
Setelah melalui malam yang panas, Melati terjaga jam tiga pagi, lalu meninggalkan suaminya sambil memunguti pakaiannya, dan pakaian suaminya. Dia masukkan pakaian itu ke dalam cucian, dengan memakai handuk yang dia ambil dari gantungan yang tertempel di belakang pintu kamarnya. Melati pergi ke kamar mandi untuk mandi junub dan berwudlu untuk menunaikan ibadah sholat malam. Setelah mandi, Melati mengambil pakaiannya, juga menyipakan handuk untuk suaminya yang dia letakkan di meja dekat kasur. Setelah itu, Melati mendirikan sholat malam, setelah sholat, Melati menoleh ke arah suaminya yang masih terlelap. Melati tak berani membangunkan suaminya, karena dia belum mengerti dengan sifat asli suaminya, sehingga Melati memilih untuk mengambil mushaf al-Qur'an di mejanya, lalu membacanya dengan Tartil.
Sayup-sayup suara indah Melati berhasil membangunkan Ugi dari tidur ternyamannya. Ugi bangun dan duduk dengan bersandar di kepala ranjang, dia mengucek matanya, lalu dia menoleh ke arah istrinya yang masih terbalut mukena sambil duduk memegang mushaf Al-Qur'an.
Ugipun hendak berdiri, namun kemudian baru sadar bahwa dirinya sedang bertelanjang bulat, sehingga dia mengurungkan niatnya untuk segera berdiri, namun kemudian dia melihat lipatan handuk di meja dekat dia duduk saat ini.
"Pasti Melati yang menyiapkan ini." batin Ugi. Lalu tanpa bertanya, Ugi khawatir membuat kekhusyukan istrinya yang sedang mengaji terganggu, sehingga tanpa kata dan bertanya-tanya, Ugi segera memakai handuk itu untuk menutupi area intimnya, lalu berjalan ke luar kamar, untuk pergi ke Kamar Mandi.
Setelah mandi, Ugi kembali ke kamar, dan dia sudah mendapati Melati yang sedang mengambilkan pakaian untuknya dari dalam lemari yang kemarin sudah ditata Melati.
"Mas mau sholat dulu 'kan?" tanya Melati sambil meletakkan baju koko dan sarung diatas kasur. Tak lua pula dalaman milik Ugi, dimana sebenarnya Melati merasa canggung, tetapi karena dia sudah menjadi istri Ugi, sehingga baginya ini sudah bagian dari tugasnya.
"Iya sayang. Terimakasih ya atas semuanya." kata Ugi sambil tersenyum bahagia. Wajahnya tampak lebih tampan berkali-kali lipat, dengan adanya bintik-bintik air yang membasahi wajahnya yang putih bersih.
"Ehm, iya mas Sama-sama. Kalau begitu, Melati permisi dulu." kata Melati sambil pamit keluar untuk memberikan waktu kepada Ugi untuk berganti baju.
"Kenapa keluar?" tanya Ugi.
"Melati harus segera menyiapkan sarapan mas." kata Melati.
"Oh... Okey." jawab Ugi sambil tersenyum nakal.
Melatipun keluar dari kamarnya, dan Ugi memakai pakaian yang sudah disiapkan Melati. Tak berapa lama kemudian, terdengar sayup-sayup suara adzan subuh, Ugi pun mengurungkan niatnya untuk sholat malam, karena sudah terlambat, sehingga dia memilih untuk mengambil mushaf Melati untuk dia baca sebentar, sambil menunggu suara adzan dari masjid terdekat.
Setelah mendengar suara adzan, Ugi segera bergegas menutup mushaf itu lalu berdiri dan keluar kamar untuk pergi ke masjid.
Setelah sholat dari masjid bersama kedua adik kembarnya, Ugi melihat Melati sudah berkutat di dapur dengan segala aktivitasnya. Melihat istrinya di dapur dengan mengenakan kaos pendek dan celana selutut, membuat Ugi semakin cinta pada istrinya, dan diapun kembali merasakan hal yang sama seperti tadi malam. Ugi tak kuasa menahan hasratnya, lalu tergerak raganya untuk mendekati Melati dengan jarak yang sangat dekat. Ugi memeluk Melati dari arah belakang, dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Melati.
