
"Wa, lo tu kenapa sih kok bisa begini? Gue kan udah bilang. Mending elo segera nikah aja, biar ada yang ngurusin elo sama anak-anak elo. Kaya gini kan jadinya?" omel Guntur setelah Dewa sadar dari pingsannya.
Dewa hanya diam menerima cecaran masalah pernikahan dari sahabatnya.
"Lo yakin, masih mau menunggu sampe Seribu hari kepergian Tsania? Baru elo nikah? Elo ga kasian sama Tsabita? Dia masih bayi bro Kalo elo nikahnya masih nanti nunggu seribu hari kepergian Tsania, keburu gede tu baby elo." kata Guntur lagi.
"Sebenernya... gue udah sempet meluruhkan prinsip gue untuk menunggu sampe seribu hari kepergian Tsania bro, tapi...ga jadi." kata Dewa.
"Kenapa?" tanya Dewa penasaran.
"Susah nyari orang yang pas jadi pengganti Tsania." kata Dewa.
"Lah, bukannya elo udah pedekate sama temen seprofesi elo itu, siapa namanya itu? Yang kata elo umurnya udah mateng banget, ehm kalo gue bilang sih, bahasa kasarnya 'prawan tua', siapa?" tanya Guntur sambil mengingat-ingat.
"Bu Nuri?" tanya Dewa.
"Ah yam Nah, itu aja. Umur segitu pasti udah mateng dong ya, bisalah mengurus anak-anak elo." kata Guntur.
"Dia tipe wanita karier bro. Sedari remaja dia aktivis di beberapa organisasi, dan dia juga selalu mengedepankan urusan pekerjaannya. Beberapa waktu lalu gue udah coba mempertemukan Bu Nuri sama anak-anak. Tapi, respon bu Nuri datar, engga friendly gitu sama anak-anak. Garing." kata Dewa.
"Kalo respon anak-anak sih?" tanya Guntur.
"Ya sama. Anak-anak juga dingin sama dia. Malahan, si adek rewel, nangis terus pas digendong sama dia." kata Dewa.
"Belum kenal kali." Guntur memberi praduga.
"Iya kali." jawab Dewa datar.
"Trus, elo ga ada pandangan lain gitu?" tanya Guntur.
__ADS_1
Dewa menggeleng.
"Jangan bilang, kalo sebenernya elo lagi nunggu jandanya seseorang." tebak Guntur, membuat Dewa terperangah. Dugaan Guntur memang benar adanya. Selama ini Dewa selalu memikirkan Melati. Dia menahan rasa cemburu dan ingin marah, tetapi dia tak kuasa melupkannya. Hingga dia tumbang hari ini, karena demam dan tekanan darahnya tinggi.
Dewa terdiam, tidak menyanggah perkataan Guntur, membuat Guntur tersadar, bahwa dugaannya kemungkinan besar adalah benar.
"Wa...jadi bener dugaan gue? Elo suka sama Melati? Elo mengharapkan jandanya Melati?" tanya Guntur.
Dewa masih diam tak bergeming. Guntur memalingkan wajahnya.
"Gila lo Wa. Elo ga beda jauh brati sama suami Melati." kata Guntur sambil berkacak pinggang.
"Ya... mau gimana lagi? Cuma dia satu-satunya wanita yang bisa meluluhkan hati kedua anak gue." kata Dewa.
"Tapi... kenapa elo harus bersikap sama kaya Ugi? Mengharapkan jandanya istri orang." tanya Guntur heran sambil mengacak rambutnya.
"Ya...gue juga ga tau. Anak-anak gue milih dia." kata Dewa.
Dewa hanya diam. Guntur sudah paham dengan sikap sahabatnya satu itu, kalau diam, berarti memang iya. Kalau tidak, dia akan menyanggah dengan berbagai alasan.
"Sejak kapan elo suka sama Melati?" tanya Guntur.
"Sejak pertama kali gue ketemu dia. Waktu dia masih SMP, dan gue masih WB di sekolahan dia, sebagai guru TIKnya." jawab Desa datar.
"What? Sejak Melati masih SMP?" tanya Guntur terkejut.
"Yah... sejak saat itu, gue udah bersimpati sama dia, gue care sama dia. Tapi, gue tepis rasa itu, karena dia murid gue. Usia kita terpaut sangat jauh. Dan dia juga ga ada feel sama gue, ga ada respon positif darinya. So, ya setelah dia putus sekolah, gue cuma berkabar aja tanpa saling bertemu. Sampai akhirnya, gue ketemu sama Tsania, dan hati gue berlabuh pada gadis yang telah menjadi ibu dari anak-anak gue." kata Dewa mengenang masa lalunya.
