
Hari ini adalah hari terakhir Melati menjalani perawatan di rumah sakit. Pagi tadi, dokter Rafa sudah mengijinkan Melati untuk pulang, dan diminta untuk kontrol satu pekan yang akan datang. Melati sudah membereskan barang bawaannya di bantu Latif dan Zia. Rencananya Melati akan pulang bersama Latif dengan mengendarai mobilnya bersama Zia.
"Assalamualaikum." salam dokter Arifin masuk ke kamar rawat Melati.
"Wa'alaikumsalam." jawab Melati dan Zia, sedangkan Latif baru mengurus administrasi.
"Alhamdulillah, Melati, kamu sudah boleh pulang ya?" tanya dokter Arifin.
"Iya dok, Alhamdulillah." jawab Melati.
"Syukurlah. Semoga kamu segera membaik ya Mel, Sehat seperti sedia kala, dan mulai aktif berkegiatan lagi." kata dokter Arifin.
"Aamiin. Terimakasih dokter." kata Melati.
"Oya. Nanti pulang sama siapa Mel? Naik apa?" tanya dokter Arifin.
"Sama mas Latif dok, naik mobil." kata Melati.
"Oh, sudah naik mobil ya?" tanya dokter Arifin.
"Memangnya kenapa dok?" tanya Melati.
"Gapapa. Tadinya kalau ga ada kendaraan untuk nganterin kamu pulang, kamu bisa naik mobil saya, saya anterin." kata dokter Arifin.
"Oh, ga usah dokter. Nanti ada mas Latif kok yang nganterin saya." kata Melati.
"Okey, ehm... kapan kamu harus kontrol?" tanya dokter Arifin.
"InshaaAllah pekan depan dok." jawab Melati.
"Hem, ya ya... nanti kalau kiranya ga ada yang nganterin, kamu bilang aja sama saya ya." kata dokter Arifin, yang membuat Melati merasa heran dengan sikap dokter syarafnya itu.
"Ehm...ya dok." jawab Melati tanpa mau menyibukkan dengan fikiran nya yang melanglang buana.
"Assalamualaikum." salam Latif yang sudah tiba di ruangan itu.
"Wa'alaikumsalam." jawab orang yang ada diruang rawat inap Melati.
"Eh, ada dokter." kata Latif yang memang aagak sungkan jika harus berhadapan dengan dokter syaraf itu.
"Iya mas, saya kira Melati belum ada kendaraan untuk pulang, makannya saya ke sini mau menawarkan diri, ternyata sudah sama mas Latif ya." kata dokter Arifin.
"Iya, Melati bersama saya. Ibunya sudah pasrahkan pada saya." kata Latif dingin.
"Oh, ya sudah. Ini sudah mau langsung pulang?" tanya dokter Arifin.
"Iya." jawab Latif.
__ADS_1
"Udah siap semua kan?" tanya Latif pada Melati dan Zia.
"Sudah mas." jawab Zia.
"Okey, kita langsung saja ya. Semua administrasi sudah selesai kok." kata Latif.
"Ya mas." jawab Melati dan Zia bersama.
Mereka bertigapun berpamitan pada dokter Arifin. Dokter Arifin ikut serta mengantarkan mereka sampai lobi.
"Aku ambil mobil dulu ya." kata Latif.
"Ya mas." jawab Zia.
Zia dan Melati ditemani dokter Arifin menunggu mobil di lobi.
"Melati. Kamu punya HP?" tanya dokter Arifin.
"Ga punya pak. Tapi yang punya bapak." jawab Melati.
"Okey, ini kartu nama saya, nanti kamu bisa hubungi saya sewaktu-waktu ya." kata dokter Arifin sambil memberikan kartu nama.
"Oh. iya dok." jawab Melati sambi menerima kartu nama itu.
"Untuk perawatan tanganmu yang cidera, mengganti perban dan membersihkan lukanya. nanti bisa saya bantu dengan mengutus teman saya yang kebetulan berprofesi sebagai perawat." kata Dokter Arifin.
"Ga masalah. Dia sudah biasa membantu orang yang dalam perawatan di rumah kok. Kebetulan dia juga perawat di rumah sakit tulang." kata Dokter Arifin lagi.
Belum sempat Melati beradu pendapat lagi, Latif sudah tiba bersama mobilnya.
"Ayo Mel, Zi." kata Latif sambil keluar dari mobilnya, Lalu membukakan pintu penumpang untuk Melati dan Zia setelah memasukkan barang-barang ke dalam bagasi.
