
Sepeninggal Dewa, Melati segera menggendong Baby Tsabita yang kini usianya sudah dua bulan. Dia gendong sambil bersholawat dan sebelumnya dia membacakan Umul Kitab 'Alfatihah' sebanyak tujuh kali, dan ayat kursi. Melati mengelus kepala Tsabita dengan lembut. Hingga perlahan-lahan tak memakan waktu lama, hanya sekitar sepuluh menit, baby Tsabita sudah terlelap dengan tenang.
"Wah... bunda hebat sekali. Dalam keadaan rewel, bisa menenangkan Tsabit. Tadi tu, Dewa sudah frustasi, karena melihat keadaan Dirga yang mengkhawatirkan, ditambah Tsabita yang rewel, tidak mau digendong siapa saja, termasuk eyang. Lalu Eyang memang yang meminta Dewa untuk menelpon bunda, karena bunda adalah orang yang mengasuh Tsabita. Siapa tau, dipegang bunda, Tsabita bisa lebih tenang." kata ibu mertua Dewa.
"Alhamdulillah bu. Sepertinya memang Tsabita juga sudah kecapekan bu, menangis sejak tadi. Makannya ini langsung tidur." kata Melati sambil tetap menggendong dan memegang dot untuk diminumkan pada Tsabita. Hingga susu formula ada dot itu habis, Tsabita juga tampak pulas. Kemudian Melati melepas dot itu, dan meletakkannya di meja makan. Masih dengan bersholawat, Melati meletakkan baby Tsabita di kasur bayi yang ada di kamar. Kamar yang jauh dari kata rapi, karena memang tidak ada sosok wanita dewasa di sana. Sedangkan Dewa sendiri sudah sangat repot dengan profesinya dan masih harus merawat dua anaknya.
"Maaf bu, saya titip dulu ya bu, sudah adzan, saya mau ijin sholat dulu." kata Melati
"Oh, iya bunda." jawab ibu Mertua Dewa.
Setelah selesai sholat, Melati mendekati ibu Mertua Dewa, saat melihat Tsabita masih terlelap dalam tidurnya.
"Bunda namanya siapa? Eyang lupa." tanya ibu Mertua Dewa, setelah Tsabita berhasil di tidurkan tanpa drama.
"Nama saya Melati bu." jawab Melati ramah.
"Oh, ya. Saya Darsi, ibu mertuanya Dewa. Terimakasih banyak bunda Melati, sudah mau membantu Dewa."
"Sebenarnya, saya sudah melarang dia untuk pindah rumah, karena mengurus dua anak itu tidak lah mudah, jika dia mengurus seorang diri. Apalagi dia laki-laki. Tetapi, dia bersikukuh memilih pindah ke perumahan ini dan tinggal sendiri." lanjut Bu Dari.
"Tapi memang, wajar sih jika dia memilih pindah. Karena keberadaan eyang juga justru menjadikan beban untuknya. Karena keadaan eyang yang seperti ini." kata bu Darsi.
"Ibu jangan bilang seperti itu. Ini Alhamdulillah ibu masih bisa duduk, memangku si cantik Tsabita." kata Melati sambil duduk di dekat bu Dari sambil memegang tangan yang sudah mengeriput itu.
"Tapi tetep aja bunda, buktinya tadi Tsabita juga ga mau dipangku eyangnya." kata Bu Darsi.
Melati tersenyum menanggapi keluhan ibu kandung dari wanita cantik yang dia sukai beberapa tahun lalu. Tsania.
"Ibu tadi ke sini dianter atau dijemput pak dewa?" tanya Melati.
"Di antar kakaknya Tsania. Semenjak Tsania meninggal, eyang memang tinggal di rumah kakaknya Tsania. Karena di rumah tidak ada orang yang mengurus eyang. eyang tu bener-bener ga berguna bunda." kata bu Dari sambil menangis merutuki nasib dirinya.
"Bu, istighfar. Setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti berguna. Ada manfaatnya. Keberadaan ibu itu sudah menjadi salah satu kekuatan untuk anak-anak ibu. Do'a dari seorang Ibu yang masih hidup, itu mampu menembus langit. Mampu melancarkan segala urusan anak-anaknya, mampu menolak bala bagi anak dan keluarganya, mampu melancarkan rejeki anak-anak nya. Dan do'a ibu juga bisa meringankan beban mbak Tsania di alam sana. Jadi, meski ibu tidak bisa apa-apa, tetapi do'a-do'a ibu itu sungguh luar biasa." kata Melati menyemangati.
Belum sempat bu Dari menjawab penjelasan Melati, tiba-tiba ponsel Melati berbunyi, tanda ada panggilan masuk.
