Seputih Melati

Seputih Melati
Orang yang Sama


__ADS_3

Setelah makan siang, Melati mengirim pesan pada bu Fatma, bahwa keluarga Ugi sedang ada di rumah. Kemudian sore harinya, bu Fatma video call Melati, dan berkenalan dengan semua anggota keluarga Ugi. Hingga tiba pada percakapan semi serius yang membicarakan tentang pernikahan Ugi dan Melati.


"Mbak, ibu kan baru saja ambil cuti pulang pas lebaran kemarin, jadi untuk waktu dekat ini, ibu belum bisa ambil cuti lagi. Bagaimana?" tanya bu Fatma.


Karena suara telepon di lospiker, membuat perkataan bu Fatma terdengar oleh ibu Ugi.


"Bu, jika bu Fatma ikhlas dan tidak masalah, misal pernikahan resmi Melati dan Ugi dilakukan dalam waktu dekat ini bagaimana, nanti resepsinya bisa menunggu saat bu Fatma pulang ke tanah air. Karena kami khawatir, jika nanti ada fitnah atas hubungan mereka, sedangkan mereka tidak mempunyai bukti yang kuat, karena pernikahan mereka baru nikah siri." kata bu Yani.


"Oh, ya bu jika memang itu yang terbaik untuk mereka, saya ga masalah bu. Lagipula, saya 'kan juga tidak berkuasa untuk menikahkan putri saya, yang bisa menjadi wali nikahnya, justru pak Wahid." kata bu Fatma.


"Biar nanti saat ijab qobul, saya bisa melihat dari video call." lanjut bu Fatma.


"Oh, ya syukurlah kalau begitu." kata bu Yani.


"Kalau begitu, kenapa ga besok sekalian aja nikahnya?" usul Muna tiba-tiba nimbrung.


"Hah? Besok?" tanya Ugi syok.


"Ga bisalah dek, mas ga bawa apa-apa, mas cuma bawa KTP aja. Sedangkan nikah resmi di KUA itu, berkasnya banyak." kata Ugi menolak.


"Heleh, tenang aja napa sih mas? Nih... urusan Berkas syarat pernikahan udah aku siapin. Mulai dari surat nikah bapak ibu, akte kelahiran mas Ugi, KTP bapak ibu, ijazahnya mas Ugi, semua udah aku siapin. Tinggal minta surat pengantar dari kelurahan aja." kata Muna.


"Busyet dah...kamu sigap bener dek, nyiapin semua itu? Kaya udah siap nikah aja, tau syarat-syaratnya nikah." kata Ugi terheran-heran.


"Lah, mas Ugi sih kudet. Mbak Muna 'kan lagi deket sama petugas kelurahan yang baru." kata Wawan berseloroh.


"Eh, deket apaa? Engga." elak Muna.


"Emang siapa Wan?" tanya Ugi.


"Mas Rohmat mas, dia kan Modin baru di kampung." kata Wawan.


"Si Rohmat, temen sekolah mas waktu SD itu?" tanya Ugi.


"Iya mas. Makannya mbak Muna pasti udah nyari info tuh dari dia." kata Wawan.


Ugipun menoleh ke arah Muna, dan Muna hanya tertunduk malu.


"Bener Mun?" tanya Ugi.


"Ya...kalo nyari Informasi berkas nikah sih bener, tapi kalo lagi PDKT sama mas Rohmat, itu ga bener." jawab Muna sambil manyun.


"Ya sudah, besok saja ijab qobulnya, kalo semuanya sudah siap, biar kami keluarga dari Wonogiri tidak perlu bolak balik lagi. Jika diijinkan, kami mau bermalam dulu di sini." kata pak Slamet tiba-tiba.


Semua mata tertuju pada pak Slamet, termasuk Melati yang sedang memegang ponselnya, dan ponselnya masih terhubung dengan ibunya di luar negeri.


"Ah, iya, ibu juga setuju. Lebih cepat lebih baik Mbak, sebaiknya mbak Melati segera menikah sama mas Ugi secara resmi saja, lagipula resepsinya 'kan juga masih lama." kata bu Fatma berkomentar dari ponsel.


"Tuh, kan. Ibunya mbak Melati sama bapak aja udah setuju lho. Jadi misal mau belah duren cepet-cepet 'kan udah leluasa, karena udah sah menurut agama dan negara." komentar Wawan.

__ADS_1


"Heh, apa kamu bilang tadi? Belah duren? Kamu udah ngerti begituan?" tanya Ugi menghakimi Wawan.


"Eh, sorry mas, sorry. Meski udah ngerti, tapi Wawan masih jejaka kok, ga pernah ngelakuin begituan. Tapi 'kan emang itu tujuannya nikah to mas?" kata Wawan sambil mengangkat kedua tangannya.


