Seputih Melati

Seputih Melati
Bengkak


__ADS_3

Keadaan Aldo sudah membaik dan tidak mengkhawatirkan, sehingga dokter mengijinkan Aldo untuk rawat jalan saja. Melati mengantri obat terlebih dahulu di ruang Obat sedangkan Latif segera membawa Aldo masuk ke dalam mobil.


Setelah urusan Melati selesai, Merekapun segera pulang. Aldo yang masih lemas, dipangku Melati di kursi belakang. Sampai di rumah, Aldo diistirahatkan dulu, lalu Melati menyiapkan semua keperluan untuk Aldo. Sedangkan Latif pulanh dahulu untuk mengembalikan mobilnya.


Hari itu, Latif harus pergi ke beberapa tokonya untuk mengecek barang, namun sebelum berangkat, Latif menyempatkan diri menjenguk Aldo.


"Aldo udah tidur?" tanya Latif kepada Melati yang melihat Aldo sudah tampak tidur di kamar nya.


"Alhamdulillah sudah mas. Sepertinya efek obat mas." kata Melati sambil menyapu rumahnya yang kotor karena tadi belum sempat menyapu.


"Oh, iya mungkin Mel." kata Latif.


"Ehm, aku ada perlu di beberapa toko, nanti kalau ada apa- apa, jangan sungkan untuk hubungi aku ya." kata Latif berpesan.


"Ya mas, terimakasih ya mas." kata Mel


"Iya, sama-sama." jawab Latif.


❤❤❤


Melati merawat Aldo dengan penuh perhatian, hingga tangan kanannya yang terasa nyeri tak dirasakannya. Hingga malam tiba, Melati tak bisa tidur. Dia merasakan rasa nyeri di bagian tangan kanannya yang di pen. Area lengan dan telapak tangannya semakin malam semakin tampak bengkak. Namun, Melati berusaha untuk menanganinya sendiri, dia mengompres tangannya perlahan. Nenek Melati malam itu tidur dirumah Melati, menjaga kedua adiknya.


Hingga pukul 11 malam, terdengar suara mobil lewat dan masuk halaman rumah Sebelah. Ya, sudah bisa ditebak bahwa itu mobilnya Latif.


Melati merasakan kepalanya sangat pusing, dan pandangannya mulai kabur, saat dia kembali dari toilet. Tiba-tiba saja, Melati ambruk di depan kamarnya.


Brugh....


Terdengar suara pintu yang terbuka, dan ada suara orang jatuh, Nenek segera keluar dari kamar si kembar. Saat tiba diluar, ternyata Melati sudah tergeletak di sana dalam keadaan tidak sadarkan diri.


"Melati. Tolong!" pekik Nenek dari dalam rumah sambil memangku kepala Melati yang tak sadarkan diri.


Tak Lama kemudian, Latif mengetuk pintu rumah Melati. Dan nenek membukakannya.


"Mas Latif, Tolong cucu saya Melati. Dia pingsan mas." kata nenek sambil menunjuk Melati yang terbaring lemah di lantai.


"Astagfirullah. Melati!" Latif terkejut dan segera menghampiri Melati dan tanpa di komando, Latif segera menggendong tubuh Melati dan dibawanya Melati ke rumah sakit.


"Nenek dirumah saja ya, Aldo sama Aldi masih tidur kan nek?" tanya Latif.


"Iya mas."


"Biar Melati saya yang urus, nenek dirumah saja, nanti Latif kabarin kalau ada apa-apa sama Melati." kata Latif berpesan pada nenek.

__ADS_1


"Iya mas. Titip Melati ya mas." kata nenek


Mobil Latif segera melaju ke rumah sakit dengan kecepatan sedang. Sesampainya di rumah sakit, Latif segera menggendong Melati dan dibawa ke IGD. Latif menunggu kabar dari dokter, diluar ruangan.


"Bagaimana keadaan adik saya dok?" tanya Latif.


"Adik anda hanya kecapekan saja mas, tensi nya rendah, Hb nya juga rendah. Tangannya bengkak, ada penyumbatan di bagian yang cidera, tetapi ini tadi sudah ditangani. Sepertinya, pasien lupa bahwa tangannya sakit, sehingga tangannya dipakai untuk beraktivitas cukup berat." kata dokter.


"Astagfirullah..."


"Lalu, keadaannya sekarang bagaimana dok?" tanya Latif.


"Sekarang sudah lebih baik, sudah sadar, dan bisa dijenguk." kata dokter.


"Apa harus di opname dok?"


"Tidak perlu, tetapi perlu diinfus dulu beberapa saat, nanti kalau tensi nya sudah membaik, pasien sudah boleh pulang."


