Seputih Melati

Seputih Melati
Melepasmu


__ADS_3

Hari raya idul fitri telah dilalui dengan suka cita. Melati menikmati hari raya ini dengan sangat bahagia, berkumpul dengan ibunya yang sangat dia rindukan. Mereka bercanda dan bersedagurau setelah pulang dari sholat ied, dan sungkem sebagai adat menghormati orang tua. Ditengah kebersamaan itu, ponsel bu Fatma berdering, tanda ada panggilan masuk.


Sebuah video call dari negeri seberang, Opa Sarah, seorang nenek yang sudah lanjut usia itu menelpon ingin berbicara dengan keluarga bu Fatma.


"Assalamualaikum opa." sapa Melati ramah.


"Wa'alaikumsalam nak. Apa kabarmu?" tanya opa Sarah.


"Alhamdulillah baik opa. Opa sendiri bagaimana keadaannya?" tanya Melati.


"Seperti yang kamu tau, opa tak bisa kemana-mana, hanya di kursi saja." jawab opa Sarah dalam bahasa Indonesia.


Hingga banyak percakapan akrab diantara keduanya. Memang, Melati sudah dianggapnya cucu sendiri. Mereka tertawa bersama hingga akhirnya opa Sarah menanyakan kembalinya bu Fatma.


"Melati, ape kau ridho, bila mamamu nak balik sini?" jawab opa Sarah.


"InshaaAllah Melati dan adek-adek ridho opa, yang penting Opa sehat selalu." jawab Melati.


Percakapan demi percakapan dengan Opa Sarah akhirnya selesai juga. Hari itu, mereka sekeluarga menghabiskan waktu bersama di rumah dengan menikmati ketupat buatan bu Fatma. Hari berikutnya hingga hari ke tujuh bu Fatma di rumah, Bu Fatma mengajak anak-anak dan ibunya bertamasya ke berbagai tempat wisata. Hingga malam sebelum bu Fatma kembali terbang ke negeri Jiran, Bu Fatma mengantarkan tidur kedua anak kembarnya yang tadi pagi sudah dilihatnya berbusana merah putih saat berangkat sekolah. Dan dirinya sudah memenuhi janji pada kedua anak kembarnya untuk mengantarkan mereka ke sekolah yang baru.


Setelah mencium kening si kembar yang sudah terlelap di kamarnya, bu Fatma beringsut dan pindah ke kamar putrinya. Dilihatnya Melati masih terpekur di meja belajarnya.


"Assalamualaikum Mbak." sapa bu Fatma sambil menghampiri putrinya yang khusyuk dengan buku dan pulpennya.


"Eh, Wa'alaikumsalam bu." jawab Melati sambil menoleh ke arah ibunya.


"Khusyuk banget yang lagi nulis. Nulis apa sih? Sampe ga denger suara pintu yang ibh buka." kata bu Fatma sambil melongokkan wajahnya mencoba melihat isi tulisan di bukunya Melati.


"Ah, engga bu. Ini, Melati cuma lagi nulis cerita aja." kata Melati sambil menutup buku diarynya yang berwarna merah muda.


"Ehem... mbak. Ibu seneng... banget, bisa melihat mbak Melati sekolah lagi. Melihat adek adek udah berseragam merah putih." kata bu Fatma sambil mendaratkan bokongnya di dipan Melati yang dilapisi kasur kapuk buatan neneknya.

__ADS_1


"Alhamdulillah bu. Melati juga seneng.... banget, ibu bisa membersamai kami, di jenjang baru kami. Semoga, senyuman ibu, pelukan ibu, kasih sayang ibu, kepulangan ibu kali ini, bisa menjadi motivasi baru buat kami, agar kami lebih semangat lagi menjalani hari-hari ya bu." kata Melati sambil memeluk tubuh ibunya dari samping.


"Tentu mbak." kata bu Fatma mengelus kepala Melati dengan penuh cinta.


"Mbak..."


"Ya bu?"


"Ehm, ibu boleh tanya sesuatu ga?"


"Tanya apa bu?"


"Ehm... Mbak Melati, sudah punya pacar belum sih?" tanya bu Fatma sambil tersenyum.


"Ah, ibu. Kirain mau nanya apa? Ya belum lah bu, dan Melati sih, ga pingin pacaran dulu bu. Melati mau fokus sekolah sampe lulus, terus kerja bantu ibu." kata Melati dengan semangat.


