Seputih Melati

Seputih Melati
Perhatian


__ADS_3

Sejak kejadian malam itu, Latif jadi sering berkunjung ke rumah Melati untuk sekedar menanyakan keadaan Melati dan kedua adiknya. Nenek juga lebih banyak waktu di rumah Melati, dan bahkan nenek jarang tidur dirumahnya sendiri.


Sudah tiga bulan lamanya, Melati menjalani perawatan di rumah oleh Bianka dan kontrol setiap dua pekan sekali ke rumah sakit di antar Latif dan berjumpa dengan dokter Rafa. Hari ini adalah hari terakhir Melati kontrol, dan keadaannya sudah lebih baik.


"Alhamdulillah Melati, akhirnya tangan kamu sudah sembuh juga." kata Latif saat mereka berjalan menuju mobil.


"Iya mas, Alhamdulillah. Terimakasih ya mas, mas Latif sudah berkenan nganterin Melati kontrol terus, ditengah kesibukan mas Latif." kata Melati.


"Sama-sama Mel." jawab Latif sambil menatap gadis kuatnya.


Namun tiba-tiba seseorang memanggil Melati.


"Melati!" panggil dokter Arifin.


Seketika Latif melengos, ada setitik rasa cemburu dalam hatinya, setiap kali dokter Arifin memberikan perhatian kepada Melati.


"Kata dokter Rafa, kamu sudah sembuh ya?" tanya dokter Arifin.


"Iya dok, alhamdulillah. Terimakasih banyak ya dok, berkat bantuan dari dokter Arifin dan mbak Bianka, Melati jadi sudah sehatan ini " kata Melati dengan senyum tulusnya.


"Iya Mel, sama-sama. Kamu yang semangat ya." kata dokter Arifin sambil tersenyum tulus dengan mengepalkan tangannya memberikan semangat kepada Melati.


"Ehem, maaf. Melati, kita langsung pulang ya, saya ada keperluan di toko ini, sudah ditunggu." kata Latif yang berusaha menjauhkan Melati dengan dokter Arifin.


"Oh, ya mas."


"Maaf ya dok, saya harus segera pulang dulu." kata Melati sopan.


"Its okey, Becarefull ya Mel." kata Arifin.


"Ya dok."


Melati segera mengikuti langkah Latif yang sudah dilanda rasa cemburu.


Sesampainya di mobil, Latif segera menjalankan mobilnya.

__ADS_1


"Mel, tanganmu kan sudah sembuh, ehm, kalau boleh tau, Melati sudah ada agenda acara harian untuk kesibukan sehari-hari belum nih?" tanya Latif sambil menyetir.


"Ehm...sementara ini belum ada acara sih mas. Mas Latif mau kasih Melati kesibukan?" tanya Melati berbinar.


"Emang Melati mau?"


"Mau banget mas." kata Melati bersemangat.


"Jadi gini Mel, tau mbak Khansa kan? Mbak Khansa kan sudah menikah, Nah, mas lagi butuh teman mengajar nih di TPQ, Melati mau ga bantuin mas Latif ngajar adek adek TPQ, terutama yang anak anak balita?"tanya Latif.


"Mau banget mas..." jawab Melati antusias.


Seketika Latif merasa sangat bahagia, karena dia akhirnya punya teman mengajar. Karena beberapa waktu ini, dia memang agak kerepotan mengajar adik-adik TPQnya. Terutama anak balita.


"Alhamdulillah, kalau gitu, besok kamu ikut mas ngajar ya Mel."


"Siap mas. Makasih banget ya mas. Pokoknya, kalau mas Latif ada kegiatan yang kiranya Melati boleh ikutan, diajak aja mas. Soalnya Melati bosen di rumah terus." kata Melati.


"Okey Mel." jawab Latif sambil tersenyum.


