Seputih Melati

Seputih Melati
Nyasar


__ADS_3

Sesampainya di Car Free Day, Aldo dan Aldi mengikuti setiap langkah Husein dan Ibnu. Mereka bersepeda menyusuri area Car Free Day dengan suka cita. Ternyata disana mereka bertemu dengan komunitas sepeda onthel, kemudian Husein dan Ibnu yang mengenal mereka langsung bergabung mengajak adik-adiknya. Cukup lama mereka bercengkrama, membuat Aldo dan Aldi serta Cakra bosan dibuatnya. Aldo dan Aldi juga pingin pinjam HP Husein buat foto-foto merasa sungkan, akhirnya mereka berbisik-bisik kusak kusuk, berniat untuk mencari jajan dan befoto-foto di lokasi CFD.


"Do, Di, bosen nih. Laper juga, cari jajan yuk." ajak Cakra.


"Ah, ga berani Kra. Takut nanti dimarahin mas Husein." tolak Aldo.


"Bentar aja. Lagian mereka terlalu asik ngobrol." kata Cakra.


"Lagian kalian mau foto-foto kan? Pake HPku aja foto-fotonya." kata Cakra.


"Ehm..." tampak Aldo dan Aldi berfikir, dan saling pandang. Karena memang Aldo dan Aldi tipe anak penurut, apalagi sama mbaknya. Jadi mereka sangat takut melanggar pesan mbaknya.


Akhirnya Aldo dan Aldi mengangguk setuju. Merekapun beringsut dari rombongan. Aldo berpamitan pada Ibnu yang tampak tidak berbincang dengan temannya.


"Mas Ibnu, Aku sama Aldi mau cari jajan dulu ya." kata Aldo berpamitan.


"Oh, iya Do." jawab Ibnu.


Aldo dan Aldi yang sudah merasa mendapat ijin, segera pergi dari rombongan lalu bersepedaan mencari makanan yang mereka suka. Lalu Cakra mengajak Si kembar menonton sebuah pertunjukan di suatu tempat yang cukup jauh dari pusat CFD tempat mereka beristirahat tadi. Merekapun berfoto-foto ria dengan menggunakan HP Cakra. Hingga akhirnya, Aldi merasa perutnya mules.


"Mas, perutku mules nih. mau pup." kata Aldi sambil memegang perutnya.


"Waduh, ya harus nyari WC dong." komentar Aldo.


"Ya udah, ayo kita cari WC." ajak Cakra.


Merekapun menyusuri jalan dengan tanpa mengingat-ingat ke arah mana mereka bersepeda. Hingga cukup jauh mereka bersepeda, mereka tiba di sebuah mushola, disana ada toilet. Aldi yang merasa mules tak mampu menahannya lagi, hingga dia lari terbirit-birit menuju Toilet.


Sekitar sepuluh menit, Aldi sudah selesai dengan pertapaannya. Kemudian Aldi kembali menemui Aldo dan Cakra.


"Dah yuk pulang." ajak Cakra.


Merekapun berjalan, ke arah yang mereka rasa benar. Namun, ternyata semakin jauh mereka mengayuh sepeda, rasanya semakin sepi dari hiruk pikuk keramaian CFD.


"Mas, kita sampe mana sih ini?" tanya Aldi.


"Iya nih Kra, kita sampe mana sih?" tanya Aldo pada Cakra.


"Wah, iya. Aku juga lupa. Kita ini dimana ya?" tanya Cakra.


"Hadeh... terus gimana ini?" tanya Aldo.


"Kita puter balik aja yuk." ajak Cakra.


Merekapun putar balik, Namun mereka justru semakin jauh dari jalan yang mereka lewati tadi.


"Duh, gimana ini? Kita ga bisa pulang." kata Aldi dengan wajah cemas. Mereka baru menyadari bahwa mereka telah nyasar.


Disaat mereka sedang cemas, bingung dan takut, datang seorang laki-laki berkaos biru navy lengan panjang dan celana outdoor panjang.


"Adek-adek, ada yang bisa mas bantu?" tanya Laki-laki itu ramah.


Aldo dan Aldi saling berbisik.


"Ati-ati Di, jangan langsung jawab jujur, seperti kata mbak Melati, kita harus hati-hati sama orang asing." kata Aldo berbisik.


"Iya aku juga ingat." jawab Aldi dengan berbisik juga.


"Anu mas...kita...Aduh..." kata Cakra yang langsung diinjak kakinya oleh Aldi.


"Kita nyariin teman kita kok mas." jawab Aldi.

__ADS_1


"Temennya kaya gimana? mungkin kami bisa membantu." tanya Laki-laki itu.


Kusak kusuk dan bisik bisik Aldo Aldi dan Cakra membicarakan sesuatu hal.


"Kalian tidak usah takut. Kami bukan orang jahat." kata laki-laki itu ramah dengan senyum bersahabat.


"Nama mas, Ugi. Mas kerja di kantor PMI. Tau kan PMI itu apa?" kata Ugi memperkenalkan diri sambil menunjukkan ID Card nya sebagai petugas PMI.


"Palang Merah Indonesia mas?" tanya Aldo.


