
Saat di tempat kursus, Melati tampak melamun sepanjang pelajaran. Dewa yang tidak biasa melihat Melati melamunpun heran.
"Mel...Melati." panggil Dewa.
Melati masih tak bergeming.
"Melati!" panggilan Dewa membuyarkan lamunan nya, hingga Melati tergagap dibuatnya.
"Astagfirullah, eh, i iya pak. Maaf pak." kata Melati yang merasa bersalah karena tidak memperhatikan pelajaran.
"Kamu kenapa? Tidak biasanya seorang Melati melamun?" tanya pak Dewa sambil menarik kursi dekat Melati untuk turut duduk di dekat Melati dan mendudukinya.
"Ehm..." Melati celingak celinguk ke kanan dan ke kiri.
"Te temen-temen mana pak?" tanya Melati bingung.
"Sudah pada pulang." jawab Dewa.
"Ha? Pulang?"
"Iya, teman-temanmu sudah pada pulang, karena memang pembelajaran sudah selesai. Makannya, kamu saya sadarkan. Sedari tadi kamu tampak kosong. Hati-hati lho, nanti kesambet." tukas Dewa yabg berhasil membuat bulu roma Melati berdiri.
"Ha? Memang disini ada makhluk halus pak?" tanya Melati dengan polosnya.
"Ada lah..." jawab Dewa santai.
"..." Melati tampak diam dan berfikir.
"Malaikat rokib dan atid, serta setan di sekitar kita ini 'kan makhluk halus." jawab Dewa.
"Oiya ya." kata Melati baru sadar.
"Mel. Kenapa? Ga biasanya lho kamu begini? Ada yang sedang di fikirkan?" tanya Dewa.
"Ehm..."
"Cerita aja." titah Dewa.
__ADS_1
"Ehm... gapapa pak. Melati harus..." kata Melati sambil beranjak mengenakan tasnya dan berdiri untuk bersiap pulang.
"Mau kemana?" tanya Dewa sambil menarik tangan Melati.
"Eh, maaf pak." kata Melati sambil melepaskan genggaman tangan Dewa.
"Okey. Tapi duduklah dulu, ayo, cerita sama saya, kamu kenapa?" tanya Dewa dengan penuh perhatian.
Melatipun menuruti perintah gurunya.
"Tadi, ada berita kecelakaan pesawat pak." kata Melati menunduk.
"Lalu?"
"Tadi pagi, mas Latif berpamitan berangkat ke Palembang dengan mengendarai pesawat." kata Melati.
"Maksudmu... Mas Latif salah satu korbannya?" tanya Latif yang mengerti arah pembicaraan Melati.
Melati mengangguk mengiyakan.
"Innalillahi Wainnailaihi Raji'un." gumam Dewa dengan wajah sedih.
"Jadi kami sedari tadi kepikiran dengan kabar mas Latif?" tanya Dewa.
Melati mengangguk.
"Kita do'akan, semoga semua baik-baik saja.
"Aamiin pak." jawab Melati.
Sore harinya Melati sudah tiba di rumah, dia suah selesai mengikuti kegiatan kursus, dan sesampainya di rumah, Melati segera bersiap untuk mengajar TPQ.
Sesampainya di masjid, Pak Wahid sudah ada di masjid dengan wajah sendu.
"Assalamualaikum pak Wahid." salam Melati sambil mencium punggung tangan guru ngajinya.
"Wa'alaikumsalam warihmatullahi wabarokatuh." jawab pak Wahid.
__ADS_1
"Melati..." panggil pak Wahid.
Melati sangat berharap pak Wahid memberikan kabar baik tentang Latif.
"Mas Latif...dan bu Desi..." kata Pak Wahid yang terhenti tak segera di lanjutkan. Melati hanya diam berusaha untuk menata hatinya menerima kabar yang tak sesuai harapannya.
"Benar, mereka salah satu korban kecelakaan." kata Pak Wahid yang berhasil membuat Melati terduduk lesu, mendengar berita itu, dadanya terasa sesak, kepalanya pusing badannya mendadak terasa lemas.
"Innalillahi wainnailaihi Raji'un." gumam Melati yang berhasil meloloskan air mata nya dari kedua buah matanya yang indah.
"Kamu yang sabar ya. Keluarga Mas Latif dari Palembang, ini juga sedang mengurus pencarian untuk mereka." kata pak Wahid.
Melati hanya mampu mengangguk untuk jawaban pak Wahid.
Pak Wahid memimpin do'a dan mengajak santrinya untuk melaksanakan sholat ghaib untuk dua jenazah yang masih belum diketemukan. Pak Wahid mengabarkan pada adik-adik TPQ, semuanya menangis dan ikut merasakan kepergian guru ngaji mereka yang sudah mereka anggap sebagai kakak sendiri.
Saat sholat maghrib, Pak Wahid lagi-lagi menginformasikan kepada warga, bahwa Latif adalah salah satu korban kecelakaan pesawat. Para jamaah turut berduka atas kabar yang disampaikan pak Wahid, apalagi saat mereka tahu, bahwa jasad Latif dan mamanya belum diketemukan. Terutama ibu-ibu yang ngr fans dengan sosok Latif, pria baik dan berwajah tampan, membuat ibu-ibu betah jika pengajian dimoderatori oleh Latif. Selain itu, bacaan Qur'am Latif juga menjadi suara yang membuat para ibu-ibu menghentikan ghibahnya, demi mendengarkan suara mengaji Latif.
💞💞💞
Di dalam kamarnya, Melati melihat mukena pemberian Latif, dia baca berulang-ulang surat yang diberikan Latif sebelum incident itu terjadi.
"Mas..."
"Kenapa kamu juga pergi? Setelah bapak, Zia, dan Satria... Terus aku sama siapa mas? Apa aku bisa jalani hari-hariku seorang diri? Sekarang aku harus bertukar cerita sama siapa mas?" tanya Melati dengan meratapi hatinya yang sedang pilu.
"Mbak Ati..." panggil Aldo dan Aldi yang tiba-tiba memasuki kamarnya.
"Aldo, Aldi? Kalian belum tidur?" tanya Melati.
"Belum mbak." jawab mereka.
"Mbak Ati jangan nangis lagi ya. Ado sama Adi mau jadi adik baik, ga nakal lagi." kata Aldo yang disetujui Aldi dengan anggukan kepala.
Melati memeluk kedua adiknya dan meluapkan kesedihannya di sana.
"Mas Latif itu olang baikmbak, kalo kata Mas Latif orang baik itu kuburnya lapang. kata Aldi berusaha menghibur mbaknya.
__ADS_1
"Aamiin, makasih ya dek." kata Melati.
Sepanjang malam Melati tak bisa tidur lelap, dia terus memikirkan keadaan Latif, hatinya masih belum percaya dengan kepergian Latif, orang yang berjasa akan hidupnya. Kembali dia teringat hari-harinya yang selalu bersama Latif, hingga surat itu dia terima.