Seputih Melati

Seputih Melati
Pingsan


__ADS_3

"Apa? Melati dicerai?" tanya Dewa tak percaya saat Guntur berkunjung ke rumah sakit, setelah Melati pulang.


"Iya. Melati sendiri yang bilang, tapi engga sama gue. Dia bilangnya sama Bini gue." kata Guntur.


Beberapa saat Dewa terdiam,


"Kenapa lo? Bingung? Antara sedih dan senang?" tanya Guntur.


"Maksud lo?" tanya Dewa.


"Elo lupa apa emang amnesia? Bukannya elo ngarepin jandanya Melati? Elo suka kan sama Melati?" tanya Guntur.


Dewa kembali terdiam, dia teringat akan obrolannya beberapa waktu lalu bersama Guntur, saat dia dirawat di rumah sakit. Benar memang, Dewa pernah mengatakan bahwa dia sudah menyukai Melati sejak Melati masih duduk di bangku SMP. Tapi, disisi lain, dia juga sedih, melihat sebuah perpisahan tetapi bukan maut yang memisahkan. Apakah memang harapannya kemarin di aamiin kan malaikat? Itu pikir Dewa.


"Ya, i-iya sih. Tapi, kasihan juga kalau melihat suatu hubungan harus terputus, bukan karena Maut gitu." kata Dewa.


"Nah, ini peluang lo bro. Jangan lo sia-siain lagi kesempatan ini. Langsung sikat aja, kasih alasan yang pas gitu." kata Guntur dengan gerakan yang meyakinkan.


"Ya ga main sikat juga kali bro, ya kalau Melati nya mau? Kalau ga mau? Lagipula ni ya, wanita itu kalau abis di talak, harus melewati masa Iddah dulu. Kurang lebih selamat 4 bulan." kata Dewa.


"Yah, serah lo dah, yang penting, janga ke duluan kaya kemarin, keburu diambil orang, baru nyesel lo." kata Guntur.


"Iya, iya." jawab Dewa.


Dewa dan Guntur kembali dalam perbincangan ringan, hingga Dewa sudah merasakan kantuk. Dewapun tidur di dekat putrinya, sedangkan Guntur kembali pulang ke rumahnya.


💞💞💞


Keesokan harinya, Melati sudah bersiap diri dan dengan segala masakannya yang sudah disiapkan bu Fatma, dan akan dibawa ke rumah sakit untuk sarapan Ayahnya Tsabita yang tak lain adalah Dewa.


"Kak Dirga sayang, bunda pergi jengukin adek dulu ya. Kata ayah, adek juga nyariin bunda Melati terus, jadi bunda gentian ke sana dulu ya. Kak Dirga di rumah bunda bersama nenek dan om kembar dulu ya. Okey?" kata Melati.


"Iya bunda. Semoga adek cepat sembuh, biar kakak ga sendirian lagi." kata Dirga dengan raut wajah sedih.


"Okey sayang, bunda tinggal dulu ya. Assalamualaikum." salam Melati sambil mengecup pucuk kepala Dirga. Lalu mencium punggung tangan bu Fatma yang sudah berdiri di dekat Dirga.


"Melati pamit dulu ya bu." kata Melati.


"Perlu dianterin?" tawar bu Fatma.


"Ga usah bu, Melati bisa sendiri kok."


Ibu tolong jagain Dirga aja bu." kata Melati sambil mengeluarkan motor maticnya.


"Baiklah." jawab bu Fatma.

__ADS_1


Melatipun menaiki motornya dan melaju menuju RSUD, tempat yang menjadi langganannya terapi dahulu. Sesampainya di gedung yang tak asing baginya, Melati dengan lihai berjalan menuju ruangan yang sudah diketahuinya dari informasinya Dewa.


Tok tok tok


"Assalamualaikum." salam Melati.


"Wa'alaikumsalam." jawab Dewa sambil membuka hendel pintu.


"Selamat pagi pak." sapa Melati dengan ramah.


"Pagi bunda Melati."


"Nda..." pekik Tsabita yang ada di tempat tidurnya.


"Tsabita sayang." Melati langsung memeluk Tsabita dengan penuh kasih sayang. Merekapun mengobrol dengan bahasa bayi, Melati menghibur Tsabita dan bercanda serta bermain dengan Tsabita.


"Permisi, Anak Tsabita ya, bu dokter periksa dulu ya." kata seorang dokter anak yang sudah mulai prakterk mengontrol keadaan Tsabita.


"Ya dokter." jawab Dewa.


"Alhamdulillah, sudah bagus, sudah banyak perkembangan ya. Demamnya sudah berangsur turun, tapi ini masih kategori demam ya bu, pak." kata bu Dokter.


