
Setelah di suci kan di rumah sakit, Pak Yudi segera di bawa ke mobil jenazah dan menuju rumah duka. Pak Wahid sudah mengabarkan pada orang-orang yang ada di rumah melalui telpon. Kemudian pak Wahid ikut serta mobil Jenazah menuju rumah duka.
Sedangkan Latif, masih menemani Melati diruang rawatnya. Tak berapa lama kemudian. Melati tersadar dari pingsannya.
"Bapak..." rintih Melati sambil menangis.
"Melati, yang sabar. Kamu harus kuat." kata Latif sambil memeluk Melati.
"Kenapa bapak tinggalin Melati mas? Kenapa? Apa yang harus Melati lakukan kalau ga ada bapak mas?" tanya Melati masih dengan frustasinya.
"Sabar..." kata Latif masih tetap mencoba menenangkan Melati dengan mengelus punggung Melati. Latif sudah menganggap Melati sebagai adiknya sendiri.
"Ibu...ibu gimana mas? Apa ga bisa ibu pulang sebentar saja?" tanya Melati sambil melepaskan pelukannya dan menatap Latif.
Latif hanya menggeleng. Lagi-lagi Melati lemas dan terguncang lagi pundaknya, tangis yang tak dapat ditahan membuat Latif semakin merasakan kepedihan yang dialami gadis malang itu.
"Melati mau liat bapak mas." kata Melati sambil memegang lengan Latif dengan kedua tangannya.
"Ehm..."
Belum sempat Latif menjawab, dokter Arifin datang bersama dokter Rafa, untuk mengecek keadaan Melati.
"Dokter..." kata Melati sambil menangis.
"Yang sabar ya Melati." kata dokter Arifin mengelus kepala Melati yang berbalut jilbab.
"Melati mau liat bapak dok..." kata Melati kepada dokter Arifin.
Dokter Arifin menoleh kepada dokter Rafa. Dokter Rafa tampak berfikir keras, mengingat kejadian kemarin, saat Melati drop. Dokter Rafa tidak berani mengambil resiko lagi.
"Bagaimana dok?" tanya dokter Arifin.
__ADS_1
"Tapi, kalau terjadi sesuatu sama Melati, bagaimana dok? Saya tidak berani resiko seperti kemarin lagi." jawab dokter Rafa.
Kembali dokter Arifin berfikir, benar memang, kalau mengijinkan Melati pulang untuk melihat bapaknya untuk terakhir kalinya, dia juga tidak bisa menjadi Melati akan kuat. Karena ini bukan hanya masalah fisik, tetapi juga psikisnya, yang menyebabkan dirinya drop karena fisiknya juga masih lemah.
"Ehm. Melati, sebaiknya. ikhlaskan bapakmu. Tadi Melati sudah melihat bapak kan? Kami, sebagai tim medis peduli padamu Melati, jika kamu kami ijinkan pulang dan melihat prosesi pemakaman bapak, kami khawatir kamu tidak kuat, dan kamu akan drop lagi. Keadaanmu masih sangat lemah." kata dokter Arifin memberi pengertian.
"Iya Melati. Kamu tetap di sini saja. Ingatlah Aldo dan Aldi, mereka masih membutuhkan mu. Ibumupun di Malaysia juga akan sedih jika melihatmu nekad pulang dengan keadaanmu yang masih lemah seperti ini." kata Latif mencoba untuk memperkuat pendapat dokter Arifin.
Melati masih diam dalam tangisan nya, dia terus berfikir. Memang ada benarnya kata Lutfi, Melati tidak boleh egois. Keegoisannya kemarin sudah menyebabkan bapaknya meninggal. Padahal neneknya sudah melarang Melati untuk sekolah lagi, karena dengan dia sekolah lagi, pasti akan merepotkan bapaknya. Itu yang Melati sesalkan saat ini. Dan kini dia tak ingin mengulangi kesalahannya lagi. dengan mengedepan kan egonya. Dia Harus kuat demi kedua adiknya, dia harus segera sembuh, dan dia memang harus mengorbankan rasa inginnya, untuk melihat bapaknya yang terkahir kali. Melati sendiri juga tidak yakin apakah dia sanggup tetap tegar melihat jasad bapaknya. Mengingat kemarin dia sempat pingsan saat melihat keadaan bapaknya yang masih koma.
"Memang sebaiknya aku yang mengalah. Ya, aku ga boleh egois. Demi Aldo dan Aldi, aku harus segera sembuh dan bisa segera pilang untuk merawat mereka." batin Melati.
"Mel..." panggil Latif.
"Melati baik-baik saja kan?" tanya dokter Arifin.
