
Semalam suntuk Melati tak bisa tidur, dia terus kepikiran dengan kejadian tadi siang. Kejadian kedua adiknya sempat hilang, kedatangan tamu tak diundang, hingga permintaan nenek yang ga gampang. Melati bingung harus bagaimana, di satu sisi kata-kata nenek ada benarnya. Disisi lain, dia masih ingin menghabiskan masa mudanya dengan berkarya, berkarier dan meraih cita-citanya.
"Aku harus bagaimana yaa Allah?" batin Melati merintih.
Ingin rasanya Melati curhat, menceritakan semua rasa yang bercampur di hatinya, namun diapun bingung mau cerita dengan siapa. Karena dia bersikukuh dengan prinsipnya agar tidak bercerita pada ibunya, sebelum ibunya menelpon dirinya. Dia juga ingin curhat kepada Zia sahabatnya, tetapi jika Zia tidak menghubungi duluan, dia juga sungkan, takut mengganggu aktivitas Zia. Sehingga semua dia pendam sendiri malam itu, hingga jam tiga dini hari setelah dia melaksanakan sholat malam, dan ditutup dengan witir kemudian dia lanjutkan mengaji kalamullah, barulah dia bisa tidur.
Hingga kedua adik Melati membangunkannya.
"Astagfirullah, Mbak Melati nih, udah jam segini belum bangun..." kata Aldo sambil melipat kedua tangan di dada dan geleng-geleng kepala.
"Mbak, mbak Melati, mbak. Mbak!" panggil Aldo dan Aldi bersamaan sambil menggoyangkan tubuh Melati.
"Hoam.... ehem...? Ada apa sih dek?" tanya Melati dengan suara khas orang bangun tidur.
"Subuh mbak, udah jam berapa ini? Mbak Melati belum sholat subuh." omel Aldo.
"Astagfirullah. Jam berapa ini?" kata Melati terperanjat langsung posisi duduk dengan wajah kebingungan.
"Ini udah jam enam mbak." kata Aldo.
"Astaghfirullahal'adzim. Bentar, mbak sholat dulu." kata Melati sambil berdiri lalu menuju kamar mandi untuk melakukan ritual pagi, sebelum menunaikan ibadah sholat subuh.
Aldo dan Aldi hanya geleng-geleng dengan sikap mbaknya yang aneh hari ini.
Aldo dan Aldi sudah selesai mandi sejak tadi, sejak mereka pulang dari masjid. Sebenarnya mereka ingin membangunkan mbaknya sejak tadi jam lima, tetapi mereka tidak berani. Namun mbak nya belum bangun juga, sampai jam enam pagi, sedangkan mbaknya belum sholat subuh, mereka teringat pesan mbaknya.
Setelah selesai sholat, Melati menahan rasa pusing di kepalanya akibat kaget karena dibangunkan dua adik kembarnya. Melati segera ke dapur menyiapkan segala persiapan untuk keberangkatan adiknya ke sekolah.
"Kalina udah mandi belum?" tanya Melati sambil mengambil beras.
"Udah mbak."
"Bentar ya mbak masakin nasi dulu." kata Melati.
"Hari ini kita upacara lho mbak, berangkatnya lebih pagi." kata Aldi sambil memakai sepatunya.
"Ah, iya. Senin ya? Haduh, maafin mbak ya. Apa kalian mbak beliin sarapan di bude Atik dulu aja ya." kata Melati pasrah karena waktunya sudah tidak cukup.
"Biar kita beli sendiri aja mbak. Mbak Melati beres-beres aja, nanti mbak Melati kesiangan lho masuk ke sekolahannya." kata Aldo.
"Ah, iya. Ide bagus." kata Melati sambil mengambil uang di dompetnya.
"Ini, kalian tolong beli sarapan nasi kuning dua porsi ya." kata Melati sambil menyerahkan uang dua puluh ribuan kepada Aldo
"Emang, mbak Melati ga mau?" tanya Aldo.
"Ehm... ga usah. Nanti mbak gampang." kata Melati.
"Ya mbak." kata Aldo sambil mengambil sepedanya.
Aldo segera membeli nasi kuning untuk sarapan dirinya dan Aldi. Sepeninggal kedua adiknya, Melati masih berkutat di dapur dengan aktivitasnya menyiapkan sayur untuk makan siang kedua adiknya, sambil menunggu nasi di magic com matang.
Kemudian, dia sambi menyapu rumah, dan mencuci beberapa piring dan wadah makanan semalam. Adiknya sudah kembali, Melati pun menyiapkan piring dan sendok untuk keduanya.
__ADS_1
"Dasi, sepatu hitam, kaos kaki putih, topi udah semua belum?" tanya Melati sambil terus beraktivitas di dapur.
"Sudah mbak." jawab keduanya sambil makan nasi kuning yang mereka beli.
"PRnya udah dikerjain belum? Udah masuk tas belum?" tanya Melati lagi.
"Udah mbak." jawab Aldo dan Aldi bersama.
Sudah menjadi rutinitas bagi Melati setiap pagi memastikan barang bawaan kedua adiknya tidak ada yang tertinggal.
"Ehm, hari ini mbak bawain telur ceplok dulu aja ya dek buat bekel nya. Waktu mbak ga cukup ini." kata Melati sambil menyiapkan bekal untuk kedua adiknya.
"Iya mbak." jawab Aldo dan Aldi kompak.
