Seputih Melati

Seputih Melati
Suami?


__ADS_3

"Bagaimana keadaan teman saya dok?" tanya Guntur saat melihat dokter Arifin keluar dari ruang periksa.


"Alhamdulillah, Melati sudah sadar. Ini tadi juga sudah kami beri penanganan awal, untuk selanjutnya, nanti akan di periksa dan ditangani oleh dokter Anggita selaku dokter kandungan." kata Dokter Arifin.


"Dokter kandungan?" tanya Guntur dan Dewa bersamaan dengan wajah terkejut.


"Iya pak. Jadi, Melati pingsan itu karena kecapekan, kurang makan dan minum, dan karena nyidam." kata dokter Arifin dengan ramah.


"Ma...Maksud dokter...mbak Melati...hamil?" tanya Guntur memastikan.


"Iya pak. Bapak ini, suaminya Melati 'kan?" tebak Dokter Arifin menunjuk Dewa yang sedang menggendong Tsabita.


"Bu..." kilah Dewa. Tetapi segera di sergah oleh Guntur.


"Iya dok. Dia ini suaminya Mbak Melati." jawab Guntur.


"Kakak pasti sakit dehidrasi ya? Pasti ga doyan minum ASI, karena ASI ibunya ga enak ya? Iya, karena ibunya sedang hamil." kata Dokter Arifin dengan ramah sambil mengelus kepala Tsabita dengan lembut.


"Ehm. sepertinya, saya kok kaya ga asing sama anda ya pak?" tanya Dokter Arifin mencoba mengingat-ingat.


"I-iya dok. Saya Dewa, guru SMPnya Melati. Dulu kita pernah bertemu saat Melati pingsan di sekolahan, dan saya yang bawa dia ke sini, dan kemudian kita pernah bertemu lagi saat Melati mengalami kecelakaan bersama almarhum bapaknya." kata Dewa memberi penjelasan.


"Oh, ya ya. Saya ingat sekarang." kata Dokter Arifin tersenyum riang.


"Wah, ternyata dunia sempit ya. Ga nyangka, guru bisa menikahi muridnya." kata dokter Arifin tersenyum senang. Dan saat sedang berbincang, dokter Anggita sudah datang di ruang IGD.


"Selamat pagi dok, pasiennya di mana dok?" tanya dokter Anggita.


"Di dalam dok." jawab Dokter Arifin.


"Oh, ya Baik. Terimakasih dokter." kata dokter Anggita kemudian masuk ke ruangan tempat Melati di rawat.


"Karena dokter Anggita sudah datang, saya permisi dulu ya pak. Saya masih harus menangani pasien lainnya." kata dokter Arifin ramah.


"Baik dokter, terimakasih dok." kata Guntur. Sedangkan Dewa masih mematung dalam kekalutan pikirannya. Dia dikira suami Melati? Apa nanti yang akan terjadi kedepannya? Sedangkan sebenarnya dia bukanlah suami Melati.


"Heh, kenapa bengong lo?" tanya Guntur sambil menyenggol lengan Dewa dengan sikunya.

__ADS_1


"Hah? Eh, lagian elo tu sembarangan aja kalau ngomong, itu tadi dokter udah akrab banget lho sama Melati, entar kalau mereka ngobrol gimana? Melati tau gimana?" cecar Dewa.


"Hahaha, ya sorry bro. Abisnya gue berusaha menjaga imej Melati bro. Ya masa' wanita kaya Melati udah dicerai diusia muda? Atau nanti kalau tu dokter mikir Melati hamil di luar nikah, kan juga berabe." kata Guntur memberi alasan.


"Tapi tetep aja, itu kebohongan. Ga bener itu nanti jadinya. Sebuah kebohongan, suatu saat pasti akan terbongkar juga kan?" kata Dewa.


"Terus, gue harus ngomong apa coba sama Melati kalau Melati tau, gue ngaku-ngaku jadi suaminya?" tanya Dewa bingung.


"Santai aja kali, entar gue yang bakal jelasin." kata Guntur santai.


Tak lama kemudian seorang perawat memanggil mereka, untuk masuk ke dalam ruangan.


"Selamat ya pak, atas kehamilan istrinya." kata dokter Anggita yang juga mengira bahwa Dewa adalah suami Melati. Melati menatap Dewa dengan tatapan menuntut penjelasan. Dewapun menjadi kikuk saat di dokter Anggita berkata seperti itu.


"Ini adek di rawat di sini juga ya pak?" tanya dokter Anggita sambil mengusap kepala Tsabita yang masih setia dalam gendongannya.


"Iya dok."


"Oh, ya. Baiknya ibu juga dirawat di ruangan yang sama saja. Keadaan ibu masih sangat lemah, apalagi di trisemester awal, kandungannya sangat lemah. Jadi tolong diperhatikan untuk kesehatan, nutrisi dan juga aktivitasnya. Jangan sampe ibu mengangkat barang-barang yang berat, dan jangan terlalu lelah. Karena hal itu akan memicu terjadinya keguguran." kata dokter Anggita menjelaskan.


