Seputih Melati

Seputih Melati
Mantan Suami


__ADS_3

Perkataan Melati membuat Muna tercengang, dia teringat akan cerita Ugi, saat ibunya menjelek-jelekkan Melati yang akhirnya Ugi memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.


Begitupun dengan Dewa, yang tercengang dengan jawaban Melati. Tampak sekali Melati masih belum terima atas perlakuan Ugi terhadap dirinya.


"Ehm, Jadi, gimana mbak? Mbak Melati bisa hadir kan?" tanya Muna.


Melati menoleh ke arah Dewa, meminta persetujuan Dewa dengan isyarat tatapannya.


"InshaaAllah, kami pasti hadir." jawab Dewa dengan mantab. Melati tercengang dengan jawaban Dewa, padahal Melati berharap Dewa keberatan, karena besok masih hari efektif, dimana Dewa masih harus masuk sekolah.


"Tapi mas..." sanggah Melati.


"Jam berapa ijab qobulnya?" tanya Dewa.


"Jam sembilan pak." Jawab Muna.


"Oh, pagi ya?"


"Iya pak, setelah ijab qobul di rumah mempelai wanita, lanjut resepsi kecil-kecilan pak." kata Muna.


"Oh... terus rumah mempelai wanitanya dimana?" tanya Dewa.


"Masih tetanggaan kok pak sama kami, di Wonogiri." jawab Muna.


"Maksudmu... mempelai wanitanya itu... mbak Laili? Orang yang ada di kamar dia waktu aku datang ke rumahnya itu?" tebak Melati.


Muna mengangguk lemah, dia kembali teringat atas cerita kesalahpahaman diantara kedua kakaknya itu . Tidak seharusnya kejadian itu terjadi, dan membuat Melati sakit hati.


"Oh... baguslah. Memang harusnya mereka segera menikah." jawab Melati.


Semua terdiam mendengar komentar Melati, semua yang duduk di ruang tamu itu paham akan rasa yang sangat menyakitkan bagi Melati, kecuali Tsabita, karena dia masih belum mengerti apa-apa.


"Ugh...ugh..." tiba-tiba Melati merasa mual lagi, lalu ijin ke toilet.


"Maaf, aku ke belakang dulu." kata Melati sambil Berlari dan menutup mulutnya.


"Melati kenapa pak?" tanya Satria cemas.


"Gapapa, mungkin asam lambungnya naik aja." jawab Dewa berusaha tenang, meski hatinya juga gusar, karena sedari tadi Melati mual muntah hingga badannya lemah.


"Tapi, mbak Melati beneran gapapa kan pak?" tanya Muna memastikan.


"Iya, InshaaAllah gapapa. Ehm, tapi saya susul Melati ke dalam dulu ya." kata Dewa sambil menggendong Tsabita.


"Ehm, ya sudah pak, kalau mbak Melati lagi sakit, biar istirahat dulu saja. Maaf kami mengganggu. Kami pamit dulu ya pak." kata Muna.


"O, oh ya ya." jawab Dewa yang juga mulai cemas karena suara Melati masih terdengar muntah-muntah.


"Kami permisi dulu ya pak. Assalamualaikum." salam Satria.


"Ya, wa'alaikumussalam." jawab Dewa.


Kedua tamu Melatipun pergi meninggalkan rumah Dewa dengan mengendarai motor Satria. Dewa menghantarkan ke pulangan mereka, lalu Dewa masuk ke rumah, hendak menyusul Melati. Namun Melati sudah kembali ke ruang tamu dengan keadaan lemas.

__ADS_1


"Udah pada pulang ya mas?" tanya Melati.


"Iya sayang kenapa? Kamu masih mau ngobrol sama mereka?" tanya Dewa. Melati menggeleng, lalu duduk di kursi ruang tamunya.


"Sayang...are you okey?" tanya Dewa yang menyusul Melati duduk di sampingnya, lalu menggenggam tangan Melati, sedangkan Tsabita di duduk kan di pangkuannya.


"Hem... cuma lemes aja. Apa aku salah makan ya?" tanya Melati.


"Bisa jadi. Kemarin mama makan rujak banyak banget kan? Kapan waktu itu juga makan buah mangga lumayan banyak, bisa jadi asam lambungnya naik." kata Dewa.


"Atau...." kata Dewa dengan wajah berseri.


"Apa?" tanya Melati.


"Jangan-jangan kamu hamil sayang." kata Dewa riang.


"Hamil?" gumam Melati.


"Sini deh, mas udah siapin alat buat mengecek kehamilan kok." kata Dewa sambil menggendong Tsabita ke dalam kamar, dan diikuti Melati. Sesampainya di kamar, Melati duduk di tepi ranjang menunggu Dewa mengambil sesuatu. Dewa mengambil sebuah alat dari laci meja kerjanya.


"Ini, sayangku bisa tes pake ini dulu, untuk sementara. Nanti kalau memang hasilnya positif, nanti kita langsung periksa ke dokter." kata Dewa.


"Ini.. apa mas? Terus cara makanya gimana?" tanya Melati dengan wajah polosnya.


