
Pagi itu Melati sudah bersiap dengan segala persiapannya. Melati dan Zia sudah mandi dan memoles sedikit wajahnya, lalu merekapun turun ke lantai bawah untuk sarapan. Saat sarapan, Ponsel Melati berbunyi, panggilan dari asisten Pak Ricard.
📞Asisten Pak Richard
"Halo Assalamualaikum." salam Melati.
'Wa'alaikumsalam. Maaf mbak Melati, pagi ini saya akan Menjemput anda, sekitar lima belas menit lagi saya sampai di hotel.' kata Ahmad.
"Ha? Sekarang pak? Katanya nanti tampilnya jam sepuluh pak? Ini saya masih sarapan pak." jawab Melati.
'Ya, dilanjut dulu saja mbak. Tidak apa-apa. Tadi pak Richard menelpon saya, agar saya menjemput anda sekarang.' jawab Ahmad.
"Oh, gitu? Ya pak, saya selesaikan dulu sarapannya." jawab Melati.
"Baik." jawab Ahmad.
Panggilan pun terputus.
"Kenapa Mel?" tanya Zia.
"Pak Ahmad akan menjemput kita limabelas menit lagi." jawab Melati sambil melahap makanannya.
"What? Sepagi ini? Bukannya acaranya masih nanti jam sepuluh sih Mel?" tanya Zia.
"Iya, tapi kata pak Ahmad, ini atas perintah pak Richard." jawab Melati.
"Ish, ish. Emang ribet ya berurusan sama orang penting." omel Zia sambil melahap makanannya.
Limabelas menit kemudian, Melati dan Zia sudah menyelesaikan makannya, dan saat akan minum, bertepatan dengan Ahmad yang sudah tiba di hotel untuk menjemput mereka. Melati dan Ziapun memasuki mobil Avanza berwarna hitam itu, dan mobil melaju menuju sebuah gedung yang menjulang tinggi.
"Mari, ikuti saya." kata Ahmad kepada Melati dan Zia.
"Baik pak." jawab Melati. Zia yang senantiasa menemani kemanapun Melati pergi, juga selalu berjalan bergandengan tangan dengan Melati. Hingga mereka tiba di sebuah ruangan.
"Silakan masuk." kata Ahmad, sambil membukakan pintu bertuliskan ruang make up dan kostum.
Dengan ragu Melati memasuki ruangan itu, dengan diikuti Zia. Setelah Melati masuk bersama Zia, Ahmad kembali menutup pintunya, dan menunggu di luar ruangan itu. Melati disambut hangat oleh seorang wanita berwajah cantik, meski sudah termakan usia.
"Ini, mbak Sekar ya? Penulis novel yang mau ngisi acara talk show nanti?" sapa petugas makeup.
"I-iya bu." jawab Melati ragu.
"Ih, jangan panggil ibu dong, panggil Susi ya. Saya diperintahkan pak Richard untuk memoles wajah Ayumu mbak Sekar. Biar ga kelihatan polos los seperti pohon pisang." kata Susi.
__ADS_1
"Oh, ya maaf b...eh, maksud saya Susi." jawab Melati.
"Okey, duduk sini ya cah ayu." kata Susi sambil memegang wajah Melati, dan memulai aksinya untuk menunjukkan kemampuannya di bidang rias wajah.
Sekitar satu jam, akhirnya Melati telah selesai di make over oleh Susi dengan gaya Susi. Setelah di make up, Melati di pilih kan pakaian oleh tim kostum, sekaligus jilbab sepatu dan segala aksesorisnya. Melati memakai dres dari bahan crincle, berwarna pink dusty perpaduan dengan warna hitam, dan berhijab lebar berwarna dusty pink membuat Melati tampak lebih cantik dan anggun. Setelah di make over, Susi keluar ruangan dan melaporkan bahwa tugasnya sudah selesai. Setelah itu, Melati dipanggil untuk di nilai oleh asisten pak Richard.
Saat melihat Melati, Ahmad begitu terpesona oleh kecantikan Melati yang begitu natural.
"Cantik." tak sengaja bibir Ahmad berucap seperti itu dengan tanpa sadar.
"Kenapa kamu begitu cantik Melati? Sungguh aku sangat merindukanmu. Ingin aku memelukmu seperti dulu lagi. Tapi, percayalah kamu kalau aku adalah masa lalu mu?" batin Ahmad.
Saat masih menikmati kecantikan Melati, terdengar suara ponselnya berdering. Ada Panggilan dari pak Richard.
"Ahmad, segera ajak Melati ke studio ya." tidak pak Richard.
"Siap pak." jawab Ahmad.
"Ehm, Ma-maf mbak Melati, kita langsung saja ke studio, pak Richard sepertinya sudah menunggu." kata Ahmad.
"Baik pak." jawab Melati.
Saat Melati berjalan di belakang Richard bersama Zia, Zia berbisik kepada Melati.