📞Pak Dewa
'Assalamualaikum bunda.'
"Wa'alaikumsalam pak. Bagaimana keadaan Dirga pak?" tanya Melati.
__ADS_1
'Dirga...' Dewa tak melanjutkan, membuat hati Melati bergemuruh. Banyak fikiran negatif bermunculan di kepalanya.
"Kenapa Dirga? Apa separah itu dia?" batin Melati.
"Dirga kenapa pak?" tanya Melati penasaran.
'Dirga ternyata positif DB bunda, dan ini harus di rawat di rumah sakit. Gimana bun?' tanya Dewa dengan nada gusar.
"Innalillahi. Ya pak. Pak Dewa yang tenang, bapak di sana jagain Dirga, biar saya rawat Tsabita." kata Melati.
'Ya bunda. Bagaimana keadaan Tsabita bunda, saya kok tidak dengar suaranya menangis?' tanya Dewa.
"Alhamdulillah, Tsabita sudah bobok dari tadi pak, sebelum saya sholat."Kata Melati.
'Alhamdulillah. Terimakasih Bunda. Saya percayakan Tsabita sama bunda ya.' kata bunda Dewa.
"Ya pak. InshaaAllah."
Setelah itu, Dewa mengakhiri panggilannya kepada Melati.
"Dewa bun?" tanya bu Darsi.
"Bagaimana keadaan cucuku?"
"Ehm... Dirga...positif kena Demam Berdarah bu." jawab Melati.
"Ya Allah... Dirga... terus gimana bun?" tanya bu Darsi panik.
"Dirga harus dirawat di rumah sakit bu." kata Melati.
"Lha terus Tsabita gimana?" tanya bu Darsi.
"InshaaAllah Tsabita sama saya bu."
"Mau dibawa pulang ke rumah bunda apa di sini saja?" tanya bu Darsi.
Seketika Melati berfikir, karena jika Tsabita di bawa pulang, apakah pihak keluarga pak Dewa mengijinkan?
"Ehm, saya ngikut kata pak Dewa sekeluarga saja bu. Jika harus saya bawa ke rumah, InshaaAllah saya bawa." kata Melati.
"Oh, begitu?"
__ADS_1
"Tetapi malam ini, saya akan tidur di sini untuk menjaga Tsabita bu. Kasian sudah malam juga." kata Melati.
"Oh, iya bunda. Alhamdulillah kalau begitu."
Kemudian Melati mengabarkan ke rumah melalui ponsel si kembar, bahwa Melati belum bisa pulang malam ini karena anak pertamanya pak Dewa harus di rawat di rumah sakit.
"Bunda, tadi Dewa berpesan, kalau bunda belum makan, bisa ambil beberapa makanan di kulkas, dan boleh juga memasak." kata bu Darsi.
"Ibu sudah makan belum?" tanya Melati.
"Belum bunda."
"Baiklah, saya akan masak kan dulu ya bu." kata Melati sambil beranjak dari kamar.
Setelah memberi kabar orang rumah, Melati ke dapur untuk memasak. Dia melihat beberapa makanan yang ada di lemari es. Setelah memasak, Melati mengajak makan bu Darsi.
"Masakanmu enak bunda." kata bu Darsi memuji.
"Terimakasih bu."
"Seandainya Dewa mau menikah lagi, Saya sangat berharap bunda bisa menggantikan Tsania sebagai ibu dari Tsabita dan Driga bun." kata bu Darsi sambil mengunyah makanan masakan Melati.
"Uhuk uhuk..." Melati yang tadi sedang memasukkan sendokan kedua tersedak saat mendengar penuturan bu Darsi terkait pernikahan.
"Hati-hati bunda." kata bu Darsi yang hanya mampu berkata di kursinya, tanpa bisa berpindah tempat.
"Iya bu, saya tidak apa-apa."
Belum sempat melanjutkan makannya, Tsabita terjaga dari tidurnya.
"Hoa...hoa..."
Melati segera menggendong Tsabita dan menenangkan nya, lalu setelah tenang dengan mensholawatinya, Melati segera memberinya minum susu.
Hingga jam sembilan malam, Melati baru bisa melanjutkan makannya. Dan terdengar notif pesan masuk dari Dewa.
📩Pak Dewa
Bunda, sudah makan belum? Di lemari es ada beberapa makanan. Anda bisa ambil makanan di sana, atau memasak sendiri juga boleh bunda. maaf merepotkan.
Melati segera membalas pesan itu, dan kemudian melanjutkan makan malamnya. Setelah makan. Melati menjaga Tsabita sambil menulis novel di ponselnya. Ya, itu adalah rutinitas Melati untuk sekedar menyalurkan hobinya.
__ADS_1