Seputih Melati

Seputih Melati
Janda Vs Duda


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit Melati pulang ke rumahnya, setelah dua hari satu malam tinggal di rumah sakit. Keadaan Melati sudah membaik, namun, Melati masih belum diperbolehkan beraktivitas banyak, sehingga saat pulang ke rumah, Melati diantar Dewa dengan mengendarai mobil bersamaan dengan Tsabita yang juga sudah diijinkan pulang. Motor Melati dibawa Guntur, hal itu atas rekomendasi Dewa, agar Melati tetap bisa pulang dengan diantarkan olehnya.


"Bunda...adek...ayah..." teriak Dirga saat mereka telah tiba di rumah Melati. Dirga segera menghambur ke dalam pelukan Melati, lalu memeluk ayahnya dan terakhir dia menciumi adiknya yang masih digendong Dewa. Bu Fatma hanya bisa tersenyum melihat polah tingkah Dirga yang sudah menganggap Melati sebagai ibunya.


"Alhamdulillah, kakak sehat?" tanya Dewa.


"Sehat ayah." jawab Dirga semangat.


"Nakal ga dirumah bunda Melati?" tanya Dewa.


"Engga dong. Om kembar sama nenek, baik banget sama kakak." jawab Dirga.


"Anak hebat." kata Dewa sambil tangan kanannya mengacak rambut Dirga.


"Pak Dewa, sebaiknya makan dulu saja bersama-sama ya." ajak bu Fatma.


Dewapun menyetujuinya, karena atas permintaan Dirga yang merengek belum mau pulang. Lalu merekapun makan bersama di rumah Melati. Wajah Melati masih tampak pucat, dan dia mulai mual muntah lagi saat makan berlangsung.


"Huwek...huwek..." Melati segera berlari ke toilet untuk memuntahkan isi perutnya.


"Mbak, kamu kenapa? Kamu masuk angin?" tanya bu Fatma yang ternyata mengikuti Melati sampai di Toilet dan membantu Melati dengan memijit tengkuknya.


Melati hanya diam. Dia belum berani mengatakan kabar yang sebenarnya kepada ibunya, dia takut, kabar ini akan membuat ibunya semakin sedih atas nasib yang sedang menimpanya. Melati menggeleng, lalu ijin ke kamar untuk beristirahat.


Bu Fatma yang mengerti sifat Melati, memilih kembali duduk di kursi makan, dan bergabung dengan yang lain. Setelah acara makan bersama selesai, Dirga dan Tsabita tampak asyik bermain bersama si Kembar, momen ini tak ingin di sia-siakan oleh Dewa untuk mengatakan hal yang sebenarnya terjadi kepada bi Fatma. Karena walau bagaimanapun juga, Bu Fatma harus mengetahui kabar penting ini.


"Pak Dewa. Apakah semalam Melati tidur di lantai?" tanya bu Fatma.


"Ehm, tidak bu." jawab Dewa.


"Oh, apa karena kecapekan ya? Ga biasanya Melati muntah-muntah sampai pucat begitu " kata bu Fatma.


"Ehm, i-iya bu. Mungkin saja." jawab Dewa.


Dewa teringat oleh kata-kata Melati saat akan pulang tadi, bahwa dia meminta tolong kepada Dewa untuk menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi kepada bu Fatma. Karena Melati merasa tak sanggup mengatakannya pada bu Fatma.


"Ehm, bu..."


"Ya pak Dewa?"

__ADS_1


"Ehm, saya mau bicara serius, bisa bu?" tanya Dewa.


"Silakan pak Dewa."


"Begini bu, jadi...sebenarnya kemarin itu, Melati bermalam di rumah sakit, bukan hanya karena adek masih merindukanmu dan tidak mau ditinggal. Tetapi sebenarnya..." kata Dewa ragu-ragu.


"Tapi apa pak Dewa?" tanya bu Fatma.


"Tapi... karena...Melati sakit bu." jawab Dewa.


"Astagfirullahal'adzim. Sakit apa pak? Kenapa dia tidak cerita? Kenapa dia tidak bilang pada ibu?" tanya bu Fatma.


"Ehm, jadi, Melati kemarin kan tidak doyan makan dan minum, karena dia sangat terpukul dengan kejadian yang baru saja menimpanya, yaitu kegagalan rumah tangganya." kata Dewa yang kemudian membuat bu Fatma teringat kembali oleh apa yang sudah di ucapkan mantan menantunya itu.


"Selain karena telat makan dan banyak fikiran, Melati juga sedang tidak baik-bauk saja bu., kata Dewa.


"Maksud pak Dewa?"


"Bu, ketika saya menyampaikan pernyataan ini, saya harap ibu tetap tenang ya. Demi kebaikan bersama, demi kesehatan Melati juga." kata Dewa.


"Ya pak." jawab bu Fatma.


"Apa?" Seketika Bu Fatma terkejut dengan kabar yang didengarnya. Dia tidak menyangka, setelah kemarin dia di talak, dan kini Melati justru baru mengetahui bahwa dirinya sedang hamil.


"Pak Dewa serius?" tanya bu Fatma.


