
Siang itu Melati sudah berada di gedung SKB untuk mengikuti pelajaran seperti biasanya. Jam pertama sudah berlalu, dan kini masuk jam kedua, namun guru yang biasa mengajar lama tidak muncul, hingga ketua kelasnya mencari guru itu dan meminta tugas ke ruang guru. Ternyata, guru pelajaran jam kedua kosong, dan guru pelajaran jam ketiga juga ijin sakit, sehingga kelas Melati free tidak ada pembelajaran. Oleh pihak SKB, siswa kelas tempat Melati belajar di bebaskan untuk pulang lebih awal.
"Ayo Mel, pulang." ajak Nia.
"Eh, iya Nia." jawab Melati sambil membereskan alat tulisanya.
Sesampainya di parkiran, Melati diam sejenak di jok motor, dia bingung mau kemana, karena hari masih siang. Mau langsung pulang, rasanya enggan.
"Ehm, apa aku ke perpustakaan aja ya? Udah lama juga aku ga kesana." batin Melati.
Dan benar saja, Melatipun melajukan motornya menuju gedung perpustakaan umum di kotanya.
Sesampainya di perpustakaan, Melati segera masuk gedung dan mencari-cari buku di bagian rak kumpulan buku Fiksi. Ya, Melati sangat menyukai buku Fiksi, seperti Novel dan Cerpen. Karena dengan banyak membaca buku novel dan cerpen, hal itu akan sangat membantunya menemukan ide dalam mengembangkan hobinya, yaitu menulis.
Saat akan mencari sebuah buku di salah satu rak, kebetulan ada seseorang yang juga sedang asyik terpekur duduk di lantai sambil membaca-baca buku di antara himpitan rak buku, sehingga menghalangi jalannya untuk melanjutkan mencari buku di salah satu sisi.
"Ehm, maaf, permisi mas, boleh saya lewat." kata Melati sopan.
Seketika laki-laki yang duduk di lantai itu menoleh ke sumber suara, lalu berdiri.
"Eh, ya silakan." kata laki-laki itu, namun seketika laki-laki itu menyebut nama Melati.
"Ukhti Melati?" sapa laki-laki itu, yang tak lain adalah Ugi. Sepertinya memang mereka berjodoh ya, lagi-lagi tanpa di rencana, mereka bertemu tanpa sengaja.
"Mas Ugi?" Melati baru sadar, bahwa laki-laki yang di sapanya itu ternyata Ugi, orang yang sudah di kenalnya, karena memang sejak tadi, Melati menunduk, tak berani melihat laki-laki yang menghalangi jalannya mencari buku.
"Wah, ketemu lagi ya kita. Sepertinya memang kita berjodoh ya." kata Ugi asal-asalan tetapi berharap jadi beneran.
"Ehm, eh, iya mas." Melati tergagap dan tertunduk.
"Iya? Iya apa nih? Iya kita berjodoh?" goda Ugi.
"Eh, bu-bukan. Bukan gitu maksudnya." spontan Melati menggelengkan kepala dan menggoyangkan telapak tangan kanannya sebagai isyarat penolakan.
"Gitu juga gapapa lho." goda Ugi sambil menarik turunkan alisnya.
"Ehm, ma-maaf, sa-saya permisi." kata Melati tergugup hendak balik badan.
"Eh, tunggu." kata Ugi spontan meraih tangan Melati, dan seketika tubuh Melati mematung, tak bergerak.
"Katanya mau lewat, silakan." kata Ugi mempersilakan Melati lewat, dengan sedikit membungkukkan badannya, dengan tangan kanan di belakang, dan tangan kirinya membuka memberi jalan, seperti layaknya seorang pelayan mempersilakan tuan putrinya lewat.
"Ehm, Engga jadi mas." kata Melati.
"Kenapa?" tanya Ugi.
"Gapapa."
"Maaf jika bercanda saya kelewatan." sesal Ugi.
Melati hanya mengangguk sambil memeluk sebuah buku yang didapatnya tadi sebelum dia meminta Ugi memberi jalan. Lalu Melati berjalan menuju ruang baca, yang tak disadarinya, Ugipun mengekorinya.
"Saya boleh duduk di sini?" tanya Ugi setelah Melati sudah duduk disebuah kursi baca.
__ADS_1
Seketika Melati menoleh kearah Ugi.
"Dia ngikutin aku?" batin Melati.
"Ehm. ya." jawab Melati singkat.
Ugipun duduk disamping Melati sambil sesekali menoleh ke arah gadis yang berhasil mencuri hatinya. Melati yang menyadari itu, merasa kurang nyaman, tetapi dia juga merasa sungkan jika akan meninggalkan tempat itu lagi. Khawatir menyinggung perasaan Ugi.
"Ehm, ukhti Melati."
"Ya?"
"Kamu, suka main ke sini ya?" tanya Ugi.
"Dulu iya, sekarang jarang. Cuma kalo pas longgar aja." jawab Melati.
"Oh, ya sama dong. Dulu saya juga sering ke sini. Tapi, sekarang udah jarang. Cuma kalo pas longgar aja." kata Ugi
"Ehm, nanti sepulang dari sini, rencananya mau langsung pulang, atau kemana?" tanya Ugi.
"Iya. Pulang." jawab Melati.
"Ehm...gitu? Misal, nanti saya pingin ngajak Ukhti Melati ngobrol dulu, boleh ga?" tanya Ugi.
Melati menghentikan aktivitasnya membaca buku, dia terdiam beberapa saat, untuk berfikir memberikan jawaban.
"Mas Ugi mau ngobrol apa?" batin Melati.
