Seputih Melati

Seputih Melati
Kalau Ketagihan?


__ADS_3

Di sebuah gedung sekolah pendidikan anak usia dini, tampak para bunda PAUD sudah selesai dengan tugas mereka, setelah setengah hari mengajar dan mengkondisikan anak-anak didik mereka. Merekapun berkumpul di ruang guru, begitupun dengan Melati yang juga ikut serta bergabung disana setelah tadi menidurkan baby Tsabita, dan kini giliran menyuapi baby Leo yang berusia delapan bulan.


"Bunda Melati." panggil bunda Nisa.


"Ya bun?"


"Tau ga, tadi bunda di iriin tau sama bunda Novi." lapor bunda Nisa.


"Iri? Iri kenapa?" tanya Melati heran.


"Karena tadi melihat bunda Melati tu, serasi banget sama pak Dewa, ayahnya baby Tsabita." kata bunda Nisa.


"Eh, kok gitu? Ya engga lah bun." kilah Melati.


"Eh, tapi beneran lho bun, kalian tadi tu serasi banget, udah kaya film romantis di televisi gitu. Drakor aja kalah." kata Bunda Novi berkelakar.


"Bunda Novi nih, berlebihan. Lagipula ga mungkinlah saya sama pak Dewa." kata Melati.


"Lho, kenapa?" tanya bunda Novi.


"Karena pak Dewa itu guru saya bun. Usia kita juga terpaut sangat jauh." jawab Melati.


"Heleh, jaman sekarang tu selisih usia ga jadi masalah bunda. Jaman sekarang banyak lho, anak gadis yang nikah sama om om, dan bahkan ada gadis yang nikah sama kakek-kakek." kata bunda Novi mempertahankan pendapatnya.


"Hem, bener banget tuh bun. Lagian ni ya, bunda Melati sama pak Dewa ga kelihatan beda jauh lho usianya. Secara, pak Dewa tu awet muda, keren, ganteng pula." kata bunda Novi sambil tersenyum.


"Hish. bunda Novi, inget suami lho!" kata Melati mengingatkan.


"Ih, Mel...tenang aja, suamiku itu tetap yang terganteng pokoknya. Tapi, boleh dong aku berpendapat kalau Pak Dewa itu juga ganteng." kata bunda Novi masih ngeles.


"Atau, Jangan-jangan, bunda Novi naksir lagi sama pak Dewa, hayo...." kata Melati menggoda balik.


"Eh, ya engga lah. Aku mah tetep setia sama yang halal aja." jawab bunda Novi.


"Eh, tapi ni ya bun, jaman sekarang tu, banyak lho duda yang punya anak kecil, menikahi baby sister nya sendiri. Ya, seperti hal nya pak Dewa sama bunda Melati gitu." kata bunda Nisa menguatkan pendapat bunda Novi.


"Nah, bener banget tuh. Bisa juga 'kan, bunda Melati juga bakal di peristri pak Dewa?" kata bunda Novi.


"Lumayan lho bun, baru aja keangkat PNS lho. Hidupnya terjamin." kata bunda Nisa lagi.


"Aamiin..." tiba-tiba terdengar suara dari dalam ruangan kepala sekolah. Tampak bu Hayati keluar dengan wajah tersenyum lebar.


"Eh, cik Gu besar." kata bunda Novi salah tingkah.


Bu Hayati tersenyum menatap Melati yang tertunduk malu.


"Ehm, bu Hayati, kok bilang aamiin? Aamiin untuk apa bu?" tanya bunda Nisa yang masih tak habis pikir dengan kata-kata yang barusan keluar dari lisan Kepala Sekolahnya.


"Katanya, bisa juga 'kan bunda Melati diperistri pak Dewa? Ya saya aamiini saja. Karena kata adalah do'a." kata bu Hayati yang membuat Melati mendongak menatap atasannya.


"Maksud ibu?" tanya Melati tak mengerti.


