
"Terimakasih ukhti Melati." jawab Ugi sambil mengambil gelas berisi teh hangat buatan Melati, lalu mencicipinya.
Setelah meminum teh hangat, Ugi melihat sepiring mendoan yang menggugah selera.
"Ehm, itu...mendoannya boleh saya makan ga?"tanya Ugi yang seketika mendapat injakan kaki dari Ayub.
"Aduh..."rintih Ugi.
"Oh ya tentu boleh to mas. Itu di hidangkan di meja 'kan untuk dimakan, tidak untuk dianggurin." jawab Nenek yang duduk di kursi sebelah Ugi.
"Oh ya nek. Soalnya tadi ukhti Melati cuma nyuruh minum aja. Ga disuruh makan. hehehe." kata Ugi sambil menampakkan deretan gigi putihnya.
"Hahaha, mas Ugi ini bisa saja. Ya sudah, silakan dimakan mas." kata nenek.
"Siap." jawab Ugi sambil mengambil satu mendoan dari piring berwarna putih.
"Yub. Ambil yub." perintah Ugi pada Ayub.
"Silakan mas Ayub." kata Nenek.
"Ya nek. Terimakasih." jawab Ayub sambil mengambil satu mendoan dari piring yang sama.
"Enak banget, ini juga buatan ukhti Melati sendiri?" tanya Ugi sambil tangan kanannya masih memegang mendoan.
Melati yang sejak tadi duduk di kursi kecil dekat pintu, hanya mendongak tanpa menjawab, karena sudah di jawab oleh nenek.
"Iya mas. Itu buatan Melati sendiri. Melati ini memang jago masak. Sejak bapaknya meninggal, Melati memang sudah terbiasa masak sendiri, dan beres-beres rumah sendiri, sambil momong si kembar juga sendiri. Wis, pokoknya ngabehi mas." kata nenek menjelaskan.
"MaasyaaAllah, hebat ya. Oh, jadi Melati dan si kembar ini anak yatim ya nek?" tanya Ugi dengan wajah iba.
"Iya mas." jawab Nenek.
"Ehm, kalau boleh tau, memang ibunya kemana nek?" tanya Ugi penasaran dengan kehidupan gadis yang mencuri hatinya.
"Ibunya kerja di luar negeri mas, jadi TKW, sejak si kembar masih berumur dua tahun." jawab Nenek.
"Sampai sekarang?" tanya Ugi.
"Iya mas."
"Makannya mas, nenek tu sangat berharap, Melati tu segera menikah mas, biar di rumah ini ada laki-laki dewasanya, 'kan ayem to mas kalo ada laki-laki dewasa di rumah?" tanya nenek.
Melati yang dikatakan nenek diharapkan untuk segera menikah, seketika menoleh ke arah nenek.
"Kenapa nenek bilang kalo nenek ingin aku segera menikah? Padahal selama ini nenek ga pernah ngomong apa-apa tu terkait jodoh. Kenapa ini nenek malah cerita sama mas Ugi sih?" batin Melati.
"Oh, iya nek. Jelas. Keberadaan seorang laki-laki dewasa itu memang sangat berpengaruh dalam sebuah rumah. Misal genteng nya mlorot, pralon air pecah, ada binatang buas, 'kan memang membutuhkan peran laki-laki dewasa nek." kata Ugi yang tertarik dengan penyataan nenek.
"Hem, kecurigaan ane kayaknya terjawab nih. Ni orang kayaknya memang modus deh buat deketin mbaknya si kembar." batin Ayub yang bisa membaca gelagat Ugi.
__ADS_1
"Iya mas. Dulu sih Melati sering dibantuin tetangga saya depan rumah itu mas. Tapi, kemudian mas nya dikabarkan mengalami kecelakaan pesawat, jadi ya...sudah. Sejak mas Latif tidak di rumah, Melati melakukan semuanya sendiri. Kadang nenek tu merasa kasihan mas." kata nenek.
"Ehm, iya nek."
"Nah, kalo nenek boleh berharap sih, pinginnya Melati sama mas Ugi aja. Baru sekali ketemu, nenek udah yakin, kalo mas Ugi ini orangnya baik." kata Nenek yang seketika membuat Ugi tersedak mendoan yang sudah pengambilan ke tiganya. Tak terasa sambil mendengarkan nenek, Ugi comat comot mendoan terus.
"Uhuk uhuk."
"Hati-hati dong bro. Lagian ente nih. bertamu kok kaya ngerampok, mentang-mentang gratisan, terus nyomot mendoan terus, nih minum." omel Ayub sambil menepuk-nepuk pundak Ugi dan tangan kanannya menyodorkan gelas berisi teh hangat yang sudah tidak hangat milik Ugi
Melati yang duduk di dekat pintu seketika merona atas ucapan nenek. Dia benar-benar tak menyangka, kalau neneknya akan to the point pada Ugi.
"Abisnya enak banget sih. bikin ketagihan." kata Ugi sambil menatap lekat wajah ayu dengan pipi kemerahan karena merona menahan malu.
Saat sedang menikmati wajah ayu Melati, datang serombongan orang membawa sepeda mereka, dan berhenti di rumah Melati.
"Assalamualaikum..." salam Husein.
"Wa'alaikumsalam." jawab semua orang di teras itu bersamaan seperti koor.
Melati segera berdiri dari tempat duduknya.
"Mbak, Kembar sama Cakra mana?" tanya Husein.
"Itu." kata Melati sambil menunjuk kembar dan Cakra di dipan samping rumah mereka. Kebetulan Si kembar dan Cakra berjalan ke arah teras menemui Husein dan rombongan gowesnya.