"Awas aja kamu kalo berani coba-coba." ancam Ugi dengan wajah murka dan tangan mengepal.


"Santai aja kali mas." kata Wawan.


"Jadi, gimana? Besok kalian siap nikah resmi 'kan?" tanya bu Yani kepada Ugi dan Melati.


Ugi dan Melati pun saling pandang. Kemudian mereka mengangguk bersama.


"Alhamdulillah." jawab semua orang yang ada ditengah musyawarah dua keluarga itu.


Setelah obrolan semi serius itu, Ugi segera menghubungi pak Haji Karyo melalui Ayub, bahwa dirinya besok siap nikah resmi. Dan Pak Haji Karyo juga menyambutnya dengan suka cita. Pak Haji Karyo siap membantu kelancaran pernikahan mereka di KUA besok pagi. Dan Ayub, juga siap meminjaminya jas dan semua busana ijab qobul untuk Ugi.


Sedangkan Melati, segera menyiapkan berkas-berkas untuk pernikahannya. Setelah semua berkas kedua mempelai sudah ready, waktu maghrib sudah tiba.


Ugi, Wawan, pak Slamet dan si Kembar pergi ke masjid untuk sholat berjamaah. Sedangkan Melati, bu Yani dan Muna menunaikan ibadah sholat maghrib di rumah.


Setelah sholat di kamar Melati, Muna melihat-lihat isi kamar Melati yang cukup rapi. Matanya tertarik pada sebuah foto kecil di atas meja belajar Melati.


"Kaya kenal." gumam Muna sambil mengambil bingkai foto itu dan dilihatnya perlahan.


Dan pada saat sedang melihat foto itu, Melati masuk kamar juga untuk mengambil sesuatu dari kamarnya.


"Eh. mbak Melati." kata Muna sambil meletakkan kembali foto dalam bingkai itu.


"Ada apa dengan foto itu?" tanya Melati heran.


"Ehm...engga kok mbak. Ini orang difoto ini mirip banget sama temenku." kata Muna.


"Yang mana?" tanya Melati.


"Yang cowok."


"Oh, itu sahabatku waktu SMP. Namanya Satria.


"Satria?"


"Iya. Kenapa Mun?"


"Satria siapa mbak? Nama panjangnya."


"Ksatria Wibowo." kata Melati.


"Wah, ga salah lagi. Berarti orang ini adalah orang yang sama. Tapi, dia dari luar jawa lho mbak. Jauh." kata Muna.


"Dari mana?" tanya Melati.

__ADS_1


"Dia berasal dari Merauke mbak, Papua." kata Muna.


"Iya, Satria memang tinggal di sana, sejak sebelumnya dia tinggal di sini. SMPnya dia memang sekolah di sini. Tetapi saat ayahnya bertugas di Merauke, dia ikut ayahnya ke sana. Lalu, kabarnya memang dia ke Jogja untuk kuliah." kata Melati.


"Oh...berarti Satria yang kita maksud ini sama ya mbak?" tanya Muna.


"Kamu mengenal nya?" tanya Melati.


"Sangat kenal mbak. Dia sahabatku di kampus.Dia itu friendly banget mbak, ramah, baik, supel, pinter lagi. Ya, meski ga terlalu ganteng sih. hehe." kata Muna.


Melati tersenyum.


"Kamu memang ga pernah berubah Sat." batin Melati.


"Kamu suka ya sama dia?" tanya Melati.


"Yah...cewek mana sih mbak yang ga suka sama dia dengan sifat pembawaan dia yang seperti itu?" kata Muna.


Melatipun menyimpulkan kalau Muna memang menyukai Satria.


"Ehm...mbak Melati juga suka ya sama Satria?" tanya Muna.


"Ehm, ehm. Engga kok. 'kan udah ada mas Ugi." kata Melati.


"Sebelum sama mas Ugi? Mbak Melati suka kan sama Satria?" tanya Muna lagi.


"Engga. Kita cuma sahabatan kok Mun, ga lebih." kata Melati.


"Ehm, gitu ya?"


"Ehm, maaf, mbak mau ambil dompet dulu Mun, mbak mau ke pasar." kata Melati.


"Eh, calon pengantin kok masih mau ke pasar?" tanya Muna.


"Emang kenapa?" tanya Melati.


"Udah, sini biar Muna yang belanja." kata Muna.


"Emang Muna tau pasarnya?" tanya Melati.


"Ehm, engga sih. Hehehe." jawab Muna sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ya sudah, mbak mau belanja dulu." kata Melati sambil mengambil domeptnya di dalam nakas.


"Aku ikut ya mbak." kata Muna.


"Ehm, okeylah." jawab Melati


Merekapun pergi ke pasar berdua dengan berboncengan naik motor matic milik Melati

__ADS_1


__ADS_2