Seputih Melati

Seputih Melati
Tawaran


__ADS_3

Matahari telah semakin turun dan memancarkan cahaya kemerahan di waktu senja. Hari ini, cuaca sangat cerah, langit biru menghiasai keindahan di senja hari. Dan suara kompak anak-anak santri TPQ terdengar merdu di kampung yang rukun itu.


Senandung khotmil Qur'an, berlanjut dengan do'a kedua orang tua, dunia akhirat dan diakhiri dengan do'a penutup majlis, terdengar begitu kompak dan semangat. Tak berselang lama, terdengar santri TPQ menjawab sebuah salam, pertanda bahwa belajar mengaji sudah selesai dilaksanakan. Tampak di sekitar masjid, beberapa motor sudah berjajar rapi, untuk menjemput anak mereka, terutama yang rumahnya cukup jauh dari kampung damai itu.


Semenjak Latif dikabarkan hilang dan meninggal, karena jasadnya tidak ditemukan, Melati fokus menjalankan amanah dari Latif dengan sepenuh hati. Bahkan, sampai kini usianya sudah menginjak angka duapuluh, Melati masih terus semangat mengabdikan diri di masjid sederhana itu.


"Ya hati-hati ya." kata Melati setiap santrinya mencium punggung tangannya saat berpamitan untuk pulang.


Santri yang rumahnya jauh sudah pada pulang, sedangkan santri yang asli dari kampung itu sendiri, juga sudah pada pergi untuk jajan ke sebuah warung yang tak jauh dari masjid. Beberapa Remaja Masjid yang dia ajak untuk membantu mengampu TPQ, sedang asyik berbincang-bincang sendiri di beberapa sudut ruangan.


"Assalamualaikum mbak Melati." sapa bu Hj. Hanifah, salah seorang guru TK di kampung itu, dan sekaligus pemilik yayasan pendidikan anak usia dini di kampung sebelah yang tepatnya dipinggir jalan raya.


"Wa'alaikumsalam. Eh, bu Hajjah." sapa Melati sambil mencium punggung tangan ibu itu yang usianya sudah tak lagi muda.


"Sedang sibuk mbak?" tanya bu Hanifah.


"Alhamdulillah sudah tidak bu, ini adek-adek sudah pada pulang. Ada yang bisa saya bantu bu?" tanya Melati sopan.


"Ehm, saya mau bicara sebentar, bisa mbak?" tanya bu Hanifah.


"Bisa bu. Mari silakan." kata Melati mempersilakan bu Hanifah duduk di karpet teras masjid, dekat etalase perlengkapan TPQ, tempat dia biasa mengurus administrasi TPQ.


"Ehm, begini mbak. Kemarin saya dengar, mbak Melati sudah tidak masuk sekolah pagi ya?" tanya bu Hanifah.


"Iya bu. Alhamdulillah, saya sudah selesai kejar paket B, dan ini saya lanjut kejar paket C, tetapi jadwal masuknya siang, jadi kalau pagi, saya free." kata Melati.


"Oh, ya Alhamdulillah. Begini mbak Melati, tahun ini 'kan, yayasan Miftahul Jannah membuka program Taman Pentitipan Anak, dan Alhamdulillah kami sudah mendapatkan beberapa murid. Dan Alhamdulillah juga sudah ada bunda pengasuh, tetapi baru satu. Karena jumlah anak penitipan yang semakin hari semakin bertambah, beliau meminta saya untuk mencarikan teman." kata Hu Hanifah.


"Nah, jika mbak Melati tidak keberatan, saya melihat mbak Melati ini sabar sekali mengampu anak anak balita di TPQ, saya ingin mengajak Mbak Melati untuk ikut bergabung di yayasan kami, sebagai bunda pengasuh kelas Taman Penitipan Anak." kata bu Hanifah memberi tawaran dengan banyak pengharapan.

__ADS_1


"Oh, maasyaaAllah, dengan senang hati bu. InshaaAllah saya akan ikut bergabung." kata Melati antusias menerima tawaran itu.


"Tetapi, saya bisanya hanya setengah hari bu, karena ba'da dzuhur saya harus masuk sekolah." kata Melati.


"Iya mbak, gapapa. Nanti bisa diatur. Saya mengajar kelas Kelompok Bermain 'kan juga cuma sampai jam sebelas mbak, selebihnya saya free." kata bu Hanifah.


"Ya bu, InshaaAllah saya bisa." jawab Melati.


Saat Melati dan Bu Hanifah asyik berbincang. ternyata sudah masuk waktu maghrib, sehingga pak Wahid sudah mengumandangkan adzan maghrib.


"Ya sudah mbak Melati, saya tunggu besok di sekolahan ya mbak." kat bu Hanifah.


"InshaaAllah bu."


"Oh ya, berangkatnya jam tujuh ya mbak."


"Oh, ya bum InshaaAllah. Siap." jawab Melati lagi.


