
Jam Tujuh pagi, Melati sudah bersiap untuk mengantar kedua adiknya berangkat sekolah, setelah memastikan semua keperluan adiknya di sekolah sudah lengkap semua. Mulai dari alat tulis, buku Iqro' buku membaca, buku komunikasi, bekal minuman dan makanan. Setelah beres memandikan dan mendandani kedua adiknya hingga bersepatu, Melati yang memang sudah mandi sedari subuh tadi mulai mengeluarkan sepeda mini nya, dengan kedua adik membonceng di belakang. Tas keduanya di taruh di keranjang sepeda.
"Kalian sudah salim nenek?" tanya Melati kepada Aldo dan Aldi setelah mengunci pintu rumahnya.
"Sudah mbak." jawab kedua bocil itu secara kompak.
"Bagus. Ya sudah, siap berangkat?" tanya Melati.
"Siap!" jawab keduanya kompak lagi.
"Okey. Baca do'a dulu." titah Melati.
"Bismillahittawakaltu 'alallahi laa haula walaqiwwata illa billah." do'a kedua adik Melati secara kompak dengan nada yang sama.
Melatipun mengayuh sepedanya keluar dari rumahnya, sambil membunyikan bel sepeda tanda pamit pada neneknya.
Ting...
Tak berselang lama, sebuah mobil berwarna biru dengan di atas nya bertuliskan TAXI, berhenti tepat di depan pintu gerbang rumah Latif.
Latif tampak memasukkan beberapa koper ke dalam bagasi Taxi dengan dibantu sopir taxi.
"Ma, tunggu sebentar ya." pinta Latif pada mamanya yang sudah menenteng tas branded siap masuk mobil taxi.
"Mau apa lagi?" tanya bu Desi.
"Sebentar aja." kata Latif sembari berlari menuju rumah Neneknya Melati.
"Assalamualaikum." salam Latif.
"Wa'alaikumsalam mas Latif." jawab nenek.
"Nek, Melati sudah berangkat nganter sekolah ya?" tanya Latif yang menoleh ke arah rumah Melati.
"Sudah mas."
"Belum pulang ya nek?" tanya Latif yang tadi memang sudah mengetahui kepergian Melati berangkat mengantar kedua adiknya dari dalam rumahnya.
"Biasanya sih udah, tapi mungkin ada yang rewel ga mau ditinggal mas, atau mungkin juga dia mampir ke mana gitu." kata nenek.
"Oh, ya sudah nek. Ini tadinya sudah datang. Latif mau pamit nek." kata Latif.
"Iya mas Latif, hati-hati di jalan, semoga lancar perjalanannya sampe tujuan ya mas." kata nenek.
__ADS_1
"Aamiin. Makasih nek." kata Latif.
"Oh ya nek, saya sama mau nitip ini buat Melati nek." kata Latif memberikan sebuah paper bag berwarna coklat kepada nenek.
"Oh, iya. Nanti nenek sampaikan."
Latif sudah akan berkata lagi, tapi, mamanya sudah meneriakinya dari jalan.
"Latif, ayo keburu telat kita." kata bu Desi sambil menunjuk arlojinya yang branded juga.
"Iya mah." jawab Latif.
"Ya sudah nek. Saya mohon keikhlasan dan keridhoan nenek dan Melati sekeluarga ya nek, Latif sekeluarga mohon maaf, jika ada salah kata." kata Latif meraih tangan Nenek dan mencium punggung tangan nenek dengan takzim.
"Iya mas. Ga ada yang salah. Kami justru terimakasih, mas Latif sudah bantu banyak kami. Hati-hati ya mas, nitip salam buat keluarga di sana." kata nenek dengan berkaca-kaca, sambil tangan kirinya mengelus punggung Latif penuh kasih sayang.
"Latif pamit ya nek. Assalamualaikum." salam Latif.
Latifpun masuk mobil menyusul mamanya, dan mobil Taxi itupun segera melaju meninggalkan jalanan kampung tempat Latif dan Melati tinggal. Saat di perjalanan, tak jauh dari tempat sekolah si kembar, Latif melihat Melati mengayuh sepeda, sepulang dari mengantar kedua adiknya. Latif terus menatap gadis itu dari dalam mobil, sedangkan Melati tampak masih menunggu jalanan sepi karena dia akan menyebrang.
"Maafkan aku Melati." batin Latif dengan tak melepaskan pandangan nya dari sosok gadis yang dia cintai untuk yang kesekian kalinya setelah mengalami luka yang cukup dalam beberapa waktu lalu.