"Kalian tadi kemana? Kita cari-cari sepanjang Car Free Day, kalian ga ada. Katanya mau jajan aja." kata Ibnu.
"Maaf mas. Tadi kita memang jajan, tapi terus Cakra ngajakin kita foto-foto di tempat lain, terus Aldi kebelet pup, terus kita nyari WC, kebetulan yang ada WC, jauh mas. Dan kita jadi lupa jalan kembali ke CFD." jelas Aldo.
"Hem...pantesan." jawab Ibnu.
"Lain kali, kalo kalian mau pergi agak jauh dari teman-teman, ajak orang yang dewasa, biar kalian ga nyasar lagi." kata Melati menasehati.
"Iya mbak."
"Mbak tu bukannya ngelarang kalian main, tapi ya kayak gini, mbak khawatir kalian nyasar, di culik. Untungnya aja kalian ketemu sama orang baik kaya mas Ayub dan mas Ugi. Coba kalo kalian ketemu ga sama orang jahat? Kalian pasti belum pulang ini." omel Melati yang di perhatikan tanpa berkedip oleh Ugi.
"Ehem. ghodul bashor!" kata Ayub meningkatkan dengan telapak tangannya di usapkan di wajah Ugi.
"Astaghfirullah." kata Ugi sambil mengusap wajahnya.
"Oh. jadi kalian tadi di tolongin mas ini?" tanya Husein menunjuk Ugi dan Ayub.
"Iya mas." jawab Aldo Aldi dan Cakra bersamaan.
"Terimakasih banyak ya mas, sudah nolongin mereka. Kita minta maaf atas kecerobohan kita, sampe mas berdua ini nganterin mereka pulang." kata Husein menjabat tangan Ayub.
"Eh, santai aja mas. Lain kali, kalo mau ngajak rombongan anak-anak yang masih usia SD, harus diawasi dengan ekstra ya. Jangan sembarangan kasih ijin untuk pergi-pergi." kata Ugi memberi nasehat.
__ADS_1
"Iya mas. Sekali lagi, maafkan kami mas." kata Husein dengan penuh rasa bersalah.
"Ehm, santai aja. Saya juga terimakasih sama kalian, kalo ga karena nganterin mereka pulang, mungkin saya belum tau rumah Ukhti Melati." kata Ugi sambil melirik Melati dengan tersenyum penuh arti.
"Cie cie... mas Ugi suka ya sama mbak Melati?" tebak Aldo.
"Cie cie...." Semua teman Aldo dan Aldi ikut menggoda.
"Wah, yo kebetulan dong mas. Nenek juga senang banget kalo mas Ugi mau jadi cucu mantu nenek." kata nenek berbinar. Membuat Melati menatap neneknya penuh tuntutan.
"Aldo sama Aldi juga setuju kok, kita seneng kalo punya kakak yang baik kaya mas Ugi." jawab Aldi dengan polosnya.
"Bener banget dek." kata Aldo membenarkan.
"Ehem, tapi ya, semua 'kan tergantung mbak Melati nya. Kalo mas Ugi sih, okey okey aja." kata Ugk dengan wajah berbinar sambil menatap wajah kemerahan milik Melati yang terbalut jilbab bergo warna hijau botol.
"Terima aja ya mbak." kata si Kembar sambil menggoyang-goyang tangan Melati.
"Ish, kalian ini apaan sih?" tepis Melati.
"Mbak, ya ya?" kata si kembar lagi.
Melati menatap Ugi yang sedari tadi tak mengalihkan pandangannya pada sosok gadis ayu itu. Mubadzir batin Ugi, vitamin C katanya. Vitamin Cantik. Sayang untuk dilewatkan...hehehe.
"Mbak harus bilang dulu lah sama ibu." kata Melati sambil masuk rumah.
"Yes, Pasti boleh lah kalo kata ibu." kata Aldi sambil mengepalkan tangannya tanda kemenangan.
"Ehm, ya sudah nek, Maaf, saya malah bikin ramai rumah. Kami pamit undur diri ya nek." kata Ug berpamitan menyalimi tangan nenek.
"Lhoh. kok buru-buru mas?" tanya Nenek.
"Iya nek, karena yang dipandang sudah masuk rumah." kelakar Ugi membuat teman-teman si kembar menyoraki lagi.
"Cie cie..."
"Tunggu mas, kalo gitu mendoannya dibawa pulang semua aja mas, buat dimakan di rumah." kata nenek sambil tergopoh-gopoh mencarikan bungkus untuk mendoannya dan memasukkan sisa mendoan dalam piring ke dalam kresek plastik berwarna putih.
"Wah, terimakasih banyak nek. Jadi ngerepotin. Yang banyak juga mau nek, karena rasanya bikin ketagihan." kata Ugi tanpa malu-malu. Karena kalo malu-malu, susah dapet rejeki, kata Ugi dalam hati.
"Dasar ente nih Gi. bikin gue malu aja." tegur Ayub.
"Usaha bro. Siapa tau berjodoh beneran." kata Ugi.
Kemudian merekapun pamit dan menaiki motor legend milik Ugi. dengan tak lupa membawa mendoan hasil karya Melati yang bikin ketagihan. Tak berapa lama kemudian, teman-teman Kembar juga pamit pulang semua.
ππππ
Kira-kira Melati sama Ugi berjodoh engga ya? Yang jelas, author berencana membuat kisah cinta Melati ini berbeda dengan novel Dede yang lain. ikutin terus novel seputih melati ini ya. jangan lupa like dan komennya. love you readerπ
__ADS_1