"Iya bu." jawab Melati.


Kemudian Melati dan bu Hanifah ke tempat wudlu untuk mensucikan diri, lalu ikut sholat berjamaah di masjid. Setelah sholat berjamaah, Melati yang sudah ditunggu kedua adiknya, segera mengajak si kembar Aldo Aldi menuju rumah mereka. Karena sore ini kedua adiknya pasti lapar karena belum makan.


Sesampainya di rumah, Aldo Aldi dan Melati dengan di temani nenek, makan bersama dengan menu sederhana, sayur sawi dan Ikan bandeng. Setelah makan, Aldo dan Aldi membantu Melati mencuci piring, lalu mereka bersiap untuk mengaji sambil menunggu adzan isya'.


💞💞💞


Keesokan harinya, Melati sudah membereskan semua urusan rumahnya, mulai dari cuci baju, cuci piring menyapu, dan memasak sudah diberesi semua. Kedua adiknya juga sudah berangkat sekolah dengan berboncengan menaiki sepeda gunung. Sedangkan Melati sedang mematut diri di depan cermin dengan membenahi jilbabnya, hari ini adalah hari pertama dia akan mengajar, meski statusnya hanya seorang pengasuh bayi, tetapi dia bekerja di lembaga pendidikan, sehingga bagi dirinya, ini adalah suatu lahan yang sangat baik bagi dirinya yang memang bercita-cita menjadi seorang guru.


"Nduk, kamu jadi mau ikut bu Hajjah Hanifah mengajar di sekolahannya?" tanya nenek.

__ADS_1


"InshaaAllah nek. Ini Melati sudah bersiap." jawab Melati.


"Alhamdulillah, semoga diberi kelancaran ya Nduk, semoga kamu betah di sana." kata nenek memberi motivasi


"InshaaAllah nek."


"Ya sudah nek, Melati pamit dulu ya nek." kata Melati sambil menenteng sebuah tas.


"Iya. Hati-hati ya nduk." kata nenek.


"Ya nek."


Melatipun segera menaiki motor matic nya. demenjak ibunya pulang tiga tahun lalu, Melati memang sudah sempat diajari ibunya mengendarai motornya, sehingga sejak saat itu, kemana-mana Melati sering menaiki sepeda motornya sendiri.


Sesampainya di sekolahan, Melati disambut hangat oleh bu Hanifah dan rekan kerja lainnya. Melati segera bergabung dengan anak-anak didik lainnya, dengan arahan bunda yang lain. Belum lama Melati bermain bersama anak-anak, tiba-tiba dirinya dipanggil bu Hanifah.


Ternyata, sejak tadi saat Melati bermain bersama anak-anak didik yang lain, dan fokus memperhatikan rekan mengajar nya sedang memimpin do'a, ada tamu yang datang dan berbincang cukup lama dengan bu Hanifah.


"Bu, seperti yang sudah saya sampaikan kemarin, saya jadi untuk menitipkan anak saya ini di sini ya bu. Maaf jika merepotkan." kata seorang bapak-bapak yang juga wali murid di sekolahan itu. Anak pertamanya sudah masuk kelas, tempat dimana Melati memangku seorang anak berusia satu tahun, sambil memperhatikan cara mengajar seniornya.


"Iya pak, dengan senang hati. InshaaAllah, Nanti juga sudah ada bunda pengasuh yang bertanggungjawab atas putri bapak." kata bu Hanifah.


"Saya panggil kan bundanya ya pak. Nanti akan saya beri kontaknya, agar bapak bisa berkomunikasi dengan beliau langsung terkait dengan perkembangan putri bapak." kata bu Hanifah.


"Baik bu." jawab bapak itu sambil masih menggendong seorang baby girl berusia satu bulan.


Bu Hanifah tampak berjalan memasuki sebuah ruangan, lalu kembali ke ruang tamu, tempat bapak itu duduk sambil menggendong baby nya.


"Ini pak, bunda yang akan mengasuh baby Tsabita." kata bu Hanifah.

__ADS_1


Saat Melati menatap orangtua dari baby malang yang dimaksud bu Hanifah, Melati terkejut dibuatnya. Dia benar-benar tak menyangka, akan bertemu dengan laki-laki itu. Seketika dia teringat dengan keterangan bu Hanifah, tentang Baby malang itu. Kenapa? Baby itu diterima di TPA dengan usianya yang masih sangat muda, karena suatu alasan yang membuat Melati mengiba dan mengiyakan untuk merawat baby Tsabita. Baby Tsabita adalah adik dari murid kelas KB bernama Dirgantara, yang baru satu bulan lalu kehilangan ibunya, karena ibundanya meninggal dunia saat melahirkan adiknya. Siapa gerangan ayah dari baby Tsabita? Penasaran? Yuk, lanjut di bab berikutnya.😉. Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberi jempol.


__ADS_2