Seputih Melati

Seputih Melati
Mengikhlaskan


__ADS_3

Acara resepsi pernikahan Melati dengan Dewa telah selesai dilaksanakan. Melati melepas segala pernak-pernik pengantin, dan menghapus make up saat akan menunaikan ibadah sholat dzuhur. Saat akan sholat Dzuhur, Melati sholat sendiri di kamarnya, sedangkan Dewa sholat di masjid.


Ceklek.


Suara handel pintu dibuka, Melati yang baru saja selesai sholat, menoleh ke arah pintu, dan tampak seorang laki-laki tampan dengan wajah bersih, masih dengan kopiah hitam di kepalanya. Laki-laki tampan berkemeja putih itu tersenyum dia bang pintu, Melati tampak terkesima dengan karisma pria yang masuk kamarnya itu.


"Assalamualaikum." salam Dewa.


"Wa'alaikumsalam, mas." jawab Melati, yang kemudian hendak berdiri, namun Dewa mencegahnya. Dewa meminta Melati untuk tetap duduk diatas sajadahnya, dengan mukena yang masih menempel di tubuhnya.


Dewapun menghampiri Melati, lalu duduk di depan Melati, Melatipun mengulurkan tangannya untuk minta salim pada suaminya. Dewa menyambutnya dengan suka cita, dan tangan kirinya mengusap kepala Melati lalu berlanjut mengusap punggung Melati. Kemudian Dewa mengangkat wajah Melati dengan memegang dagu Melati dengan jari kanannya. Perlahan Dewa mendekatkan wajahnya, lalu Dewa mengecup kening Melati, cukup lama, lalu akan turun ke bawah, menuju bibir ranum Melati, namun saat akan menikmati ciuman pertamanya, tib-tiba.


"Bunda..." panggil Dirga yang sudah nyelonong masuk ke dalam kamar Melati tanpa permisi.


"Eh, kakak." seketika Dewa melepaskan mangsanya. Dewa memundurkan dirinya dari Melati, dan tampak Melati tersenyum kepada Dirga.


"Ada apa kak?" tanya Melati lembut.


"Om kembar jahat. Om Kembar cuma sayang sama adek, engga sayang sama kakak." adu Dirga sambil cemberut.


"Lhoh. kok bisa?" tanya Melati.


"Kakak ga boleh ikut mainan sama om kembar." kata Dirga lagi masih cemberut.


"Oh... ya udah, bunda anterin ke om kembar ya. Biar bunda kasih tau om kembar ya." kata Melati memberi pengertian.


Dewa hanya diam dengan wajah kesal, Melati melirik mimik wajah Dewa yang tampak kesal, Melati justru tersenyum melihat tingkah lucu ayah Dirga itu.


"Bunda lepas mukena dulu ya " kata Melati.


Dirga mengangguk polos.


Saat Melati akan melepas mukena, Melati menoleh ke arah Dewa. Rasanya Melati masih canggung jika akan melepas mukenanya sedangkan dia belum berjilbab.


Dewa melihat gelagat Melati


"Apa aku harus keluar dulu?" tanya Dewa.


Melati tersenyum malu.


"Okey, daripada aku khilaf lagi " kata Dewa keluar dari kamar, tetapi tidak dengan Dirga yang masih tetap menunggu Melati memakai jilbab.


Setelah berganti pakaian, Melati menggandeng tangan Dirga keluar dari kamarnya dan membawa Dirga ke tempat si kembar berada, dan membujuk Dirga untuk mau bermain dengan adiknya. Namun Dirga masih belum mau, sehingga Melati harus menemani Dirga dan Tsabita bermain bersama.


Hingga saat Melati sedang asyik menyuapi Dirga sambil memangku Tsabita, tiba-tiba Melati dipanggil seseorang.


"Melati."

__ADS_1


Melati yang sudah berganti pakaian dengan pakaian yang lebih sederhana menoleh ke sumber suara.


"Satria?" gumam Melati.


"Selamat ya." kata Satria dengan senyum yang dipaksakan.


"Terimakasih Sat." jawab Melati dengan menundukkan pandangannya.


"Maaf, aku tidak bisa hadir di acara resepsimu."


"Iya, gapapa."


"Aku ga nyangka, kalau ternyata kamu justru akan menikah dengan pak Dewa." kata Satria yang tak melepaskan pandangannya dari wajah ayu Melati. Melati tak menyahut, Melati masih fokus memangku Melati sambil memainkan sop di tangannya, karena Dirga sudah berlari entah kemana, sehingga kegiatan Melati untuk menyuapi Dirga tersendat.


"Maaf. Aku juga baru tau kabar duka mu. Kabarmu yang diceraikan mas Ugi, dan kabar tentang kamu keguguran. Aku pikir, acara resepsi ini adalah acara resepsi pernikahan mu dengan mas Ugi." kata Satria.


"Ya. Gapapa." jawab Melati singkat.


"Muna baru menceritakan semuanya sama aku kemarin, saat dia memberikan undangan pernikahanmu." kata Satria.


"Oh, iya. Gapapa."


"Apa kamu bahagia?" tanya Satria.


"InshaaAllah."


