
Setelah dua tamu yang mengantarkan kedua adiknya pulang, dan teman-teman si kembar juga pulang, Melati membereskan meja yang ada di teras, dia ambili dua gelas dan piring yang ada di sana. Saat sedang mengambil gelas itu, nenek menghampiri Melati.
"Nduk, Mel."
"Ya nek?"
"Gimana?"
"Gimana apanya nek?" tanya Melati tak mengerti.
"Sini dulu to Nduk." kata nenek sambil menarik tangan Melati untuk duduk di kursi. Melati menurut saja, dan gelas yang akan dia bawa ke dalam, diurungkannya untuk di bawa masuk. Di turuti kemauan neneknya dahulu, karena Melati paham betul sifat neneknya yang terkadang suka marah-marah kepadanya.
"Gimana sama nak Ugi tadi?" tanya Nenek dengan wajah berseri.
"Ehm... nek, kita 'kan belum tau, kepribadian mas Ugi itu seperti apa. Lagipula kita juga baru mengenalnya to nek?" tanya Melati.
"Iya, tapi nenek yakin kok, kalau nak Ugi itu anak baik." kata nenek masih bersikeras dengan pendiriannya.
"Jaman sekarang itu, banyak orang yang kelihatannya aja baik nek, tapi di balik itu, mereka punya niat jahat. Jangan mudah percaya sama orang yang baru kita kenal to nek." kata Melati.
"Halah kamu ini, kalo dibilangin nenek suka ngebantah. Nenek tu yakin, Nak Ugi itu anak baik. Buktinya dia ga kenal sama si kembar, tetap aja dia anterin sampe rumah. Berarti 'kan dia orang baik." kata nenek lagi.
Melati tak bergeming, dia tidak berani membuat neneknya marah dengan sanggahannya.
"Sejak bapakmu meninggal, nenek tu ga tenang. Ditambah lagi mas Latif juga sudah meninggal, ya nenek tambah ga tenang. Sekarang, kalau genteng bocor, ada ular masuk rumah, pralon pecah, listrik konslet, kita jadi bingung to mau minta tolong siapa? Belum lagi kaya kemarin, banyak kabar perampokan, nenek kan jadi takut. Di rumah cuma ada kita dan ada dua laki-laki aja masih kecil-kecil. Wis to, umurmu juga sudah cukup to Nduk untuk menikah. Kalau kamu menikah, nanti 'kan di rumah ada laki-laki dewasanya, lebih aman to nantinya." panjang lebar nenek memberi Melati pengertian. Berharap cucunya mau menuruti kemauannya.
"Ehm... ya coba nanti Melati bicarakan dulu sama ibu ya nek. Karena menikah itu bukan sekedar hal yang sederhana. Butuh ada musyawarah dulu." kata Melati.
"Iya. Pokoknya nenek maunya kamu segera menikah. Mumpung ada yang mau lho. kamu sadar to keadaanmu itu seperti apa? Ini mumpung ada yang suka sama kamu lho." kata nenek sambil berlalu meninggalkan Melati. Yang tak disadarinya telah menghujam hati Melati.
Ya, Melati sadar diri, dirinya sejak lahir sudah berbeda. Saat di SD, dia juga tidak punya banyak teman, hingga SMP dia harus diuji dengan rasa sakit pada tangannya sehingga membuatnya terpaksa berhenti sekolah. Dan yang paling membuat hatinya luka adalah saat kenyataan bahwa bapak nya telah tiada, dan nenek belum mau bersahabat dengan dirinya.
Kini, nenek sudah mau mendekatinya, bahkan banyak membantunya, Namun, kenapa kini nenek harus meminta tolong untuk dirinya menikah?
"Iya nek." jawab Melati lirih. Ada rasa perih di hatinya, saat nenek mengatakan, mumpung ada yang menyukaimu. Sadar diri dengan keadaanmu. Itulah sebabnya Melati mau melangkah pun ragu. Karena Ugi belum mengenal Melati secara dalam.
Melatipun membawa gelas-gelas dan piring yang tadi akan di cuci nya, ke dapur .
💞💞💞
Sedangkan di lain tempat, Ugi dan Ayub masih berada di motor, sambil terus melaju menuju rumah pak haji Karyo.
"Bro, ente serius mau seriusan sama mbak nya si kembar?" tanya Ayub yang duduk di jok belakang.
"Menurut ente?" tanya Ugi sambil tetap fokus mengemudikan motor jadulnya.
"Bro, kalau ane boleh saran, janganlah ente terlalu berlebihan dalam bercanda. Apalagi masalah hati. Kasian lho mbak Melati nya, kalau dia baper gimana?" tanya Ayub.
__ADS_1
"Enten nih, nyuruh ane cepet cepet nikah, giliran ane udah bisa move on, ane dah nemuin yang cocok, malah dikira ane bercanda." omel Ugi.
"Ente seriusan?" tanya Ayub.
"Iya lah." jawab Ugi.
"Ehm, tapi afwan ni ya sebelumnya, kayaknya mbaknya si kembar itu rada beda ya bicaranya?" tanya Ayub.
