Seputih Melati

Seputih Melati
Pelukan Ibu


__ADS_3

Satu bulan sudah kepergian Latif, dan sudah dinyatakan bahwa Latif dan bu Desi dinyatakan meninggal dunia. Karena selama itu pula, jasad mereka tidak ditemukan. Papa Latif masih menetap di Palembang, pulang ke Solo hanya sebentar, sekedar melihat kondisi toko. Sedangkan usaha Latif di bidang ATK, dilanjutkan oleh Kakak iparnya, istri dari Cakra. Dan Melati sudah dinyatakan lulus dari kursusnya, dan sudah mendapatkan sertifikat juga.


Hari ini adalah hari kepulangan bu Fatma, Melati dan kedua adiknya menjemput bu Fatma di bandara dengan diantar grab.


"Ibu....!!" begitu pekik Si kembar Aldo dan Aldi sambil berlari menghambur saat menyambut ibunya di bandara, tempat penjemputan.


Aldo dan Aldi memeluk tubuh bu Fatma dengan sangat erat, dan bu Fatma menciumi pucuk kepala keduanya dengan penuh cinta. Melati berdiri di dekat mereka dengan senyum bahagia, setelah satu bulan dia menahan kesedihan setelah kehilangan.


Bu Fatma yang berjongkok mensejajari kedua putra kembarnya, kemudian berdiri dan menggandeng kedua anak kembarnya,berjalan menuju mobil grab, sedangkan Melati membawakan koper dan tas milik ibunya. Sepanjang perjalanan dari bandara menuju rumah, Aldo dan Aldi bergantian terus bercerita kepada ibunya, mulai dari cerita tentang sekolahan nya, teman bermain mereka sampai menceritakan mbak dan neneknya.


"Aldo sama Aldi, mau mampir ga? Gimana kalau kita mampir belanja dulu? Kalian puasa engga?" tanya bu Fatma pada kedua anaknya yang sudah mau masuk SD.


"Puasa bu, kata mbak Ati, kita halus puasa sehali penuh, karena kita udah mau sekolah SD." jawab Aldi yang masih cadel.


"Alhamdulillah, kalian puasa juga?" tanya Bu Fatma.


"Iya dong bu." jawab Aldo bersemangat.


"Okey, kita langsung pulang ke rumah aja ya." kata bu Fatma.


"Okey bu!" jawab keduanya bersamaan.


Sesampainya di rumah, Melati dibantu sopir grab menurunkan barang bawaan bu Fatma dari garasi mobil.


"Adek...bantuin mbak dong bawa barangnya ibu." pinta Melati kepada Aldo dan Aldi.


"Siap mbak!" jawab mereka kompak dengan gaya seperti tentara yang sedang hormat pada komandannya.


Aldo dan Aldi segera membantu Melati membawa tas dan beberapa bungkusan bawaan milik ibunya ke dalam rumah.


"Ibu mandi dulu aja, bial Adi sama Ado yang belesin tas ibu." kata Aldi bersemangat.


"Okey sayang, ibu mandi dulu ya. Kalian memang anak-anak hebat, anak baik." kata bu Fatma sambil mengusap kepala Aldi dengan lembut.

__ADS_1


Sore itu, Melati buka bersama dengan anggota keluarganya secara lengkap, tanpa bapak tentunya. Nenek pun ikut serta di lingkaran meja makan itu. Mereka berbuka puasa bersama dengan menu kesukaan ibu mereka, yaitu sayur daun singkong kuah kuning. Dan membuat sayur sop ceker kesukaan Aldo dan Aldi. Buah jeruk sebagai cuci mulutnya, sisa oleh-oleh yang dibagi-bagikan pada para tetangga siang tadi.


"Aldo sama Aldi nanti ikut tarawih juga?" tanya bu Fatma.


"Iya dong bu." jawab mereka bersemangat.


"Ramai ga kalau di masjid?" tanya bu Fatma.


"Engga dong bu, ga boleh ramai ga boleh main-main. Ga baik." jawab Aldo.


"Siapa yang bilang?" tanya Bu Fatma.


"Pak Wahid." jawab Aldo.


"Wah, anak ibu hebat." komentar bu Fatma.


"Ibu senang sekali, melihat kalian tersenyum bahagia seperti ini. Tahun ini, kita akan berlebaran bersama, kalian senang tidak?" tanya bu Fatma.


