
Di rumah sakit, Melati dirawat disebuah ruangan ber AC, tepatnya di ruang rawat inap. Di ruangan itu sudah ada Zia beserta ibunya, yang menjaga Melati.
Jari tangan kiri Melati tampak bergerak, dan perlahan matanya terbuka. Zia ibunya segera menghampiri Melati.
"Mel..." panggil Zia.
Samar-samar Zia membuka matanya perlahan, ada sosok dua perempuan berjilbab dihadapannya. Dan tak lama kemudian pandangan itu semakin jelas.
"Zia..." suara Melati sangat lirih.
"Aku disini Mel. Kamu butuh apa?" tanya Zia.
"Bapak mana?" tanya Melati saat menyapu pandangan.
Seketika dua wanita dihadapannya tertunduk menahan air mata yang tak terbendung.
"Zi, bapak ku dimana? Gimana keadaannya?" tanya Melati saat akan memegang tangan Zia, namun tangannya lemas.
"Kenapa lagi dengan tanganku?" batin Melati yang merasakan tangannya tak dapat digerakkan.
"Mel...Istirahat lah... jangan kau paksakan dirimu untuk bergerak, kata dokter kamu ga boleh banyak gerak dulu." kata Zia sambil menenangkan Melati dan memegang pundaknya untuk kembali membaringkan tubuhnya.
"Bude... Bapak dimana?" tanya Melati kepada ibunya Zia.
"Bapak sudah ditangani dokter. Bapak mu sudah lebih baik sekarang." kata bu Laras.
Saat Melati akan bertanya lagi, dokter pun masuk.
"Pasien atas nama Sekar Melati Sukma?" tanya dokter.
"Iya dok." jawab Melati.
"Saya periksa dulu ya." kata dokter laki-laki itu.
"Dokter Rafa." batin Melati membaca tanda pengenal di jas putih dokter itu.
Dokter Rafa pun menempelkan stetoskopnya di dada kiri Melati.
"Pusing tidak?"
"Pusing dok. Sedikit."
"Ada rasa perih atau nyeri dibagian tertentu tidak?" tanya dokter itu lagi.
__ADS_1
"Tangan kanan saya ga bisa gerak dok." jawab Melati.
Perawat yang berada dibelakang dokter Rafa itu menuliskan beberapa hal yang perlu ditulis.
"Ehm, jadi begini dek Sekar, karena tadi saat kecelakaan, dek Sekar mengalami benturan yang cukup keras di bagian kepala, sehingga dek Sekar merasakan pusing, dan kami harus menjahit luka di kepala dek Sekar. Lalu untuk tangan yang tidak bisa bergerak, Ini tadi, sudah kami lakukan tindakan Screening dan USG. Hasilnya menyatakan bahwa tangan kanan dek Sekar mengalami cidera patah tulang di bagian tulang selangka, Sehingga harus dipasang pen. Sedangkan pada bagian yang lain hanya cidera biasa saja, yang tidak lama akan sembuh." kata dokter Rafa menjelaskan.
"Lakukan yang terbaik untuk keponakan saya dokter." kata bu Laras.
"Baik bu." jawab dokter Rafa. kemudian pamit untuk Melanjutkan pemeriksaan, namun langkah dokter terhenti saat Melati memanggilnya.
"Dokter Rafa." panggil Melati.
"Ya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter Rafa.
"Saya boleh tengok keadaan bapak saya?" tanya Melati.
Dokter Rafa menoleh kearah bu Lastri dan Zia. Dokter Rafa mengerti maksud dari bahasa wajah itu.
"Ya, boleh, nanti didampingi perawat ya. Karena keadaanmu belum membaik." kata dokter Rafa.
Ada guratan wajah bahagia pada diri Melati,
"Terimakasih dokter." kata Melati.
"Ya dokter." jawab Melati.
💞💞💞
Setelah menjalani pemasangan pen pada tulang selangka nya, Melati langsung meminta untuk bertemu dengan bapaknya. Melatipun duduk di kursi roda, dan dibantu Zia beserta ibunya. Tentunya dengan pendampingan perawat sesuai perintah dokter. Saat Melati melewati koridor, Melati berpapasan dengan dokter Arifin, dokter yang sempat dia temui setiap minggunya.
"Melati?" sapa dokter Arifin saat melihat Melati duduk di kursi roda, di bantu oleh seorang perawat.
"Dokter Arifin?"
"Kamu kenapa? Kenapa kamu duduk di kursi roda?" tanya dokter Arifin langsung berjongkok menghadap Melati.
Melati hanya diam, Dokter Arifin menoleh ke arah orang yang menyertai Melati.
"Melati abis kecelakaan dokter, bersama bapaknya. Kejadiannya baru pagi tadi, sepulang dari sekolahan yang akan dimasuki Melati." kata Zia menjelaskan.