"Alhamdulillah, terimakasih dokter." kata Latif.


Latif segera menjenguk keadaan Melati.


"Yaa Allah, betapa banyak cobaan yang menimpanya. Sungguh, Allah tak kan memberi ujian diluar kemampuan HambaNya, dan aku yakin, kamu kuat Melati. Kamu gadis kuat dan hebat." gumam Latif sambil menatap wajah Melati yang masih terlelap.


Beberapa saat kemudian, Melati sadar.


"Melati?"


"Mas Latif?"


"Alhamdulillah, kamu sadar juga." kata Latif bahagia.


"Aku dimanaas?"


"Kamu di rumah sakit Mel, tadi kamu pingsan." kata Latif.


"Yaa Allah, maaf ya mas, udah ngerepotin mas Latif lagi." kata Melati sungkan.


"Ga ada yang repot. Mas kan udah bilang, kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi mas Latif. Ini tangan kamu sampe bengkak begini, kenapa ga hubungi mas?" tanya Latif sambil memegang tangan Melati yang bengkak.


"Maaf mas." kata Melati sambil menunduk.


"Yaa Allah, kenapa hatiku ikut menangis melihat wajahnya yang sendu? Kenapa hatiku terasa berdesir setiap melihat air bening keluar dari matanya? Ada apa ini?" batin Latif.

__ADS_1


"Kamu masih kuat jalani semua ini kan Mel?" tanya Latif.


Melati mendongak menatap Latif. Manik mereka bertemu.


"Yaa Allah, ada apa ini? Aku hanya menganggapnya adik. Tapi kenapa, tiba-tiba rasa ini berubah?" batin Latif.


Melati tersenyum, dan mengangguk.


"Melati hanya menjalani takdir Allah mas. Melati yakin, di setiap ada kesulitan, pasti ada kemudahan. Akan ada hikmah dibalik semua ini. Melati yakin itu." kata Melati sambil tersenyum.


"Oh Ya Rob, kenapa senyumnya begitu manis? Dia begitu cantik malam ini, bak bidadari syurga. Kenapa jantungku tak karuan iramanya? Ada apa ini?" batin Latif lagi.


"Allah tak akan menguji suatu hamba di luar kemampuannya mas, itu kan yang selalu mas nasehat kan pada Melati. Jikalau ini jalan Hidup Melati, Melati yakin, Melati mampu melaluinya mas. Meski sering merepotkan mas Latif sih." kata Melati sambil tersenyum.


"I iya juga sih Mel." kata Latif grogi, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mas, kapan Melati bisa pulang?" tanya Melati.


"Ehm, tenanglah dulu, InshaaAllah nanti kita segera pulang kok. Tadi kata dokter, kamu ga perlu di opname." kata Latif menenangkan Melati.


"Alhamdulillah."


Setelah beberapa saat, perawat bersama dokter jaga mengecek keadaan Melati. Dan benar saja, Melati sudah diijinkan untuk pulang.


Dengan hati-hati, Latif menuntun Melati untuk masuk mobil. Merekapun naik mobil dan menuju pulang.


Sesampainya di rumah, sudah waktu subuh, Nenek sudah bangun meski semalaman beliau juga tidak bisa tidur.


"Bagaimana keadaan Melati mas?" tanya nenek.


"Alhamdulillah, Melati hanya kecapekan saja nek." kata Latif.


"Yaa Allah Mel. Yasudah, mulai sekarang, nenek akan membantumu merawat kedua adikmu ya." kata Nenek.


"Sungguh nek?" tanya Melati tak percaya. Karena semenjak bapaknya meninggal, nenek sangat bersikap dingin kepadanya.


"Iya. Maafkan sikap nenek selama ini ya Mel. Nenek yang salah. Bapakmu meninggal sudah atas Kehendak Allah, bukan karena kamu. Maafkan nenek ya Mel." kata Nenek mengelus kepala Melati dengan lembut.


"Nenek..." kata Melati sambil menghambur ke dalam pelukan neneknya sambil menangis bahagia.


"Alhamdulillah. akhirnya nenek terbuka hatinya untuk menerima Melati." gumam Latif.


"Nenek sayang sama Melati, nenek ga mau kehilangan kalian lagi." kata nenek.

__ADS_1


"Melati juga sayang sama nenek." kata Melati.


Suara adzan subuh berkumandang, Latif mohon undur diri pergi ke masjid untuk menunaikan ibadah sholat subuh. Dan Latif minta Melati untuk istirahat dahulu, dan tidak boleh banyak berkegiatan, apalagi tangan kanannya, tidak boleh banyak bergerak, karena akan dikhawatirkan bengkak lagi.


__ADS_2