
Hai hai Readerku tercinta... maaf ya lama ga nyinggung pak Duda ganteng. Hehehe. Nih, di bab ini Author akan menceritakan tentang pak Sudah ya gaes. Jangan lupa tinggalkan jejak dengan mendukung Author ya, karena jempol mu itu berharga bagi Author😍...
💞💞💞
Hari itu, seperti biasa Dewa mengantarkan anak-anaknya ke sekolahan, setelah dua hari dia ijin tidak masuk karena Dirga demam.
"Assalamualaikum bunda Hayati." salam Dewa.
"Wa'alaikumsalam pak... Eh, Kak Dirga sudah sembuh nak?" tanya bu Hayati ramah. Dirga mencium tangan bunda Hayati.
"Alhamdulillah bunda, tinggal memulihkan staminanya aja." jawab Dewa.
"Bunda, Bunda Melati mana?" tanya Dirga.
"Ehm, bunda...bunda Melati... masih diluar kota sayang. Kenapa?" tanya bunda Hayati.
"Ayah bohong!" hardik Dirga dengan menunjuk ayahnya dan memasang wajah marah campur menangis.
"Lhoh, eh, kenapa memangnya pak?" tanya bunda Hayati kepada Dewa.
"Maaf bu, anu... ehm... jadi, dua hari kemarin dia itu demam, katanya dia pingin ketemu bunda Melati. Dan pas demamnya sudah turun, saya bujuk dia untuk sekolah bunda, karena tadi sempat mogok ga mau sekolah. Lalu, terpaksa saya bilang kalau bunda Melati sudah masuk. Terus dia mau sekolah bunda." jawab Dewa.
"Ups, maaf ya pak, saya tidak tau maksud bapak." kata bunda Hayati sambil menutup mulutnya.
"Gapapa bu. InshaaAllah nanti di kasih pengertian lagi dia akan mengerti." kata Dewa.
"Baik pak." jawab bunda Hayati.
"Kak Dirga sayang, bunda Melati di luar kota itu juga kerja, kalau pulang sekarang, nanti bisa kena marah bosnya. Nah, kak Dirga sementara sama bunda Hayati dulu ya." rayu bunda Hayati.
"Tapi Kakak maunya sama bunda Melati." kata Dirga merajuk.
"Nda...Nda ati..." kata Tsabita menirukan kakaknya.
"Tuh, adek juga pingin sama bunda Melati." kata Dirga menunjuk adiknya.
Bunda Hayati menoleh pada Dewa.
"Dirga kemarin demam dua hari itu, setiap malam juga mengigau bunda Melati bun. Saya mau telpon ga enak kalau nanti mengganggu." kata Dewa.
"Sebaiknya bapak kirim pesan ke bunda Melati pak, mengabarkan anak-anak kepada beliau. Nanti jika bunda Melati sudah sampai rumah, bisa menjadi prioritas. Yang penting anak-anak sembuh dulu " kata bu Hayati memberi saran.
"Baik bunda." jawab Dewa.
"Ya sudah bunda, saya tinggal dulu saja ke Sekolahan, takut terlambat. Oya bunda, maaf, ini tadi Adek rada anget bunda, rada lemes juga tadi di rumah baru mau makam sedikit, dan minumnya juga baru sedikit. Nanti kalau ada apa-apa tolong hubungi saya ya bunda." kata Dewa.
"Baik pak." jawab bu Hayati sambil menggendong Tsabita dan menggandeng Dirga.
__ADS_1
"Ayo kak Dirga, ikut bunda dulu. Nanti kita video call sama bunda Melati ya." ajak bunda Hayati. Dan Dirgapun mau.
Setelah mengantar anak-anaknya, Dewa segera mengirim pesan kepada Melati.
📨BundaMelati
Assalamualaikum, bunda Melati. Apa kabar? Semoga sehat selalu. Maaf bunda, ini adek dan kakak ingin bertemu bunda Melati, kira-kira bunda kapan pulang ya?
Lama tak ada balasan, Dewapun melajukan mobilnya menuju sekolahan tempatnya mengajar.
Jam sebelas siang, saat Dewa sedang mengikuti rapat guru, ponselnya berdering, ada panggilan masuk dari bunda Hayati.
"Halo?"
"Apa? Ya bunda, saya segera ke sana sekarang." kata Dewa.
"Ada apa pak Dewa?" tanya bu Nuri yang kebetulan duduk bersebelahan dengan Dewa. Karena hubungan Dewa dengan bu Nuri juga sudah semakin dekat, bahkan sudah muncul desas desus tentang hubungan mereka di sekolahan.
"Tsabita kejang." kata Dewa panik.
"Maaf, pak, saya ijin pamit. Anak saya Kejang." kata Dewa meminta ijin pada kepala sekolah yang sedang memimpin rapat.
"Ya pak Dewa, silakan." kata kepala Sekolah.
