
Di pagi yang terbilang cerah, dengan diselimuti awan tetapi dengan sinar sang mentari dari ufuk timur, yang memancarkan kehangatan di pagi yang terbilang dingin, sisa air hujan semalam yang turun dengan cukup deras.
"Mbang, ente nanti berangkat kerja jam berapa?" tanya Ugi yang sudah keluar kosan setelah tadi setelah sholat subuh dia mengaji.
"Jam delapan. kenapa?" tanya Bambang.
"Bareng ya ke bengkelnya pak Haji Karyo, Bawa motor temen ane yang mogok kemaren." kata Ugi.
"Siap." jawab Bambang sambil mengacungkan jempolnya.
Setelah Bambang sudah siap dengan pakaian kerjanya, Dan Ugi juga sudah mandi dengan pakaian santai nya mereka bersiap akan berangkat ke bengkel.
"Ente masuk siang bro?" tanya Bambang saat melihat pakaian yang dikenakan Ugi pakaian santai.
"Iya, entar jam setengah dua." jawab Ugi.
"Lha, trus, nanti ente ngabisin waktu di bengkel gitu?" tanya Bambang
"Ya, bisa juga. Sambil bantuin si Ayub." kata Ugi.
"Oh. brati entar ane cuma nganter aja 'kan, ga perlu nganterin ente ke PMI?" tanya Bambang memastikan.
"Iya, ga perlu. Entar ane habisin waktu di bengkel aja lah." kata Ugi.
"Ok, ya udah, ayo, keburu telat nih ane." kata Bambang.
"Siap."
Ugi dan Bambang melaju menuju bengkel, dengan motor milik Melati di pegangi Ugi. Sesampainya di bengkel, tampak Ayub sedang membuka bengkel milik pak Haji Karyo, bapak mertua Ayub.
"Jazakumullah ya Mbang." kata Ugi sambil menuntun motor matic milik Melati.
"Yup." jawab Bambang sambil mengangkat ibu jarinya.
"Assalamualaikum akhi" salam Ugi sambil berjalan mendekati Ayub, lalu menjabat tangan Ayub dengan cukup erat.
"Wa'alaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh, yaa akhi. Widih, lama ga ketemu, tambah ganteng aja ente." kata Ayub memuji.
"Heleh, bisa aja ente bro. Berarti kemarin-kemarin ane ga ganteng?" tanya Ugi.
"Ya, ganteng. Tapi ini lebih ganteng." jawab Ayub.
"Eh, betewe, motor siapa nih? Motor baru ya?" tanya Ayub yang menyadari keberadaan motor matic di bengkel.
"Motor temen ane, minta di servis." jawab Ugi.
"Bukan temen mas, tapi demen." seloroh Bambang dari motornya. Ternyata Bambang belum melajukan motornya, setelah tiba di bengkel. Dia tadi sempet sibuk dengan ponselnya.
"Demen? Maksudnya?" tanya Ayub bingung.
"Itu motor, milik Lontri." jawab Bambang lagi.
Jawaban Bambang membuat Ugi mengernyitkan dahi, dia tak mengerti maksud sahabatnya satu itu.
"Londri? Oh, ini punya karyawan londri? Sejak kapan Ugi punya temen karyawan londri?" tanya Ayub bingung.
__ADS_1
"Hadeh, bukan londri mas. Tapi Lontri, Calon Istri." kata Bambang sekenanya.
"Eh, sembarangan aja kalo ngomong. Bukan Yub. bukan, Bambang aja didengerin. Jangan percaya ama dia! Engga, bukan. Kenal aja baru, dikata calon istri." protes Ugi panik.
"Oh...calon istri?" tanya Ayub manggut-manggut.
"Hahaha, iya mas. Calon istri. Ya udah ya mas, ane berangkat dulu, udah siang ini." kata Bambang melambaikan tangan tanda perpisahan, berusaha menghindari omelan Ugi yang pasti bakal memarahi atas ucapannya yang sekenanya tadi.
"Oh. ya Mbang. Fii amanillah." kata Ayub.
"Dasar Bambang, ga tanggungjawab." keluh Ugi.
"Aamiin." kata Ayub sambil tersenyum.
"Aamiin apanya Yub?" tanya Ugi heran.
"Setiap kata adalah do'a. Terserah sih, mau Si Bambang tadi cuma bercanda atau memang beneran, yang penting ane Aamiini aja, biar ente segera lulus dari ujian Singelillah." jawab Ayub.
"Hadeh... ente percaya sama si Bambang?" tanya Ugi sambil berkacak pinggang.
"Bisa percaya, bisa engga sih. Tapi, kalo ada bener nya, ya Alhamdulillah." jawab Ayub sambil menyiapkan beberapa alat bengkelnya.
"Hem...serah dah." jawab Ugi pasrah.
