
Setelah berbincang dengan Guntur, menanyakan keadaan Dewa, dan menjenguk Dewa sebentar, tengah malam Ugi pun pulang ke rumahnya, tanpa memboncengkan Melati, karena Melati bermalam di rumah Guntur, karena harus menemani Dirga dan Tsabita. Sedangkan Nisa, tentunya menemani tidur anak-anaknya sendiri.
Sesampainya di rumah, Ugi segera menghubungi Melati, ini adalah kali pertama mereka LDR, sejak setelah menikah.
📨Istriku Sayang
Assalamualaikum sayangkuh😘. Udah bobok belum nih? Mas ini pulang dulu, mas sengaja ga jemput sayangku, karena sayangku harus jagain Tsabita dan Dirga.
Tak ada balasan, Ugi menduga bahwa istrinya sudah tidur. Hal yang wajar memang, karena seharian dia berkegiatan di Jogja. Dan, ini juga sudah jam satu dini hari.
Ugipun berbaring di kasur seorang diri tanpa istrinya. Berasa ada yang kurang memang, membuat Ugi sulit untuk tidur. Namun Ugi terus berusaha untuk bisa tidur, hingga akhirnya dia tertidur jam dua dinihari.
Keesokan harinya, Melati menjawab pesan Ugi, Melati memintanya untuk menjemput Melati bersama kedua anak Dewa. Setelah Melati menghubungi Dewa, bertanya kepada Dewa, meminta persetujuan Dewa agar kedua anaknya dibawa Melati ke rumahnya.
Selama di rumah Melati, Dirga dan Tsabita di asuh dan dirawat Melati dan Ugi dengan telaten. Selain Melati dan Ugi, Si kembar Aldo dan Aldi juga semangat menemani kedua anak balita itu bermain bersama. Tsabita juga mulai aktif belajar jalan dan tampak bahagia bersama si kembar. Begitupun dengan Dirga yang juga sangat bahagia bermain bersama Ugi yang terkadang suka melucu dan siap menjadi media bermainnya.
Hingga tak terasa sudah tiga hari Dewa dirawat di rumah sakit. Hari ini Dewa sudah diijinkan pulang, setelah dilakukan beberapa pemeriksaan dan mengurus beberapa administrasi rumah sakit, Dewapun pulang dengan diantar Guntur.
Setelah istirahat sejenak di rumah, dengan Guntur membantu Dewa membereskan rumahnya yang sudah beberapa hari tak terjamah, Gunturpun pamit berangkat ke kantor PMI dahulu, karena dia bertugas. Karena masih lemah, Dewa meminta Melati untuk menjemput Dirga dan Tsabita di sekolahan dulu setelah dari SKB. Rencananya, sorenya Dewa baru akan menjemput kedua anaknya.
Sore itu, Dirga dan Tsabita sudah wangi karena sudah dimandikan bu Hayati di sekolahan. Melati yang memang belum mendapat kabar kepulangan Dewa, melakukan rutinitas nya seperti tiga hari yang lalu, yaitu menjemput kedua anak Dewa, dan diajaknya pulang. Sesampainya di rumah, Dirga dan Tsabita di suapi Melati di depan rumah, dan tak disangkanya, sebuah mobil berwarna putih yang tak asing baginya, berhenti di depan rumahnya.
"Pak Dewa?" gumam Melati.
Dan tak berapa lama kemudian, tampak sosok Dewa keluar dari mobilnya dengan keadaan sehat dan senyum yang mengembang.
"Assalamualaikum." salam Dewa.
"Wa'alaikumsalam." jawab Melati dan diikuti oleh kedua anak balita yang sedang dia suapi.
"Ayah...." pekik Tsabita sambil berjalan sempoyongan, karena Tsabita baru belajar berjalan sendiri tanpa dipegangi. Anak bayi itu langsung masuk kedalam pelukan ayahnya. Begitupun dengan Dirga yang yang juga berlari ke arah ayahnya,
"Ayah...." panggil Dirga.
Dirga dan Tsabita menarik tangan ayahnya untuk duduk di ruang ramu.
"Mari, silakan duduk pak Dewa." kata Melati ramah.
"Terimakasih bunda Melati." kata Dewa.
"Ayah, Kakak Diga seneng banget loh di sini." kata Dirga mulai bercerita.
"Oya? Memang disini ada apa, kok seneng banget?" tanya Dewa penasaran.
"Disini temennya banyak. Ada om kembal, ada om Ugi yang lucu, dan bunda Melati juga baik." kata Dirga dengan logat cedalnya.
"Ayah...ayah..." panggil Tsabita sambil jalan ke sana kemari sambil membawa bola yang menyala.