"Hem... tapi... teman teman seusiamu, hampir semuanya sudah pada punya pacar lho Mbak. Bahkan, kemarin ibu dengar, teman sekolahmu waktu SD, sudah ada yang menikah." kata bu Fatma.


"Ah, itu kan mereka bu. Bukan Melati. Lagipula yang menikah kemarin itu, memang dia sudah ditungguin pacaran ya, daripada lama lama pacaran, ya langsung nikah aja gitu katanya." jawab Melati.


"Engga." jawab Melati singkat.


"Kenapa?"


"..." Melati tak bergeming.


"Apa karena almarhum mas Latif? Mbak Melati belum bisa melupakannya?"tanya bu Fatma.


Melati hanya menggeleng.


"Mbak, jujurlah. Mbak Melati suka ya sama almarhum?" tanya bu Fatma.

__ADS_1


Seketika air mata Melati lolos dari kedua matanya. Melati menggeleng.


"Mas Latif adalah sosok kakak yang sangat Melati sayangi bu. Dia selalu ada disaat Melati butuh, dia selalu melindungi Melati dari setiap mara bahaya, Dia selalu setia dan siap mengantar kemanapun Melati butuh diantar. Dia selalu memotivasi Melati untuk terus maju dan meraih mimpi. Tapi ... Cinta pertama Melati belum bisa tergantikan oleh orang lain, sekalipun itu sosok sebaik mas Latif bu. Meski Mas Latif sudah menyatakan perasaannya pada Melati, tapi.. cinta Pertama Melati, tetap bapak. Dan belum ada yang menyusul posisi berikutnya di hati Melati sebagai cinta kedua. Do'akan yang terbaik saja bu buat Melati." kata Melati.


Bu Fatma paham dengan maksud putrinya, diapun tak memaksa perasaan putrinya untuk jatuh cinta pada siapapun. Malam itu, Melati ingin tidur dipeluk ibunya, hingga pagi tiba.


Keesokan harinya, Melati dan kedua adiknya ijin tidak masuk sekolah, karena ingin mengantar ibu Mereka ke Bandara. Mereka semangat membantu memasukkan barang-barang bawaannya bu Fatma ke dalam bagasi grab. Lalu grab itu membawa Melati, bu Fatma, si kembar dan kali ini, nenek dan pak Wahid pun ikut serta mengantar mereka.


Sesampainya di Bandara, mereka akan berpisah. Semua persyaratan sudah dipenuhi, dan pesawat yang akan membawa bu Fatma juga sudah siap terbang.


"Kalian jaga diri baik-baik ya." kata Bu Fatma sambil menghapus air mata yang sedari tadi tak kunjung berhenti.


"InshaaAllah bu. Ibu hati-hati di jalan. Fii Amanillah bu." kata Melati yang juga terisak.


"Bu...titip anak-anak ya bu" kata bu Fatma pada nenek.


"Tentu."


"Pak Wani, saya titip anak-anak dan ibu saya." kata bu Fatma pada pak Wahid.


"InshaaAllah bu. Hati-hati di jalan ya bu. Semoga selamat dan sehat sampai tujuan." kata pak wahid.


"Ya pak. aamiin." jawab bu Fatma.


Suara panggilan untuk penumpang arah Malaysia, sudah dipanggil. Dan Bu Fatma sudah bersiap masuk pesawat. Si Kembar yang sudah besar, sudah bisa mengontrol emosinya, melepaskan ibu Mereka pergi kembali ke negeri orang. Karena ibu memang sangat dibutuhkan di sana.


"Anak-anak, sudah waktunya kita pulang." kata pak Wahid.


"Ya pak." jawab si kembar.


Pak Wahid berjalan paling akhir, sambil mengawasi si kembar yang super aktif dan Melati yang menggandeng neneknya sampai di mobil yang mereka sewa untuk mengantarkan bu Fatma ke bandara.

__ADS_1


"Ibu...Melepas mu, aku ikhlas. Namun, ijinkan bahwa pertemuan ini bukan untuk yang terakhir kalinya." batin Melat saat melepas ibunya.


"Kami sangat merindukan kembali mu ibu..." jerit Melati dalam hati. Ya, dalam Hati. Karena Melati tak ingin membuat kedua adiknya ikut bersedih melepas kepergian ibu mereka.


__ADS_2