
Kedekatan Melati dengan Latif semakin panas kabarnya. Warga kampung, mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua, semuanya sedang sibuk membicarakan mereka. Melati yang sering berboncengan dengan Latif, mereka yang tampak sangat dekat saat mengajar TPQ, di kegiatan-kegiatan kampung. mereka juga selalu bersama. Tak jarang beberapa pemuda dan adik-adik TPQ yang mendapati Latif menatap Melati tanpa berkedip. Hingga pada suatu hari, ada yang mendapat informasi bahwa Latif memang menyukai Melati Dan kabar itu, beredar sangat cepat. dan masuk juga ke telinga nenek Melati.
Setelah mendapat omelan dari neneknya, Melati menurut saja dengan kata neneknya, yaitu untuk tidak terlalu dekat dengan Latif. Begitupun dengan Latif yang mendengar amarah nenek Melati, juga berusaha untuk menjaga jarak dengan Melati, agar neneknya tidak marah kepada Melati.
Pagi itu, Setelah mengurus urusan rumah dan mengurus kedua adiknya hingga berangkat sekolah, Melati bersiap juga untuk berangkat kursus. Melati menoleh ke arah Latif yang sudah siap juga dengan motor gedenya, begitupun dengan Latif yang melihat ke arahnya. Melati tak ingin berlama-lama hingga menimbulkan fitnah lagi, Melati segera masuk rumah lagi untuk mengambil sepedanya, hingga Latif lewat rumahnya untuk berangkat kerja.
"Maafin Melati mas." batin Melati di balik jendela, saat melihat Latif melintasi rumahnya.
Melatipun mengayuh sepeda mini nya menuju tempat kursus, karena dia belum berani mengendarai motornya.
"Assalamualaikum Melati." sapa Tsania saat jam istirahat.
"Wa'alaikumsalam. Eh mbak Tsania." Melati menjawab salam tentornya.
"Ehm, Mel. Aku ada sesuatu nih buat kamu." kata Tsania.
"Apa mbak?"
"Ini." kata Tsania sambil memberikan selembar kertas bertuliskan formulir pendaftaran peserta didik baru di Sanggar Kegiatan Belajar.
"Ini...?" Melati masih belum paham dengan maksud Tsania.
"Ini formulir pendaftaran peserta didik baru di Sanggar Kegiatan Belajar, Mel. Kebetulan, mbak Tsania kan ngajar di sana kalau siang. Makannya, kalau siang kita kan tukar sift di sini." kata Tsania.
"Ehm, tapi... maksudnya ini apa ya mbak?" tanya Melati ragu.
"Jadi, kemarin-kemarin itu, mas Dewa cerita, kalau kamu itu dulu pernah berhenti sekolah karena sakit, dan hingga kini, kamu belum jadi untuk mewujudkan mimpimu itu untuk bersekolah. Benarkah?" tanya Tsania dan dianggukkan oleh Melati.
"Jadi, mulai bulan depan, kamu akan lanjut sekolah di SKB Mel." kata Tsania dengan berbinar.
"Sekolah?" Melati masih ragu.
"Iya." jawab Tsania mantab.
"Nanti pulang kursus, mbak ada jadwal mengajar, nanti kamu ikut ya ke SKB." kata Tsania lagi.
"Alhamdulillah. Iya mbak."
Siangnya setelah kursus, Melati dibonceng Tsania menuju ke SKB untuk mendaftar akan Melati di sana.
"Mas, hari ini aku mau ajak Melati liat-liat SKB dulu mas, buar Melati ada gambaran besok untuk lanjutin paket B nya." kata Tsania kepada Dewa yang kebetulan juga sudah datang di ruang kursus.
"Alhamdulillah, iya dek, kamu antar dia ya. Semoga Melati cocok. Biar nanti Melati mas Jemput aja, kalau kamu masih harus mengajar." kata Dewa.
"Iya mas."
💞💞💞
Setelah pulang dari SKB, Melati segera pulang, dia sangat bahagia hari ini, karena mulai bulan depan, dia akan mulai bisa sekolah, seperti keinginannya dahulu.
"Bapak... Melati akan sekolah. Semoga Melati bisa wujudkan impian Melati ya pak." kata Melati dengan menatap foto bapaknya. Tak terasa air mata di pelupuk matanya berhasil lolos dari matanya
__ADS_1
Suara telpon berdering dari ponselnya.
📞*Ibu
"Halo, assalamualaikum bu."
'Wa'alaikumsalam nduk. Gimana kabarmu? Adek adekmu, dan nenek?'
"Alhamdulillah, semua baik dan sehat bu."
'Alhamdulillah.'
"Ibu kapan pulang?"
'InshaaAllah lebara nanti, ibu diijinkan pulang sebentar nduk, setelah itu, ibu masih harus kembali lagi ke sini. '
"Alhamdulillah."
'Mel, kamu sudah bisa naik motor kan?'
