
Malam itu, sepulang dari masjid, Latif memilih untuk pergi keluar melepaskan penat dan berusaha menepis kegalauan nya terhadap gadis yang disukainya. Latif pergi dengan mengendarai motornya, melewati rumah Melati.
"Aldo, Aldi, kalian udah mengerjakan PR belum?" tanya Melati kepada kedua adik kembarnya setelah dia selesai bertadarus.
"Hehe, belum mbak." jawab Aldo yang tadi baru saja masuk rumah.
"Ya udah, ayo belajar dulu. Mbak bantuin." kata Melati mendekati kedua adiknya.
"Ambil tasnya." titah Melati.
Melatipun mendampingi kedua adiknya mengerjakan PR, lalu dilanjut dengan murojaah dan belajar membaca IQRO' dab buku baca. Sedangkan Nenek, di rumahnya, karena melihat ketiga cucunya sehat dan tidak ada masalah.
Belum selesai Melati menyimak bacaan Iqro' Aldi, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Tok tok tok
"Assalamualaikum." suara salam yang cukup keras. Aldo segera berdiri dan membukakan pintu.
"Wa'alaikumsalam." jawab Aldo dan dua saudara kandungnya.
"Bu Desi?" gumam Melati lalu beranjak dari duduknya. Melatipun berjalan mendekati bu Desi.
"Mana anakku?" tanya Bu Desi dengan intonasi kurang bersahabat.
"Anak? Maksud bu Desi...mas Latif?" tanya Melati.
"Ya siapa lagi? Anakku yang ada di sini kan cuma Latif." jawab bu Desi ketus.
"Ehm, tapi, maaf bu, Melati tidak tau bu." jawab Melati.
"Ehm, tadi... mas Latif kaya naik motor keluar mbak." kata Aldo.
"Keluar kemana?" tanya bu Desi kepada Aldo.
"Eng engga tau bu." jawab Aldo.
"Aldo tadi pas mainan di luar, ngelihat mas Latif naik motor dan keluar dari rumah gitu aja." jawab Aldo.
Q"Hem... Melati, asal kamu tau ya, aku ga ridho, kalau anakku pacaran sama kamu. Kamu itu jadi orang ngaca dong, sadar diri, kamu itu siapa! Jangan pernah berharap kamu bisa pacaran sama Anakku!" hardik bu Desi.
"Pacaran? Maaf bu, tapi Melati ga pacaran sama mas Latif." jawab Melati mencoba membela diri.
"Apa? Ga usah bohong kamu! Kamu kira, dengan aku pergi ke luar kota, aku ga tau kabar yang lagi beredar di kampung ini hah? Kamu kira aku ga tau, apa yang udah kamu lakukan sama anakku? Dasar perempuan ga tau diri!" cacian bu Desi semakin menjadi, membuat Melati semakin tertekan. Kedua adik Melati memeluk Melati dengan raut wajah ketakutan, karena melihat sikap bu Desi yang tidak bersahabat.
Karena suara bu Desi cukup kencang, membuat nenek mendengar ada kericuhan di rumah anaknya.
__ADS_1
aqAda apa ini? Eh, ada bu Desi." nenek muncul dari pintu belakang.
"Nah, kebetulan ada nenek." kata bu Desi dengan angkuh. Dengan make up tebal, rambut di gelung, sambil menjinjing tas branded keluaran terbaru, berwarna merah hati, dan kedua tangannya yang penuh dengan hiasan gelang gemerincing juga beberapa cincin yang melingkar di beberapa jarinya. Serta kalung emas berliontin dan kalung besar dengan berat yang lumayan, menghiasi lehernya. Dresnya yang 10 cm di bawah lutut dengan warna Pink soft, membuat sosok bu Desi tampak cantik, tetapi kecantikannya tertutup oleh wajahnya yang saat ini sedang dilanda amarah. Sepatu high hils nya dengan harga berjuta-juta, juga tak dilepasnya saat memasuki rumah Melati.
"Bilangin ini cucumu, jangan pernah genit sama anakku! Anakku ga level sama cucumu! Lihat saja, cantik engga, kaya engga, bahkan berpendidikan pun juga engga, bisa-bisanya dia genit merayu anakku, sampai akhirnya anakku suka sama perempuan kaya cucumu! Aku ga pernah rela anakku berpacaran sama cucumu! Dan jangan pernah berharap, kalian bisa dekat lagi sama anakku! Karena anakku akan aku ajak pergi!" kata Bu Desi sambil melangkahkan kakinya pergi meninggalkan rumah Melati.
"Dengar itu!" hardik bu Desi lagi.
"Astagfirullah, astaghfirullahal'adzim." kata Melati Lirih sambil memeluk kedua adiknya dengan tangisan.