"Ya mas." jawab Melati dan Zia.
"Mari dokter. Kami permisi." kata Melati sopan.
"Hati-hati." kata dokter Arifin.
Sepeninggal Melati dan rombongan, Dokter Arifin masuk ke dalam rumah sakit lagi, dan berjalan menuju ruangannya. Saat di jalan, dokter Arifin berpapasan dengan dokter Rafa.
"Hai dok." sapa dokter Rafa.
"Eh, dokter Rafa." kata Dokter Arifin sambil menyalami dokter Rafa dengan ramah.
"Pasien spesial saya, ga jadi anda antar pulang?" tanya dokter Rafa.
"Ga jadi dok. Dia sudah diantar tetangganya." jawab dokter Arifin.
__ADS_1
"Ehm. kalau boleh tau, ada hubungan apa antara anda dan Melati? Kenapa anda begitu peduli dan perhatian sekali dengan dia?" tanya dokter Rafa yang penasaran.
"Daripada jadi prasangka dok. Karena setau saya, anda kan sudah bertunangan. Kenapa ini anda begitu dekat dengan gadis ABG?" tanya dokter Rafa.
"Hahaha, pasti kebanyakan orang akan bilang saya ini playboy. Karena saya sudah punya tunangan, tetapi masih memberikan perhatian pada gadis lain. Dokter Rafa. Jadi saya melakukan ini, justru atas permintaan calon istri saya. Dia tau kisahnya Melati, saya sering cerita sama dia tentang pasien saya ini. Dan dia merasa berempati dengan gadis ini, makannya dia meminta saya memberikan perhatian padanya. Dan, besok ini, calon istri saya menawarkan diri untuk merawat Melati di rumah, mengganti perban, dan merawat Melati. Karena ada rasa kasihan pada gadis itu dok." kata dokter Arifin.
"Bentar, emangnya sespesial apa sih dok gadis itu, sampai anda dan calon istri anda begitu berempati padanya." tanya dokter Rafa.
"Dia gadis belia, yang masih semangat semangatnya untuk belajar di bangku sekolah, tetapi dia terpaksa harus mengakhiri pendidikannya karena syaraf tangannya bermasalah. Dan dia perlu melakukan terapi selama dua tahun lamanya, untuk memulihkan tangannya lagi." kata dokter Arifin.
"Dan baru seminggu yang Lalu saya nyatakan tangannya sudah sembuh, keesokan harinya dia mengalami kecelakaan yang membuat tangannya bermasalah lagi, sehingga mau tidak mau dia harus berhenti sekolah lagi." kaga dokter Arifin.
"Luar biasa... kalian memang sepasang kekasih yang keren. baik hatinya, bahkan pada pasien sendiri begitu perhatiannya." kata dokter Rafa.
"Saya tau bagaimana rasanya tidak bisa sama dengan teman sebaya dok, makannya saya baper banget kalau melihat anak yang tidak bisa lanjur sekolah karena sakit." kata dokter Arifin.
"Oh, begitu ya dok?"
"Okey, maaf saya harus seger ke ruangan saya dulu ya dok." kata dokter Arifin.
"Oh. ya silakan dokter, maaf mengganggu." kata dokter Rafa sungkan.
"Tidak masalah. Mari dok."
"Ya dok."
💞💞💞
Sesampainya di rumah, Melati langsung dismabut gembira oleh kedua adik kembarnya. Aldo dan Aldi langsung menghambur mbaknya dengan air mata yang tumpah ruah.
"Mbak Melati!!!" panggil Aldo dan Aldi beramaan.
"Mbak Melati kemana aja? Aldo kan kangen." kata Aldo.
"Heh Aldo, kamu ga liat, mbak Melati tu abis sakit." kaya Aldi yang melihat tangan Melati yang digendong.
"Mbak... bapak mbak..." kata Aldo lagi sambil menangis.
"Mbak... bapak pergi mbak..." kata Aldi.
Seketika Melati ikut menangis. Melati tak mampu berkata-kata pada kedua adiknya, Dia berusaha untuk tetap tegar demi kedua adiknya. Dia berusaha menenangkan kedua adiknya dengan memeluk keduanya.
"Iya, kita berdoa ya, supaya bapak tenang di surga." kata Melati.
"Huhuhu... bapak mbak...." tangisan Aldo meledak dalam pelukan Melati.
Latif dan Zia yanv melihat itu juga ikut menitikkan air mata...
__ADS_1