
Malam itu, setelah rapat kecil keluarga membahas persiapan besok pagi, Melati masuk ke dalam kamarnya. Si Kembar sudah tertidur di ruang tamu bersama Wawan, pak Slamet dan Ugi. Sedangkan kamar Si kembar sudah ditempati bu Yani dan si bungsu Nur saat tadi Nur minta dikelonin ibunya.
"Ehm, dek. Mas tidur di luar aja sama si kembar, gapapa 'kan?" tanya Ugi saat mereka sedang di dapur. Melati usai dari toilet mengambil air wudlu untuk bersiap tidur, sedangkan Ugi dengan menyusul istrinya untuk berbicara kepadanya.
"I-iya mas. Gapapa." jawab Melati masih kaku.
Ugi tersenyum melihat rona wajah Melati yang tampak merona. Lalu Ugi mengecup kening Melati dengan cepat, takut dilihat anggota keluarga yang lain.
"Umuach."
Seketika Melati mematung, dan jantungnya berdetak sangat kencang, seperti atlet yang sedang lari maraton. Begitupun dengan Ugi yang baru sekali ini sengaja mencium istrinya dalam keadaan keduanya baik-baik saja.
"Selamat tidur." kata Ugi mengucap pucuk kepala Melati.
Melati masih menunduk malu, lalu mengangguk tanpa memberi jawaban.
Ugipun tersenyum. Lalu Melati melangkah meninggalkan tempat dia berdiri menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, Melati duduk di kasurnya sambil mengusap keningnya, sambil senyum-senyum sendiri.
"Cie...kenapa nih mbak Melati? Abis diapain sama masku mbak?" goda Muna yang sudah masuk kamar.
"Eh, Muna. Apaan sih Mun. Engga, ga ada apa-apa." kata Melati gugup berusaha tetap tenang dengan mengambil bantal untuk dia pangku.
"Ehm, barusan mas Ugi bilang sama aku mbak, aku suruh tidur di kamar mbak Melati aja. Karena Nur udah terlanjur tidur di kamarnya Aldo dan Aldi mbak." kata Muna.
"Sama siapa dia tidur disana?" tanya Melati khawatir.
"Sama ibu mbak."
"Oh, yaudah. Udah malem Mun, yuk tidur, besok takut kesiangan subuh nya." kata Melati.
"Ya mbak." jawab Muna yang kemudian duduk di kasur juga bersama Melati.
"Ini selimut untukmu." kata Melati menyerahkan sebuah selimut dari lemari bajunya.
"Ga usah mbak, Muna ga terbiasa tidur pake selimut." kata Muna menolak.
"Eh, apa ga dingin?" tanya Melati.
"Engga kok mbak." jawab Muna.
__ADS_1
"Mending selimutnya buat yang diluar mbak. Buat mas Ugi, tadi mas Ugi ga selimutan sendiri soalnya." kata Muna.
"Oh iya, lupa. Tadi mbak baru ngambilin selimut empat ya, buat bapak, Wawan sama si kembar." kata Melati menepuk keningnya.
"Ya udah sana mbak, anterin kemas Ugi dulu sana, keburu kedinginan dia." kata Muna yang sengaja membuat kedua kakaknya dekat supaya tidak canggung lagi.
"Ehm, kamu aja deh Mun." kata Melati.
"Hoah....Muna dah ngantuk mbak, dah ga kuat. Muna bobok duluan aja deh." kata Muna sambil memeluk guling di sampingnya dengan adegan tidur.
Melati tampak masih ragu, lalu diapun menuruti apa kata Muna. Melati keluar kamarnya, membuka pintu kamarnya lalu mencari sosok suaminya sambil membawa sebuah selimut berwarna jingga.
Ugi tak tampak di ruang tamu, Melati pun mencari keluar rumah, dan ternyata benar, Ugi sedang duduk di kursi sambil bermain ponsel.
"Ehem." deheman Melati berhasil mengalihkan perhatian Ugi.
"Eh, Melati? Kamu belum tidur?" tanya Ugi.
Melati menggeleng, lalu menyerahkan selimut itu.
"Buat mas." kata Melati.
Melati pun mengangguk.
"Terimakasih banyak ya...Sayangku." kata Ugi sambil mengerlingkan matanya. Seketika Melati merona wajahnya menahan malu.
"Sama-sama mas. Segeralah istirahat, udara malam tidak baik untuk kesehatan." kata Melati.