"Kalau keberatan, engga juga gapapa kok." kata Ugi.
"Sepertinya memang aku perlu mengenal lebih dekat dengan sosok mas Ugi, agar aku bisa segera memberi jawaban pada nenek dan adek-adek. Risih juga ternyata, kalau setiap hari ditanyain terus. Dan, sepertinya memang aku juga perlu memberinya kesempatan untuk mengobrol barang sejenak." batin Melati.
"Okey. Nanti kalau dirasa sudah cukup, kita pulang bareng ya, nanti kita ngobrol di luar." kata Ugi.
Melati hanya memberi jawaban dengan anggukan, lalu terpekur kembali dengan buku yang dibacanya.
Setengah jam berlalu, terdengar suara adzan ashar berkumandang. Ugi beranjak dari duduknya.
"Ukhti, saya permisi mau ke masjid dulu, tolong tunggu saya dulu ya kalau mau pulang." kata Ugi.
"Ehm, saya juga sudah kok. Saya ikut mas Ugi ke masjid saja." kata Melati sambil beranjak dari duduknya juga.
"Oh, ya sudah. Ayuk." kata Ugi. Lalu Melati membawa buku yang belum selesai dibacanya, untuk dia bawa ke petugas untuk dipinjamnya.
"Mas, saya pinjam buku dulu ya." kata Melati.
"Okey." jawab Ugi sambil menunggu Melati berdiri di sampingnya setelah dia mengambil tas ranselnya dari loker pengunjung.
"Pacarmu to mas?" tanya salah seorang petugas jaga yang sudah akrab dengan Ugi.
"Eh, mbak Mila. Bukan mbak." jawab Ugi santai.
"Bu, saya pinjam ini ya." kata Melati sambil menyerahkan dua buah buku yang dibacanya tadi, bersama kartu anggota perpustakaan yang dia miliki.
__ADS_1
Petugas jaga pun mengurus peminjaman buku Melati, saat memasukkan kartu pinjam di kartu atas namanya, petugas jaga bertanya pada Melati.
"Mbak ini namanya Sekar Melati ya?" tanya petugas jaga yang sudah berumur.
"Iya bu." jawab Melati.
"Mbak bukannya yang jadi juara satu lomba cerpen beberapa bulan lalu itu ya?" tanya ibu itu lagi.
"Iya bu." jawab Melati.
"Kalau ga salah, nama karyanya Sepasang sayap Malaikat ya?" tanya ibu petugas.
"Benar bu. Ibu tau karya saya?" tanya Melati.
"Iya mbak, saya salah satu panitia yang mengurusi lomba itu, dan kebetulan, karena saya penasaran dengan karyanya sang juara, ya saya baca mbak. Isinya ngena banget mbak, saya jadi terharu, makannya saya sangat tertarik dengan cerpen anda itu. Dan pingin ketemu mbak langsung, tapi pas waktu itu, saya pas ada keperluan, jadi ga bisa ketemu mbak." kata ibu petugas jaga itu.
"Oh, iya bu. Salam kenal." kata Melati ramah.
"Owalah, ini to penulis cerpen yang ibu ceritain itu?" tanya petugas jaga satunya yang mengenal Ugi.
"Iya mbak Mila."
"Wah, kebetulan dong Mbak kenal juga sama mas Ugi?" tanya mbak Mila.
"Iya mbak." jawab Melati.
"Mbak Sekar kalo ga salah masih single kan ya?" tanya ibu penjaga.
"Iya bu." jawab Melati.
"Wah, kebetulan tu mas Ugi. Mbak Sekar masih single." kata mbak Mila.
"Mbak, sama mas Ugi aja mbak. Ini mas Ugi dijamin laki-laki GGS. Ganteng-ganteng Sholih mbak. Baik, bertanggungjawab, ramah, jiwa sosialnya tinggi, dan satu lagi mbak kelebihannya, yang jarang ada pada laki-laki lain, dia itu bukan perokok mbak." kata mbak Mila.
"Ish, mbak Mila nih, malah kaya mromosiin aku." kata Ugi.
"Lho, ya bener itu mas. Kalian ini serasi lho. Cocok." kata ibu petugas jaga.
"Meski umurnya mas Ugi ini udah kepala tiga mbak, tapi wajahnya masih kaya anak baru lulus SMA lho." kata mbak Mila masih mempromosikan Ugi.
"Ah, udah lah. Mbak Mila nih, aku mau ke masjid dulu mbak. Udah selesai 'kan proses peminjaman bukunya?" tanya Ugi.
"Sudah kok mas." jawab ibu penjaga.
"Ini ya mbak bukunya." kata mbak Mila yang menyerahkan buku pinjaman itu kepada Melati.
"Terimakasih mbak. Bu." kata Melati sopan sambil menerima buku pinjamannya.
Melatipun mengikuti langkah Ugi yang setengah tergesa-gesa karena takut terlambat sholat berjamaah. Masjid tempat mereka sholat memang tak jauh dari perpustakaan, sehingga Ugi masih mendapatkan kesempatan untuk mengikuti sholat jamaah. Namun Melati menjadi makmum masuk, karena dia harus ke toilet dahulu.
💞💞💞
Maaf ya Reader, author up nya belum bisa konsisten setiap hari. Kebetulan, kemarin abis ada acara sekolahan, yang lumayan menguras tenaga, sehingga sering ketiduran, jadi belum sempat menyelesaikan satu bab penuh.
__ADS_1
Untuk bab berikutnya, kita akan mulai cerita kisah cinta Melati ya, yuk ikutin terua ceritanya. Semoga menghibur😘 jangan lupa jempol cantiknya ya dear😍