
Setelah melepas rindu dalam pelukan dengan Dirga, Melati bermain sebentar dengan Dirga, lalu Dirga tampak riang dan bermain bersama anak-anak Nisa.
"Mel, kamu sudah tau keadaan Ugi?" tanya Nisa saat mereka mengawasi anak-anak bermain, dan Nisa mempersilakan Melati duduk dan menikmati sirup Melon serta beberapa camilan.
Melati mengangguk.
"Kata bang Guntur..." kata Nisa yang kemudian melihat raut wajah Melati berubah sendu dan mata berkaca-kaca.
"Aku baru aja tau keadaan mas Ugi mbak. Selama ini aku ga dikasih tau mbak, ga ada yang ngasih tau aku, termasuk bang Guntur." kata Melati sudah mulai menangis.
Nisa terdiam, dia tau bahwa mereka telah salah karena sekongkol dengan Ugi untuk menutupi keadaan Ugi dari Melati. Tapi semua ini atas permintaan Ugi, sedangkan mereka tidak berani ikut campur urusan rumah tangga mereka.
"Tadi aku ke rumah Wonogiri mbak, dan di sana aku..." kata Melati yang tak dilanjutkannya, karena akhirnya tangisan nya pecah.
"Aku melihat keadaan dia mbak, tapi dia bersama wanita lain." kata Melati yang sudah menangis, lalu Nisa menarik tubuh Melati dan memeluknya. Nisa merasakan rasa kecewa yang mendalam pada diri Melati. Istri mana yang tidak kecewa, jika dirinya di bohongi, dan bahkan di beri pemandangan suaminya sedang bersama wanita lain.
"Sabar Mel." kata Nisa.
"Setiap rumah tangga itu, pasti ada ujiannya, dan ujiannya itu berbeda-beda." kata Nisa mencoba untuk menasehati.
"Kamu harus kuat, dia suamimu. Seperti apapun keadaannya, mbak Yakin kamu bisa menerima dia dengan baik, dan mbak Yakin kamu bisa menjaga merawat dan mendampinginya selalu sampai dia sembuh." kata Nisa, namun Melati segera menggelengkan kepalanya, dan bangun dari pelukan Nisa.
"Aku ga bisa mbak hiks hiks." kata Melati masih tergugu.
Nisa masih berusaha berpositif thingking.
"Kamu pasti bisa, istri yang setia itu adalah istri yang siap menerima keadaan suaminya bagaimana pun keadaannya. Dan mbak yakin, kamu adalah istri yang setia." kata Nisa, namun lagi-lagi Melati menggeleng.
"Aku ga bisa mbak...aku ga bisa." kata Melati lalu menghambur ke dalam pelukan Nisa lagi.
"Ayolah Melati, Dewa sering cerita, kalau kamu gadis kuat, kamu pasti bisa." kata Nisa masih mencoba memotivasi.
Melati masih menggeleng.
"Kewajibanku sebagai istri sudah gugur mbak. Aku udah ga berhak atas mas Ugi mbak." kata Melati masih menangis.
"Apa maksudmu Mel?" tanya Nisa terkejut.
"Mas Ugi...huhuhuhu." kata Melati terputus, dia tak sanggup melanjutkan kata-katanya, lalu Melati kembali menghambur ke dalam pelukan Nisa.
Nisa mengelus punggung Melati, Nisa mencoba menerka-nerka maksud Melati.
"Mel... apakah Ugi menyakitimu?" tanya Nisa berhati-hati.
Melati semakin tergugu dalam tangisannya. Melati mengangguk dalam pelukan Nisa, Melati kembali terbayang akan ucapan Ugi tadi siang, yang sore ini masih membekas di relung hatinya. Sempat dia bisa tersenyum tulus dan bahagia, saat dia bertemu Dirga, namun kembali jiwanya terasa tersayat saat nama mantan suaminya disebut-sebut.
Nisapun mendorong tubuh Melati perlahan dengan memegang pundaknya.
__ADS_1
"Ceritakan apa yang terjadi denganmu Mel. Apa yang Ugi lakukan padamu? Apa Ugi menyakitimu?" tanya Nisa.
"Mas...mas Ugi...huhuhu." Melati tak sanggup melanjutkan ceritanya.
Lagi-lagi Nisa menarik tubuh Melati kedalam pelukannya.
"Maafkan jika pertanyaan mbak ga sesuai dengan hatimu. Maafkan mbak, mbak ga bermaksud membuatmu bersedih." kata Nisa mulai ikut menangis.
"Aku..."
"Aku dicerai mbak huhuhu." kata Melati sambil menangis tergugu, pundaknya berguncang. Nisa benar-benar terkejut dengan kenyataan yang disampaikan Melati kepadanya. Nisapun mempererat pelukannya pada Melati dan mengelus kepala Melati yang terbalut jilbab. Nisa berusaha menenangkan Melati sekemampuannya.
"Bunda Melati..." panggil Dirga sambil berlari dan memeluk Melati. Kembali hati Melati tetiba sembuh, saat mendapat pelukan dari Dirga. Melati merasa bahwa Dirga dan Tsabita adalah obat dari jiwanya yang sedang tidak baik-baik saja. Melati berusaha tersenyum di hadapan Dirga dan anak-anak Nisa sambil menanggapi semua cerita Dirga yang tampak ceria. Nisa menatap Melati iba, tetapi Nisa juga bahagia bisa melihat senyuman Melati yang merekah, saat membersamai anak-anak.