Latif adalah seorang laki-laki berparas tampan, dia juga seorang pengusaha yang terbilang sukses. Dia mengelola usaha toko elektronik milik papanya di beberapa cabang, dan dia sendiri juga mendirikan usaha sendiri, di bidang ATK. Latif sudah berjanji pada dirinya sendiri, untuk fokus mengurus TPQ, sejak dia dijadikan ketua TPQ. Selain itu, dia juga diangkat menjadi ketua pemuda di desanya, dan salah satu pengurus lembaga amil zakat infaq dan shodaqoh di kotanya. Sehingga, banyak wanita yang mengantri untuk bisa mendapatkan hatinya. Hanya saja, Latif masih trauma dalam hal asmara.


Merekapun tiba di rumah, Melati segera melanjutkan kegiatannya dan begitupun dengan Latif yang juga segera pergi untuk mengurus usahanya.


💞💞💞


Sore itu, Melati sudah berada di masjid bersama anak-anak TPQ, Melati mengisi waktu sambil menunggu kedatangan Latif dengan bercerita tentang sirih nabi yang bukunya ada di rak buku di masjid itu.


Diam-diam, Latif yang sudah sampai di masjid, dia tidak segera masuk masjid dan menyapa adik-adiknya, tetapi dia justru bersembunyi di balik pintu, untuk ikut serta mendengarkan cerita yang disampaikan Melati. Dan, rasa kagum itu kembali tumbuh dalam hati laki-laki tampan itu.


"Kamu memang gadis luar biasa Mel. Semakin aku mengikuti alur, semakin bertambah rasa ini tumbuh. Apakah aku menyukaimu Melati? Entahlah." batin Latif saat melihat gadis belia itu sedang menghipnotis adik-adik TPQnya.


Selama ini, Latif jarang mengisi materi TPQ dengan bercerita, karena dia menyadari bahwa dia kaku dan monoton, jika bercerita. Sehingga dia selalu enggan jika harus mengisi materi dengan bercerita.


Setelah selesai bercerita, Ada seorang anak yang mengetahui keberadaan Latif, sehingga Melati dan teman yang lain mengalihkan perhatiannya pada guru utama mereka, yaitu Latif.

__ADS_1


Setelah selesai mengajar, semua adik-adik TPQ sudah berhamburan untuk pulang, sedangkan Melati juga hendak beranjak untuk pulang, karena hari itu dia sedang berhalangan, sehingga dia tidak sholat.


"Melati!" panggil Latif.


"Ya mas?" tanya Melati.


"Ehm, terimakasih ya, kamu tadi sudah mau mengisi materi saat aku belum datang." kata Latif.


"Iya mas, sama-sama." jawab Melati.


"Ceritamu bagus, pembawaannya ngena banget, mampu menghipnotis anak-anak yang hiperaktif. Aku suka." kata Latif memuji.


"Ehm, Terimakasih mas." jawab Melati tersipu malu.


"Kamu ga sholat di masjid aja Mel?" tanya Latif.


"Engga mas, kebetulan, Melati lagi libur, jadi Melati pamit undur diri duluan ya mas."


"Oh, gitu ya? Okey, pulangnya, hati-hati ya Mel." kata Latif.


"Ya mas."


Sepeninggal Melati, Latif beres-beres tempat untuk TPQ tadi. Namun, saat membereskan di etalase tempat buku-buku, Latif menemukan sebuah buku gelatik yang cukup tebal. Karena penasaran, Latif membuka buku itu untuk mencari tau pemilik dari buku itu.


"Kumpulan Pena Melati." Latif membaca tulisan di halaman depan buku itu.


Tulisan yani indah dan rapi, serta judul yang membuatnya tertarik untuk membuka halaman demi halaman dari buku yang bertulis tangan indah itu. Hingga adzan berkumandang, Latif membuka buka sekilas setiap judul pada buku itu.


"Oh, jadi kamu suka nulis Mel?" gumam Latif.


Diapun terfikir akan sesuatu hal. Dan rencananya, besok dia akan melakukan sesuatu untuk gadis yang dia kagumi itu.


"Masa depanmu mulai tampak Mel. Semoga masa depanmu cerah." gumam Latif lagi.


Pak Wahid sudah datang, dan meminta Latif untuk mengumandangkan adzan. Latifpun menurut lalu Latif menjalankan sholat dua rakaat setelah dia mengimandangkan adzan, karena sebelum adzan tadi, Latif sudah mengambil air wudlu terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2