Seputih Melati

Seputih Melati
Ngobrol


__ADS_3

Ugi sudah selesai menunaikan ibadah sholat ashar, lalu dia keluar dari masjid, dan duduk di teras masjid untuk menanti sang pujaan hati.


"Maaf mas, nunggu lama ya?" tanya Melati yang sudah selesai sholat juga.


"Eh, Sudah selesai ukh?" tanya Ugi.


"Alhamdulillah sudah mas." jawab Melati.


"Alhamdulillah. Ya, gapapa. Wajar kok kalau laki-laki menunggu wanita, karena wanita itu ketika sholat, prosesnya lama. Masih harus melipat mukena, membenahi jilbab, bahkan sebagian lain masih harus memoles wajahnya lagi." jawab Ugi.


"Ehm, iya mas." jawab Melati.


"Oya, enaknya kita ngobrol dimana ya?" tanya Ugi yang sudah mensejajari Melati yang sejak tadi berdiri di depannya.


"Ehm, saya ngikut mas Ugi aja." jawab Melati.


"Gimana kalau ke rumah makan serba sambal dekat masjid ini?" usul Ugi.


"Ehm, jangan mas. Kalau bisa jangan sambil makan, karena saya nanti sampai rumah masih harus menemani makan kedua adik saya." tolak Melati.


"Oh, gitu ya? Ehm, dimana ya? Apa di cafe? Atau... di taman kota?" tanya Ugi yang juga bingung.


"Ke taman kota aja mas." usul Melati.


"Ke taman?" tanya Ugi.


"Iya." jawab Melati.


"Okey, ayo ke taman." ajak Ugi sambil berjalan menuju parkiran, yang diikuti Melati.


Mereka berdua pun melajukan motornya masing-masing menuju taman kota yang terletak di tengah kota. Tak terlalu jauh memang dari masjid tempat mereka sholat ashar tadi.


Sesampainya di taman, Ugi mengajak Melati mencari tempat duduk yang nyaman untuk mereka mengobrol.


"Ehm, kita duduk dimana ya?" tanya Ugi bingung, karena taman kota sudah ramai oleh pengunjung, terutama anak-anak bersama orangtuanya.


"Disana saja gimana mas?" usul Melati sambil menunjuk sebuah kursi kosong yang menghadap kolam ikan, dan dekat dengan area bermain anak-anak.


"Yakin disana? Di sana ramai lho." kata Ugi ragu.


"Lebih baik di tempat ramai mas, daripada ditempat sepi." kata Melati.


"Oh. gitu? Baiklah." jawab Ugi. Merekapun berjalan menuju kursi yang dimaksud lalu Melati duduk disana. Namun, Ugi tidak segera duduk. melainkan dia berbelok ke arah Selatan menuju warung yang berjajar di area taman.


"Lhoh, mas Ugi mau ngapain?" batin Melati. Namun kemudian, Melati tak mempermasalahkannya, diapun duduk di kursi itu sambil membuka ponselnya.


Tak lama kemudian, Ugi datang membawa dua cup minuman jus, dan dua bungkus cilok goreng.


"Maaf, saya tadi mampir dulu. Ini ukh. mau pilih yang mana?" tanya Ugi sambil menyodorkan dua cup minuman.


"Mau jus alpukat, apa jus Jambu?" tanya Ugi.

__ADS_1


"Ehm..." Melati tampak ragu menerimanya.


"Maaf, saya belum tau kesukaanmu, jadi ini saya belikan dua rasa ini, kalau ga ada yang disukai, bilang aja, nanti saya pesankan lagi." kata Ugi lagi.


"Eh, ga usah mas. Ini aja. Terimakasih mas." kata Melati sambil mengambil cup berisi jus jambu.


"Okey, dan ini cilok nya." kata Ugi sambil menyerahkan satu mika berisi cilok goreng yang terdiri dari lima tusuk cilok goreng yang sudah di baluri saus pedas manis san mayones.


"Eh, Terimakasih juga mas. Kok jadi ngerepotin." kata Melati sungkan.


"Engga repot kok." jawab Ugi sambil duduk di kursi yang sama dengan Melati.


Melati dan Ugi duduk bersandingan sambil menyeruput jus yang dibeli Ugi tadi. Mereka masih sama-sama diam sambil menatap anak-anak kecil yang bermain di area bermain.


"Ukh." panggil Ugi.


"Ya?" jawab Melati sambil menoleh ke arah Ugi yang ternyata sedang menatap ke arahnya. Manik mereka bertemu beberapa saat.


"Ehm. Boleh saya panggil kamu dengan panggilan nama saja?" tanya Ugi.


"Boleh." jawab Melati sambil menatap ke arah anak-anak yang bermain.