"Yaa Allah, adek juga sudah bisa jalan ya? Udah lancar sekali jalannya? Adek bawa apa itu?" tanya Dewa.
__ADS_1
"La...la..." jawab Tsabita sambil menunjukkan bola.
"Oh, bola? Ayah boleh pinjam?" tanya Dewa.
"Leh..."jawab Tsabita sambil berjalan ke ayahnya dan memberikan bola itu ke ayahnya.
"Ayah udah cembuh?" tanya Dirga.
"Alhamdulillah sayang, ayah sudah sembuh. Kakak sama adik di sini nakal engga?" tanya Dewa.
"Engga ayah, Kakak pintel. Adek juga engga lewel. Kata bunda, ayah lagi cakit, jadi Kakak sama adek halus do'ain ayah." kata Dirga.
"Oh, iya. makannya sekarang ayah sudah sembuh." jawab Dewa.
Selama percakapan ayah dan anak itu, Melati dan Dewa yang baru saja selesai mandi, hanya berdiri melihat polah lucu dua anak itu. Melati menyuguhkan minuman dan camilan di meja untuk Dewa.
"Pak Dewa, silakan di minum dulu tehnya." kata Melati.
"Oh. iya. Terimakasih. Malah jadi ngerepotin." kata Dewa sungkan.
"Tidak kok pak."
Setelah berbasa basi dan mengobrol dengan anak-anaknya, Dewapun pamit.
"Tapi yah...Kakak Diga masih mau disini. Disini seru. Banyak temennya." kata Dirga dengan mode cemberut.
"Ya udah, ayo pulang." kata Dirga.
"Bilang terimakasih dulu sama bunda Melati dan om Ugi." kata Dewa.
"Makacih bunda Melati, Makacih om Ugi." kata Dirga.
"Sama-sama sayang." jawab Melati dan Ugi.
"Lain waktu, kakak boleh kok main lagi ke sini, sama om kembar." kata Aldo bersama Aldi dari dalam.
"Om Kembal...." Dirga memeluk Aldo.
"Dirga ga boleh nakal ya di rumah. Kalo kangen om kembar main aka ke sini." kata Aldo.
"Iya om."
"Jagain Adik ya, jagain ayah juga, biar ayah engga sakit lagi." kata Aldi.
"Iya om." jawab Dirga.
Dewapun mengajak Dirga masuk ke dalam mobilnya, sebelum memasukkan tas berisi pakaian kedua anaknya itu ke dalam mobil. Dirga dan Tsabita melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.
"Dada...dada..." kata Tsabita dengan imutnya di balik kaca jendela.
__ADS_1
Sepeninggal Tsabita dan Dirga, Melati terus memandang mobil itu dengan mata berkaca-kaca.
"Sedih ya?" tanya Ugi.
Melati hanya tersenyum.
"Semoga, di dalam perutmu ini segera hadir buah hati kita, yang bisa menjadi pelipur lara kita juga. Seperti anak-anaknya mas Dewa." kata Ugi mengelus perut datar Melati dari belakang Melati. Dengan kepala Ugi bermain di leher Melati.
"aamiin." jawab Melati.
"Mbak Ibu telpon." kata Aldo melihat di kasur ponsel mbakny ayang berdering.
"Oh, ya Dek." jawab Melati.
"Halo, Assalamualaikum ibu?"
" Halo, Wa'alaikumsalam Mbak. Mbak Melati sehat?" tanya bu Fatma di seberang.
"Alhamdulillah sehat bu."
"Suami dan adik -adik juga sehat?"
"Alhamdulillah sehat semua bu."
"Alhamdulillah kalo gitu. ini ibu cuma ngasih kabar aja mbak. Opa Sarah baru saja meninggal. Mohon tambah do'anya untuk beliau. InshaaAllah Malam ini juga dikebumikan."
"Innalillahi Wainnailaihi Raji'un. Baru aja bu? Sakit atau gimana bu?" tanya Melati.
"Iya, tadi pagi drop, terus sorenya meninggal." kata bu Fatma.
"Sabar ya bu."
"Dalam waktu dekat, InshaaAllah ibu akan pulang nak. Dan tak akan kembali ke sini lagi." kata Bu Fatma.
"Ibu serius?" tanya aldo tidak sabar.
"Iya nak."
"Yes. Aldo kangen banget sama ibu." kata Aldo .
"Aldi juga."
"InshaaAllah kita akan mulai bersama lagi ya nak." kata Bu Fatma.
"Ya sudah, ibu cuma mengabarkan itu. Ibu lanjut mengurus rumah dulu, karena banyak yang takziyah."
"Ya bu."
Telepon pun ditutup, Aldo dan Aldi berpamitan ke masjid bersama Ugi. Melati sholat maghrib di rumah lalu dilanjut mengaji.
__ADS_1