Seputih Melati

Seputih Melati
Demam


__ADS_3

Semenjak bapak meninggal, Melati mengurus rumah sebisanya dengan dibantu kedua adiknya yang masih kecil-kecil. Sesekali, jika ada masalah dengan urusan rumah, Melati memanggil Latif, seorang laki-laki yang dekat dengan rumahnya. Jika Latif sedang pergi, Melati memanggil pak Wahid, takmir masjid yang memang di amanahi oleh ibunya untuk membantu menjaga Melati dan kedua adiknya. Sedangkan nenek Melati, hingga kini masih bersikap dingin dengan Melati, karena masih belum bisa merelakan begitu saja kepergian putranya.


Pagi itu, Melati melakukan rutinitas nya untuk memasak, menyiapkan perlengkapan sekolah kedua adiknya, dan bersih-bersih rumah. Sudah jam tujuh pagi, Melati baru melihat Aldi yang sudah rapi, tetapi belum melihat Aldo.


"Aldi, mas Aldo mana?" tanya Melati membahasakan Aldo sebagai kakaknya Aldi.


"Mas Aldo masih tidur mbak. Dibangunin dari tadi ga mau bangun." kata Aldi.


"Hem..." Melati menarik napas panjang, dan mengeluarkan nya dengan perlahan. Tidak biasanya Aldo bermalas-malasan seperti itu.


"Aldi sarapan dulu ya, itu udah mbak siapin. Mbak bangunin mas Aldo dulu." kata Melati.


"Iya mbak." kata Aldi sambil bermain mobil-mobilan.


Melati memasuki kamar si kembar, dan benar saja, dia melihat Aldo masih tertidur dengan meringkuk, berselimut tebal. Melati curiga dengan gaya tidur adiknya yang tidak biasa.


"Aldo..." panggil Melati sambil berjalan perlahan mendekati tubuh adiknya yang masih terbaring di kasur.


"Do...bangun dek. Ini udah siang, kamu sekolah engga?" tanya Melati sambil membuka selimut adiknya, yang ternyata selimutnya terasa hangat.


"Aldo..." panggil Melati lagi sambil menempelkan telapak tangannya di kening adiknya.


"Astagfirullah. Aldo. Kamu demam?" kata Melati mulai panik. Tubuh Aldo tampak menggigil, kedua tangannya tertekuk di depan dadan, bibirnya putih bergetar, mengeluarkan suara khas orang kedinginan.


"Aldi!! Dek!!" teriak Melati dari dalam kamar Aldo.


"Ya mbak?" jawab Aldi dari ruang makan.


"Panggilkan nenek dek, Mas Aldo panas." teriak Melati sambil tangan kirinya berusaha untuk memangku kepala Aldo.


"Dek, bertahanlah." kata Melati sambil memeluk kepala Aldo.


Tak lama kemudian Nenek datang.


"Aldo kenapa?" tanya nenek kepada Melati.


"Aldo panas nek, dia menggigil. Gimana ini nek?" tanya Melati yang belum berpengalaman.


"Kapan dia mulai panas?" tanya nenek.


"Melati taunya baru aja nek." jawab Melati.

__ADS_1


"Aldi, sejak kapan Aldo panas?" tanya nenek kepada Aldi, yang teman sekamar nya.


"Engga tau nek." jawab Aldi dengan polosnya.


"Ini harus dibawa ke dokter." kata Nenek yang melihat kondisi Aldo.


"Panggil Latif sekarang atau siapa aja yang ada di rumah." perintah nenek kepad Melati.


"Ya nek." jawab Melati dengan segera dia berlari keluar rumah mencari bantuan. Tangan kanannya yang masih harus di gendong, terasa nyeri, tetapi tak di hiraukan nya.


Sesampainya di rumah Latif.


"Mas Latif! Assalamualaikum. Mas." panggil Melati sambil mengetuk pintu rumah Latif.


"Ya, sebentar!" jawaban dari dalam terdengar. Melatipun menunggu dengan gusar.


Tak lama kemudian, Latif membuka pintu rumahnya dengan bertelanjang dada, dan handuk yang dililitkan, serta rambut yang masih basah.


"Wa'alaikumsalam. Ada apa?" jawab Latif sambil membuka pintu.


Seketika Melati yang panik langsung menuju ke depan pintu, saat terdengar suara handel pintu di buka. Namun, dia kembali terkejut saat melihat penampakan di depannya, Melati langsung menutup mukanya dan berbalik badan.


