Seputih Melati

Seputih Melati
Ijin Gowes


__ADS_3

Sudah lima hari Melati tinggal di rumah Dewa sambil mengasuh dan mengurus Tsabita serta membantu mengurus bu Darsi, ibu mertua Dewa. Melati juga membantu membereskan rumah dan merapikan beberapa perabot di rumah, hingga akhirnya Dirga dibawa pulang.


"Alhamdulillah, akhirnya sampai rumah juga." kata Bu Darsi bahagia menyambut kepulangan cucunya.


"Assalamualaikum Tsabita cantik. Apa kabar sayang, ayah kangen banget sama kamu." kata Dewa sambil mengambil Tsabita yang digendong Melati. Setelah dia meletakkan Dirga yang digendongnya di kasur tempat tidur Dewa.


Baby Tsabita tampak sangat bahagia bertemu dengan sang ayah yang sudah beberapa hari ini tidak bertemu. Baby Tsabita tertawa saat diajak bicara ayahnya dan menggerakkan wajah dan mulutnya seperti ingin mengucapkan sesuatu.


"Kak Dirga mau apa? Mau makan, apa mau mandi dulu?" tanya Melati kepada Dirga.


"Mau bobok dulu bunda." jawab Dirga. Dirga pulang dari rumah sakit di siang hari. Sehingga dia masih ingin melanjutkan tidurnya, setelah tadi minum obat diwaktu pagi, mungkin juga karena efek obat sehingga dia menjadi mengantuk.


Setelah membantu Dewa mengurus keperluan Dirga dan Tsabita, Melati ijin untuk pulang. Karena Melati mendapat kabar bahwa Dirga akan dibawa pulang, sehingga Melati meminta ijin kepada bu Hayati untuk tidak masuk sekolah dulu hari ini. Sedangkan siang ini, dia harus masuk sekolah di SKB.


"Bunda Melati, saya ucapkan banyak terimakasih atas bantuan bunda selama ini. Saya tidak tau, harus membalasnya dengan bagaimana. Hanya kata Terimakasih yang bisa saya sampaikan." kata Dewa sambil mengantarkan Melati keluar dari rumahnya.


"Sama-sama pak Dewa. Saya malah seneng, bisa meringankan beban pak Dewa. Dulu 'kan mbak Tsania juga banyak berjasa, mbak Tsania yang membuat saya menjadi seperti saat ini. Dan pak Dewa juga banyak membantu saya. Sehingga sudah sepatutnya saya gantian membantu pak Dewa, tetapi ya... cuma begini pak. Semampu saya." kata Melati.


"Hm... ya Melati. Semoga Tuhan membalas semua kebaikanmu ya. Dan sukses selalu buat kamu." kata Dewa.


"Aamiin." jawab Melati.


Kemudian Melati menaiki motor maticnya dan pergi meninggalkan rumah Dewa.


"Wa..." panggil bu Darsi.


"Ya bu?"


"Apa ga sebaiknya, Bunda Melati itu kamu jadikan istri saja? Biar bisa bantuin kamu mengurus anak-anak. Kelihatan sekali kalau dia sangat menyayangi kedua anakmu." kata bu Darsi.


"Tidak bu. Maaf. Dewa akan merawat mereka semampu Dewa." jawab Dewa.


"Kamu akan tetap bertahan dengan prinsipmu, kalau kamu akan menikah lagi kalau sudah lewati seribu hari kepergian Tsania?" tanya Bu Darsi.


"Iya bu."


"Kalau setelah itu, justru kamu tidak menemukan pengganti Tsania yang begitu menyayangi kedua anakmu, Bagaimana?" tanya bu Darsi.


"Dewa pasrah saja dengan sang maha kuasa bu. Yang jelas, Dewa tidak akan menikah dalam waktu dekat ini." kata Dewa dengan hati-hati agar tidak melukai hati ibu mertuanya.


Bu Darsi hanya mampu menahan tangis, dia tak menyangka bahwa menantunya ini sangat mencintai putrinya. Tsania. Sebenarnya bu Darsi sangat iba melihat menantu nya keteteran merawat kedua cucunya dari putri tercintanya, tetapi apa daya, bu Darsi yang kemarin sempat jatuh hingga akhirnya sampai sekarang belum bisa berjalan, hanya mampu mengiba tanpa bertindak. Sedangkan kakak Tsania, tipe orang yang cuek dan pekerja keras, sehingga dia tidak terlalu memperdulikan kondisi dan situasi keluarganya.


"Semoga kamu sehat selalu, dan diberi kekuatan untuk bisa merawat kedua anakmu dengan baik." gumam bu Darsi.


💞💞💞


Sudah satu bulan sejak kesembuhan Dirga, Melati beraktivitas seperti biasanya. Hingga tiba di hari ahad, Melati berencana berangkat pengajian bersama neneknya ke masjid agung. Sehingga ba'da subuh, Melati sudah membereskan segala urusan rumah.

__ADS_1


"Mbak, Aldo sama Aldi mau gowes." kata Aldo.


"Gowes? Gowes kemana?" tanya Melati.


"Ke Car Free Day mbak." jawab Aldi.


