Seputih Melati

Seputih Melati
Melepas Rindu


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Melati yang lemas tak mau makan dan hanya sedikit minum, memilih untuk istirahat di kamarnya, dia tidak ingin di ganggu siapapun.


"Maaf bu, Melati ingin sendiri dulu, tolong beri waktu Melati ya bu." kata Melati lemah sambil membuka hendel pintu kamarnya, lalu dia masuk kamarnya dan mengunci pintunya.


Bu Fatma yang melihat keadaan Melati memilih diam, dan mengangguk saja, saat Melati meminta untuk menenangkan diri di kamarnya. Sedangkan Latif dan Zia masih duduk di kursi teras sambil mengobrol.


"Bagaimana dengan Melati bu?" tanya Latif saat melihat bu Fatma keluar rumahnya sambil membawakan teh hangat dan beberapa camilan.


"Melati ingin sendiri dulu mas Latif." jawab Bu Fatma.


"Oh, ya bu. Sebaiknya memang begitu." kata Latif.


"Maafkan Melati ya mas Latif, mbak Zia." kata bu Fatma sungkan dengan keadaan yang ada.


"Tidak masalah bu. Yang penting Melati baik-baik saja." kata Zia.


"Ehm, Zi, misal saya antar pulang dulu bagaimana?" tanya Latif.


"Ehm, tapi Melati...?" tanya Zia ragu.


"Ada ibu. InshaaAllah nanti kalau ada apa-apa, ibu kabari mbak Zia. Sebaiknya mbak Zia pulang dulu saja, hari juga sudah sore mbak." kata bu Fatma.


"Apa mas Latif mau langsung pulang ke Jakarta?" tanya bu Fatma.


"Ehm, sepertinya tidak bu. InshaaAllah saya baru akan kembali ke Jakarta besok pagi." jawab Latif.


"Oh, ya sudah." jawab Bu Fatma.


"Ya sudah bu, saya antarkan Zia pulang dulu ya bu." kata Latif.


"Ya mas."


Saat Latif mengantar Zia pulang,


"Zia."


"Ya mas?"


"Ehm, misal... sore ini saya mau ketemu orang tuamu langsung bagaimana? Karena besok ba'da subuh, saya sudah harus kembali ke Jakarta. Pekerjaan saya melambai-lambai." kata Latif.


"Oh, ya mas. Gapapa." jawab Zia sambil menunduk.


"Ehm, mas."


"Ya?"


"Mas Latif yakin mau meminang Zia? Bukankah mas Latif sukanya sama Melati? Ini Melati statusnya sudah tidak bersuami lho mas." kata Zia yang memang sepanjang jalan sejak daro Wonogiri, Zia terfikir oleh hal itu. Dia pasrah, jika cintanya bertepuk sebelah tangan, karena wanita yang dicintai Latif sudah berstatus janda.


"Apa maksudmu?" tanya Latif.


"Ehm, maaf mas." jawab Zia menunduk merasa bersalah.

__ADS_1


Latif menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Zia, namun Latif tidak segera turun, begitupun dengan Zia.


"Dengarkan aku. Dahulu, aku memang suka sama Melati. Tapi aku sadar diri, bahwa Melati tak pernah ada rasa cinta kepadaku. Selama ini, Melati hanya menganggapku masnya, kakaknya, dan itu tidak lebih. Seiring berjalannya waktu, aku berusaha untuk bisa menerima kenyataan itu, bahkan saat mendengar kabar bahwa Melati telah menikah. Hatiku sudah ku bersihkan dari namanya, dan mulai saat pertama kita ketemu kemarin, hatiku telah terisi oleh gadis cantik dan alim sepertimu, Fauzia." kata Latif menatap intens Zia. Zia menunduk Malu saat tau ditatap tajam oleh Latif, pria tampan yang memang dia sukai sejak bertemu di Jakarta.


"Te-terimakasih mas. Ehm, kita, sudah sampai kan ya?" kata Zia sambil memegang hendel pintu mobil, hendak keluar, namun lengan Zia ditarik Latif.


"Boleh kan aku menjadi suamimu?" tanya Latif sambil menatap Zia.


"Ehm. I-iya mas." jawab Zia tergagap karena terkejut.


Sesampainya di rumah Zia, Latif disambut hangat oleh keluarga Zia, dan merekapun mengobrol banyak, sampai akhirnya Latif memberanikan diri menyampaikan niat baiknya kepada kedua orangtua Zia. Dan keluarga Zia menyambutnya dengan suka cita.


💞💞💞


Sepeninggal Zia dan Latif, tak berselang lama ponsel Melati berdering. Karena Melati di dalam kamarnya, sedangkan ponselnya masih ada di dalam tasnya, dan tasnya disimpan bu Fatma di meja TV, maka saat ponsel Melati berdering, Bu Fatma segera mengangkatnya.


