
Sesampainya di rumah, Melati langsung membersihkan dirinya yang basah karena kehujanan tadi. Lalu, berlanjut sholat maghrib dan mengaji.
"Mel, ini motor siapa?" tanya nenek saat melihat sebuah motor legendwarna hijau terparkir di teras rumahnya.
"Motor temen nek." jawab Melati sambil melepas mukenanya, setelah menyelesaikan lima rukun dalam al-Qur'an.
"Lha motormu mana?" tanya nenek lagi.
"Mogok nek. Ini tadi dibawa ke bengkel sama temen, terus di pinjemin motor ini, biar Melati bisa segera pulang." jawab Melati.
"Oh... alhamdulillah ada yang bantuin ya Nduk."
"Iya nek."
"Ya sudah, kamu makan dulu sana. Tadi kedua adikmu sudah makan, tapi kayaknya mereka masih mainan di masjid sama temen-temennya. Paling nanti abis isya' mereka baru pulang." kata Nenek.
"Ya nek."
Setelah neneknya pergi, Melati jadi teringat dengan sosok pria baik yang menolongnya tadi, bak super Hiro yang menyelamatkan dirinya di tengah hujan badai.
Diambilnya benda pipih di meja riasnya, dia juga mengambil sebuah kartu nama yang dia masukkan di tasnya berwarna merah putih, lalu dia mengetik kan deretan **** dan memberinya nama, "Mas Baik" sebagai nama kontaknya.
📨Mas Baik
Assalamualaikum mas, ini saya Melati.
Saat mengirim pesan melalui aplikasi hijau, muncul lah sebuah foto selfi seorang laki-laki dengan baju koko dan sarungnya. Tersenyum manis di depan sebuah bangunan masjid yang megah, sebagai foto profilnya.
Cukup lama menunggu pesannya di balas, karena memang sedang tida mode online, sehingga Melati memilih ke dapur dan mengisi perutnya yang lapar.
Keesokan harinya, Melati menjalani rutinitas hariannya dengan pergi mengajar ke lembaga pendidikan anak usia dini tempatnya mengabdikan diri sebagai pengasuh bayi.
"Bun, motor baru ya? Motor unik itu bun, jarang lho jaman sekarang ada motor seperti itu." seloroh bunda Novi salah satu rekan mengajar nya yang masih terbilang muda, karena baru satu tahun menikah.
__ADS_1
"Bukan bun, motor matic satu saja ga habis-habis bun, yang make cuma saya, masa' mau beli baru lagi, buat siapa bun? Si kembar juga belum bisa naik motor." jawab Melati.
"Hem, ga mungkin ga bisa naik motor. Bukannya biasanya membonceng bunda Melati?" kata bunda Novi yang berjalan beriringan dari tempat parkir ke ruang guru dan karyawan.
"Maksudnya... belum bisa mengendarainya bunda..." jawab Melati yang memang satu bulan bersama bunda Novi sudah mengenal sifatnya yang suka gokil.
"Terus, itu motor siapa dong bun?" tanya bunda Novi lagi dengan wajah kepo nya.
"Motor cap Sil bun." jawab Melati sambil meletakkan tasnya di loker guru dan karyawan.
"Cap sil? Maksudnya?" tanya bunda Novi bingung.
"Cap Silihan bunda. Cuma motor pinjeman aja... kemarin sore itu motor saya mogok, terus ada temen saya yang bantuin saya. Motor saya dibawa dia ke bengkel, dan saya bawa motor dia, katanya biar ga kemaleman pulangnya, apalagi kemarin 'kan hujn deras bun." kata Melati memberi penjelasan sejelas-jelasnya.
"Oh... jadi motornya bunda Melati mogok? Pasti temennya cowok ya?" tebak bunda Novi.
Melati mengernyit.
"Iya 'kan?" goda bunda Novi sambi menyenggol lengan Melati dengan lengannya, kedua alisnya naik turun pertanda menggoda Melati yang memang masih jomblo diantara para bunda lainnya di sekolahan tempat dia mengajar.
"Apaan sih bun....?" kata Melati sambil tersipu malu.
Saat Melati akan masuk ruang day care, sebuah mobil avansa berhenti di depan gerbang sekolah. Sudah bisa ditebak, siapa yang mengendarai mobil itu, karena setiap hari mobil itu akan berhenti di sana dan pengemudinya akan turun sambil menggendong baby, dan menenteng sebuah tas baby berisi perlengkapan baby, sambil menggiring anak sulungnya yang juga bersekolah di sana.