"Peran ibu memang sangat berpengaruh pada kesehatan anak, kemarin adek masih belum ceria ya, hari ini ketemu ibunya sudah terlihat sangat bahagia. Tinggal dibanyakin makan dan minumnya saja, kalau masih minum ASI, ASInya juga dibanyakin, InshaaAllah besok adek sudah bisa pulang..." kata bu Dokter sambil tersenyum ramah kepada Tsabita. Sedangkan Dewa menatap Melati, begitupun dengan Melati, ternyata Melati juga sedang menoleh ke arahnya. Dokter itu sepertinya mengira bahwa Melati adalah ibunya Tsabita.


"Alhamdulillah, terimakasih dokter." kata Dewa.


Sepeninggal dokter spesialis anak itu Melati teringat oleh wadah makanan, yang dia isi dengan nasi beserta lauknya, untuk sarapan Dewa.


"Oya pak, ini ada sarapan untuk pak Dewa. Tadi ibu menyiapkan untuk pak Dewa." kata Melati.


"Oh, ya Bunda, terimakasih, tapi kenapa harus repot-repot bunda.." jawab Dewa sungkan.


"Tidak repot pak. Ibu saya kok yang menyiapkan." jawab Melati.


"Ehm, baiklah. Saya makan dulu ya bunda."


"Ya pak. Silakan."


Melati meminta ijin kepada Dewa untuk mengajak Tsabita bermain ke luar. Melati memberikan waktu untuk Dewa makan dengan leluasa.


Saat Melati sudah bermain di luar ruangan bersama Tsabita beberapa saat, Dewa menyusul mereka. Dewa melihat keceriaan putrinya bersama bunda Melati. Dewa sangat bahagia, Kedua anaknya sudah lebih semangat dari beberapa hari sebelumnya. Dewa sangat bersyukur, ada sosok Melati yang tulus mendampingi tumbuh kembang anak-anaknya, sehingga kedua anaknya sangat bahagia jika bersama Melati.


Saat Melati bermain, Melati merasakan kepalanya sangat pusing, dan mual. Melati yang sudah mengetahui keberadaan Dewa, memberi isyarat kepada Dewa agar Dewa menggantikannya. Karena Melati akan pergi ke toilet.


"Huwek...Huwek..." Melati merasa sangat lemas, karena Melati merasakan mual yang sangat. Keringat dingin sudah mulai keluar dari keningnya, dan kepalanya terasa sangat pusing. Melati bersandar di dinding toilet beberapa saat, dia teringat bahwa sejak kemarin pagi, Melati memang tidak nafsu makan. Hingga akhirnya dia memutuskan keluar dari toilet dengan sekemampuannya.

__ADS_1


Namun, belum sampai di koridor menuju taman tempat Tsabita berada, Badan Melati sudah terasa lemah tak berdaya, pandangannya kabur hingga akhirnya,


Brugh


Melati tersungkur di lantai, dia pingsan tak sadarkan diri, yang diketahui seorang perawat yang baru saja mengecek keadaan pasien bersama seorang dokter.


"Dokter, ada orang pingsan." kata Seorang perawat sambil menunjuk sosok wanita yang tergeletak di koridor dekat toilet.


Dokter itu segera berlari dengan diikuti seorang perawat.


"Melati?" gumam Seorang dokter itu, yang tanpa pikir panjang, Dokter laki-laki itu segera membopong tubuh Melati, dan perawat segera mencari Hospital Bad, lalu tubuh Melati di letakkan dihospital bad. Kemudian dokter dan perawat itu membawa Melati menuju ruang IGD untuk dilakukan pemeriksaan. Dan saat dokter itu membawa Melati, kebetulan Guntur melewati mereka.


"Melati?" kata Guntur cukup keras.


"Dokter, kenapa dengan teman saya?" tanya Guntur cemas.


"Saya tidak tau, kami menemukan dia pingsan di dekat toilet. Ini baru mau kami periksa dulu." kata dokter itu.


"Saya ikut dok." kata Guntur.


"Mari."


Sesampainya di ruang IGD, Guntur segera menghubungi Dewa.


"Halo, Wa."


'Ya, ada apa?'


"Melati di rumah sakit." Guntur.


'Iya, tapi dia tadi ijin ke toilet.'


"Jadi dia udah ketemu elo tadi?"


'Udah.'


"Ini Melati di IGD, dia tadi pingsan dan di tolongin seorang dokter dan perawat."


'Apa? Ini dia di IGD?'


"Iya."


'Gue ke sana sekarang.' kata Dewa segera memutuskan panggilannya.


💞💞💞

__ADS_1


Coba gaes, siapa yang masih ingat? Dokter laki-laki yang menolong Melati itu tadi kira-kira siapa ya? Terus, kenapa Melati mual? Apakah hanya sakit lambung karena telat makan? Atau ada hal lain? Ikuti terus cerita Seputih Melati ya😘


__ADS_2