Saat Ayub sedang mengganti oli motor matic milik Melati, Ayub dan Ugi mengobrol ringan. Ugi menceritakan tentang penyebab dia membawa motor matic itu kepada Ayub teman sekolahnya dulu. Tiba-tiba pak Haji Karyo datang dari dalam rumah.
"Nah... gitu dong jadi anak muda. Harus peka dengan lingkungan sekitar, apalagi kalau ada orang yang butuh bantuan, ga pandang cantik, kaya, atau miskin, yang penting kita niatnya menolong." kata pak Haji Karyo.
"Eh, pak Haji. Sehat pak?" hanya Ugi yang spontan mencium punggung tangan pak Karyo.
"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat, Bapak sehat." jawab pak Karyo.
"Eh, ya mau lah pak haji, saya 'kan normal. Masa' iya saya mau ngejomblo sumur hidup? Tapi engga sekarang pak Haji, ga tau kapan, soalnya belum dapat calon istrinya." jawab Ugi.
"Lho, lha tadi, gadis pemilik motor ini yang kalian bicarakan, emangnya. bukan calon istri ente Gi?" tanya pak Haji.
"Bukan pak Haji, itu cuma temen. Tadi itu cuma selorohannya si Bambang aja, eh. malah Ayub percaya sama Bambang." kata Ugi.
"Oh. gitu?"
"Tapi bagus lho. Kata adalah do'a, tak ada salahnya kita aamiini perkataan itu. Siapa tau memang jodoh." kata pak Karyo.
"Eh. bro. Nih, udah jadi." kata Ayub sambil meletakkan alatnya.
"Alhamdulillah." jawab Ugi.
"Dicoba dulu bro." kata Ayub.
"Siap."
Ugipun mencoba menaiki motor itu dan mencoba merasakan hasil dari kerja keras sahabatnya.
"Sip." jawab Ugi setelah mencobanya.
"Jazakumullah bro, manteb." kata Ugi.
__ADS_1
"Jadi berapa ini totalannya?" tanya Ugi lagi
"Tanya abah aja." kata Ayub menunjuk bapak mertuanya.
"Dah, bawa aja." kata pak Karyo.
"Eh, kok gitu pak Haji? Ini bukan motor saya lho pak Haji, nanti saya bisa minta ganti sama dia." tanya Ugi tak enak hati.
"Ente membawa motor ini ke sini karena nolongin orang 'kan? Ya bapak ikut serta deh, dengan menggratiskannya." kata pak Karyo.
"Nah, tapi bapak nitip ini ya, kasihin temen ente." kaya pak Karyo sambil memberikan sebuah stiker. Ya itu stiker nama bengkelnya, beserta alamat dan nomer telponnya, itu cara pak Karyo berpromosi melalui tempelan stiker.
"Minta tolong dia tempel di motornya atau dimana gitu. Sebagai media promosi." kata pak Karyo.
"Oh, ya pak Haji, siap." kata Ugi sambil menerima stiker itu.
"Ente mau langsung anterin ini motor?" tanya Ayub.
"Iya Yub, tapi mau ane telpon dulu, kapan dia longgar." kata Ugi sambil mengambil ponselnya dari sling bag yang dia kenakan.
"Oh, okey."
Ugipun menelpon sebuah nomer yang tadi malam mengirim pesan.
📩(nomer baru)
Assalamualaikum mas, ini saya Melati.
Malam itu Ugi baru membuka pesan, tetapi sudah tengah malam, sehingga tak enak hati jika akan membalas pesan itu, sehingga Ugi berniat membalas pesan itu pagi tadi, tetapi justru kelupaan. Kemudian Ugi memberi nama kontak pada nomer baru itu dengan nama "Melati"
📨Melati
Wa'alaikumsalam. Ya. Okey. Saya save.
Hanya centang dua abu, pertanda nomer yang dituju sedang tidak mode online. Sehingga Ugi melanjutkan kembali pesan nya.
📨Melati
Alhamdulillah, motornya sudah jadi, mau di ambil kapan? Atau kita ketemu dimana?
Masih tak ada jawaban. Kemudian Ugi mengobrol sebentar dengan Ayub dan pak Haji, sambil sesekali membantu kegiatan Ayub yang sedang memperbaiki motor lain.
"Gimana? Mau dianter kemana?" tanya Ayub yang penasaran.
"Belum dibales. Dibaca aja belum." kata Ugi.
"Coba ditelpon." usul Ayub.
"Ganggu ga ya?" tanya Ugi.
"Coba aja." kata Ayub
"Okey."
Ugipun membuka kembali ponselnya, dan mencari nama Melati di aplikasi hijaunya, lalu menekan gambar telepon pada nama kontak Melati.
__ADS_1
Tuuut...tuuut...
Dan akhirnya ada jawaban dari seberang.