📞PakDewa


"Halo Assalamualaikum."


'Wa'alaikumsalam. Maaf, Bunda Melati nya ada?'


"Ada. Maaf, ini dengan siapa ya? Nanti saya sampaikan." jawab bu Fatma.


'Saya Dewa. Wali muridnya bunda Melati, saya orang tua dari Tsabita, bayi yang diasuh bunda Melati bu." jawab Dewa.


"Oh, ya sebentar ya pak. Saya panggilkan dulu."


Tok tok tok


"Mbak, ini ada telepon. Dari pak Dewa." kata bu Fatma.


Melati yang berada di kamarnya mendengar panggilan ibunya, awalnya saat mendengar dering telepon, dia enggan untu mengangkatnya. Namun. saat tau yang menelpon pak Dewa, Melati langsung teringat oleh Dirga dan Tsabita yang kemarin kabarnya mereka sakit. Melati mengetahui Dirga sakit, saat Melati membuka status WA Dewa.


"Ya bu." jawab Melati sambil membuka pintu kamarnya.


Melatipun segera keluar kamarnya dan menerima ponsel yang dipegang mamanya.


"Halo, assalamualaikum." salam Melati.


'Wa'alaikumsalam bunda Melati. Apa kabarnya bunda?'


"Ehm, ba-baik. InshaaAllah pak. Ada apa ya pak?"


'Ehm, begini bunda. Apa ini bunda Melati masih di Wonogiri?' tanya Dewa.


"Tidak pak, saya sudah di rumah. Ada apa ya pak? Apakah anak-anak baik-baik saja?" tanya Melati.


'Ehm. Begitu? Begini bunda, maaf sebelumnya. Jadi begini, anu...ehm... ini saya cuma mau mengabarkan kalau saat ini Adik baru di rumah sakit bunda.' kata Dewa.


"Yaa Allah, sakit apa pak? Kok bisa sampe di rawat?" tanya Melati cemas.

__ADS_1


"Ini karena dehidrasi bunda. Beberapa hari ini Adek memang agak susah makan dan minum susu. Apalagi kemarin saya terlalu fokus merawat Dirga yang juga demamnya tinggi." kata Dewa.


"Yaa Allah, jadi kakak juga demam pak?"


'Iya bunda. Dan kemarin saat panas, kalau tidur, kakak memanggil nama bunda Melati terus. Saya rasa, Dirga merindukan anda. Tadi di sekolahan juga langsung mencari anda.' kata Dewa.


"Yaa Allah, baik pak, saya segera temui kakak dulu, nanti barulah saya jenguk adik." jawab Melati.


'Ya bunda. Ini Kakak ada di rumah om Guntur bunda. Saya titip kan di sana.'


"Oh, baik pak, nanti saya ke sana." jawab Melati.


Setelah mengobrol di telepon dirasa cukup, Melatipun bersiap untuk pergi ke rumah Guntur untuk menjenguk Dirga.


"Mau ke mana Mbak?" tanya bu Fatma.


"Jenguk Dirga dan Tsabita bu. Mereka sakit."


"Ibu antar ya mbak."


"Ga usah bu, Melati bisa sendiri."


"Kami yakin, gapapa?"


Melati tersenyum menatap ibunya.


"Dia memang sudah melukai hatiku bu, tapu dua malaikat kecil ini adalah obat lukaku. Ijinkan aku menemui mereka ya bu." kata Melati.


Bu Fatma melihat senyum Melati tulus, membuay hati bu Fatma lega, bahwa anaknya akan baik-baik saja.


"Ya mbak, hati-hati ya. Ga usah ngebut. Salam untuk mereka." kata bu Fatma.


"Ya bu."


Melatipun melajukan motornya menuju rumah Guntur. Duapuluh menit, akhirnya tiba juga dia di rumah tingkat itu


"Assalamualaikum." salam Melati.


"Wa'alaikumsalam." jawab Nisa, istri Guntur.


"Bunda Melati...." teriak Dirga dari dalam, Dirga langsung menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Melati. Dan Melati langsung menghujani Dirga dengan kecupan di wajahnya.


"Bunda kemana aja? kakak kangen." kata Dirga sambil bibirnya manyun.


"Maafkan bunda ya, bunda kemarin abis tugas jauh." kata Melati memberi pengertian.


"Kakak kangen bunda."


"Bunda juga kangen kak Dirga." Kata Melati memeluk Dirga dengan ketulusan nya.


Nisa melihat mereka berpelukan justru jadi terharu, karena meski bukan ibu kandung, tetapi Melati memiliki tempat tersendiri di hati anak-anaknya Dewa.

__ADS_1


__ADS_2