Bayangan gadis itu bersamanya terus ada di pelupuk matanya, meski mobil Taxi yang ditumpanginya sudah semakin menjauhi kampung tempatnya tinggal. Kebersamaan ketika dia menemani Melati saat di rumah sakit, mengantar Melati kontrol, mengantar Melati pergi ke suatu tempat, mengajar adik-adik TPQ bersama, tertawa bersama, berdiskusi, hingga akhirnya dia jatuh hati pada gadis sederhana itu.
"Mikirin siapa?" tanya bu Desi.
"Engga." jawab Latif singkat.
"Inget ya, mama ga akan pernah ridho, kamu jatuh cinta sama gadis penyakitan kaya anaknya si Yudi itu." kata bu Desi lagi dengan ketus.
"Astagfirullah mama... kenapa sih mama nyebut Melati dengan sebutan itu terus?" tanya Latif yang geram dengan sebutan tak enak didengar itu.
"Lah, emang kenyataannya kan?" tanya bu Desi tanpa merasa bersalah.
Latif berusaha mengontrol emosinya, dia menarik napas dalam dan membuangnya perlahan. Dia terus beristighfar, agar bisa mengendalikan emosinya, dan tidak marah pada mamanya.
💞💞💞
Sementara itu, Sesampainya di rumah, Melati segera melanjutkan aktivitasnya yang memang belum apa-apa. Namun, sebelum dia memegang sapu, neneknya sudah masuk ke dalam rumahnya.
"Mel. Mas Latif sudah berangkat. Dia nitipin ini buat kamu." kata nenek sembari menyerahkan sebuah paper bag berwarna coklat kepada Melati.
"Apa ini nek?" tanya Melati.
__ADS_1
Nenek menggeleng.
"Mas Latif hanya bilang, dia minta keridhoan dan keikhlasannya, dia minta maaf jika selama ini dia ada salah sama kita sekeluarga." kata nenek.
Melati menggeleng.
"Mas Latif ga salah apa-apa nek, malah kita yang sering merepotkan mas Latif." kata Melati.
"Nenek tadi juga sudah menyampaikannya." kata nenek.
"Ya nek. Ini Melati terima ya nek." kata Melati.
"Ya sudah, nenek mau istirahat dulu." kata nenek berbalik badan meninggalkan Melati.
Karena penasaran, Melati membuka bingkisan itu dengan perlahan.
Sebuah mukena putih dengan bordiran bunga di sekelilingnya beserta sajadah berwarna Coklat bergambar ka'bah dan sebuah tasbih kecil berjumlah 33 biji. Serta sebuah surat dengan kertas berwarna biru juga ada diatas nya.
Dibukanya perlahan surat itu.
*Bismillah
Assalamualaikum Melati. Maaf, mas Latif hanya bisa memberimu hadiah ini, semoga bermanfaat ya. Dan semoga Melati suka.
Selain itu, mas Latif juga mau bilang, Mas Minta maaf atas semua kesalahan mas dan mama yang ternyata kemarin sudah membuatmu menangis dan ketakutan. Dan untuk gosip yang beredar di kampung ini, mas juga minta maaf. Semoga dengan kepergian mas ini, bisa mengurangi suara yang tak sedap di dengar.
Sekar Melati Sukma, bapak ibumu sangat tepat memberimu nama indah ini. Karena kau memang wanita suci, dengan hati seputih Melati, tanpa ada rasa iri, dengki dan ambisi. Dirimu selalu ikhlas jalani hari-hari dengan mengharap ridho Illahi Robbi. Teruslah berjuang, raih mimpi mimpimu, buktikan pada dunia, bahwa kamu BISA! Bismillah.
Namamu 'kan slalu tertanam di hatiku, dalam setiap do'aku, dalam setiap harap ku. Ku kan slalu mencintaimu Melati, meski tak harus memiliki.
Titip adek-adek TPQ ya Melati.
Wassalam.
Masmu,
Latif*
Setelah membaca isi surat itu, Melati tak sanggup menahan air bening yang keluar dari matanya. Dia peluk surat itu, dengan tangisan tanpa suara. Pundaknya berguncang, mulutnya dia bungkam sendiri. Hingga ketukan pintu kamarnya membuatnya harus menghapus air matanya, agar terlihat baik-baik saja.
Tok tok tok
"Mel..."
__ADS_1