
Setelah mendaftarkan diri kursus di tempat nya Dewa, Melati diajak Latif untuk pulang. Namun sebelum pulang, Latif mengajak Melati mampir ke sebuah toko buku untuk membelikan Melati beberapa buku untuk dipakainya belajar terlebih dahulu. Selain buku materi penunjang kursus, Latif juga membelikan beberapa buku novel untuk Melati, agar Melati lebih bersemangat dalam berkarya. Latif melihat potensi dalam diri Melati, sehingga dia ingin Melati bisa mengembangkan nya.
"Mas, ini bukunya banyak banget?" tanya Melati heran.
"Gapapa, belum tentu sebulan sekali juga kan kamu bisa berkunjung ke toko buku?" tanya Latif.
"Iya juga sih." kata Melati.
Larifpun melakukan transaksi di kasir. Lalu Melati membuntuti ke manapun Latif melangkah, termasuk ke parkiran.
"Oiya, mas lupa. Mas hari ini bawa motor ya, bukunya terlalu banyak ya ternyata untuk dibawa motor." kata Latif yang sedari tadi mengira bahwa dirinya membawa mobil.
"Ehm, ya udah, bentar." kata Latif.
"Mau ke mana mas?"
"Mas paketin aja lah." kata Latif.
"Ga usah mas, biar sini Melati bawain aja." kata Melati.
"Melati bisa?"
"Bisa mas."
"Ehm, ya udah. Tapi kamu masih tetep bisa pegangan kan?"
"InshaaAllah bisa mas."
"Oiya, kita makan dulu yuk, mas kok udah laper sih ini." kata Latif menggandeng tangan Melati begitu saja.
"Eh, iya mas."
Sesampainya di rumah makan, Latif memesan beberapa menu makanan untuknya dan untuk Melati.
"Mel."
"Ya mas?"
"Apa kamu bahagia hari ini?"
"Sangat bahagia mas." jawab Melati dengan senyum lebarnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Mas Harap, kamu akan bahagia terus. Dan tidak ada duka lara yang menemani perjalanan hidupmu lagi." kata Latif menatap intens gadis itu.
"Setiap orang pasti akan di uji mas, duka lara itu adalah bagian dari bumbu kehidupan, dan itu tidak bisa kita tolak. InshaaAllah, semua akan ada hikmahnya mas." kata Melati yang juga menatap Latif.
"Mas Latif, makasih ya mas, mas sudah banyak banget bantuin Melati." kata Melati mengatakan hal itu tulus dari lubuk hatinya.
"Iya. Santai aja Mel." kata Latif sambil menyeruput cappucinonya.
"Melati ga tau, gimana cara membalas semua kebaikan mas Latif." kata Melati sambil menunduk.
"Kenapa kamu bilang begitu?" tanya Latif heran.
"Ya, selama ini Melati selalu ngerepotin mas Latif, tapi Melati belum bisa membalas semua kebaikan mas Latif. Melati merasa berhutang budi sama mas." kata Melati.
"Anggap saja semua ini adalah kewajiban seorang kakak terhadap adiknya Mel. Jangan pernah kamu merasa berhutang budi sama mas, karena mas khawatir, kamu ga bisa membalasnya. Anggap saja semua ini adalah hadiah dari mas buatmu yang sudah mau bertahan dengan segala keadaan yang ada." kata Latif.
"Mel, mas hanya ingin melihat kamu bahagia. Itu saja. Ijinkan mas selalu berada disampingmu, dan menemani hari-harimu." kata Latif sambil menggenggam tangan Melati.
Melati tercengang, dia yang suka membaca novel, kini dia mulai merasakan suatu rasa yang aneh hadir dalam hatinya. Apa ini Cinta?
"Melati sudah sangat bahagia mas dengan semua yang Allah gariskan untuk Melati. Apapun itu, suka maupun duka. Akan ada pelangi setelah hujan, dan langit tak kan selalu mendung. Ada masa dimana hidup akan lebih cerah dan berwarna, selama kita sabar menghadapinya. Menjadi diri sendiri, dan menyemangati diri adalah hal utama dalam menjalani hari-hari. Tetapi mendapatkan orang yang mengerti diri kita, menemani kita dan membantu kita dengan tulus, adalah sesuatu hal yang patut kita syukuri, karena itu lebih berharga dari semuanya." kata Melati.