"Astaga, lalu bagaimana keadaanmu? Keadaan bapak mu?" tanya dokter Arifin.
"Melati mengalami patah tulang di tangan kanannya dokter, dan ini kami baru akan menjenguk bapaknya." jawab Zia lagi.
__ADS_1
"Ehm, boleh saya ikut serta? Kebetulan jam praktek saya sudah habis, tadinya saya mau pulang." kata dokter Arifin.
"Tentu dokter, mari silakan." kata bu Lastri.
"Dokter ini baik sekali, sepertinya dia kenal dekat dengan Melati.". batin bu Lastri.
Kursi roda yang diduduki Melati berhenti di depan sebuah pintu ruang ICU. disana sudah banyak orang yang dikenal Melati. Ada takmir masjid yang sangat akrab dengan bapaknya, yaitu pak Wahid. Dan guru ngajinya, yang kebetulan dia juga remaja masjid tempat Melati belajar mengaji, mas Latif dan satu lagi, yang saat Melati melihatnya, dia merasa sangat ketakutan dan rasa bersalah kembali hadir dalam hatinya, dia adalah neneknya.
"Nenek..." panggil Melati dengan suara lirih, dan air mata sudah tak terbendung lagi.
Neneknya menatap Melati dengan tatapan yang menghujam, tidak ada keramahan dan belas kasih sama sekali. Air mata dari wajah keriput itu sudah tampak mengalir.
"Zi, aku mau ketemu nenek dulu." pinta Melati kepada Zia. Ziapun mendorong kursi roda Melati ke arah neneknya. Namun seketika neneknya berpaling, mengacuhkan kehadiran Melati.
"Maafin Melati nek...." rintih Melati sambil tangan kirinya yang tersambung dengan infus, berusaha meraih tangan neneknya.
"Mel, hati-hati." kata Zia mengingatkan.
Neneknya tetap diam, dengan tetap memalingkan wajahnya.
"Nek... maafin Melati Nek. Harusnya Melati dengerin kata nenek." lagi-lagi Melati merengek minta maaf kepada neneknya.
Neneknya tak bergeming, dia tetap membelakangi Melati, tetapi dengan wajah yang sudah berurai air mata. Hatinya bergemuruh hebat, jantungnya berdegup kencang, kepalanya terasa menguap, ingin rasanya nenek memarahi Melati habis-habisan seperti biasanya jika di rumah. Tetapi nenek sadar diri, posisinya sedang di rumah sakit, dan banyak orang disana. termasuk ada dokter dan perawat yang menurut nenek, mereka adalah orang asing.
"Melati." panggil dokter Arifin.
"Kamu ingin bertemu bapak mu kan? Mari saya antar." kata dokter Arifin mengambil alih tangan Zia yang sejak tadi mendorong kursi roda Melati.
"Iya dok." jawab Melati.
Dokter Arifin pun mengantarkan Melati memasuki ruang ICU, tempat di mana bapaknya sedang dirawat. Diruangan itu, bapaknya tampak terbaring tak berdaya, dengan banyak selang medis menghiasi tubuhnya, dan suara bising mesin medis yang menjadi bacsound kedatangan mereka di ruangan itu.
"Melati yang tenang ya. Di ruang ICU, kita harus steril, dan tidak boleh membuat keributan." kata dokter Arifin sambil mendorong kursi roda Melati.
Sesampainya di samping tempat bapaknya terbaring tak berdaya, Melati tak kuasa membendung air matanya yang terus mengalir.
"Bapak..." panggil Melati dengan rintihannya.
"Ini Melati pak..." kata Melati dengan tangan kirinya mencoba untuk mengambil tangan bapaknya. Melati menggenggam tangan bapaknya, lalu diciuminya tangan yang setiap hari membelai kepalanya dengan penuh kasih sayang. Tangan yang selalu menyeka air mata Melati Setiap Melati merasa sedih dan putus asa. Kini, tangan itu telah basah oleh air mata milik Melati yang terus mengalir.
Dokter Arifin di belakang Melati, hanya mampu diam, dan tak terasa matanya semakin panas, karena menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Bapak mu, tinggal menunggu keajaiban saja Melati. Semoga kamu kuat, dan saya yakin, kamu gadis kuat." batin dokter Arifin.
__ADS_1
"Pak Yudi... bertahanlah, demi putrimu yang kuat ini. Bertahanlah dan bangkitlah untuk masa depan putrimu yang semangat ini. Kembalilah pak Yudi, lihatlah, putri mu, bukan orang biasa. Dia adalah wanita kuat, wanita tegar dan dia mampu jalani hari-harinya dengan semangat, meski nasib tak selalu berpihak padanya. Bangunlah pak..." batin dokter Arifin yang sudah sangat akrab dengan Melati dan bapak nya.