
Sudah satu pekan Melati mengambil cuti dari tempat mengajarnya, karena Melati harus bedrest. Hingga di pekan kedua setelah Melati dinyatakan hamil, Melati masih belum bisa mengajar, karena kebetulan hari itu adalah hari dimana Melati harus mengikuti Ujian Nasional di SKB.
Selama satu bulan Melati fokus dengan Ujian nasional hingga dilanjut dengan Ujian Sekolah dan Ujian praktik, tak terasa kandungan Melati sudah memasuki usia dua bulan. Melati melalui semua kegiatannya semampunya, dengan pengawasan ibunya.
Suatu malam, Melati masih berkutat dengan laptopnya, hingga pukul sebelas malam. Bu Fatma yang melihat Melati sedari tadi fokus dengan laptopnya, masuk kamar dan berusaha untuk mengingatkannya.
"Mbak... sudah malam. Istirahat dulu ya, kasian dedek bayi di perut." bujuk Bu Fatma.
"Bentar lagi ya bu, nanggung. Ini rencananya malam ini juga, artikel ini mau Melati kirim." kata Melati.
"Tapi ini sudah malam nak, nanti kamu kecapekan."
"Gapapa bu. Melati baik-baik aja kok. Ibu istirahat aja ya, bentar lagi Melati juga udah selesai kok." kata Melati yang sebenarnya merasakan punggungnya terasa pegal, dan perutnya terasa sedikit mules.
"Baiklah. Itu susunya diminum, jangan dianggurin." kata bu Fatma menunjuk segelas susu coklat ibu hamil yang sengaja dibuatkna bu Fatma untuk Melati, tampak masih tigaperempat gelas.
"Oh, iya bu. Nanti Melati minum." jawab Melati sambil tersenyum.
Bu Fatmapun kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Setelah urusannya selesai, Melati menutup laptopnya, lalu merasakan kepalanya terasa pusing, tetapi dia merasa perutnya rada mules, sehingga Melati pergi ke toilet dahulu. Sesampainya di toilet, Melati berjongkok di WC, karena dia merasa akan BAB. Namun, saat dibuka, ternyata ada flek darah. Lalu karena tidak kuat menahan rasa sakit di perutnya, Melati terpaksa mengejan karena merasa ingin BAB dahulu.
Setelah mengejan cukup kuat, ternyata yang keluar adalah gumpalan darah. Melati terkejut dan gemetaran melihat apa yang ada dihadapannya. Melatipun memegang gumpalan darah itu, dan menangis.
"Astaghfirullahal'adzim...apalagi ini yaa Allah." tangis Melati.
Perlahan-lahan, Melati meletakkan gumpalan darah itu, yang sudah diduga Melati bahwa itu bukan darah biasa. Melatipun membersihkan **** ************* perlahan-lahan, lalu membersihkan toilet dan membawa segumpal darah dengan di lambari handuk kecil yang ada di toilet, lalu keluar dari toilet dengan linangan air mata.
"Ibu..." panggil Melati dengan gemetaran.
"Bu..." Melati masih memanggil ibunya, kini dengan suara cukup keras.
Bu Fatma keluar dari kamarnya saat mendengar panggilan Melati.
"Ya Mbak, ada apa?" tanya bu Fatma sambil membuka hendel pintu, karena bu Fatma mendengar suara Melati seperti suara menangis. Bu Fatma sangat khawatir dengan keadaan putrinya, dan sesampainya di luar, bu Fatma benar-benar terkejut saat Melihat Melati Berderai air mata sambil tangannya memegang Segumpal darah yang di lambari dengan kain handuk.
"Apa yang terjadi mbak?" tanya Bu Fatma sambil memegang pundak Melati.
"Bu...Aku...Aku gagal..." kata Melati dengan tangisan nya. Melatipun sudah tak mampu menyangga tubuhnya, sehingga dia terduduk lemah di lantai sambil tetap memegang segumpal darah itu.
"Innalillahi wainnalilaihi roji'un, Ya Allah nak..." bu Fatma tak mampu berkomentar, bu Fatma langsung memeluk tubuh Melati.
__ADS_1
"Kita ke bidan sekarang ya nak. Ibu antar kamu ke bidan sekarang juga." kata Bu Fatma.
Melati menurut. Segumpal darah di tangan Melati di ambil oleh bu Fatma dan diletakkan disebuah wadah lalu dibawa serta ke bidan untuk di perlihatkan pada bidan. Lalu Bu Fatma membawa Melati ke bidan terdekat dengan mengendarai motor.
Sesampainya dirumah bersalin, Melati segera di tangani oleh bidan, dengan didampingi bu Fatma.
"Ini bu Melati mengalami keguguran ya bu, tadi janinnya sudah keluar ya?" tanya bu bidan Tina tetangga Melati.
"Sudah bu." jawab Melati.
"Maaf, saya bersihkan dulu ya bu, agar tidak ada kotoran yang tertinggal di rahim ibu." kata bidan Tina.
Melai hanya mengangguk.
Bidan Tina dengan dibantu seorang perawat, menangani Melati dengan cekatan, dengan sesekali bertanya tentang kejadian sebelum dan saat kejadian keluarnya gumpalan darah itu. Hingga sekitar satu jam sudah berlalu, Melati ditangani, akhirnya Melati bisa beristirahat.