"Eh, mas...Maaf mas, malu ah, kalo same dilihat si kembar." kata Melati sambil berusaha melepas lingkaran tangan Ugi.
"Si kembar masuk kamar kok sayang." jawab Ugi sambil mengendus di Leher jenjang istrinya yang tak memakai jilbab.
"Mas, maaf. Melati masih repot ini." kata Melati sambil membalik ikan laut yang sedang dia goreng.
Tiba-tiba saja, ikan itu meledak, membuat beberapa titik minyak panas itu meloncat ke tangan Melati.
__ADS_1
'Cruat'
"Astagfirullah!" Spontan Melati mengelus lengan tangannya yang terkena percikan minyak panas.
"Sayang, mana yang sakit? Mas ambilin odol ya." kata Ugi dengan panik melihat tangan Melati yang melepuh terkena percikan minyak, sambil ikut meniup tangan Melati.
"Ga usah mas, gapapa. Luka kecil aja." jawab Melati santai.
"Cie cie...Mbak Melati... mas Ugi..." goda Aldi tiba-tiba yang sudah nongol di depan pintu dapur sambil membawa handuk.
"Eh, Al... kebetulan, kamu mau mandi?" tanya Ugi.
"Iya mas." jawab Aldi.
"Tolong ambilin odol sekalian ya dek. Buat ngobatin tangannya mbak Melati." kata Ugi.
"Ya mas."
Aldipun mengambil pasta gigi dari kamar mandi dan diberikan kepada Ugi. Ugipun mengoleskan pasta gigi di bekas cipratan minyak goreng pada tangan Melati. Dengan meniupnya perlahan.
"Biar mas aja." kata Ugi mengambil spatula dari tangan Melati.
Setelah itu, Melati melanjutkan memasaknya dengan hati-hati dengan dibantu Ugi.
💞💞💞
Seperti biasa, pagi itu Melati mengasuh Tsabita di ruang day care bersama anak penitipan lainnya. Tiba-tiba ponsel Melati berdering, tanda ada panggilan masuk.
"Halo, assalamualaikum." salam Melati.
"Wa'alaikumsalam. Selamat pagi, apa benar ini dengan saudara Melati?"
"Ya benar, saya sendiri. Ini siapa ya?"
"Kami dari Azzam Media kak, Kami menginformasikan bahwa novel Anda lolos seleksi di publiser kami, dan kami akan mencetak seribu limaratus seksemplar, mohon anda datang ke kantor nanti siang untuk menandatangani kontrak." kata orang diseberang.
__ADS_1
"Apa? Alhamdulillah. Terimakasih kak. jam berapa saya harus ke sana?" tanya Melati.
"Jam satu atau jam dua juga bisa."
"Baik kak."
"Nanti anda bisa menemui saya, manager Azzam Media ya kak, nama saya Arimbi."
"Baik kak."
"Baik, Da pertanyaan?"
"Tidak."
"Baik, kami tunggu nanti siang ya kak. selamat pagi."
"Ya kak."
Setelah itu, telpon ditutup. Sambil menggendong baby Tsabita, Melati refleks melompat kegirangan.
"Alhamdulillah yaa Allah."
Setelah itu, Melati langsung menghubungi Ugi, untuk minta tolong diantarkan ke lokasi percetakan. Dan Ugi menerima ajakan itu dengan suka cita.
"Selamat ya bun." kata bunda Novi yang tau akan kabar gembira ini.
"Terimakasih bunda."
"Bunda Melati memang pantas mendapatkan hadiah ini, wah jadi penasaran sama novelnya." kata bunda Novi.
"Semoga juga bisa segera gerah buku bun, saya penasaran untuk tau isinya." kata bu Hayati.
"Aamiin, terimakasih banyak bunda."
Setelah selesai mengajar, Melati pulang ke rumahnya dan berganti pakaian. Lalu Melati dijemput Ugi, dari kantor PMI, untuk diantarkan ke kantor percetakan buku yang alamatnya sudah di kirimkan via whatsapp. Namun, sebelumnya, Melati ke SKB dahulu untuk meminta ijin kepada pihak SKB.
__ADS_1
Melatipun dibonceng Ugi menuju kota tempat kantor itu berada, karena kantornya cukup jauh dari tempat tinggal Melati.