"Alhamdulillah sudah bu, tapi kalau jauh-jauh, Melati belum berani bu "
'Gapapa, Bertahap nduk.'
"Iya bu."
"Oya bu, Melati mau kasih kabar ibu, Alhamdulillah mulai bulan depan, Melati akan mulai sekolah lagi bu, karena ini kursusnya Melati juga sudah mau selesai. Kebetulan, tentornya Melati, dia juga guru di SKB, jadi Melati diharapkan bisa ikut belajar di sana."
"Aamiin bu."
Setelah bertelfonan dengan sang ibu, Melati bersiap untuk mengajar TPQ. Rasanya canggung, setelah kejadian kemarin. Melati merasa ada sesuatu rasa yang aneh dalam dirinya, namun Melati berusaha menepis rasa itu seperti yang dikatakan neneknya, dia harus tau diri, siapa dia dan siapa Latif.
Setelah mengajar TPQ, anak-anak TPQ sudah pada pulang, Melati membereskan buku di etalase masjid.
"Mel." panggil Latif.
"Ehm...Ya mas?" jawab Melati ragu.
"Ehm, boleh kita bicara sebentar?" tanya Latif.
Melati mengangguk tanpa melihat wajah Latif. Merekapun duduk di teras masjid sambil menunggu waktu adzan maghrib.
"Mel."
"Maafin mas Latif ya." kata Latif.
"Kenapa?" tanya Melati dengan tanpa menatap wajah Latif.
"Karena..."
"Justru Melati yang harusnya minta maaf mas, selama ini Melati ngerepotin mas Latif terus." kata Melati.
__ADS_1
"Ehm, kamu ga ngerepotin Mel, aku udah pernah bilang kan, kamu sama sekali ga ngerepotin mas." kata Latif.
Melati menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan.
"Maafin Melati mas. Melati harus...."
"Mas tau."
Melati menoleh ke arah Latif, dan ternyata Latif juga sedang menatapnya, manik mereka bertemu, Melati segera menundukkan kepalanya.
"Darimana mas Latif tau?"
"Kemarin, setelah kita belajar motor, mas mendengar nenekmu marah-marah padamu. Makannya, mas mau minta maaf sama kamu." kata Latif.
"Tapi itu kabar yang didengar nenek kan ga bener mas." kata Melati.
"Kita ga ada hubungan apa-apa kan? Selama ini Melati dan Mas Latif bersama karena kita kakak adik kan?" tanya Melati sambil menoleh ke arah Latif. Namun, diluar dugaannya, Latif bukan mengangguk, tetapi menggeleng.
"Maksud mas?" tanya Melati heran.
"Dugaan mereka benar. Maaf. Aku ga bisa menutupi perasaanku Mel, hingga terbaca oleh mereka." kata Latif menunduk.
Melati mengernyit, dia masih tak mengerti
"Tuduhan mereka memang tidak benar, kalau kita pacaran, tetapi, tebakan mereka bahwa mas Suka sama Melati, itu benar." kata Latif lagi.
Seketika Melati terperanjat kaget dengan penyataan Latif. Melatipun menggeleng.
"Ga mungkin mas." kata Melati.
Latif menoleh ke arah Melati,
"Kenapa?"
"Maaf mas, Mulai sekarang Melati mohon ijin untuk tidak mengajar TPQ lagi. Maaf, Melati ga bisa bantu mas Latif lagi, assalamualaikum." kata Melati sambil pergi.
"Tapi Mel...Wa'alaikumsalam warohmatullah." kata Latif terputus, sosok Melati sudah pergi.
Setelah sholat maghrib, Melati segera pulang. Dan ternyata Latif mengikutinya di belakang.
"Mel..."
Bukannya berhenti, Melati justru mempercepat jalannya.
"Mel, tolong jelaskan ke mas, kenapa kamu harus berhenti mengajar TPQ kalau hanya karena masalah ini?" tanya Latif. Seketika Melati berhenti.
"Maaf mas, Mulai besok, Melati sudah mulai ada kesibukan. Melati akan lanjut sekolah kejar paket B, sehingga ga bisa ngajar TPQ dulu. Maaf, Melati buru-buru, assalamualaikum." kata Melati sambil melanjutkan langkahnya.
"Wa'alaikumsalam." jawab Latif dengan sedih.
Sepanjang Malam, Melati tak bisa tidur, dia tidak menyangka, bahwa ucapan neneknya itu ada benarnya. Dia benar-benar tidak percaya, kalau Latif juga menyukainya. Usia mereka terpaut jauh, pendidikan mereka juga jauh, terkait harta dan latar belakang keluarga nya juga jauh berbeda. Dan itu tidak mungkin bagi Melati. Rasanya mimpi, ada seorang laki-laki yang menyukainya. Kemudian, Melati teringat oleh kata-kata Tsania, teman sekolah Latif dahulu yang juga menceritakan tentang gadis yang dicintai Latif kala itu.
__ADS_1