"Astaghfirullah!" pekik Melati.


"Astagfirullah." kata Latif.


"Maaf, aku ganti baju dulu ya." kata Latif berlari ke dalam kamarnya.


Latif memang tinggal sendiri di rumah itu, karena kedua orangtuanya merantau di luar kota, sedangkan dia memilih tetap tinggal di rumah, karena dia harus mengurus usahanya dan usaha milik bapak nya yang berada di beberapa tempat di kota itu.


Melati masih menunggu di luar dengan gusar, sambil bolak balik seperti setrika.


"Ada apa Mel?" tanya Latif setelah memakai celana, lalu dia kembali ke luar sambil memakai kaos oblong, namun rambutnya belum sempat dia sisir.


"Anu mas... itu tolongin Aldo mas, Aldo demam, menggigil." kata Melati panik sambil tangannya menunjuk ke rumahnya.


"Astaghfirullah, okey. Ayo." jawab Latif dengan sigap, langsung menutup pintu rumahnya dan berlari bersama Melati menuju rumah Melati.


Sesampainya di kamar Aldo, Latif langsung mengecek keadaan Aldo.


"Kita bawa ke rumah sakit sekarang ya." kata Latif.

__ADS_1


"Ya mas." jawab Melati.


"Kamu siapin identitasnya Aldo, dan beberapa berkas penting ya. Sama uang secukupnya. Aku keluarin mobil dulu." kata Latif sambil beranjak pergi mengambil mobilnya.


"Ya mas." jawab Melati, sambil langsung mengambil barang-barang penting. Sedangkan Aldo masih dipangku nenek dan Aldi menemani nenek di dalam kamar.


Setelah semua siap, Latif segera menggendong Aldo dan membawa Aldo ke dalam mobilnya yang dipangku Melati di kursi penumpang. Nenek tidak bisa ikut, karen nenek haru mengurus Aldi yang pastinya tidak diijinkan masuk ke dalam rumah sakit.


"Melati, kamu yang tenang ya." kata Latif sambil mengemudikan mobilnya, melihat Melati yang tampak panik mengelus kepala adiknya dan matanya mulai basah oleh air mata.


"Disholawati coba Mel, dibacain Alfatihah." kata Latif.


Aldo memang masih sadar, tetapi dia lemas dan masih menutup mata.


Sesampai nya di rumah sakit, Latif segera menggendong Aldo ke ruang IGD, dan Aldo segera ditangani dokter. Latif menunggu di luar mendampingi Melati yang dimintai keterangan tentang adiknya.


Setelah selesai, Melati dan Latif menunggu luar ruang penanganan Aldo.


"Aldo... Ya Allah dek..." kata Melati dengan terus menangis.


"Kamu yang tenang, Aldo gapapaa, dia cuma panas aja." kata Latif mencoba menenangkan Melati dengan merangkul tubuh Melati, agar Melati bersandar di pundaknya.


"Tapi mas, kalo Aldo kenapa-napa gimana?" tanya Melati panik, karena memang Melati mengalami kejadian seperti ini baru sekali ini. Dia tidak tau, bagaimana dia harus bertindak ketika anak kecil sakit demam tinggi seperti ini.


"Kapan Aldo mulai panas Mel?" tanya Latif.


"Melati ga tau mas, tadi pas bangunin dia untuk sekolah, Aldo udah panas banget." kata Melati masih dengan derai tangisnya.


"Hmm... ya udah, kamu tenang, istighfar." kata Latif.


Tak lama kemudian dokter yang menangani Aldo keluar ruangan.


"Bagaimana keadaan adil saya dok?" tanya Melati was was.


"Alhamdulillah, InshaaAllah tidak apa-apa. Ini tadi sudah kami suntikkan obat penurun panas. Penyebab panas nya, itu karena ada bagian tulang nya yang cidera. Bagian kakinya keseleo, sepertinya dia abis jatuh, tetapi tidak segera ditangani." kata dokter.


"Alhamdulillah." jawab Melati lega sambil mengusap mukanya dengan kedua telapak tangannya. Latif tersenyum bahagia mendengar jawaban dokter.


"Apa boleh kami masuk dok?" tanya Latif.


"Silakan." jawab dokter.

__ADS_1


Melati dan Latif segera masuk dan menjenguk Aldo.


__ADS_2