Seputih Melati

Seputih Melati
Bedah Buku


__ADS_3

"Mbak, ada telpon." teriak Aldi dari ruang tamu, saat Melati masih asyik di dapur.


"Ya dek. Bentar." kata Melati sambil mengulak-alik ikan tongkol.


"Sini, biar mas yang goreng." kata Ugi mengambil alih kegiatan Melati.


"Oh, ya mas. Terimakasih." kata Melati.


"Ya udah sana, angkat dulu telponnya. Sapa tau penting." kata Ugi.


"Ya mas."


Melati segera meraih ponselnya yang sedang di chas di kamarnya.


"Nomer baru?" gumam Melati.


"Halo, assalamualaikum." salam Melati.


'Wa'alaikumsalam. Apa benar ini dengan mbak Sekar Melati?' tanya seseorang di seberang.


"Iya. Benar. Ini siapa ya?"


'Saya Bastian mbak, saya salah satu tim dari Gaza Even Organizer.' kata orang diseberang.


"Oh, ya."


"Begini mbak, kami ada even pameran buku di kota Jogja, dan salah satu acaranya kami mau mengadakan bedah buku. Nah, jika mbak Sekar berkenan, kami ingin mengundang mbak Sekar sebagai bintang tamu, dalam acara bedah buku Novel karya mbak yang berjudul Sekeping Hati." kata Bastian.


"Hah? Apa? Serius kak? Sa-saya diundang untuk bedah buku?" tanya Melati tak percaya.


"Iya mbak."


"Ehm, ka-kapan?" tanya Melati gugup.


"Pekan depan mbak, tanggal 20, tepatnya hari minggu, jam 4 sore." kata Bastian.


"O.Oh.ya. Biasa, bisa. InshaaAllah bisa kak." kata Melati merasa sangat bahagia.


"Baiklah, saya mohon ijin menampilkan foto mbak Melati untuk acara besok ya mbak." kata Bastian.


"Oh, ya. Boleh." jawab Melati.


"Baiklah, untuk alamat lengkapnya sekaligus Gmapnya nanti saya kirimkan via WA ya mbak." kata Bastian.


"Ya kak."


"Kalau begitu, terimakasih banyak atas waktunya." kata Bastian.


"Ya, sama-sama."


"Selamat pagi. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam." jawab Melati kegirangan.


Setelah telpon ditutup, Melati memeluk ponselnya dengan erat sambil tersenyum lebar dan memejamkan matanya. Melati membayangkan dirinya duduk di depan panggung, sambil menyampaikan isi dari Novel yang dia tulis. Kembali dia teringat oleh kata menejer Azzam Media, bahwa dia akan bisa membedah buku Novelnya. Dan ternyata, dugaan bu Ambar benar.


"Siapa yang telpon sayang? Kaya bahagia banget gitu?" tanya Ugi kepo.


"Ehm...Mas..." kata Melati sambil merangkul lengan Ugi.

__ADS_1


"Misal, minggu depan, anterin Melati, mau ga?" tanya Melati bergelendot manja.


"Emang mau kemana?" tanya Ugi penasaran.


"Ke Jogja." kata Melati sambil terus tersenyum riang.


"Ngapain?" tanya Ugi lagi.


"Ehm...Bedah buku " jawab Melati dengan tatapan berbinar.


"Bedah buku? Kamu serius sayangku?" tanya Ugi yang tak percaya.


Melati mengangguk. Lalu Ugi menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya.


"Selamat sayangku, akhirnya mimpimu tercapai juga. Mas akan siap mengantarmu. kemanapun kamu pergi." kata Ugi sambil menghujani wajah Melati dengan ciuman.


"Ehem, ehem. Mas Ugi nih, ciuman di depan umum. Ada anak-anak kecil ini." kata Aldo mengingatkan Ugi.


"Eh, Do. Maaf. Refleks." kata Ugi sambil tetap memeluk Melati.


"Aldo sama Aldi udah mau berangkat?" tanya Melati sambil terheran melihat kedua adik kembarnya sudah rapi memakai seragam.


"Iya lah mbak, ini kan udah jam enam. Mau sarapan dulu." kata Aldo.


"Oh, iya. Mbak belum nyiapin sarapannya." kata Melati sambil berlari ke ruang makan. Dan ternyata hidangan sarapan sudah diberesi Ugi, saat Melati mengangkat telepon tadi.


"Santai aja sayangku...udah aku siapin semuanya, sayangku tinggal siap-siap berangkat ke sekolahan, nanti terlambat." kata Ugi sambil tersenyum.


"Yaa Allah, makasih banget ya mas." kata Melati.


"Ya udah mbak, kita sarapan duluan ya mbak. Udah laper ini." kata Aldo.


💞💞💞


Hari yang ditunggu telah tibah, Melati sudah siap dengan Powe point nya untuk di presentasi kan kepada para audien. Pagi itu Melati sudah membereskan segala urusan rumahnya. Lalu Jam sepuluh, Melati siap berangkat bersama Ugi, dengan berboncengan motor.