"Kata-katamu sungguh indah Mel, sangat pantas kamu menjadi seorang penulis." puji Latif.
"Oiya mas, tadi Aldi sama Aldo pesen es krim, nanti mampir beli es krim dulu ya mas." kata Melati.
"Siap."
Merekapun sudah selesai makan, lalu mereka pulang dan tak lupa mampir di mini market dekat rumah untuk membelikan es krim kedua adik Melati.
💞💞💞
Tak terasa sudah satu bulan Melati mengikuti kursus di tempatnya Dewa. Dengan tutor Dewa sendiri dan sesekali jika Dewa berhalangan hadir digantikan oleh Tsania. Hari itu, Dewa sedang ada diklat, sehingga Tsania mendampingi Melati belajar. Selama kursus, Melati berangkat dan pulang menaiki Sepeda sendiri. Kebetulan, sore itu hujan, dan Melati lupa membawa jas hujan. Melati menunggu hujan reda.
"Mel, nunggu disini aja." kata Tsania yang memang sudah akrab dengan Melati.
"Oh. iya mbak." jawab Melati.
Beberapa teman kursus Melati sudah pulang di jemput dan beberapa sudah naik sepeda karena mereka membawa jas hujan, sehingga bisa langsung pulang.
"Mel."
__ADS_1
"Ya mbak?"
"Setauku, Latif itu ga punya adik kan? Kamu adik sepupunya atau gimana?" tanya Tsania.
"Iya mbak, mas Latif memang tidak punya adik. Kedua orangtuanya merantau, kakak kakaknya mas Latif sudah pada menikah. Melati ini tetangganya mas Latif mbak, yang sejak dulu sering dibantu mas Latif. Melati sudah anggap mas Latif sebagai kakak Melati sendiri." kata Melati.
"Oh, begitu?"
"Melati tau ga, mas Latif itu udah punya pacaran belum?" tanya Tsania.
"Ehm, setau Melati sih, mas Latif ga ada pacar mbak. Kenapa emang nya mbak?" tanya Melati.
"Oh, begitu ya?"
"Kenapa mbak? Mbak Tsania suka sama mas Latif ya?" tebak Melati.
"Eh, engga kok Mel. Engga. Sssttt, jangan keras-keras Mel. Nanti kalau tau-tau mas Dewa datang, bisa marah dia." kata Tsania.
"Eh, lha kenapa mbak? Maaf." kata Melati.
"Pak Dewa itu...?" tanya Melati.
Tsania mengangguk.
"Mas Dewa itu calon suamiku Mel. InshaaAllah dalam tiga bulan kedepan, kita akan menikah." kata Tsania.
"Oh, alhamdulillah. Maaf ya mbak, Melati menduga yang engga engga." kata Melati.
"Gapapa Mel, kan kamu ga tau."
"Tapi, kalau memang Latif tu belum punya pacar, jangan-jangan,dia suka sama kamu lagi Mel." kata Tsania.
"Hah? Ya ga mungkin lah mbak." kata Melati mengelak.
"Kenapa ga mungkin Mel?" tanya Tsania heran.
"Ya, karena mas Latif itu hanya menganggap Melati adiknya. Dan Melti juga cuma nganggep mas Latif sebagai kakak Melati kok mbak." kata Melati.
"Gitu ya?"
"Dulu, Latif itu pernah menjalin asmara sama sahabat mbak, namanya Anggita. Dia itu anak berkebutuhan khusus. Latif sedari SMP memang memiliki jiwa sosial yang tinggi, dia sangat peduli pada orang-orang yang membutuhkan. Bahkan, aku sendiri juga sempat menaruh hati padanya, tetapi karena aku melihat Anggita juga suka sama Latif, ya jadinya aku memilih untuk netral. Latif adalah laki-laki yang sangat cuek, dingin, pendiam, tetapi dia sangat perhatian pada orang-orang yang terasing seperti Anggita." kata Tsania yang menceritakan tentang masa lalunya.
__ADS_1
Melati mencoba mencerna cerita dari Tsania, dan dia mulai mengambil kesimpulan, bahwa Memang Latif adalah pemuda yang baik dan peduli pada sesama. Terutama yang bernasib sama seperti dirinya.