Seputih Melati

Seputih Melati
Brosur


__ADS_3

Sepulang dari masjid, Latif segera menuju kerumahnya. Tadinya, dia ingin langsung mengembalikan buku milik Melati itu, tetapi Latif mengurungkan niatnya. Dia sangat penasaran dengan isi beberapa cerita di dalam buku itu, karena dia tau, buku itu bukanlah sejenis diary, tetapi itu buku karya tulisnya.


Sesampainya di rumah, Latif kembali melanjutkan membacanya. Dia begitu tambah mengagumi gadis itu. Tulisannya sangat mengena di hati, Latif yang memang dimasa sekolahnya dulu, menyukai buku-buku bacaan, menurut dia, cerita karya Melati ini berbobot untuk di angkat ke media.


Adzan isya berkumandang, Latif meletakkan buku Melati di meja kerjanya, namun, lagi-lagi Latif teringat akan sesuatu hal. Ada sebuah brosur yang dia dapat tadi siang di masjid dekat toko milik papanya.


#Flash Back On


Latif sudah mengecek beberapa laporan dari orang kepercayaannya di toko A, lalu Latif mendengar suara adzan berkumandang, Latif pun segera menuju ke masjid untuk menunaikan ibadah sholat Dzuhur. Setelah sholat berjamaah, Latif keluar dari masjid dan duduk sejenak di serambi masjid, sambil mengecek beberapa chat yang masuk.


"Permisi, Maaf mas. Mas ini yang punya toko ATK di depan kampus Bangsa bukan ya?" tanya seseorang.


"Eh, iya mas. Benar. Saya Latif." kata Latif sambil menjabat tangan orang baru dihadapannya.


"Oya, Saya Dewa. Saya langganan toko mas lho." kata Dewa.


"Oh ya? Terimakasih mas sudah berlangganan dengan Toko ATK akbar." kata Latif.


"Iya mas, sama-sama. Saya juga berterimakasih banyak mas, karena di sana pelayanannya cepat, ramah, santun dan rapi mas. Selain itu, di sana juga lengkap, Jadi, saya cocok untuk mengerjakan tugas kuliah dan pekerjaan saya di sekolahan." kata Dewa.


"Alhamdulillah jika memang begitu adanya." kata Latif.


"Oya mas, ehm, katanya salah satu karyawan mas, mas Latif ini mengajar TPQ ya? Kapan waktu itu, saya nanyain mas, tapi kata karyawan mas, mas lagi ada jadwal ngajar TPQ." kata Dewa.


"Iya mas. Ya, sambil momong mas." kata Latif.


"Suka dengan anak-anak ya mas?"


"Ya, begitulah. Awalnya canggung sih mas, tapi alhamdulillah, lama-lama sudah terbiasam" kata Latif dengan tersenyum ramah.


"Oya mas, ya... ini sih cuma sekedar ngasih info aja sih mas. Ini saya mau titip mas Latif nih, brosur dari saya. Kebetulan saya membuka lahan kursus komputer yang bekerjasama dengan SKB kota ini mas. Jadi, nanti untuk yang kursus komputer di tempat saya, akan kami berikan sertifikat keahlian di bidang komputer, yang nantinya bisa dipakai untuk melamar kerja mas." kata Dewa sambil memberikan beberapa brosur kursus Komputer yang dikelolanya.


"Oh ya mas. Terimakasih, InshaaAllah nanti akan saya sampaikan pada pemuda pemudi di desa saya dan adik-adik TPQ saya yang berminat untuk belajar komputer." jawab Latif sambil menerima brosur itu.


"Untuk informasi lain-lainnya bisa dibaca di brosur ya mas. untuk kontak person nya nanti bisa langsung ke nomer saya itu." kata Dewa menunjukkan nomer CP yang tertera di brosur.


"Siap mas."

__ADS_1


"Ya sudah mas, kalau begitu, saya permisi dulu ya mas. Saya masih harus melanjutkan kegiatan saya." kata Dewa.


"Ya mas. Terimakasih."


"Sama-sama mas. Mari mas." kata Dewa sambil berlalu pergi meninggalkanku masjid.


#Flashback off


Latif teringat, bahwa Melati punya potensi di bidang menulis, ada baiknya Melati melatih dirinya untuk menulis di komputer, agar dia terbiasa menulis dan bisa dikirim ke beberapa media. Latifpun berniat untuk mengembalikan buku milik Melati bersama dengan brosur yang dia dapat tadi siang di masjid.