"Seneng banget bu..." jawab Aldo dan Aldi bersamaan.


Bu Fatma tersenyum menanggapinya.


"Maafkan ibu ya nak. Ibu kerjanya lama." kata bu Fatma dengan wajah sendu.


"Gapapa bu. Yang penting ibu kerja yang halal." kata Melati.


"Kenapa sih, ibu harus kerja ke luar negeri? Dan lama sekali?" tanya Aldo dengan polos.


"Karena, ibu di sana kerjanya merawat nenek-nenek yang sudah tua sayang. Namanya Opa Sarah. Opa sarah itu ga mau dirawat orang lain, maunya ibu saja yang merawatnya. Jadi maaf ya nak, ibu harus terus bekerja di sana." jawab bu Fatma.


"Jadi, ibu bukan pembantu?" tanya Aldi polos.


Bu Fatma Tersenyum menanggapinya pertanyaan polos Aldi, putranya.

__ADS_1


"Ibu itu pembantu, tetapi juga membantu merawat nenek yang sudah sangat tua dan sakit-sakitan. Maunya di rawat ibu, ga mau dirawat orang lain." kata bu Fatma.


"Wah, Ibu hebat ya, bisa jadi kesayangan opa Sarah." kata Aldo bangga.


"Alhamdulillah nak."


Dan banyak obrolan diantara mereka sambil berbuka puasa, hingga akhirnya terdengar suara adzan isya', lalu merekapun berangkat ke masjid untuk sholat tarawih bersama.


Kepulangan bu Fatma menjadi fokus perhatian warga kampung dan jamaah masjid uang sholat berjamaah di masjid. Mereka banyak yang melepas rindu dengan bu Fatma dan saling bercerita hingga malam tiba. Aldo dan Aldi sudah terbiasa bermain di masjid setelah sholat tarawih, selama bulan ramadhan. Karena temannya banyak, begitupun dengan Melati yang mendampingi adik-adik TPQnya untuk bertadarus bersama di masjid dengan dipimpin oleh pak Wahid.


Malam pun tiba, Aldo dan Aldi ingin tidur di keloni Ibu mereka. Pun tak luput Melati yang juga merindukan pelukan sosok wanita tegar yang selama ini selalu memotivasi dan menjadikan alasan dia kuat selama di rumah tanpa bapak Setelah kedua adik kembarnya terlelap, Melati tidur memeluk bu Fatma dengan sangat erat. Bu Fatma mengelus kepala Melati dengan penuh cinta.


"Mbak, terimakasih banyak ya, mbak Melati sudah banyak membantu ibu." kata bu Fatma sambil mengelus rambut Melati dengan lembut.


"Kenapa harus berterimakasih bu? Ini sudah menjadi tanggungjawab Melati selama ibu tidak dirumah." jawab Melati.


"Ibu bangga padamu nak." kata bu Fatma sambil menoleh menatap wajah ayu putrinya.


"Kamu begitu kuat, kamu mampu menjalani segala ujian hidup ini dengan kuat. Ibu bangga memiliki anak sepertimu Mbak. Mbak Melati hebat." kata bu Fatma.


"Kekuatan Melati berasal dari Allah bu, Allah yang senantiasa memberi Melati kekuatan. Dan ibu yang selalu memotivasi Melati hingga Melati tetap bertahan di sini." kata Melati sambil menatap manik ibunya.


"Ehm, oya. Kapan mbak Melati mulai masuk sekolah?" tanya bi Fatma.


"Minggu depan bu." jawab Melati.


"Wah, berarti ibu masih berkesempatan melihat putri ibu ini masuk sekolah dengan seragam putih biru dong." kata bu Fatma.


"Iya bu. Ibu kembali ke Malaysia nya masih besok tanggal 20 kan?" tanya Melati.


"Iya nak."


"Tetap sangat ya sayang, ibu sangat senang kamu masih bersamangat untuk melanjutkan pendidikan mu sayang." kata bu Fatma.

__ADS_1


"Mohon tambah do'anya ya bu." kata Melati yang kemudian memeluk tubuh ibunya. Pelukan ternyaman. terhangat dan rasanya tak ingin dia melepaskannya lagi.


__ADS_2