Seputih Melati

Seputih Melati
Perdebatan Adik Kakak


__ADS_3

Satu jam setelah kepergian Guntur, Muna datang bersama Satria ke ruangan Ugi.


"Assalamualaikum." salam Muna.


"Wa'alaikumsalam." jawab Ugi dan Laili menoleh ke arah pintu.


"Yaa Allah mas, apa yang terjadi sama kamu?" tanya Muna yang langsung menghambur kakaknya dan memeluk Ugi. Sedangkan Satria yang mengikuti Muna, langsung melihat sosok wanita di dekat Ugi.


"Siapa perempuan ini? Kenapa bukan Melati yang menjaga mas Ugi?" batin Satria.


"Ya, beginilah. Gapapa, namanya juga pahlawan kesiangan." kelakar Ugi.


"Dasar kamu nih mas." omel Muna sambil menghapus air matanya yang tak kuasa membendung air matanya saat melihat keadaan kakaknya.


"Eh, mbak ini siapa?" tanya Muna saat melihat Laili yang berdiri di samping Ugi.


"Ehm, saya Laili. Saya temannya Ugi saat di SMA dulu. Kebetulan, Ugi seperti ini karena dia nolongin Ibu saya tadi." jawab Laili.


"Oh, jadi karena menolong ibunya mbak, masku jadi kaya gini?" tanya Muna dengan nada meninggi.


"Mun. Bukan begitu. Tadi mas kebetulan lewat, mas ga sengaja mendengar dia menangis meminta tolong orang-orang untuk menolong ibunya yang sakit stroke terjebak di tengah api yang mengepung rumahnya. makannya, mas menerobos masuk. Mas ga tega jika mas tau ada nyawa yang terancam di tengah kobaran api." kata Ugi.


"Yaa Allah mas. Tapi akhirnya mas jadi kaya gini kan?" tanya Muna.


"Ya udahlah, udah jalannya mas harus kaya gini." jawab Ugi.


"Kata bang Guntur tadi, mas kritis." kata Muna.


"Iya, tapi alhamdulillah ini udah lebih baik." jawab Ugi.


"Mas..."


"Hem?"


"Mbak Melati kemana?" tanya Muna.


"Melati lagi keluar kota." jawab Ugi.


"Ke mana?" tanya Muna.


Ugi melirik Satria dan Muna bergantian.

__ADS_1


"Ke Jakarta. Dan rencananya dia juga akan ke Bogor. Di Jakarta dia ada jadwal Talkshow, mengisi acara di stasiun televisi, dan safari bedah buku di sana. Lalu lanjut ke Bogor untuk melihat syuting yang mengunggah novel karya dia." jawab Ugi.


"Mbak Melati udah dipanggil stasiun Televisi mas? Secepat itu mbak Melati meraih kariernya mas?" tanya Muna.


"Iya." jawab Ugi.


"Tapi mbak Melati udah tau keadaanmu kan mas?" tanya Muna.


Ugi diam, lalu menggeleng.


"Lhoh? Mbak Melati belum dihubungi? Apa nomernya masih belum aktif?" tanya Muna.


"Udah, tadi mas udah telpon dia pake nomernya bang Guntur." jawab Ugi.


"Lha terus, mbak Melati kenapa belum tau keadaan mas Ugi?" tanya Muna.


"Mas ga mau dia tau." jawab Ugi dingin.


"Maksud mas?" tanya Muna tak habis pikir.


"Melati di sana sedang meraih impiannya dek, dan kamu tau kan, kalau urusan sama stasiun televisi, sekali mengcancle, pasti harus membayar ganti ruginya. Melati sudah di kontrak untuk mengisi acara di televisi dan juga mengecek syuting di Bogor, berarti Melati harus profesional kan?" tanya Ugi.


"Kamu ga tau sifat Melati. Dia ga akan tinggal diam kalo tau mas mengalami hal buruk ini. Dia pasti akan tinggalin semuanya demi untuk ketemu mas." jawab Ugi.


"Satria mungkin lebih paham sifat Melati dan segala impiannya." kata Ugi melirik Satria. Begitupun dengan Muna yang kemudian menoleh kearah sahabatnya. Ada sengatan di dada kirinya saat mendengar perkataan kakaknya. Bagaimana tidak, Muna tau betul bahwa Satria menyukai kakak iparnya itu.


"I-iya. Bener kata Mas Ugi." jawab Satria.


"Okey, terus, kenapa mbaknya ini ada di sini?" tanya Muna.


"Dia akan merawat mas selama Melati di luar kota." jawab Ugi.