Kening Melati mengkerut, dia menghentikan kegiatan mencuci perabot bekas memasaknya.


"Jauh amat? Sama siapa kesananya?" tanya Melati.


"Sama temen-temen kok mbak." jawab Aldi.


"Ada yang gede ga?" tanya Melati.


"Ada mas Husein kok mbak." jawab Aldo.


"Boleh ya mbak...boleh ya. Please." mohon kedua adik kembar Melati dengan kedua tangan menangkup di dada.


"Hm... berapa orang?" tanya Melati lagi.


"Ehm, ada...sepuluh orang kok mbak. Yang gede mas Husein sama mas Ibnu." jawab Aldo.


"Oh, okey. Tapi ga boleh bawa HaPe." kata Melati.


"Yah...mbak..." keluh keduanya.


"Mbak, kan HPnya mau buat foto-foto. Nanti kalau ada apa-apa kan kita bisa telpon mbak Melati." Aldo beralasan.


"Engga! Mbak bilang engga, ya engga. Titik." kata Melati.


Aldi masih berusaha merajuk.


"Mbak, please...boleh ya boleh ya..." rayu Aldi.


"Ehm... okey. Boleh bawa HP tapi ga jadi ke CFD." kata Melati.


"Yah, kok gitu sih mbak? Sama aja boong dong." keluh si kembar.


"Lha gimana? Mau HP atau tidak gowes sama sekali?" tawar Melati.


"Ah, mbak Melati ga seru!" protes Aldi sambil merengut.


"Ya terserah. Ini tu juga demi kebaikan kalian. Anak kecil kalo ke tempat umum bawa barang berharga tu nanti bisa jadi incaran penjahat. Kalian mau diculik penjahat?" tanya Melati


Aldo dan Aldi serempak menggeleng.


"Dah, nanti foto-fotonya bisa nebeng mas Husein, dan kalau ada keperluan, kalian juga bilang mas Husein aja. Nih, nanti kalau kepepet ada keperluan, butuh mbak, kalian bawa ini, ini nomer HP mbak." kata Melati menyerahkan secarik kertas bertuliskan deretan angka.

__ADS_1


"Kalo gitu minta tambahan uang jajan mbak." kata Aldi.


"Hm...Kalian ini. Nih, tambahannya dua puluh ribu buat berdua." kata Melati sembari memberikan uang sepuluhribuan dua lembar kepada kedua adiknya.


"Pelit banget sih mbak." keluh Aldo.


"Mau engga? Lagian uang saku kalian udah lumayan 'kan? Dah, jangan bawa uang banyak-banyak. Kalian itu anak kecil, mbak khawatir kalian nanti diincar penjahat." kata Melati lagi.


"Iya deh, iya..." kata Aldo dan Aldi pasrah. Merekapun mengambil Sepeda mereka dan bergegas menuju perempatan masjid untuk berkumpul dengan teman-temannya.


"Ga salim dulu?" tanya Melati.


"Oh, iya." Aldo dan Aldi segera berebut tangan Melati untuk diciumnya.


"Pamit nenek dulu." titah Melati.


"Ya Mbak."


Aldo dan Aldi bergegas menuju rumah neneknya dangan menghambur pada neneknya untuk mencium tangan neneknya.


Lalu Aldo dan Aldi pergi meninggalkan rumah mereka menuju perempatan tempat mereka berkumpul dengan teman-temannya.


Setelah selesai membereskan semua urusan rumah, Melati segera berangkat pengajian bersama nenek dengan mengendarai motor. Sesampainya di perempatan tempat kedua adiknya berkumpul dengan teman-temannya, Melati menghentikan motornya di sana.


"Mas Husein." panggil Melati.


"Ya mbak Melati." jawab seorang laki-laki berusia remaja, yang baru berusia kisaran duabelas tahun dengan badan yang tinggi dan kurus.


"Mas, saya nitip si kembar ya. Nanti kalau ada apa-apa, hubungi ke nomer mbak ya. Karena si Kembar ga bawa HP." kata Melati.


"Oh, ya mbak. Siap." jawab Husein.


"Ya udah. Mbak Melati tinggal dulu ya." kata Melati.


"Assalamualaikum." salam Melati.


"Wa'alaikumsalam." jawab semua anak yang ada disana.


"Kembar. Kalian ga bawa HP? Kenapa? 'Kan kemarin janjinya kita mau bawa HP." kata Cakra teman Si kembar yang baru seusia Aldo dan Aldi.


"Iya. Ga boleh sama mbak Melati. Katanya anak kecil ga boleh barang berharga." kata Aldo.


"Hahaha, dasar anak kecil." ejek Cakra.


"Sssttt... sudah. Sudah Aldo, Aldi, nanti kalian bisa pake HP mas Husein." kata Husein.


"Ya mas." jawab si kembar bersamaan.

__ADS_1


Lalu setelah lengkap, mereka semua bersepeda santai menuju Car Free Day do kota mereka. Jarak tempuh yang cukup jauh, tetapi Husein dan Ibnu mengajak mereka melewati jalan kampung, sehingga tidak terlalu berbahaya dan sedikit resiko jika di banding melewati jalan raya.


__ADS_2