"Iya. Saya setuju kok kalau suatu saat nanti pak Dewa menjadikan bunda Melati ini, pengganti mamanya Dirga dan Tsabita. Apalagi, Melati kan sudah akrab sama pak Dewa, dan kenal juga dengan almahrumah. Dan lagi, Tsabita selalu nyaman kalau sama bunda Melati." kata bu Hayati berpendapat.


"Nah tu, udah direstuin sama bu kepala, tinggal ikhtiarnya aja bun." kata bunda Novi lagi sambil mengikut lengan Melati.


Melati tak bisa berkomentar lagi, kalau bu Hayati yang sudah angkat bicara. Namun, hatinya bimbang, karena dia belum pernah berpacaran, dan merasa tak layak menjadi pendamping hidup, tersebab keadaan fisiknya.

__ADS_1


Namun, disaat semua terdiam, tiba-tiba_ terdengar suara panggilan masuk dari ponsel nya Melati.


"Maaf bun, saya ijin angkat telpon dulu ya." kata Melati memohon ijin.


📞Mas Baik


'Halo, Assalamualaikum ukhti.'


"Wa'alaikumsalam mas. Bagaimana mas? Ada masalah?"


'Oh, tidak. Ini, saya cuma mau kasih kabar saja, kalau motor ukhti sudah jadi, sudah enak untuk dinaiki. Tadi sudah saya bawa ke bengkel, dan ini tadi sudah diganti oli, dan di service." kata Ugi di seberang.'


"Oh, alhamdulillah. Terimakasih banyak ya mas."


'Iya, sama-sama."


Hening.


'Ehm, betewe, nanti motornya saya anter ke mana nih? atau kita ketemu dimana?' tanya Ugi.


"Ehm, saya ngikut mas Ugi aja." kata Melati.


'Ehm...ukhti kemarin kan bilang, kalau ukhti dari SKB ya? Sanggar Kegiatan Belajar , apa sekolah apa?'


"Iya, saya sekolah di SKB, sanggar kegiatan belajar."


"Oiya, ukhti masuk pagi apa siang nih?" tanya Ugi.


"Siang mas. Nanti abis dzuhur."


'Okey, berarti nanti ketemu di SKB aja ya. Kebetulan bengkelnya ini ga jauh kok dari SKB.'


"Ya udah, okey. sampai ketemu nanti ya ukhti." kata Ugi.


"Ya mas."


Panggilan pun terputus.


"Hayo, siapa tuh? Kok manggilnya mas sih?" goda bunda Novi.


"Temen bun. Yang punya motor itu bun., kata Melati sambil menunjuk motor legend yang dia parkir ditempat parkir.


"Temen apa temen?" goda bu Hayati.


Merekapun menggoda Melati, yang akan pamit pulang dan berlanjut untuk sekolah.


Ba'da dzuhur, setelah sholat, Melati pamit kepada neneknya dan berangkat ke SKB.


Sesampainya di SKB, tampak Ugi sudah mengenakan hem putih dengan bordir di belakangnya bertuliskan Palang Merah Indonesia.


"Assalamualaikum mas." sapa Melati yang sudah berada di belakang Ugi.


"Eh, Wa'alaikumsalam Ukhti." jawab Ugi yang terkesiap saat melihat sosok gadis yang kemarin dia temui di jalan. Wajahnya tampak berbeda dengan yang kemarin, hari ini wajahnya lebih ayu dan berseri.


"Maaf, nunggu lama ya mas?" tanya Melati.


"Engga kok, baru aja. Tadi mampir masjid dulu." kata Ugi.

__ADS_1


Kemudian Melati turun dari motor legend milik Ugi, dan memberikan kunci motor milik Ugi.


"Ini mas kunci motornya. Terimakasih banyak sudah membantu. Jadi totalnya service dan ganti olinya berapa mas?" tanya Melati to the poin.