"Jadi? Sebelum elo ketemu Tsania, elo udah naksir sama Melati duluan?" tanya Guntur.
__ADS_1
"Iya." jawab Dewa datar.
Guntur benar-benar ga habis pikir dengan sahabatnya. Ternyata, selama ini apa yang dia fikirkan tentang Dewa salah besar. Guntur mengira bahwa Tsania adalah cinta pertamanya.
"Sampe saat gue akan menikah sama Tsania, justru Tuhan kembali mempertemukan gue sama Melati lagi, dan justru Melati sangat akrab sama Tsania. Bahkan Tsania menganggap Melati sebagai adiknya sendiri, dan begitupun denganku, yang juga menganggap Melati sebagai adikku sendiri dengan mengesampingkan perasaan yang dulu pernah hadir di hati." kata Dewa.
"Melati bukan tipe cewek baper, dia sangat cuek pada cowok. Apalagi perasaan cowok, dia sangat cuek, ga mau tau. Dia tipe cewek dengan banyak impian. Dia hanya fokus pada satu orang yang dicintainya, berusaha membahagiakan orang yang dicintainya, dengan mengesampingkan perasaannya sendiri. So, gue yakin, Ugi adalah pria pertama yang dicintai Melati, dan dia adalah orang yang sangat beruntung." kata Dewa.
"Terus, kenapa dulu elo harus tinggal di Jakarta, kalo akhirnya elo pilih balik lagi tinggal disini.?" tanya Guntur.
"Gue memutuskan tinggal di Jakarta lagi, bersama Tsania untuk beberapa waktu, hingga akhirnya gue dapet panggilan tugas PNS di kota ini, selain itu, ibu mertua gue jatuh, yang membuat Tsania merawat ibunya dikala dia hamil Tsabita. Dan akhirnya,gue balik lagi ke kota ini, sampai sekarang. Dan betapa terkejutnya gue, saat gue tau, Baby Tsabita akan diasuh seorang bunda PAUD yang masih baru, tetapi bu kepala yakin, bahwa dia sabar mengurus Tsabita, sehingga gue percayakan sama pihak sekolahan. Dan ternyata, pengasuh Tsabita adalah Melati. Dan mulai saat itu, gue kembali merasakan hal yang sama, saat kami pertama kali bertemu dulu." kata Dewa.
"Ehm, gitu ya? Tapi, elo ga nyuruh gue untuk ngebantu elo dapetin Melati kan? Secara, suami Melati itu, udah gue anggep adek gue sendiri lho." kata Guntur.
"Tenang aja kali, gue ga sekejam itu kok. Lagipula gue udah berada di zona nyaman, hidup betiga bersama kedua anak gue. Itu udah lebih dari cukup." kata Dewa.
💞💞💞
Sesampainya di rumah sakit, Ugi segera menuju resepsionis menanyakan keberadaan pasien bernama Dewa dengan tanpa menelpon Guntur terlebih dahulu. Setelah mengetahui informasinya, Ugi segera menuju ruangan yang dimaksud. Namun, langkahnya terhenti di depan pintu, dia tak jadi memutar handel pintu dan dia mengurungkan bibirnya untuk mengucap salam, saat dia mendengar obrolan Dewa dan Guntur tentang Melati.
"Sejak kapan elo suka sama Melati?" tanya Guntur.
"Sejak pertama kali gue ketemu dia. Waktu dia masih SMP, dan gue masih WB di sekolahan dia, sebagai guru TIKnya." jawab Desa datar.
Kata-kata Guntur dan Dewa berhasil mengusik hatinya yang sedang tidak baik-baik saja. Ugi terus memfokuskan kata-kata Guntur. Dan Ugi kembali terkejut dengan pernyataan Dewa yang akhirnya membuat hatinya bergemuruh hebat.
"Maaf pak, mau masuk apa keluar ya? Kami permisi mau memeriksa keadaan." tanya seorang perawat membuyarkan lamunannya.
"Eh. ya sus." kata Ugi kaget lalu menggeser tubuhnya, lalu Ugi perlahan menjauh dari ruangan itu.
__ADS_1
Perawat itupun masuk, dan mengecek keadaan Dewa dengan seksama.