"Iya Zia, aku juga sadar diri kok." jawab Melati.
Sesampainya di studio, Melati disambut hangat oleh pak Richard. Ini adalah kali pertama Melati bertemu pak Richard. Produser Mega Production.
Melati langsung diarahkan untuk tampil di acara talk show. Dengan berusaha totalitas, Melati mengisi acara talk show dengan baik. Pak Richard dan Ahmad bersama tim nya juga sangat jeli melihat setiap gerak gerik Melati yang tampir di layar televisi. Begitupun dengan Zia yang tampak tegang, khawatir jika Melati melakukan sebuah kesalahan, karena acara ini live di tayangkan di stasiun televisi swasta.
Setelah acara talk show selesai, Melati turun dari panggung, dan disambut dengan penuh kebanggaan oleh pak Richard dan timnya, termasuk Ahmad.
"Luar biasa!" pekik pak Richard sambil bertepuk tangan.
"Terimakasih pak." jawab Melati sambil membungkukkan badannya.
"Saya sungguh sangat beruntung mendapat pemateri Talk show untuk perempuan seperti anda. Isian materinya ngena banget, dan tidak banyak kesalahan. Saya benar-benar bangga pada anda, anda benar-benar wanita berpotensi mbak Sekar." kata pak Richard.
"Terimakasih banyak pak, semua ini juga berkat pak Richard yang tadi sempat memberi saya pengarahan." jawab Melati.
"Dan, saya juga sangat berterimakasih kepada Ahmad, asisten saya ini, karena atas rekomendasinya lah, saya bisa menyelesaikan program saya ini dengan keren." kata pak Richard.
"Pak Ahmad?" kening Melati mengernyit. Apa yang diketahui Ahmad tentang dirinya? Bukankah mereka baru saja bertemu?
__ADS_1
"Ahmad mengusulkan anda untuk menjadi pemateri di acara talk show, dia menjamin bahwa anda adalah wanita berpotensi, cerdas dan dijamin bagus untuk menjadi pemateri. Dan ternyata, benar. Terbukti sekarang." kata pak Richard.
Ahmad hanya tersenyum dan menunduk, tak banyak berkomentar atas perkataan bosnya.
"Ahmad, tolong kamu ajak mbak Sekar dan temannya ini makan siang dulu ya." perintah pak Richard.
"Baik pak."
"Eh, bukannya mbak Sekar sudah bersuami? Kenapa tidak bersama suaminya mbak? Saya kira anda akan hadir bersama suami anda." kata pak Richard.
"Ehm, iya pak. Suami saya sedang bertugas pak. Jadi maaf, saya membawa sahabat saya." jawab Melati sungkan.
"Its okey. Tidak masalah. Ya sudah, silakan makan siang dulu ya mbak, ditemani Ahmad. Saya masih ada keperluan ini. Harus pulang, karena sudah ditunggu istri saya." kata pak Richard.
"Oh, ya. Baik pak. Sekali lagi, terimakasih banyak pak.".
"Sama-sama."
Pak Richard pun pergi meninggalkan mereka. Saat itu juga Melati menoleh ke arah Ahmad.
"Maaf, anda ini siapa? Kenapa anda bisa merekomendasikan saya?" tanya Melati heran.
"Ehm, kita bicara sambil makan siang saja ya." kata Ahmad.
"Apakah anda mas Latif?" tanya Melati dengan jantung berdetak tak beraturan.
Ahmad mendongak, menatap Melati. Wajah yang pernah mengisi hatinya, wanita yang sangat dia rindukan selama ini, wanita yang selalu dicintainya. Kini dia tampak sangat dewasa, cantik. Namun apa daya, wanita dihadapannya adalah wanita bersuami. Tak mungkin dia merusak kebahagiaan Melati yang baru saja dibangun.
"Menurut Anda?" tanya Ahmad.
"Wajah anda sangat mirip dengan tetangga saya, namanya mas Latif. Tapi dia kan sudah..." Belum sempat Melati melanjutkan kata-katanya, Ahmad sudah menyanggah.
"Meninggal?" tanya Ahmad.
Melati terkejut begitupun dengan Zia yang sempat jatuh hati pada pria tampan dihadapan mereka.
"Jadi benar, anda ini..." kata Melati terhenti.
"Ya." jawab Ahmad.
"Yaa Allah mas Latif? Sungguh ini kamu mas?" tanya Melati tak sadar memegang pundak Ahmad dengan linangan air mata.
Ahmad hanya tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
Ahmadpun mengajak Melati dan Zia untuk makan siang bersama dan Ahmad berjanji akan menceritakan semua kisahnya setelah kejadian kecelakaan pesawat beberapa tahun lalu. Melati sangat bahagia, bisa berjumpa dengan laki-laki baik itu lagi, dan ternyata kariernya sampai ke titik ini, ada peran di balik itu yang tak lain adalah sosok Latif, laki-laki baik yang banyak jasa padanya.