"Harusnya...aku tau lebih awal tentang masa sulitmu, dan untuk yang kesekian kalinya, aku ga bisa dampingi masa sedihmu." keluh Satria.


"Ga masalah." jawab Melati dingin.


"Sahabat macam apa aku ini? Selalu tidak ada disaat kamu berada dalam masalah."


"Ga usah menyalahkan diri sendiri. Aku aja ga nyalahin kamu." kata Melati.


"Tapi aku..."


"Ada Allah yang selalu menguatkan hatiku, ada Allah yang selalu mengirimi aku pertolongan melalui orang-orang baik, meski itu bukan kamu." kata Melati.


Satria menatap wajah Melati. Ada perasaan bersalah yang mendalam pada hati Satria. Karena pada saat kejadian Melati di talak, hingga Melati keguguran, Satria pulang ke Papua, karena Satria mendapat kabar bahwa ayahnya sakit, dan dirawat di rumah sakit.


"Mel..."


"Ehm,...sebenernya aku..." kata Satria tercekat di tenggorokan, rasanya berat baginya untuk melanjutkan kata-katanya. Namun, belum sempat dia lanjutkan kata-katanya, Dewa sudah datang menghampiri Melati.


"Yaa Allah sayang, kamu disini ternyata? Aku cariin kemana-mana juga." kata Dewa yang spontan merangkul pundak Melati, yang membuat hati Satria semakin tersayat. Satria melihat Melati dipeluk Dewa, merasa jantungnya semakin merasakan rasa yang menyakitkan baginya. Satria mengalihkan pandangannya dari Melati yang sejak tadi dia nikmati.


"Eh, ehm, iya mas. Ini tadi aku nyuapin kak Dirga, dan adek minta pangku, ternyata malah tidur." kata Melati yang menunjuk Tsabita yang tengah tertidur lelap dalam pangkuannya.

__ADS_1


"Yaa Allah adek...Sini, biar aku pindah dia ke kamar." kata Dewa yang kemudian menggendong tubuh Tsabita.


"Eh, ehm, kamu...?" sapa Dewa dengan mencoba mengingat-ingat sosok laki-laki dihadapannya sambil menggendong Tsabita, menoleh ke arah Satria.


"Satria pak." kata Satria sambil mengulurkan tangannya untuk mengajak Dewa bersalaman.


"Oh, iya. Satria. Teman dekatnya Melati sama Zia ya?" kata Dewa.


"Iya pak." jawab Satria.


"Oh, ya. Silakan dilanjut saja ngobrolnya, saya bawa adek ke kamar dulu ya." kata Dewa ramah.


"Iya pak." jawab Satria.


Satria dan Melati pun melanjutkan obrolan mereka, namun diantara keduanya masih saling canggung dan saling diam.


"Kamu, apa kabar?" tanya Melati mencoba memulai percakapan Mereka agar tidak terasa canggung.


"Ya, seperti inilah. Masih merasakan patah hati untuk yang kedua kalinya." jawab Satria.


Melati mendongak, menatap Satria.


"Apa maksudmu?" tanya Melati.


"Harusnya aku tidak egois, mementingkan urusanku sendiri, hingga aku selalu terlambat untuk hadir di hidupmu." kata Satria.


Melati menoleh ke arah kanan dan kiri, Melati khawatir ada orang lain mendengar ucapan Satria.


"Satria...kamu...?"


"Iya Mel. Sesungguhnya aku suka sama kamu sejak awal kita ketemu. Aku ingin dekat denganmu karena aku menyadari, bahwa aku ternyata suka sama kamu. Tapi jarak diantara kita, membuatku harus menutup diri darimu. Aku harus menyelesaikan urusanku, baik urusan pendidikan maupun urusan keluargaku." kata Satria.


"Sebenarnya aku..." belum sempat Satria melanjutkan, Melati sudah mencegahnya.


"Cukup Sat. Cukup. Kamu sadar ga sih, aku ini sudah menjadi istri orang? Tak sepantasnya kamu mengatakan itu pada ku." kata Melati.


"Aku kira, kamu akan bahagia bersama mas Ugi, dan aku ikhlaskan kamu dengannya. Aku mencoba ikhlas saat itu. Aku berusaha untuk melupakan rasa yang pernah tumbuh dihatiku, tapi..."


"Cukup Sat, cukup." kata Melati dengan suara lebih keras.


Beberapa pasang mata tampak menoleh ke arah mereka berdua, Melati yang menyadari itu mengusap wajahnya, dia khilaf karena terbawa emosi.


"Aku ga bisa menunggumu, aku hanya menjalani takdir ku. Dan aku ga akan pernah menyalahkan siapapun itu yang pernah menyisakan luka di hatiku. Aku akan berusaha untuk memaafkan mereka, dan aku akan fokus dengan takdir Allah yang sekarang. Jadi aku mohon, ikhlaskan aku, lupakan aku. Aku yakin, akan ada gadis yang lebih baik dariku, untuk kau jadikan pendamping hidupmu." kata Melati.


"Mel..." Satria masih akan mencoba bicara, namun Melati kembali mencegahnya.


"Maaf, aku harus menemui tamu ku yang lain." kata Melati sambil berusaha menjauh dari Satria.

__ADS_1


__ADS_2