Dewapun segera menuju IGD yang sudah di share lok oleh bunda Hayati. Sesampainya di IGD, Tsabita sudah ditangani dokter, kejangnya sudah sembuh setelah diberi obat kejang dari duburnya.
"Kenapa bisa sampe kejang bunda?" tanya Dewa pada bunda Hayati.
"Maafkan atas keteledoran kami pak. Tadi memang adek lemes, tapi kami belum menghubungi pak Dewa." kata bunda Hayati merasa bersalah.
"Terimakasih banyak ya bunda, sudah membawa adek ke sini. Mohon maaf juga, tau adek anget, saya nekad masukin adek untuk sekolah. Dan mengedepankan urusan saya." kata Dewa.
"Tidak apa-apa pak Dewa. Semoga adek baik-baik saja." jawab bunda Hayati.
"Dirga bagaimana bunda?" tanya Dewa.
"Kak Dirga tadi sama bunda Novi pak, tadi juga sempat menangis, teringat lagi sama ayah dan bundanya. Tapi kemudian diajak bunda Novi bermain, jadi ceria lagi." kata bunda Hayati.
"Sekali lagi, Terimakasih bunda." kata Dewa.
"Ehm, maaf pak. Misal ini syaa tinggal kembali ke sekolahan bagaimana ya pak?" tanya bunda Hayati.
"Ya buna, tidak apa-apa." jawab Dewa.
"Tapi...saya titip kak Dirga dulu ya bun." kata Dewa.
"Baik pak." jawab bunda Hayati.
__ADS_1
Setelah kepergian bunda Hayati, Dewa menghubungi Guntur, dan meminta tolong kepadanya untuk menjemput Dirga di sekolahan, dan minta tolong untuk di bawa pulang ke rumah Guntur.
Satu jam setelah mengabari Guntur, Guntur tiba di rumah sakit menyusul Dewa.
"Gimana keadaan Adek?" tanya Guntur cemas.
"Alhamdulillah, dia sudah mendapat penanganan." jawab Dewa saat Tsabita sudah ditempatkan di ruang rawat inap.
"Kenapa anak-anak. Kok sakitnya barengan?" tanya Guntur.
"Gue juga ga tau bro, yang jelas, kalau Dirga dia kayaknya kangen Melati, karena kalau tidur ngigau Melati terus." jawab Dewa.
"Apa elo ga coba hubungi Melati?"
"Udah, tapi belum di balas." jawab Dewa.
"Ini kabarnya Melati sudah pulang Wa, tapi dia langsung ke Wonogiri, menjenguk suaminya yang lagi sakit." kata Guntur.
"Oya, gimana keadaan Mas Ugi?" tanya Dewa yang dulu pernah dicuplik cerita oleh Guntur saat Ugi masih di rawat di rumah sakit.
"Dia...lumpuh Wa." jawab Guntur.
"Yaa Allah, tapi Melati udah tau kan?" tanya Dewa. Namun Guntur menggeleng.
"Lhoh, kok bisa? Melati kan istrinya? Bukannya harusnya sejak mas Ugi dirawat di rumah sakit waktu itu, Melati sudah tau?" tanya Dewa.
"Ugi ga mau Melati tau." jawab Guntur dengan raut kecewa.
"Kenapa?"
"Takut ganggu waktunya di sana, dan khawatir Melati nekad pulang untuk mengurus dirinya." jawab Guntur.
"Lhoh, bukannya itu hal yang wajar? Bukankah suami istri memang harus seperti itu?" tanya Dewa.
"Entahlah, gue udah ngasih pengertian beberapa kali sama dia, tapi dia ga peduli." kata Guntur.
"Kalau Melati tau, pasti Melati akan kecewa." kata Dewa.
"Itu pasti." jawab Guntur.
"Wa, kalau suatu saat nanti Ugi putus asa, dan melepaskan Melati, apa kamu siap menerima Melati?" tanya Guntur.
"Apa maksudmu?" tanya Dewa.
"Anak-anak sepertinya memang sudah terlanjur sayang sama Melati. Dan aku rasa, ada indikasi Ugi akan melepaskan Melati." kata Guntur.
"Kok bisa?" tanya Dewa heran.
__ADS_1
"Liat aja nanti." kata Guntur.
Dewa masih tak habis pikir dengan apa yang didengarnya. Kasian Melati jika harus dibohongi oleh suaminya sendiri. Seburuk-buruknya keadaan suami, jika istri model Melati, sudah pasti dia istri yang setia. Tak mungkin dia akan pergi disaat suaminya membutuhkan dirinya. Dewa merawat baby Tsabita sambil terus memikirkan nasib Melati. Ada setitik harapan, kata-kata Guntur itu benar. Karena memang, dia sangat mengharapkan Melati untuk bisa menjadi ibu dari anak-anaknya.