"Mbak, mbak Melati jangan nangis mbak." kata Aldo dan Aldi sambil mengelus punggung mbaknya.
"Engga, mbak gapapa." kata Melati sambil memeluk kedua adiknya.
Nenek hanya diam dan berdiri melihat kejadian tadi.
"Aldo Aldi, ayo masuk kamar. Istirahat." kata nenek sambil menarik tubuh kedua cucunya dari pelukan mbaknya.
Melati masih terisak, dan mengangguk, memberi isyarat pada kedua adiknya untuk mengikuti neneknya masuk kamar.
Aldo dan Aldi pun membereskan alat belajarnya, dan mematuhi perintah neneknya. Mereka masuk kamar dengan di temani nenek, sedangkan Melati masih duduk di ruang tamu dengan tangisan pilu.
"Ya Allah, apa salahku? Aku ga pernah menganggap mas Latif lebih, aku hanya menganggapnya kakakku. Kenapa jadi begini? Kenapa mas Latif menyukaimu, yang akhirnya justru membuat ibunya sangat marah? Kenapa semua berita bohong ini harus berkembang di kampung ini? Kenapa?" batik Melati.
Tak lama kemudian, ponsel Melati berdering, suara panggilan dari ibunya.
"Halo, ibu." Melati membuka percakapan dengan sesekali terisak.
"Halo sayang, kamu kenapa nak? Kamu menangis?" tanya bu Fatma dari seberang.
"Ibu... kapan ibu pulang?" tanya Melati.
"InshaaAllah mau lebaran ini Mbak. Kenapa sayang?" tanya bu Fatma.
"Ibu cepat pulang ya bu. Melati kangen." kata Melati.
"InshaaAllah."
"Adik-adik dimana Mbak?"
"Mereka udah diajak bobok sama nenek bu."
"Ini kan masih sore."
"Iya bu, mereka sudah ngantuk." jawab Melati.
__ADS_1
"Mbak..."
"Ya bu?"
"Apa kabar yang beredar di kampung itu benar?" tanya bu Fatma.
"Maksud ibu?"
"Desas desus di kampung, pada membicarakan kamu mbak. Mereka bilang, kamu sama mas Latif pacaran ya?" tanya ibu.
Melati kembali menangis, dan semakin kencang.
"Engga bu, Seperti yang ibu tau, Melati sama mas Latif ga ada hubungan apa-apa bu. Seperti yang ibu bilang, Melati hanya menganggap mas Latif sebagai kakak Melati sendiri bu." kata Melati.
"Tapi, warga kampung lagi membicarakan kalian mbak, mereka bilang mas latif dan mbak Melati pacaran.!βkata bu Fatma.
"Sungguh bu, Melati ga ada hubungan apapun sama mas Latif, kami cuma sebatas kakak adik."
"Tapi,..." kata kata Melati terputus.
"Tapi mas Latif menyukaimu kan?" tebak bu Fatma.
Melati hanya diam membisu.
"Mbak, Ibu tau ini bukan murni kesalahan mbak Melati. Dari awal, ibu menitipkan mbak Melati dan adek adek kepada pak Wahid. Dan peran pak Wahid, sering digantikan mas Lagi, karena mas Latif memang tulus membantu kita mbak. Namun, memang, hal yang wajar ketika seorang bujang, yang sering membantu seorang gadis, akan tumbuh suatu rasa yang berbeda." kata bu Fatma.
"Meski umur kita terpaut jauh bu?" tanya Melati.
"Iya." jawab bu Fatma.
"Tapi barusan bu Desi datang ke rumah, dan marah-marah bu." kata Melati sambil menangis.
"Astagfirullah. Lha terus gimana mbak? Ada nenek ga?" tanya Bu Fatma kaget.
"Awalnya ga ada bu, tetapi karena suara bu Desi keras, nenek pun datang. Dan malah genti nenek yang di marahin bu hiks hiks." kata Melati dengan terisak.
"Sabar mbak... InshaaAllah, akan ada hikmah dibalik semua ini. Ibu yakin mbak Melati kuat." kata bu Fatma menguatkan anak sulungnya.
Setelah bertelponan dengan ibunya, Melati mengambil air wudlu dan menjalankan sholat isya' setelah tadi dia mengalami hal yang kurang nyaman. Melati mengadukan nasibnya kepada sang pencipta. Dia menangis menumpahkan segala beban kepada Allah ta'ala.
πππ
Kepada para reader, ada yang udah baca karya Dede yang berjudul titip dia yaa Allah belum ya?
Nah, ini ada sangkut pautnya lho sama karya titip dia yaa Allah. Apa hubungannya?
__ADS_1
Okey, nantikan terus Seputih Melati di bab berikutnya ya?
Terimakasih atas dukungannya.π€π€ππ