"Apa? Mas Ugi udah ga waras ya? Mas, mas Ugi sadar ga sih, status mas Ugi itu apa? Mas Ugi tu suami orang mas, suaminya mbak Melati. Gimana kalau mbak Melati tau mas Ugi dirawat orang lain, dan itu perempuan yang bukan dari keluarga mas?" tanya Muna mulai jengkel dengan kakaknya sendiri.


"Kamu ga tau permasalahan mas dek." jawab Ugi mulai terpancing emosi.


"Permasalahan apa hah? Keadaan kaya gini, Muna pun bisa merawat mas, kalau memang mas ga mau mbak Melati tau. Bukannya malah ngasih peluang buat pelakor hadir di tengah rumah tanggamu mas." kata Muna dengan kepala memanas.


"Tutup mulutmu dek. Ga sopan kamu ngomong kaya gitu! Laili bukan pelakor, dia cuma berusaha untuk membalas jasa atas apa yang udah mas korbankan demi keselamatan ibunya." kata Ugi dengan nada tinggi.


"Tapi ga harus dengan dirawat perempuan lain kan mas?" tanya Muna dengan menahan tangisnya.

__ADS_1


"Kamu ga tau keadaan mas yang sebenarnya." kata Ugi.


"Emangnya seberapa lama sih hah? Separah apa keadaan mas?" tanya Muna.


"Mas Lumpuh. Puas kamu?" kata Ugi.


Seketika Muna dan Satria terksiap dengan perkataan Ugi. Mereka benar-benar terkejut dengan kenyataan yang baru saja mereka ketahui.


"Kenapa? Kamu kaget? Kamu mau ngerawat mas yang udah ga berdaya ini hah? Dan mas juga ga mau bikin Melati semakin menderita dengan keadaan mas sekarang. Semua ini demi Melati, demi kebahagiaan dia, mas ga mau dia tau tentang keadaan mas." kata Ugi dengan tangisan nya yang akhirnya tak terbendung.


"A-apa? Mas...mas Ugi lumpuh?" tanya Muna.


"Iya." jawab Ugi lirih.


"Mas udah ga guna dek. Mas ga bisa apa-apa." kata Ugi pilu sambil memukul-mukul kasur tempatnya berbaring.


"Mas..." kata Muna sambil memeluk Ugi dengan iba.


"Maafin Muna mas. Maaf." kata Muna.


Akhirnya malam itu, Muna menjaga Ugi bersama Satria. Sedangkan Laili kembali ke rumah rawat ibunya. Dan keesokan harinya, Satria kembali ke Jogja, setelah dia membelikan sarapan untuk Muna dan membelikan beberapa keperluan untuk Muna. Dan Muna menghubungi ibunya di kampung, melalui Wawan. Hingga siang harinya, Ibu Ugi bersama Wawan sudah tiba di rumah sakit untuk menjenguk Ugi.


"Yaa Allah le, kamu kenapa bisa jadi seperti ini?" tangis bu Yani sambil memeluk tubuh putranya iba.


"Maafin Ugi ya bu. Ugi udah ga berguna bu." kata Ugi menangis pilu dalam pelukan ibunya.


Bu Yani geleng-geleng.


"Engga le, kamu anak ibu yang kuat, kamu pasti bisa lalui semua ini. Kamu pasti sembuh, kamu pasti bisa bangkit lagi. pasti." kata bu Yani menyemangati.


"Ehm, istrimu mana le?" tanya bu Yani.


"Melati... baru keluar kota bu. Dia ada kontrak kerja di Jakarta." jawab Ugi.


"Apa? Disaat suaminya kaya gini, dia malah pergi dan ga pulang untuk merawat suaminya? Istri macam apa dia itu?" cerca bu Yani pada menantunya.


"Bu..." Muna berniat untuk meredam ibunya dengan memberi pengertian, begitupun dengan Ugi. Tetapi bu Yani yang sejak awal sudah kecewa dan tidak terlalu suka dengan Melati, membuat waktu ini menjadi celah baginya untuk menjelek-jelekkan Melati.


"Sudahlah, ibu juga tak suka sama dia. Sampai sekarang mana? Dia juga ga hamil-hamil juga, selalu karir yang dia utamakan. Perempuan macam apa itu?" Bu Yani masih tersulut emosi dengan kabar yang diketahuinya.


Muna dan Ugi tak mampu berkata apa-apa lagi, jika ibunya sudah mulai marah seperti itu. Mereka memilih diam daripada membuat ibunya semakin menjadi. Siang itu cuaca panas, rasanya semakin panas.

__ADS_1


__ADS_2