"Emang."
"Terus ente yakin gitu?"
"Ane emang baru ketemu dia dua kali, baru tiga kali ini. Tapi ga tau kenapa, ane sreg aja ama dia. Dia memiliki hati yang baik, terlihat dari aura nya. Ya, yang jelas, Melati tu ga jauh beda sama Maryam." kata Ugi.
"Oh, jadi itu alesannya?"
"Ya begitulah. Meski Melati jilbabnya lebih kecil dari Maryam, tapi ane yakin, suatu saat dia bisa kok ane ajak hijrah untuk mengubah penampilannya pada jilbab yang lebih lebar." kata Ugi.
"Seyakin itu?" tanya Ayub.
"Yup."
"Dia gadis kuat, gadis tegar, mandiri dan dia pekerja keras dan memiliki tekad yang kuat. Sama seperti Maryam." kata Ugi.
"Apa Maryam juga jago masak?" tanya Ayub.
"Berarti mereka berbeda." ujar Ayub.
"Iya berbeda, tapi karakter mereka tu banyak sama nya." kata Ugi bersikukuh dengan pendiriannya.
"Jadi ente beneran suka sama Melati? Ente mau seriusin dia? Nenek sama kedua adiknya udah terlalu berharap sama ente lho." kata Ayub.
"Justru itu, semakin banyak yang ngedukung, semakin tambah do'a yang melangit dan mengabulkan do'aku untuk bisa bersanding dengannya." kata Ugi.
"Widih, kayaknya sohib ane nih udah mateng banget nih sama pilihannya." kata Ayub.
"Iya lah. Kalau ga nikah sama dia, kapan lagi ane bisa ngerasain masakannya?"
"Jadi ente suka sama Melati karena masakannya? Baru juga ngerasain mendoan tiga biji, udah kepincut kaya begitu?" komentar Ayub.
"Siapa bilang baru makan mendoannya? Ane udah pernah makan masakannya, Sambal terong sama jamur krispinya." kata Ugi.
Tak terasa mereka Sudah sampai rumah pak Haji Karyo, kalau hari ahad, kebetulan bengkel pak Haji libur, jadi Ayub juga libur. Merekapun duduk di teras. Merasa obrolan mereka belum tuntas, Ayub melarang Ugi langsung pulang.
"Jangan balik dulu lah, ente masih hutang penjelasan sama ane terkait gadis pilihan ente itu." kata Ayub.
"Apalagi?"
__ADS_1
"Kapan ente makan masakan sambal terong sama jamur krispi ala Melati?" kepo Ayub.
"Dulu, pas ane balikin motor dia, yang abis ente service." kata Ugi.
"Oh, waktu itu?"
"Iya."
"Wah, jangan-jangan ente kena pelet tuh. Lewat masakan nya aja ente udah ketagihan dan bikin jatuh cinta." kaya Ayub.
"Astaghfirullahal'adzim. Istiflghfar bro. Hati-hati kalau bicara bro. Bisa fitnah lho kalo itu ga bener. Lagian jaman kemajuan kaya begini masih aja percaya kaya begituan?" omel Ugi.
"Astaghfirullah...Ya afwan afwan. Ya 'kan ane kaget aja. Ente itu udah empat tahun jadi kadal, ga berani godain akhwat, eh, ini buaya darat nya kambuh lagi. Ya siapa tau 'kan emang ente kena guna-guna gitu." kata Ayub.
"Ga lah. Ane ga ngerasa gimana-gimana. Lagipula, emang masakan Melati enak 'kan? Ente tadi juga ngerasain kan?" tanya Ugi.
"Iya sih."
"Ngerasa ada yang aneh ga?"
"Engga."
"Ya udah."
"Eh, betewe, emang dulu Maryam juga ngasih ente makanan kaya begini? Sampe ente susah move on dari dia?" tanya Ayub masih kepo.
Ugi yang tadinya mau menjalankan motornya, terpaksa harus mengurungkan niatnya lagi.
"Engga. Ane belum pernah ngerasain masakan dia." jawab Ugi.
"Katanya dulu ente sering berkegiatan ama dia."
"Iya, tapi dia bukan panitia bagian konsumsi. Dia seringnya di bagian korlap sama sie acara. Fokus ngurusin acara doang, ga pernah ke dapur, Dia itu aktivis, bukan kaya Melati orang rumahan yang tiap hari ngurusin rumah dan ngurusin kedua adiknya." kata Ugi.
"Oh. gitu?"
"Iya."
"Udah ah, ane mau segera pulang, mau ada acara lagi soalnya." kata Ugi bergegas pamit.
"Ke mana lagi?" tanya Ayub.
"Pertemuan alumni KSR." kata Ugi.
"Oh, ya udah. Jazakumullah khoir ya udah nemenin ane sekaligus nganterin hehehe." kata Ayub yang memang pagi tadi minta di temenin ikut kajian ahad pagi, dan sekaligus nganterin ke CFD beli buah tangan buat anak dan istrinya di rumah.
"Okey. Waiyyakum." jawab Ugi sambil mengacungkan jempolnya.
__ADS_1