"Baiklah kalau begitu, nanti untuk pindah ke kamar rawatnya, bisa diatur oleh petugas ya bu. InshaaAllah besok sudah boleh pulang kok, yang penting ibu harus makan yang banyak, minum yang banyak. Mual muntah tidak apa-apa, yang penting harus selalu dimasukin makanan dan minuman ya. Untuk sementara, sebagai pengganti cairannya ibu harus kami infus dulu, agar ibu dan bayi tidak mengalami dehidrasi." kata Dokter Anggita.


"Ba-baik dok. Te-terimakasih dokter." kata Dewa sambil menatap Melati yang sedang membuang Muka ke arah lain. Tampak sekali Melati sedang tidak baik-baik saja. Dia pasti sangat terpukul dengan ujian yang bertubi-tubi menimpanya.


"Kalau begitu, saya tinggal dulu ya pak." kata dokter Anggita.


"Ya dokter, terimakasih dok." kata Guntur.


Sepeninggal Dokter Anggita dan perawat, Guntur dan Dewa yang sambil menggendong Tsabita mendekati Melati.


"Nda..." panggil Tsabita yang akhirnya membuat Melati mengembangkan senyumannya.


"Ya sayang..." jawab Melati lemah, tangan kanannya berusaha meraih tubuh Tsabita, namun Dewa menolaknya.


"Tidak bunda, sebaiknya bunda istirahat dulu." kata Dewa. Dewa melihat wajah Melati yang baru saja menyisakan tangisan di wajahnya. Wajahnya sendu, tampak sekali dia menyimpan rasa yang tak dapat di utarakan.


"Kamu tenang aja Melati. Dewa akan bertanggungjawab untuk kondisimu saat ini." kata Guntur, dan seketika Melati menoleh ke arah Guntur, lalu menoleh ke arah Dewa.

__ADS_1


"Suami anda baru saja menceraikan anda bukan? Walau bagaimanapun juga, itu adalah anak mas Ugi. Tetapi, mengingat kondisi mas Ugi saat ini, saya rasa dia juga akan semakin terpukul dengan kabar yang harusnya menjadi kabar bahagia bagi kalian berdua. Sehingga, untuk meredam prasangka dari para petugas rumah sakit, saya mengakui bahwa saya suami anda. Dan, untuk kedepannya, saya yang akan menjamin dan mencukupi kebutuhan anda dan anak anda." kata Dewa yang sepertinya mengerti dengan apa yang sedang di fikirkan Melati.


Melati hanya diam, dia tak mampu berkomentar. Fikiran nya benar-benar bingung.


"Ibu Melati, mari kami antar ke ruang rawat." kata seorang perawat.


"Apakah Melati akan ke ruangan dengan putri saya sus?" tanya Dewa.


"Iya pak, atas rekomendasi dokter Anggita tadi." jawab perawat.


"Baik sus." jawab Dewa.


Kemudian Melati yang masih terbaring di hospital bad, segera di bawa ke ruang VIP tempat Tsabita di rawat.


Melati tak berani berkomentar apapun, dia tau, bahwa Dokter Anggita dan dokter Arifin pasti mengira bahwa Dewa adalah suaminya, dan Tsabita adalah putrinya. Selain itu, Melati masih merasa sangat lemas, sehingga dia masih belum berani berkomentar apalagi berdebat.


Sesampainya di ruangan, Tsabita tak mau di tidur kan di Hospital bad nya, dia maunya tidur bersama Melati di hospital Bednya Melati. Tsabita tampak sangat bahagia saat bisa tidur bersanding dalam pelukan Melati, hingga akhirnya Tsabita tertidur pulas, namun tidak dengan Melati.


"Maaf jika keputusan saya ini membuat anda kurang nyaman." kata Dewa sungkan, sedangkan Guntur yang berdiri di dekat Dewa juga merasa tidak enak hati dengan keputusannya tadi.


"Demi Tsabita, saya akan menyamankan diri." jawab Melati dingin.


"Baiklah. Sebaiknya anda istirahat dulu, saya akan menunggu di luar. Nanti jika butuh bantuan atau Tsabita bangun dan rewel, jangan sungkan panggil saya di luar." kata Dewa.


Melati tak menjawab, dia hanya menatap Tsabita penuh kasih sayang sambil mengelus-elus rambut hitam Tsabita, lalu Mengangguk untuk memberi jawaban atas pernyataan Dewa.


"Ya sudah, kami tinggal dulu ya." kata Dewa.


"Ehm Pak Dewa, tolong anda hubungi ibu saya, agar ibu tidak mencemaskan saya. Tetapi tolong jangan katakan saya sedang dirawat." kata Melati kepada Dewa.


"Hem? Lalu, saya harus mengatakan apa kepada ibu anda?" tanya Dewa.


"Katakan saja bahwa Tsabita tak mau saya tinggal." jawab Melati.


"Baiklah." jawab Dewa.


Kemudian, Dewa dan Guntur keluar ruangan, dan membiarkan Melati tidur berpelukan dengan Tsabita dalam satu ranjang. Mereka memang sudah tampak seperti anak dan ibu.

__ADS_1


__ADS_2