"Ehm, Melati. Boleh saya tanya sesuatu?" tanya Ugi.


"Boleh." jawab Melati.


"Tolong dijawab jujur, sejujur-jujurnya." kata Ugi yang berhasil membuat Melati kembali menoleh ke arahnya.


"Apa?" tanya Melati.


Melati terdiam, lalu menggeleng.


"Kalau...cowok yang ditaksir?" tanya Ugi lagi.


"Tidak." jawab Melati.


"Maksudnya?" tanya Ugi.


"Saya belum punya pacar, calon imam maupun cowok yang ditaksir." jawab Melati.


"Alhamdulillah." gumam Ugi yang terdengar oleh Melati.


"Kenapa mas?" tanya Melati.


"Gapapa. Ehm, cuma mau ngingetin aja. pernyataan saya beberapa bulan lalu, masih berlaku lho." kata Ugi.


"Per-pernyataan yang mana ya mas?" tanya Melati tergagap.


"Pernyataan kalau saya akan ketagihan dengan masakanmu, dan saya akan menjaga hatiku." jawab Ugi sambil terus menatap wajah ayu gadis di sampingnya.


"Ehm..." Melati masih ragu untuk menjawab.

__ADS_1


"Bukannya saya ke GeEran ataupun kePeDean ya. Tapi, kemarin pas saya ke rumahmu, nenek dan kedua adikmu sangat mendukung perasaan saya terhadap Melati lho. Ya, harapan saya sih, engga bertepuk sebelah tangan. Tapi, ya semua keputusan sepenuhnya saya kembalikan padamu." kata Ugi.


"Ehm..."


"Melati sudah bertanya pada ibu?" tanya Ugi yang ingat bahwa dulu dia bilang akan tanya dulu pada ibunya.


"Sudah." jawab Melati.


"Apa jawabnya?" tanya Ugi penasaran.


"Terserah saya." jawab Melati.


"Oh. Jadi? Bagaimana jawabanmu?" tanya Ugi penasaran.


"Ehm...."


"Ga harus sekarang kok, saya masih setia menunggu jawaban darimu." kata Ugi.


"Yang jelas, usiaku sudah memasuki kepala tiga. Keluargaku sudah menginginkan agar aku segera menikah. Dan, yang jelas, saya sudah menemukan gadis yang cocok dengan hati saya, setelah bertahun-tahun lamanya saya menutup diri untuk tidak berpacaran." kata Ugi.


"Ehm... kenapa harus saya yang anda pilih?" tanya Melati menunduk sambil memilin ujung jilbabnya.


"Karena kamu cantik." spontan Ugi menjawab pertanyaan Melati dengan terus menatap gadis itu.


"Cantik luar dalam." lanjut Ugi lagi.


"Dan masakanmu yang membuatku selalu merindu." imbuhnya.


"Serta, karena hatiku yang memilihmu. Bukan mataku." lanjut Ugi sambil tangan kanannya memegang dada kirinya.


Seketika Melati terkesiap dengan alasan Ugi.


"Wanita baik-baik untuk laki-laki baik-baik, pun begitu sebaliknya. Dan selama bertahun-tahun saya mencoba untuk membehani diri, menjadi insan yang lebih baik." kata Ugi.


"Saya pernah pacaran, gonta ganti pasangan. Sampai dikata temen, bahwa saya buaya darat. Tetapi, sejak saya lulus kuliah, saya merasa bahwa tidak ada manfaatnya berpacaran dan mengoleksi wanita. Sehingga, sejak saat itu saya memutuskan untuk menjoblo saja, hingga menemukan yang cocok, untuk saya peristri, dan akhirnya saya dipertemukan dengan sesosok gadis yang motornya mogok di tengah mendung yang gelap." jelas Ugi.


"Tak usah buru-buru. Saya akan sabar menunggu jawabanmu, tapi kalau bisa, jangan lebih dari satu tahun ya, hehehe, karena usiaku akan bertambah." kata Ugi.


"Saya tau kalau mau memberi jawab..." kata Ugi yang terputus.


"InshaaAllah saya bersedia." jawab Melati sambil menunduk.


"Apa?" Ugi terperangah.


"Mas Ugi datang saja ke rumah, bersama keluarga mas Ugi. InshaaAllah nanti nenek yang akan mendampingi saya." kata Melati.


"Melati serius?" Ugi masih tak percaya.


Melati mengangguk sambil tersenyum malu.


"Yes!" kata Ugi girang.

__ADS_1


"Terimakasih Melati." kata Ugi menatap lembut gadis pujaan hatinya.


Melati hanya tersenyum dan mengangguk.


__ADS_2