"Anak cerdas. Betul sekali. Siapa namamu?" tanya Ugi ramah dengan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Aldo.


"Aldo mas." jawab Aldo.


"Kalian kembar ya?" tanya Ugi.


"Iya mas. Ini adik saya, Aldi." kata Aldo memperkenalkan Aldi.


"Wah, kalian ini seperti upin dan ipin ya." komentar Ugi.


"Hehe, iya mas." jawab Aldo dan Aldi bersamaan.


"Dan ini teman kami, Cakra." lanjut Aldo.


"Oh ya, salam Kenal. Oya, ini teman mas juga, namanya Ayub." kata Ugi.


"Halo adik-adik." sapa Ayub.


"Adik-adik ini, ketinggalan teman atau memang mencari teman yang hilang?" tanya Ugi.


"Ehm, anu mas. Kita..." kata Cakra terputus, takut di marahi lagi sama si kembar.


"Oh... begitu? Lalu, kalian ini mau kemana?" tanya Ugi.


"Mau pulang mas." jawab Aldi.


"Tapi kita ga tau jalan pulang mas." lanjut Cakra.


"Rumah kalian mana?" tanya Ugi.


"Di kampung Tegal Asri mas." jawab Aldo.


"Kampung Tegal Asri? Mana itu?" tanya Ugi pada Ayub.


Ayub mengangkat kedua bahunya, tanda tidak tau.


"Kecamatannya mana dek?" tanya Ayub.


Ketiga bocah kecil itu bersamaan menggeleng, memberi jawaban.


Kemudian Ayub dan Ugi tampak sedang berfikir.


"Mas, tadi mbak Melati kan ngasih kita nomer HPnya. Biar kita bisa menghubungi mbak Melati kalo pas diperlukan." kata Aldi mengingatkan.


"Oh, iya. Lupa. Bener bener." kata Aldo yang kemudian teringat dengan secarik kertas yang diberikan mbak nya tadi pagi.


"Mas, kami punya nomernya mbak kami. Mas telpon mbak kami aja." kata Aldo.


"Oh, ya. Boleh." jawab Ugi.


Lalu Aldo memberikan secarik kertas bertuliskan deretan angka, yang kemudian di ketik Ugi di ponselnya. Dan di ponselnya terlah terdeteksi sebuah nama yang muncul, saat nomer itu selesai dimasukkan di kontak. Ayub pun melihat itu.

__ADS_1


"Melati?" gumam Ugi.


"Ente punya nomernya gitu kok bro, siapa bro?" tanya Ayub.


"Pemilik motor Matic yang waktu itu ente perbaiki." jawab Ugi.


Sesaat Ayub berfikir, Ugi pun mencoba memastikan kepada ketiga bocah itu.


"Nama mbak Kalian Melati, bukan?" tanya Ugi.


"Iya mas. kok mas Ugi tau?" tanya Aldo heran.


"Kebetulan sekali. Ternyata nomernya sudah ada di HP mas, dia temen mas Ugi. Ya udah, mas telpon mbakmu ya." kata Ugi sambil menekan gambar telepon pada layar ponselnya.


πŸ“žMelati


'Halo assalamualaikum.' sapa seorang perempuan dari seberang.


"Wa'alaikumsalam. Ukhti Melati. Apa kabar?" tanya Ugi.


'Alhamdulillah baik. Ada apa ya mas?'


"Ehm, Ukhti. Boleh saya minta share lok alamat rumahmu? Sama ancer-ancer nya." pinta Ugi.


'Untuk apa?'


"Saya mau kesana. Sekarang. Ukhti di rumah 'kan?"


Cukup lama Ugi menanti jawaban dari seberang.


"Halo. Ukhti masih di situ?" sapa Ugi.


'Eh, ya. Ehm, iya. Ini saya kirim share loknya mas.'


"Okey, tunggu saya ya."


'Ya mas.'


Setelah telepon di tutup, Ugi langsung mengantar ketiga bocah itu pulang.


"Ente kok ga bilang kalo ente mau nganterin adik-adiknya sih?" tanya Ayub.


"Biarin, nanti dia khawatir. Mikir yang aneh-aneh. Nanti adik-adiknya kena marah pula." kata Ugi.


"Iya juga sih."


Ugi dan Ayub berboncengan motor mengantarkan ketiga bocah yang naik sepeda menuju lokasi yang dikirimkan Melati.


"Melati tadi diam cukup lama, apa dikira aku mau ngapelin dia ya? Nanyain jawaban yang kemarin?" batin Ugi sambil senyum senyum.


"Sungguh ini sebuah kebetulan yang indah. Disaat aku merindukannya, ada jalan untuk bisa kembali bertemu dengannya. Sepertinya kita memang jodoh." batin Ugi.


πŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Visual Mugi Raharja (Ugi)



Wah gimana ini, Melati jadi galau ga sih? Dapet kabar kalo Ugi mau datang. Apakah Melati sudah ada jawaban atas pertanyaan Ugi satu bulan lalu?


Ikuti terus kisah Melati ya... 😍 jangan lupa like n komen... jazakumullah dear😍😘

__ADS_1


__ADS_2