"Bun, tuh baby mu dateng." kata bunda Novi yang memberi isyarat mata menunjuk kedatangan pak Dewa beserta kedua anaknya.
"Oh, ya bun." Melati segera bergegas menyambut kedatangan Baby Tsabita dan kakaknya, Dirgantara yang akhir-akhir ini sudah mulai akrab dengan Melati.
"Assalamualaikum kak Dirga, dek Tsabita." sapa Melati sembari mengulurkan tangannya kepada Dirga dan Dirga menyambutnya dengan mencium punggung tangan Melati dengan khidmad sambil Melati mengelus pucuk kepala Dirga dengan membacakan sholawat nabi dengan lirih. Setelahnya, Melati menyambut baby Tsabita dengan menoel pipinya, yang ternyata sedang terlelap.
"Assalamualaikum dek Tsabit... Oh, bobok ya." sapa Melati sambil menatap wajah baby Tsabita dengan penuh kasih sayang.
"Wa'alaikumsalam bunda. Iya, ini tadi baru aja bobok pas di jalan. Soalnya tadi pas di rumah dia nangis terus." kata Dewa menjelaskan.
__ADS_1
"Oh. iya pak. Biar saya gendong dulu kalau begitu. Berarti belum terlelap betul ya pak?" tanya Melati sembari menerima baby yang digendong Dewa dengan hati-hati.
Saat Melati sedang menerima baby Tsabita dari tangan ayahnya, Bunda Novi yang memang sedari tadi menatap gerak gerik Melati, memeluk pintu dan mengelusnya.
"Ehem, bunda Novi nih, pagi-pagi kok meluk pintu sih? Emang tadi belum meluk ayang bebeb?" seloroh bunda Nisa rekan mengajar di kelas Kelompok Bermain yang juga sudah bersuami dan memiliki dua anak.
"Eh, bunda Nisa nih, ganggu konsentrasi orang lagi liat film romantis secara live aja." kata bunda Novi dengan tanpa mengalihkan pandangannya dari Melati dan Dewa.
"Film Romantis?" gumam bunda Nisa bingung, namun seketika dia tersadar saat bunda Novi tak mengalihkan pandangannya dari Melati dan Dewa.
"Oh, bunda Melati sama Duren?" tanya Bunda Nisa.
Bunda Novi mengangguk.
"Mereka kaya serasi ya bun. Jadi ngiri." kata bunda Novi yang memang suka nonton film Drakor.
"Iya. Serasi. Eh, tapi bunda ngiri sama mereka? Yakin? Pak Rudi mau dikemanain? Saya laporin pak Rudi lho kalau bunda juga suka sama pak Dewa." kata bunda Nisa bercanda.
"Eh, ya engga gitu juga kali. Maksud saya, saga tu ngiri dengan keromantisan mereka, jadi kangen sama ayang bebeb di rumah. gitu lho bun... apalagi. kita 'kan belum diberi momongan." kata bunda Novi mendadak sendu.
"Sabar..." kata bunda Nisa sambil mengelus punggung bunda Novi.
Setelah melihat adegan Melati yang menerima baby dari tangan Dewa, lalu menggendong baby Tsabita ke ruang day care, kedua bunda kelas kelompok bermain itu segera bergegas ke kelas, karena ada anak yang menangis karena tak mau berpisah dengan mamanya.
"Aduh, anak itu lagi, tantrum lagi, tantrum lagi." keluh bunda Novi saat melihat murid nya yang suka tantrum kalau berpisah dengan orangtuanya.
"Sabar, ini juga ujian. Biar sadar dengan kenyataan, bahwa hidup kita tidak seperti drama korea." komentar bunda Nisa yang melihat wajah bunda Novi seketika berubah saat bersiap untuk menangani anak didik nya yang tantrum.
💞💞💞
Sesekali pingin menuliskan kisah pengalaman menjadi bunda PAUD. jujur, karena author juga pernah mengemban amanah menjadi bunda PAUD, yang super ekstra menghadapi anak yang tantrum saat berpisah dengan orangtuanya. Harus ada kerjasama yang baik antara orangtua dengan guru, agar tercipta kenyamanan pada diri anak. Orangtua harus ridho menitipkan buah hatinya, dan guru juga harus ikhlas menerima titipan dari orangtua wali...
BeTeWe, pak Dewa itu masih muda, jadi masih dianggap duda keren sama orang-orang, meski berputra dua. Tapi kharismanya sebagai cowok ganteng masih terpancar bak seorang pangeran yang belum beranak, karena memang yang beranak adalah istrinya,😁...
__ADS_1