meninggalkannya, sampai di ruangan Ugi.
__ADS_1
πππ
Maaf reader.Lama Up nya. Author ketiduran terus dia hari ini, ga kuat nahan kantuk.