Sepulang sholat isya', Latif tidak tinggal diam, dia langsung mengambil buku Melati dan brosur nya, dia bawa ke rumah Melati, sekaligus berusaha untuk mengobati rasa rindu. Ya, rindu. Latif kini merasakan kerinduan, meski sebentar saja dia tidak bertemu dengan tetangganya itu.


Tok tok tok


Latif mengetuk pintu rumah Melati. dan dibukakan oleh Aldo.


"Assalamualaikum Aldo. Mbak Melati nya ada?" tanya Latif.


"Wa'alaikumsalam mas. Ada mas. Mbak Melati lagi bikinin susu buat Aldi sama Aldo." kata Aldo.


"Okey, mas tunggu di sini ya." kata Latif yang kemudian duduk di kursi rotan yang ada di teras.


"Ada apa mas?" tanya Melati yang baru muncul.


"Eh, Mel. Sibuk ga Mel?" tanya Latif.


"Engga sih mas, kenapa mas?" tanya Melati sambil duduk di kursi yang bersebrangan dengan Latif.


"Ini, milikmu bukan?" tanya Latif sambil mengangkat sebuah buku gelatik berwarna merah dengan ukuran tebal.


"Eh, iya mas, itu punyaku. Hehe, kok ada di mas Latif sih?" tanya Melati.


"Iya, ini tadi mas temuin di etalase lemari buku di masjid." kata Latif.


"Oh, ya ampun, maaf ya mas Melati kelupaan tadi, pas ngambil buku cerita buat bercerita kepada adik-adik TPQ." kata Melati.


"Santai aja Mel. Kebetulan tadi yang nemuin juga mas. Karena penasaran, maaf, tadi mas sempat buka-buka untuk mencari tau identitas pemilik buku ini." kata Latif.

__ADS_1


"Oh, iya mas gapapa. Ya ini ga rahasia kok mas, cuma kumpulan cerita yang Melati buat, untuk melepas penat selama Melati belum ada kesibukan." kata Melati.


"Cerita-ceritamu bagus Mel. Kamu kayaknya berbakat deh." kata Latif.


"Masak sih mas?"


"Serius."


"Oya, Mel, ini mas Ada brosur kursus komputer, mas harap sih kamu tertarik, biar kamu punya modal untuk menyambut masa depanmu nanti. Ga mungkin kan kamu bakal nganggur terus dirumah gini? Sedangkan untuk lanjut SMP aja, kamu masih belum siap." kata Latif.


Melatipun membaca brosur itu.


"Gratis for you." kata Latif sambil tersenyum.


"Gratis?" Melati memastikan, tak percaya.


"Yup, khusus untukmu." kata Latif.


"Kok bisa?"


"Ya bisa lah."


"Pokoknya, kamu harus mau ya. Karena dengan belajar komputer, nanti kamu akan belajar menuliskan karya karyamu di komputer, dan kamu bisa mengirimkan nya lewat email ke beberapa media, seperti majalah, koran atau percetakan. Nanti kalau kamu bisa mencapai keberhasilan menjadi seorang penulis, honor akan datang dengan sendirinya Mel. Dan kamu bisa menjadi seorang penulis terkenal nantinya, seperti Asma Nadia, Habiburrahman, Hanum Salsabila Rais, dan Tere Liye." lanjut Latif memberi wawasan.


"Ehm, gitu ya mas? Tapi... apa Melati mampu?" tanya Melati dengan masih ragu.


"Bismillah. InshaaAllah mampu." kata Latif menyemangati.


"Apa Melati perlu membeli leptop?" tanya Melati.


"Ga perlu. Ini sementara mas ada leptop nganggur di rumah. Mas ga tau kalau ternyata kamu suka nulis, kalau tau kamu suka nulis kan, bisa mas kasihkan kamu jauh-jauh hari buat kamu belajar." kata Latif.


"Heheh, ya kalaupun Melati dikasih leptop. kalau Melati ga ngerti memakianya, ya sama aja bohong dong mas." kata Melati dengan meringis.


"Iya juga sih."


"Ya udah, besok siang, kita langsung ke lokasi ini ya Mel. Mas anterin kamu daftar kursus." kata Latif.

__ADS_1


"Ya mas. Terimakasih banyak ya mas. Melati seneng banget, akhirnya Melati ada kesibukan." kata Melati berbinar bahagia.


__ADS_2