"Bu Melati istirahat di sini dulu saja ya. Kondisi ibu masih lemah, ini ibu kami infus dulu ya." kata bidan Tina.
"Ya bu." jawab bu Fatma.
"Nanti kalau ada keluhan apa-apa, jangan sungkan panggil kami ya bu." kata bu bidan Tina.
"Baik bu, terimakasih banyak."
Bu Bidan Tina dan perawatnyapun ijin untuk keluar ruangan. Sepeninggal kedua tim medis itu, Melati dipeluk oleh bu Fatma dengan penuh kasih sayang dan kehangatan.
"Yang sabar ya nak..." kata bu Fatma sambil menangis.
"Apa salahku bu? Kenapa Allah mengujiku seperti ini? Aku capek bu, aku capek hiks hiks hiks." kata Melati sambil menangis lemah.
"Kamu ga salah sayangku, ibu yakin kamu adalah wanita pilihan Allah. Kamu wanita kuat nak, Allah ga akan menguji hambanya melebihi kemampuannya." kata bu Fatma mencoba untuk memotivasi.
"Hiks Hiks, tapi Melati capek bu...huhuhu." Melati menyandarkan kepalanya di dada bu Fatma.
"Akan ada pelangi setelah hujan nak, yakinlah itu. Kamu gadis kuat. kamu anak ibu yang kuat, kamu pasti bisa jalani semua ini dengan kuat nak. Ibu yakin." kata bu Fatma sambil mengusap lengan Melati.
"Aku ga becus jadi ibu...aku ga bisa jagain bayiku bu...huhuhu."
"Engga nak, engga. Ini semua udah takdir. Kamu yang sabar ya." kata Bu Fatma.
__ADS_1
"Harusnya aku mendengarkan kata ibu untuk istirahat. Aku ga mengindahkan kata-kata ibu. Aku jahat bu, aku egois. Aku cuma mentingin karier ku, sampe aku lupa hak anakku." kata Melati terus merutuki dirinya sendiri.
Bu Fatma menggeleng, Udah, sekarang kamu istirahat ya nak. Kamu harus tidur, agar keadaanmu segera pulih." kata bu Fatma sambil mengelus kepala Melati lembut.
Perlahan-lahan, akhirnya Melati tertidur juga, karena hari sudah semakin larut, begitupun dengan bu Fatma yang juga ketiduran sambil duduk di kursi.
Keesokan harinya, Bu Fatma terjaga, sedangkan Melati masih terlelap. Bu Fatmapun mengabari si kembar bahwa Melati di bidan karena semalam mengalami keguguran, sehingga si kembar harus menyiapkan segala persiapan sekolahnya sendiri.
💞💞💞
Sedangkan di rumah Dewa, Pagi itu Tsabita dan Dirga sangat rewel, Dirga bersikeras minta diantar ke rumah Melati, karena dia merasa kangen dengan Melati. Sehingga mau tidak mau, Dewapun mengantarkan kedua anaknya ke rumah Melati, sebelum. Dewa berangkat kerja.
Sesampainya di rumah Melati, Dewa hanya mendapati kedua adik Melati yang sudah siap berangkat sekolah.
"Lho, kok sepi om? Bunda Melati sama nenek kemana?" tanya Dewa.
Aldo dan Aldi tampak saling berpandangan.
"Mbak Melati sama ibu di bidan pak. Dari tadi malem. Kata ibu, Mbak Melati tadi malem keguguran pak." jawab Aldo.
"A-Apa? Keguguran? Terus, sekarang mereka di bidan mana?" tanya Dewa cemas.
"Di rumah bersalin deket sini pak. Namanya Bidan Tina." kata Aldo.
"Baik. makasih ya om." kata Dewa.
"Bunda Melati mana yah?" tanya Dirga bingung.
"Bunda Melati lagi sakit, kita jenguk bunda Melati dulu ya sayang." kata Dewa.
"Ya ayah." jawab Dirga polos.
Dewapun melajukan mobilnya menuju rumah bersalin yang tak jauh dari rumah Melati. Sampai di sana, Dewa melihat motor Melati terparkir di sana, lalu Dewa membawa kedua anaknya menuju rumah bersalin itu, dan disambut hangat oleh para perawat, saat Dewa menanyakan kamar rawat Melati.
"Assalamualaikum." salam Dewa sambil Mengetuk pintu.
"Wa'alaikumsalam." jawab bu Fatma sambil membukakan pintu kamar. Bu Fatma sangat terkejut dengan siapa yang datang. Mau tak mau, Bu Fatma mempersilakan Dewa masuk, dan kedua anaknya, karena keduanya langsung menghambur kedalam pelukan Melati yang masih terbaring lemah di atas ranjang.
"Bagaimana keadaanmu sekarang bunda?" tanya Dewa menatap Melati iba.
__ADS_1
"Alhamdulillah, sudah lebih baik pak." jawab Melati berusaaha tetap tenang.
Bu Fatmapun menceritakan kejadian sebelum dan saat kejadiannya kepada Dewa, sedangkan Melati fokus melayani ocehan kedua malaikat kecilnya yang belum mengerti apa-apa tentang masalah yang dihadapi Melati.