Hari semakin malam, Melati menelpon Dewa, meminta ijin untuk membawa Dirga ke rumahnya, untuk di rawat di rumah Melati.
"Maaf pak Dewa, saya mohon ijin untuk mengajak Dirga tidur di rumah saya ya pak, kebetulan si kembar juga sudah merindukan Dirga." kata Melati.
'Ya bunda, tidak apa-apa. Untuk ambil baju ganti Dirga, bisa minta tolong sama Guntur, karna kuncinya saya titipkan padanya.' kata Dewa.
"Ya pak."
"Kak Dirga ga rewel kan? Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Dewa.
"Alhamdulillah, Kak Dirga Anteng pak, tidak rewel. Dan tidak demam, sudah ceria, daritadi mainan sama kak Syifa dan kak Candra." jawab Melati.
"Syukurlah. Ehm, kalau bunda Melati tidak keberatan, misal besok Saya minta tolong untuk menggantikan saya di rumah sakit dulu bagaimana ya bun? Karena ini Tsabita juga sepertinya kangen sama anda, dia mencari anda terus." kata Dewa.
"Okey Bunda, terimakasih banyak ya sebelumnya."
"Sama-sama pak."
"Eh, sebentar bunda. Ehm, anda mengiyakan untuk merawat kak Dirga dan besok mau ke rumah sakit menjaga Adek, memangnya bunda sudah mendapat ijin dari suami? Apakah mas Ugi tidak keberatan?" tanya Dewa ragu.
Cukup lama Melati terdiam, Melati berusaha menahan mulutnya untuk tidak mengeluarkan suara tangisan. Hati Melati kembali sakit, mendengar nama itu. Melati berusaha menetralisir suasana hatinya.
"Bunda...Bunda Melati?"
Melati masih diam, Belum mampu berucap, dia khawatir suara tangisan nya akan terdengar oleh Dewa.
"Bunda Melati, apakah bunda masih di sana? Apakah bunda baik-baik saja?" tanya Dewa di seberang mulai cemas.
"Ah, i-iya pak. Saya masih di sini. Ehm, i-iya. Eng-engga masalah kok pak." jawab Melati.
"Ehm, maaf pak, saya harus siap-siap pulang, takut kemaleman mengajak kak Dirga." kata Melati.
"Oh, ya bunda. Baiklah. Maaf." jawab Dewa.
__ADS_1
Melatipun segera memutus panggilannya dan berusaha untuk menetralisir keadaannya.
"Kenapa Mel?" tanya Nisa saat melihat Melati berusaha menghapus air matanya.
"Gapapa mbak." jawab Melati.
"Dirga jadi kamu ajak pulang ke rumahmu?" tanya Nisa.
"Jadi mbak."
"Ehm, sebentar, saya ambilkan baju untuk Dirga, tadi pas bang Guntur mengambil baju ganti untuk Tsabita, dia juga mengambilkan baju ganti untuk Dirga juga." kata Nisa.
"Oh, ya mbak."
Nisapun mengambilkan tas berisi pakaian Dirga untuk dibawa Melati ke rumahnya. Dia akan merawat Dirga di rumahnya, kehadiran Dirga sedikit banyak akan mengobati luka dalam hatinya.
Sepeninggal Melati dari rumah Guntur, Guntur yang juga ikut melepas kepergian Melati dan Dirga. Guntur bertanya kepada Nisa akan kejadian yang menimpa Melati, karena tadi Guntur juga melihat Melati menangis.
"Ma, apa yang terjadi dengan Melati?" tanya Guntur.
"Kalau mama bilang, papa harus janji, papa ga langsung emosi ya. Dan, tahan emosimu."
"Apa ini ada hubungannya sama Ugi?" tebak Guntur.
"Janji dulu lah pa." pinta Nisa sambil mengangkat jari kelingkingnya.
"Hem, baiklah." jawab Guntur sambil menakutkan jari kelingkingnya di jari kelingking istrinya.
"Iya. Ini ada hubungannya sama Ugi." jawab Nisa.
"Apa hubungan mereka baik-baik saja?" tanya Guntur.
"Menurut papa?" tanya Nisa balik.
"Ehm, ditanya malah genti nanya." kata Guntur sewot.
"Kalau menurut papa, hubungan mereka sedang ga baik, karena Ugi udha salah memilih keputusan. Dia udah membohongi Melati." kata Ugi.
"Yup, dugaan papa bener. Dan papa tau? Hal yang lebih parah dari itu?" tanya Nisa.
"Melati dicerai?" tebak Guntur.
Nisa mengangguk.
"Kurang ajar tu anak!" umpat Guntur sambil mengepalkan tangan kanannya dan meninju telapak tangan kirinya.
Dan banyak umpatan dari Guntur yang membuat Nisa geleng-geleng kepala menanggapi sikap suaminya.
__ADS_1
"Tadi udah janji lho pa... ga marah lho katanya." kata Nisa mengingatkan.
Guntur pun mencoba menetralisir emosinya, dan berusaha untuk melanjutkan aktivitas lainnya.