"Hahahah, sayangku, sayangku. Makin gemesh deh sama kamu. Ini tu...namanya Tespack. Ini alat untuk mengecek kehamilan, caranya ada di situ, dah tertulis, sayangku coba baca sendiri ya? Jadi mending sekarang sayangku ke toilet deh." kata Dewa.


"Oh, gitu ya?" tanya Melati masih dengan muka polosnya.


"Iya." jawab Dewa sambil tersenyum geli melihat keluguan istrinya.


"Mas!!!" pekik Melati girang.


Dewa sepertinya sudah kepo, sehingga saat Melati memanggil namanya Dewa sudah mengetuk pintu toilet yang ternyata dikunci oleh Melati dari dalam.


Melati membuka pintu toilet, dan langsung menghambur kedalam pelukan Dewa.


"Gimana? Positif?" tanya Dewa setelah beberapa saat berpelukan, Melati melonggarkan pelukannya.


Tanpa menjawab, Melati menyodorkan tespacknya kepada Dewa dengan senyum mengembang.


"Alhamdulillah...Selamat ya sayang." kata Dewa sambil mengecup kening Melati dengan cukup lama, hingga suara Dirga membuat mereka mengakhiri keromantisan mereka.


"Ayah...huhuhu, mama..." suara tangis Dirga jelas terdengar, membuat Melati segera menghampiri putranya itu.


"Kakak, kakak kenapa?" tanya Melati sambil memegang tubuh Dirga dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan cemas.


"Tadi Kakak ga diajak mainan sama mas Ipan." jawab Dirga.


"Yaa Allah, mama kira kenapa? Ya udah, Kakak mainan sama adek di rumah aja ya sama mama dan ayah." kata Melati.


Sedangkan Dirga yang berdiri di belakang Melati hanya tersenyum pada sikap Melati yang lemah lembut pada anak-anaknya.


"Udahlah, anak cowok kok cengeng. Sini, main sama ayah dan adek. Mama lagi ga enak badan, biarkan mama istirahat dulu ya." kata Dewa kepada Dirga.

__ADS_1


"Mama sakit?" tanya Dirga yang simpati pada mama tirinya.


"Engga kok, mama cuma kecapekan aja." jawab Melati.


"Tau ga kak, kakak itu harus kuat, ga boleh cengeng, dan harus berani. Karena sebentar lagi, kakak akan punya adek lagi." kata Dewa dengan riang.


"Adek?" tanya Dirga masih bingung.


"Iya sayang. Jadi, di dalem perut mama, ini ada adek bayi. Jadi nanti kak Dirga akan punya dua adik." kata Dewa.


"Apa, di perut mama ada adeknya? Yeay, aku mau punya adek." pekik Dirga kegirangan.


Setelah bersuka cita, malamnya setelah anak-anak tidur, Melati dan Dewa mengobrol seperti kebiasaan mereka sebelum tidur.


Di tepi ranjang, Dewa meletakkan kepalannya di pangkuan Melati, dan Melati mengelus kepala Dewa.


"Mas."


"Hem?"


"Kenapa mas mengiyakan untuk hadir di acara ijab qobul mas Ugi sih?" tanya Melati.


"Emang kenapa?"


"Ya...gapapa sih. Kan...mas Ugi itu..."


"Mantan kamu?" tanya Dewa.


"Heem."


"Emang kenapa kalau mantan?"


"Ya...kan...ehm..."


"Emang sayang ku masih pingin balikan lagi sama dia?" tanya Dewa menyelidik.


"Ih, ya engga lah mas. Enak aja, Melati kan udah jadi istrinya mas Dewa, kenapa juga masih pingin balikan?" sewot Melati.


"Ya udahlah. Santai aja." jawab Dewa.


"Emang, mas ga masalah?"


"Engga."


"Oh..."


"Akan jadi masalah, kalau kamu itu belum jadi istriku, dan belum hamil anakku. Maka mas ga akan pernah ijinin kamu temu lagi sama dia. Tapi karena sekarang sayangku ini udah sepenuhnya milikku, aku ga akan pernah melepaskanmu untuk siapapun. Termasuk mantan suamimu." kata Dewa.


Melati tercengang mendapat jawaban Dewa, Melatipun langsung menghambur kedalam pelukan Dewa yang terbaring, hingga manik Mereka saling beradu, dan rangsangan birahi Dewa kembali muncul.


"Sayang...mas pingin..." kata Dewa dengan wajah berubah merah.


"Lha, emang boleh mas, kalau lagi hamil?" tanya Melati yang belum mengerti.

__ADS_1


"Boleh, asal pelan-pelan." jawab Dewa yang memang sudah berpengalaman.


Akhirnya, obrolan malam itu berujung pada aktivitas panas pasutri di atas ranjang. Biasanya Dewa akan sangat eringas dan buas, namun kali ini dia Bermain dengan lembut, dan halus, karena dia ingat akan pesan dokter kandungan saat dia mendampingi Tsania berkonsultasi diawal kehamilannya.


__ADS_2