"Serius bu. Dokter sendiri yang bilang. Kondisi Melati cukup lemah, sehingga Melati tidak boleh banyak aktivitas, karena kandungannya juga lemah, hal ini dikhawatirkan Melati mengalami keguguran." kata Dewa.


"Yaa Allah nak...ujian apa lagi yang sedang kamu hadapi sayang..." rintih bu Fatma.


Setelah menjelaskan kondisi yang sebenarnya, Dewa melanjutkan pernyataannya, agar bu Fatma tidak terlalu terbebani.


"Meski keadaan Mas Ugi sedang tidak baik-baik saja, InshaaAllah kami akan tetap mengabarkan berita ini kepada nya bu." kata Dewa.


"Ga usah pak. Mereka sudah menolak Melati, mereka sudah meremehkan Melati, mereka bilang Melati mandul, biar aja pak, ga usah dikasih tau, biar mereka ga tau sekalian." kata bu Fatma sambil menangis, dia kembali teringat kata-kata yabg diucapkan mantan besannya yang menyayat hati.


"Tapi, walau bagaimanapun juga. janin dalan perut Melati itu anaknya mas Ugi bu." kata Dewa.


Bu Fatma masih menangis, belum kuat berkomentar.

__ADS_1


"Ibu tenang saja, selama Melati hamil, saya akan membantu untuk menjamin kesehatan mereka berdua. Dan nanti, jika Melati sudah melahirkan, InshaaAllah, saya yang akan menikahinya." kata Dewa menyampaikan niat baiknya kepada bu Fatma. Membuat bu Fatma mendongak menatap wajah pak Dewa.


"Menikah?" bu Fatma masih mencoba memastikan dengan yang didengarnya.


"Iya bu. Ijinkan saya menikahi Melati nantinya jika dia sudah melahirkan bu." kata Dewa.


"Ta...tapi anakku itu..."


"Saya sudah mengenal putri ibu sejak dia masih SMP. Dia sangat dekat dengan anak-anak saya bu. Saya tidak tega memisahkan mereka, seperti halnya kemarin, saat Melati pergi ke Jakarta seminggu, Anak-anak sudah sangat merindukan Melati, bahkan sampe sakit bu. Saya tau betul ketulusan cinta Melati kepada anak-anak saya. Jadi saya mohon, ijinkan saya untuk meminang putri ibu." kata Dewa.


"Tapi dia hamil..." kata bu Fatma.


"Jika keluarga mas Ugi tidak berkenan merawat anak itu, maka saya pun akan sangat senang bisa ikut merawatnya. Seperti hal nya Melati yang merawat anak-anak saya, sayapun akan merawat dan menjaga anak Melati seperti anak saya sendiri." kata Dewa.


"Hem...tapi apakah Melati mau pak?" tanya bu Fatma.


"InshaaAllah mau bu. Tetapi kalau ternyata tidak mau...ya...saya pasrah bu. Mungkin memang kita tidak berjodoh." kata Dewa.


Setelah Dewa menyampaikan pernyataan itu kepada Bu Fatma, Dewa mohon pamit pulang membawa kedua anaknya. Dan Melati menyempatkan diri untuk menghantarkan mereka pulang.


💞💞💞


Kabar Melati hamil akhirnya sampai juga ditelinga keluarga Ugi. Dan benar saja, hal itu membuat Ugi semakin terpukul. Dia merasa tidak bisa berbuat apa-apa untuk mantan istrinya yang kini kabarnya tengah hamil anaknya dalam keadaan lemah. Guntur yang berkunjung ke rumah Ugi sambil sekalian menjenguk sahabat yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri.


"Apa? Melati hamil?" tanya Ugi terkejut.


"Iya Gi."


Ugi terdiam cukup lama, dia tampak bingung dan menyesal telah menceraikan Melati begitu saja tanpa memikirkan bagaimana keadaan Melati nantinya.


"Kenapa lo? Bingung?" tanya Guntur.


"Aku merasa sangat menyesal bang." kata Ugi.


"Memang penyesalan itu diakhir. Karena kalau diawal itu Pendaftaran." seloroh Guntur.


"Bang Guntur bisa aja. Terus, gimanaa keadaan Melati sekarang bang?" tanya Ugi.


"Melati sudah aman, di rawat di rumah sama ibunya." jawab Guntur. Lalu Guntur menceritakan segala apa yang terjadi dengan Melati, dan hal itu membuat Ugi semakin merasa terpukul dan menyesal dengan apa yang telah diperbuatnya dengan Melati.

__ADS_1


"Gue paham alasan elo menyudahi hubungan kalian. Tapi lain kali, elo harus lebih berhati-hati dalam berucap, karena perkataan laki-laki itu mengandung sebuah hukum." kata Guntur. Dan Ugipun bercerita banyak mencurahkan segala isi hatinya kepada Guntur. Termasuk perasaan aslinya kepada Melati yang sebenarnya masih sangat mencintai istrinya itu, namun apa yang bisa dilakukannya, dia sudah terlanjur melontarkan kata itu kepada Melati yang jika diingatnya kembali, membuat dadanya semakin sesak.


__ADS_2