"Oh, ya ukh. Saya terima ya kuncinya. Dan ini kunci motor anda." kata Ugi sembari memberikan kunci motor bergelantung tasbih kecil.


"Berapa mas totalnya?" tanya Melati lagi.


"Ga usah ukh." jawab Ugi.


"Eh, jangan gitu mas." Kata Melati sambil bersiap mengambil uang dalam dompetnya.


"Serius. Ga usah ukhti. Karena saya juga ga tau ukhti harus bayar berapa. Ini tadi pemilik bengkelnya memberi gratis, ga usah bayar katanya. Tapi... minta tolong untuk nempelin ini di motor ukhti, atau dimana gitu, sebagai media promosi." kata Ugi sambil mengambil stiker dari sling bag nya.


"Seriusan ini mas?" tanya Melati tak percaya sambil menerima stiker yang diberikan Ugi.


"Ga cuma serius. Bahkan dua rius, sepuluh rius juga bisa. Hehehe." kelakar Ugi.


"Mas Ugi ini bisa aja." kata Melati tersipu.


"Oya mas Ugi, ini ada sedikit makanan buat makan siang mas. Ehm, anggap saja sebagai ucapan terimakasih saya kepada mas Ugi karena sudah membantu saya. Mohon di diterima, semoga enak. Karena itu cuma buatan saya sendiri." kata Melati sambil memberikan sebuah kotak makanan berwarna biru kepada Ugi.


"Eh, kenapa mesti repot-repot? Wah, tau aja kalau saya belum makan. Rejeki anak Sholih dong nih." kata Ugi menerima kotak makanan itu dengan suka cita.


"Alhamdulillah, kebetulan dong. Semoga mas Ugi suka." kata Melati.


"Ehm... pasti suka lah, apalagi yang masak ukhti Melati. Nanti kalau saya ketagihan, gimana dong?" tanya Ugi.


"Ha? Ke ketagihan? Ehm, ehm... ya... ya gapapa. InshaaAllah besok besok saya masakin lagi. " kata Melati tergagap.


"Yakin? Gapapa?" tanya Ugi dengan mencondongkan wajahnya ke arah Melati.


"Ehm... I- iya. Gapapa." jawab Melati masih gugup.


Ugi yang melihat bahasa tubuh Melati yang mulai salah tingkah, dia tak ingin melangkah lebih jauh menggoda gadis di hadapannya itu. Dia khawatir akan PHPin gadis tak berdosa itu.


"Ah, sudahlah. Bercanda... Sudah jam satu, segeralah masuk kelas. Nanti terlambat. Saya juga harus segera ke kantor." kata Ugi sambil duduk di jok motor legend nya.


"Oh, i iya mas." kata Melati sambil berjalan menuju motornya untuk di bawa masuk ke parkiran SKB.


"Ehem." deheman Ugi berhasil membuat Melati menoleh ke arahnya.


"Good luck ya ukh." kata Ugi sambil tersenyum.


Melati tersipu, lalu mengangguk, kemudian duduk di jok motornya. Ugipun menyalakan motornya lalu berjalan mensejajari motor Melati.


"Ehem. Ga ada pesan buat saya? Ehm, seperti kata...hati-hati misalnya?" kata Ugi yang tiba-tiba muncul di samping Melati yang masih gugup, mencoba menetralisir dadanya yang bergemuruh hebat.


"Eh, ehm... Ya. Ha... hati-hati." kata Melati kaku.


Ugi tersenyum.


"InshaaAllah, saya akan berhati-hati, terutama menjaga hatiku." kata Ugi.


Melati semakin tergugup.


"Maaf, saya permisi mas. Assalamualaikum." kata Melati sambil melakukan motornya menuju parkiran SKB.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam." jawab Ugi yang masih berdiam di tempatnya menatap punggung gadis itu melaju meninggalkannya seorang diri. Kemudian Ugi juga memutar balik motornya, menuju kantor PMI, dan siap bertugas.


__ADS_2