"Sayang, kamu yakin gapapa nih kita naik motor sampe ke Jogja?" tanya Melati.


"Iya, gapapa mas. Kenapa emangnya?"


"Ga gengsi? sayangku kan pembicaranya."


"Terus? Kalau pembicara tu harus naik mobil gitu?" tanya Melati.


"Ya, engga juga sih. Tapi kan, biar keliatan..."kata-kata Ugi terpotong.


"Mas, Melati ga mau dianterin mobil itu ada alasannya. Pertama, karena kita memang belum punya mobil kan? Kedua, karena Melati lagi ga nyaman kalo naik mobil. bawaannya mabuk kendaraan, terus kalau naik mobil, uang bensin nya juga lumayan mas. Udah, mending motor aja. Enak. Tinggal wus wus wus, nyampe." kata Melati.


"Hem...okeylah." jawab Ugi pasrah kalau sudah berdebat dengan Melati.


"Aldo, Aldi. Jaga rumah ya, kalau mau main, boleh, tapi tetap jaga aturan ya." kata Melati.


"Siap." jawab si kembar bersamaan.


"Oh ya, nanti kalau mbak Melati sama mas Ugi kemaleman, dan terpaksa kami harus menginap, kalian di rumah sendiri dulu gapapa kan?" tanya Melati.


"Iya mbak. Gapapa." jawab Aldi.


"Ya udah, kita pergi dulu ya." kata Melati.

__ADS_1


"Iya mbak." jawab Aldo dan Aldi bergiliran salaman nya.


"Hati-hati ya kalian." kata Ugi.


"Iya mas." jawab Aldo dan Aldi.


Melati dan Ugi pun melaju menuju kota gudeng, guna memenuhi undangan bagi Melati sebagai bintang tamu di acara bedah buku Novelnya berjudul 'Sekeping Hati'.


Sepanjang perjalanan, Melati dan Ugi menghabiskan banyak cerita. Hubungan mereka semakin mesra, seiring berjalannya waktu. Melati sudah tidak lagi malu-malu kucing dengan Ugi, pun begitu Ugi juga semakin mencintai Melati dan selalu berada di samping Melati disetiap saat.


💞💞💞


"Mun, udah siap belum sih?" panggil Satria di luar kos-kosan Muna. Satria mengetuk pintu kamar Muna.


"Iya, bentar. Sabar napa sih?" omel Muna.


Satria dan Muna ngekos di tempat yang tak jauh dari kampus mereka. Selain teman sekelas, setelah suatu kejadian membuat Muna pindah kos-kosan yang tak jauh dari kos-kosan Satria, sehingga Muna dan Satria makin akrab. Satria menolong Muna, dan mengajak Muna untuk tinggal di kosan putri yang tak jauh dari kos-kosan nya.


"Mun, udah jam tiga ini. Telat kita nanti." omel Satria.


"Ih, iya iya. Tinggal bentar lagi juga. Sabar dulu napa sih?" omel Muna dari dalam.


Tak berapa lama kemudian, Muna sudah keluar dari kamarnya mengenakan outfit santai. Muna mengenakan dress polos berwarna Hitam, dengan sepatu ket putih, dan jilbab segiempat abu-abu.


"Hadeh... kaya orang mau ngedate aja lo. Dandannya lama bener." keluh Satria.


"Ya maklum dong, namanya juga cewek. Kaya ga pernah jalan sama cewek aja lo." omel Muna.


"Ya emang ga pernah." jawab Satria santai.


"Serius lo?" tanya Muna.


"Ya cuma sama elo doang." jawab Satria.


"Hahaha, ngenes banget hidup lo. Ganteng-ganteng kok ga laku." seloroh Muna.


"Eh, apa lo bilang?" tanya Satria mulai naik pitam.


"Ampun...sorry, sorry Sat. Hehehe, bercanda doang." kata Muna sambil menutup kepalanya dengan tan slempangnya.


"Jam berapa sih bedah bukunya?" tanya Satria.


"Kalo di panflet sih. Jam empat sore." jawab Muna.


"Kenapa? Keburu kangen ya sama mbak Melati?" tanya Muna menebak.


"Apaan sih lo? Dia istri orang." kata Satria sewot.


"Biasa aja kali... Dan Orang itu abang gue." kata Muna


"Iya iya....Bawel lo. Gue ga amnesia kali." kata Satria.


"Ya udah yuk, keburu telat. Gas sekarang." kata Muna yang langsung naik boncengan motor Satria.


"Hemm...dari tadi gue juga bilang gitu kali. Dasar elo nya aja yang lelet." kata Satria.


"Enak aja lo ngatain gue lelet. Udah ga usah banyak bawel, cepet di gas motornya, keburu ga dapet tempat di depan." titah Muna.


"Iya, iya. Bawel." kata Satria.

__ADS_1


__ADS_2