"Tentu." jawab Ugi dengan tersenyum menggoda.
"Melati permisi. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam, sayangku." kata Ugi sambil melihat punggung Melati yang sudah meninggalkannya ke dalam rumah.
πππ
Keesokan harinya, rumah Melati sudah ramai oleh tetangga dan saudara dekat, Seperti keluarganya pak Wahid. Melati memberi kabar pak Wahid, dan pak Wahid mengabarkan pada warga sekita, bahwa Melati akan melangsungkan pernikahan secara resmi di KUA.
Melati dihias oleh Muna dengan makeup sederhana dan seadanya namun istimewa. Melati juga sudah mengenakan gamis putih miliknya yang biasa dia pakai untuk pengajian bersama neneknya, dengan paduan jilbab putih juga yang dihias cantik oleh Muna.
__ADS_1
Begitupun dengan bu Yani dan Nur, mereka juga sudah siap dengan dandanan yang sederhana, tentunya tak kalah cantik juga juru riasnya, Muna. Dia juga sudah tampil cantik. Sepertinya memang Muna sudah menyiapkan semuanya, sehingga pakaian yang dikenakan keluarganya sesuai dengan suasana hari ini.
Ugi sudah tampak keren dengan kemeja putih yang dia tutupi dengan jas berwarna hitam milik Ayub. Ayub sudah menyiapkan semuanya dari ujung rambut sampai ujung kaki untuk penampilan Ugi kali ini.
Setelah semuanya siap, rombongan pengantin pun segera menuju kantor KUA.
Kedua mempelai menaiki mobil Widi, sedangkan keluarga mempelai menaiki mobil milik Ayub.
Sesampainya di kantor KUA, kedua mempelai dipersilakan duduk di kursi depan, tempat porsesi ijab qobul, sedangkan pihak keluarga duduk di kursi tamu yang berjajar di belakang meja prosesi.
Pak Haji Karyo sudah duduk di sana bersama seorang petugas KUA yang diamanahi menjadi seorang penghulu. Kemudian proses akad nikah segera dimulai dengan khidmad. Melati dan Ugi diminta untuk menandatangani surat nikah berwarna merah dan hijau, lalu mengisi beberapa berkas yang harus diisi. Kemudian barulah ikrar ijab Qobul mulai di kumandangkan.
Pak Wahid siap menjabat tangan Ugi, sebagai wali nikah Melati, sedangkan Widi, dan Ayub menjadi saksi nikah Mereka.
"Saudara Mugi Raharja bin Slamet." kata pak Wahid.
"Ya, saya." jawab Ugi tegang.
"Saya nikah kan dan saya kawinkan anda, dengan keponakan saya, Sekar Melati Sukma binti Wahyudi, denga mas kawin uang senilai dua ratus dua puluh dua ribu rupiah, dibayar tunai." kata pak Wahid.
"Saya terima nikah dan kawinnya Sekar Melati Sukma binti Wahyudi dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai." kata Ugi lantang lancar tanpa cacat.
"Bagaimana para saksi, sah?" tanya penghulu.
"Sah..." semua serempak menjawab kata yang sama.
Melati mencium punggung tangan Ugi dengan penuh Khidmad, hingga tak terasa air matanya membasahi tangan Ugi. Tangan kiri Ugi memegang kepala Melati dengan lembut, lalu setelah dirasa cukup, penghulu meminta agar Ugi mencium kening Melati.
Ugi mencium kening Melati dengan cukup lama, Melati memejamkan matanya, mencoba meresapi rasa yang hadir di dalam dirinya.
Kini, Melati telah sah menurut agama dan negara sebagai istri Ugi. Sehingga Melati merasa sudah ada sandaran dan tumpuan hidup semenjak dia ditinggal bapak dan neneknya. Semua tanggung jawab pak Wahid sebagai wali nya, kini berpindah pada Ugi sebagai suaminya.
Setelah itu, Melati dan Ugi diarahkan penghulu untuk sungkem pada kedua orang tua Ugi dan pada Pak Wahid serta istrinya.
Pernikahan berjalan lancar, dengan suka cita dan penuh rasa haru. Karena kemarin setelah merasakan perasaan Duka cita, kini diganti dengan perasaan suka cita.
πππ
Buat para readerku tercinta, jika berkenan, dieprsilakan mampir di novel Dede kisah kasih keluarga dampit ya. Dan mohon dukungannyaππ
__ADS_1