Setelah selesai sarapan, dan bekal mereka juga sudah matang, Aldo dan Aldi pamit berangkat duluan. Biasanya, setiap pagi, Aldo dan Aldi memang kalau berangkat sekolah selalu bersama Melati. Sekalian Melati berangkat mengajar. Namun tidak untuk hari ini, scedule Melati terasa berantakan tak karuan. Badan Melati juga terasa pusing.
Namun meski begitu, Melati tetap menyelesaikan urusan rumahnya, hingga jam tujuh dia baru bisa mandi dan bersiap berangkat mengajar. Melati tak sempat mengambil ponselnya untuk menghubungi pihak sekolahan.
πππ
Didegung Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini.
"Assalamualaikum bunda." salam bunda Novi kepada bu Hayati.
"Wa'alaikumsalam bunda." jawab bunda Hayati selaku kepala sekolah yang selalu stay pagi di gedung sekolahan. Karena memang bunda Hayati menempati gedung itu untuk tempat tinggalnya. Rumah di kampung nya Melati, itu sekarang sudah dia berikan pada anaknya, sehingga bu Hayati memilih untuk menghabiskan masa tuanya semenjak pensiun untuk tinggal di gedung yayasan yang didirikannya.
"Bunda Melati kemana bun? Tumben belum datang?" tanya bunda Novi celingak celinguk.
Tak berapa lama kemudian, Sebuah mobil berhenti di depan gedung.
"Waduh bunda, itu baby Tsabita sudah datang, bunda Melati belum datang, gimana bun?" tanya bunda Novi yang memang suka heboh sendiri.
"Sementara biar sama saya dulu." jawab bu Hayati tenang.
"Assalamualaikum bunda." salam Dewa.
"Wa'alaikumsalam kakak Dirga dan dek Tsabita." jawab Bunda Hayati dan bunda Novi bersamaan.
"Kak Dirga ke kelas dulu naruh tas sama bunda yuk." ajak bunda Novi sambil memggandandeng tangan Dirga setelah Dirga mencium tangan bunda Hayati dan bunda Novi.
"Ya bunda." jawab Dirga menurut.
"Ehm...maaf bunda. Bunda Melati nya kemana ya bun?" tanya Dewa celingak celinguk.
"Itu dia pak, kami juga masih menunggu kabar. Tidak biasanya bunda Melati datang terlambat atau tidak ada kabar seperti ini. Biasanya kalau sakit, beliau memberi kabar pak." jawab bunda Hayati.
"Oh..."
"Melati, kamu dimana? Kamu kemana? Apa yang terjadi sama kamu? Kenapa baru sehari ga ketemu aja rasanya aku udah ingin ketemu kamu lagi? Gimana dengan Tsabita tanpa kamu disini?" batin Dewa gusar.
"Ehm, Dek Tsabita, sama bunda Hayati dulu yuk." ajak bunda Hayati.
"Oh, sama bunda gapapa?" tanya Dewa merasa ragu.
__ADS_1
"Iya pak. Biasanya kalau siang 'kan juga sama saya kalau bunda Melati berangkat sekolah." kata bunda Hayati.
"Iya juga sih." batin Dewa.
"Kenapa aku se khawatir ini tanpa melihat batang hidung mu Melati. Ah, Dewa...Dewa." batin Dewa merutuki pikirannya sendiri.
"Sini sayang, sama bunda." kata Bu Hayati dengan tangannya sudah siap menggendong baby Tsabita.
"Oh, ya bunda. Adek sama bunda Hayati dulu ya nak." kata Dewa sambil menyerahkan baby Tsabita kepada bunda Hayati.
"Adek baru aja bangun bunda, jadi mungkin dia minta bobok nya masih agak nanti." kata Dewa menjelaskan tentang keterangan sebelum masuk penitipan.
"Oh, ya. baik pak." jawab bu Hayati.
"Ya sudah bu, saya pamit dulu. Karena hari ini upacara, saya harus berangkat lebih pagi" kata Dewa.
"Baik pak." kata bu Hayati.
"Ayah..." panggil Dirga dari kelasnya, lalu berlari menyusul Dewa.
"Eh, kakak. Ada apa kak?" tanya Dewa sambil berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan putranya.
"Hati-hati ya ayah. kakak sayang ayah." kata Dirga.
"Ayah juga sayang sama kakak." jawab Dewa.
"Bunda Melati mana? Kok adek sama bunda Yati?" tanya Dirga menoleh pada adiknya.
"Bunda Melati belum datang sayang, digendong bunda dulu gapapa 'kan?" tanya bunda Hayati.
"Gapapa bunda." jawab Dirga.
"Yaa sudah, nanti selama bunda Melati belum datang, tolong kakak ikut bantuin bunda Hayati jagain adek ya." kata Dewa sambil mengelus kepala Dirga.
"Ya ayah." jawab Dirga.
"Ayah sekolah dulu."
"Ya ayah. Hati-hati ayah."
"Tentu nak."
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." jawab bu Hayati dan Dirga bersamaan.
Dewapun melangkah ke mobilnya dan melaju pergi ke sekolahan tempat dia mengabdikan diri selaku guru sekaligus abdi negara.
πππ
Maaf ya reader. Author lama up nya. Kalo mau nulis ketiduran terusπ maaf ya.
rencananya sih, author mau jodohin Melati sama pak Dewa, selaku pemain yang muncul sejak awal...tapi ikuti terus perjalanan mereka ya...hehe
__ADS_1