"Ehm, baiklah. Melati akan ikhlaskan bapak. ?Melati akan tetap disini menjalani perawatan sampai Melati sembuh." kata Melati tulus tanpa paksaan.
Setelah itu, dokter Rafa dan dokter Arifin pamit untuk pulang dahulu. Karena hari sudah malam.
Malam itu. Latif menemani Melati dengan banyak menghibur Melati. Dengan mengajak Melati sholat bersama, bertadarus, murojaah hafalan, berkisah tentang sirih nabi, hingga akhirnya Melati tertidur pulas. Latifpun beristirahat di ruangan itu.
Dipandanginya wajah polos adik TPQnya itu, anak itu sejak kecil sudah banyak beban, hingga kini, beban itu belum beranjak dari kehidupan gadis itu.
"Kasihan kamu Mel. Apa salahmu, sehingga banyak cobaan yang menimpamu secara bertubi-tubi. Kamu anak baik, kamu pintar, cerdas, dan kamu kuat Mel. Mas yakin, suatu saat nanti kamu akan menemukan kebahagiaan mu Mel. Semoga hatimu, tetap seputih makna dari namamu. Kamu banyak memberikan aku pelajaran Mel. Ya, pelajaran arti hidup yang sesungguhnya, dimana kita tak boleh berputus asa dan harus selalu semangat." batin Latif.
💞💞💞
Malam itu, jenazah pak Yudi langsung dikebumikan, karena menurut informasi, sudah tidak ada pihak keluarga yang akan ditunggu, karena pak Yudi adalah anak tunggal, dari bu Sri. Meski dia masih memiliki beberapa saudara tiri. Sedangkan bu Fatma, juga asli dari kampung itu. Dia anak dari sahabat bu Sri. Tetapi kedua orang tua dan saudara-saudada Fatma juga merantau jauh. sehingga mereka juga sudah mengikhlaskan kepergian Yudi.
Malam itu, Aldo dan Aldi di rawat oleh bu Laras, untuk ikut tidur bersama Zia. Sedangkan nenek tetal di rumah, dengan pengawasan para tetangga dengan penanggungjawabnya pak Wahid dan istri. Para tetangga masih mengisi rumah Melati, dengan melantunkan bacaan yaasin dan tahlil.
__ADS_1
Di malam itu, Pak Wahid ditelpon bu Fatma, ditengah banyak orang.
"Pak Wahid, saya titip anak-anak saya ya pak." kata bu Fatma dengan suara sesenggukan. Hati ibu mana yang tak sedih, saat suaminya meninggal dan dia meninggal kan dua anak yang masih kecil, dan anak gadisnya masih dirumah sakit.
"Iya bu, InshaaAllah. Ini Aldo dan Aldi minta ikut mbak Zia. Jadi malam ini mereka bermalam dirumah bu Laras bu." kata pak Wahid.
"Ya pak."
"Ini Melati juga tidak mendapat ijin dari dokternya bu, sehingga Melati masih di rumah sakit, ditemani mas Latif." lanjut oak Wahid.
"Sekali lagi, terimakasih banyak pak. Maaf sudah merepotkan semua." kata bu Fatma.
"Bu Fatma di sana tenang saja. Ini Bu Sri juga masih ditemani istri saya di kamarnya, semoga bu Sri bisa segera istirahat." kata pak Wahid.
"Sekali lagi, terimakasih banyak pak Wahid. Saya benar-benar mohon maaf belum bisa pulang. Karena saya belum ada ongkos untuk pulang, dan kalau saya tidak kembali, saya harus membayar ganti rugi kontrak saya pak."
"Iya bu. tidak apa-apa. Sudah menjadi kewajiban kami. para tetangga saling tolong menolong." kata pak Wahid.
"Tolong sampaikan pada warga ya pak, sampaikan terimakasih saya kepada Warga. Saya tidak bisa membalas kebaikan mereka semua." kaya bu Fatma dengan tangisan nya.
"Ya bu, ini saya sampaikan."
"Bapak bapak, ini ada pesan dari bu Fatma. Kata beliau, terimakasih banyak sudah membantu keluarga bu Fatma, membantu mengurus prosesi pemakaman pak Yudi." kata pak Wahid.
"Ya pak, sama-sama." jawab bapak-bapak yang berkumpul untuk mengaji bersama.
"Sekali lagi, saya titip anak-anak dan ibu saya ya pak." kata bu Fatma.
"InshaaAllah bu."
Setelah itu panggilan terputus. Dan malam itu, semua warga masih di rumah pak Yudi, sampai waktu subuh tiba.
__ADS_1